BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kala Hujan


__ADS_3

Senja selalu tampak menawan bagi yang bisa menikmatinya, semburat fajar yang memudar, langit jingga yang perlahan berganti warna, juga alunan sholawat tarhim yang menandakan malam segera menyapa.


Namun sayang, untuk beberapa hari belakangan, senja tak lagi nampak, tertutup awan mendung, bahkan tak jarang hujan datang menerjang dan yang bisa dinikmati hanya suara gemericiknya juga bau anyir tanah yang basah.


Seperti halnya di senja kali ini, hujan tak juga reda, mengguyur Pondok Hidayah dan sekitarnya sejak sebelum Azar tadi.


"Kopi, Gus." Khalil yang melihat Ajimukti sedang duduk di teras ndalem mencoba menawarinya kopi.


"Emmm, boleh, Kang. Sekalian nunggu Maghrib." Sahut Ajimukti.


"Saya sekalian juga tidak apa apa, Lil." Sela Manan sembari cekikikan.


"Halah..." Sahut Khalil sembari mengibaskan tangannya yang kemudian segera melangkah ke dapur.


"Hujannya awet ya, Jik." Gumam Manan saat ini.


"Ya, mau bagaimana lagi, Nan. Namanya juga lagi musim penghujan. Ya, kita syukuri saja." Sahut Ajimukti.


"Sayangnya hujannya tidak jujur itu lho, Jik." Gumam Manan lagi.


"Maksudnya?".


"Tidak terus terang, Jik." Sahutnya sembari tertawa.


"Halah, kamu ini bisa saja. Makin pandai saja kamu." Timpal Ajimukti yang juga ikut tertawa saat itu.


Tak lama Khalil sudah datang membawa nampan berisi beberapa gelas kopi yang nampaknya masih panas.


"Wah, mantap ini, Jik." Kelakar Manan kemudian.


"Terima kasih, Kang Khalil." Ucap Ajimukti sembari meraih segelas kopi.


"Sayangnya tidak ada gorengan, Gus." Celetuk Imam yang juga ikut Khalil keluar ke teras ndalem.


Mendengar itu Ajimukti hanya lagi lagi tertawa.


"Hujan ini berkah, Kang. Jangan sampai karena hujan kita mengeluhkannya. Pokoknya nikmati dan syukuri saja." Ucap Ajimukti kemudian.


"Benar, Gus." Sahut Khalil kemudian.


"Tapi cucian saya jadi menumpuk, Jik." Gerutu Manan setelahnya.


"Makanya kalau mencuci itu pagi, Nan. Jadi bisa kering." Sela Imam kemudian.


"Hujan itu tidak serta merta turun begitu saja. Seperti kata saya tadi, hujan itu berkah. Bahkan, dalam beberapa ayat di Al Qur'an, Allah berfirman banyak tentang hujan ini." Ucap Ajimukti kemudian.


Yang ada di teras itu kemudian hanya mengangguk.


"Akan banyak kita jumpai bagaimana Allah memuliakan hujan dalam Al Qur'an, seperti halnya dalam surat Fushshilat ayat 39, surat Qaf ayat 9, dalam surat An Nur ayat 43 juga dijelaskan bab hujan, dalam surat Al Baqarah ayat 22 pun juga Allah menerangkan tentang hujan. Tak hanya itu, dalam beberapa hadits pun Rasulullah juga menyinggung mengenai hujan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Benar, Gus. Kadang manusia hanya mengeluhkan satu bab saja tanpa menelaah manfaat yang ada." Sahut Khalil kemudian.


Mendengar itu ekspresi Manan sedikit berubah, "Kamu menyindir saya, Lil?"


Khalil hanya tertawa, "Tentu saja tidak, Nan. Yang saya ucapkan umumnya saja."

__ADS_1


"Saya pernah membaca sebuah hadits, Kang. Disana dikatakan, bahwa ada dua doa yang tidak akan ditolak, pertama do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” Sela Ajimukti kemudian.


"Begitu besar keutamaan waktu saat hujan ya, Gus." Sahut Khalil.


"Benar, Kang. Selain bersyukur ketika hujan turun, agar dapat memaksimalkan waktu saat turun hujan kita dapat melakukan adab adab ketika turun hujan juga, Kang." Sahut Ajimukti kemudian.


"Adab, Gus. Ternyata ada adabnya juga? Baru tahu saya." Sahut Imam kemudian.


"Tentu saja, Kang. Semua ada adabnya." Sahut Ajimukti juga setelah itu.


"Apa saja itu, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Yang pertama, takut dan berharap atas rahmat Allah. Hal ini sesuai dengan kata Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau pernah berkata, bahwasannya beliau tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat lidahnya, beliau Rasulullah hanya tersenyum. Apabila Rasulullah melihat awan mendung dan mendengar angin kencang, maka wajah Rasulullah akan segera berubah. Kemudian, ‘Aisyah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah! Aku memperhatikan apabila manusia melihat awan mendung, maka mereka bergembira karena mengharap hujan akan turun. Namun, aku memperhatikan dirimu, jika mendung datang, kegelisahan nampak di wajahmu. Maka Rasulullah pun menjawab, Wahai ‘Aisyah tidak ada yang dapat menjaminku, bahwa awan tersebut mengandung adzab. Sungguh suatu kaum telah diazab dengan angin kencang sedangkan mereka mengatakan, Inilah awan yang akan mengirimkan hujan kepada kami. Begitu kiranya sebuah hadits yang diriwayatkan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana sikap Rasulullah ketika hujan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Masya Allah, sungguh luar biasa itu, Gus." Sahut Khalil yang memang begitu mendengarkan sekali penjelasan Ajimukti itu.


"Begitulah, Kang. Perbedaan kita dan Rasulullah. Rasulullah sebagai manusia yang sudah diampuni dosanya saja selalu berharap harap cemas jika hujan turun, maka kita sebagai umatnya harus senantiasa memiliki rasa harap dan cemas ketika hujan turun dan berkata yang baik baik ketika hujan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Benar, Gus." Gumam Imam kemudian membenarkan.


"Selain itu, berdoa, Kang. Seperti yang diajarkan Rasulullah. Pasti sudah hafal kan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Gus." Sahut Imam kemudian.


"Selain berdoa, hal yang tak kalah penting dan harus kita ingat adalah, jangan mencaci hujan. Itu sangat tidak dianjurkan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Tuh, Nan. Dengarkan itu. Jangan mencaci hujan." Sela Khalil kemudian.


"Hadegh, saya lagi yang kena." Gerutu Manan setelahnya.


"Benar, Nan. Ada sebagian manusia yang tidak menyukai ketika hujan turun, hal ini bisa dikarenakan hajatnya yang terhalang. Namun sebagai umat islam, kita dilarang untuk mencaci hujan, karena hujan adalah anugerah dari Allah. Karena saat hujan adalah salah satu tempat mustajabnya doa, maka berhati hati dalam berkata itu akan lebih baik." Ucap Ajimukti kemudian.


"Wa nazzalnaa minas-samaai maa-an mubaarakan fa-anbatsnaa bihi jannaatin wa habbal-hashiid, Kami turunkan dari langit air yang berkah banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon pohon dan biji biji tanaman yang diketam." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Jadi daripada mengeluhkan datangnya hujan, adab yang terbaik selain berdoa saat turun hujan, sebaiknya berdzikir. Yusabbihur Ra’du bihamdihi wal-Malaaikatu min khiifatihi, guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya." Masih Ajimukti melanjutkan kata katanya.


"Lalu, Gus. Ini mengenai menolak hujan. Itu bagaimana? Soalnya kan tidak jarang, ada beberapa adat khususnya disekitar kita ini. Ketika akan ada hajat, ada sesepuh yang dengan beberapa ritual mengadakan tolak hujan." Tanya Khalil kemudian.


"Mengenai itu, Kang. Saat hujan dirasa cukup, kita dilarang untuk menolaknya namun dianjurkan untuk berdoa agar hujan dialihkan ke tempat yang membutuhkan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Mengalihkan hujan, Gus?" Tanya Imam kemudian.


"Benar, Kang. Rasulullah juga mengajarkan doa untuk mengalihkan hujan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Emmm, bagaimana itu, Gus?" Tanya Khalil setelahnya.


"Allahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa, Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, tidak di kami, Allahumma 'alal-akaami wadh-dhiraab wa buthuunil-audiyati wa manaa biti ilasy-syajar, Ya, Allah! turunkanlah hujan di dataran tinggi, di bukit-bukit, di perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan." Jelas Ajimukti.


"Jadi, Kang. Sebagaimana hamba allah kita berusaha melakukan yang terbaik saat hujan turun, namun ketika hujan berubah menjadi musibah yang tidak terduga itu merupakan ujian bagi keimanan. Dan apapun itu, kita imani bahwa semua sudah menjadi kodrat dari Allah ta'ala." Lanjutnya kemudian.


"Nggeh, Gus." Sahut Khalil juga Imam serempak, sementara Manan hanya mengangguk mengiyakan.


"Assalamu'alaikum." Tiba tiba suara salam yang tak terduga menghentikan obrolan kala senja itu. Ajimukti juga yang lainnya segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


"Oh, kamu, Hexa. Ada apa?" Sahut Ajimukti setelah menjawab salam dari Hexa tersebut.

__ADS_1


"Tidak ada apa apa, Gus. Boleh saya bergabung." Ucap Hexa kemudian.


Mendengar itu Khalil dan Imam hanya kemudian saling pandang. Berbeda dengan Manan juga Ajimukti yang kemudian tersenyum mendengar ucapan Hexa itu.


"Tentu saja. Silahkan duduk sini. Sekalian menunggu manghrib." Sahut Ajimukti ramah.


Hexa hanya kemudian mengangguk, dan melangkah mendekat ke arah mereka.


"Saya buatkan kopi, Kang." Ucap Khalil kemudian.


"Tidak usah, terima kasih. Kebetulan saya baru saja ngopi tadi." Sahut Hexa setelah duduk.


Khalil dan Imam sekali lagi hanya saling pandang, hal ini sangat diluar bayangan mereka. Dalam hati mereka pun bertanya tanya tentang perubahan sikap Hexa ini.


Beberapa jam sebelum ini.


"Sebaiknya kamu mulai membiasakan diri bergabung dengan mereka, Xa." Ucap Arya ketika itu pada Hexa di sela obrolannya dengan Budi.


"Emmm, jadi apakah termasuk mengaku kalau saya dan kamu berteman, Ya?" Tanya Hexa pada Arya kemudian.


"Soal itu, tidak perlu." Sahut Arya.


"Tapi, bukankah mereka akan heran dengan perubahan sikap saya yang tiba tiba?" Tanya Hexa lagi.


"Percaya saja sama saya, Xa. Saya cukup hafal dengan orang itu." Ucap Arya kemudian.


"Tapi..."


"Sudahlah, Xa. Ikuti saja kata Bang Arya. Dan lagi, sebentar lagi Bang Arya akan berkunjung kesana, menemui orang itu." Sahut Budi memotong ucapan Hexa.


"Apa itu benar, Bang?" Tanya Hexa pada Arya memastikan ucapan Budi tersebut.


Arya hanya kemudian mengangguk.


"Kamu juga akan ikut, Mas?" Tanyanya beralih pada Budi.


"Iya, Xa. Saya juga ada hal yang harus saya selesaikan. Oh, bukan selesaikan, lebih tepatnya saya luruskan dengan beberapa orang disana." Ucap Budi kemudian.


"Hmmm, baiklah kalau begitu." Sahut Hexa.


"Tapi, Ya. Sebelum itu ada yang ingin saya tanyakan." Ucap Hexa kemudian.


"Katakan saja, Xa. Apa yang ingin kamu tanyakan." Sahut Arya setelahnya.


"Emmm, ini mengenai nantinya. Maksud saya setelah kamu kesana dan bertemu orang itu." Ucap Hexa ragu.


Arya tersenyum mendengar kata kata Hexa itu.


"Maksud dari ucapan kamu dan yang ingin kamu tanyakan itu mengenai kamu?" Tanya Arya terlebih dulu.


Hexa mengangguk, "Benar, Ya."


Arya tertawa sembari menepuk pundak Hexa, "Kamu tenang saja, Xa. Mengenai itu, itu sudah ada dalam benak saya."


Hexa mengangguk saja setelah itu. Dan ketika hujan mulai sedikit reda, ia pun bergegas kembali ke pesantren. Ia melihat beberapa orang nampak mengobrol di teras ndalem, ia pun segera menghampir mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2