
"Benar ini alamatnya, Gus?" Tanya Sobri ketika mereka berdua tiba di depan sebuah rumah sesuai petunjuk yang di arahkan maps yang di kirim Nyoman pada Ajimukti.
"Benar, Kang. Menurut denah lokasi yang di kirim Nyoman pada saya, memang ini rumahnya." Sahut Ajimukti sekali lagi mengamati denah lokasi di layar ponselnya.
"Saya parkir kan dulu, Gus." Ucap Sobri sembari membenarkan posisi parkir mobil mereka.
Tak lama keduanya keluar dari mobil dan segera menuju ke halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Beberapa kali Ajimukti mengucap salam namun belum juga ada tanda tanda orang dari dalam rumah itu.
"Sepertinya tidak ada orang, Gus." Ucap Sobri setelah mereka beberapa kali mengucap salam.
"Iya, Kang. Apa kita kembali lain kali saja ya, Kang?" Sahut Ajimukti kemudian.
"Tapi kita sudah jauh jauh kesini, Gus. Apa tidak sebaiknya kita tunggu sebentar lagi." Saran Sobri setelahnya.
Ajimukti hanya kemudian mengangguk. Dan mereka pun mengambil duduk di emperan rumah itu untuk menunggu si pemilik rumah kalau kalau segera kembali.
"Mas Mas ini mencari Mas Wangsa ya?" Tegur seseorang ketika itu membuat Sobri juga Ajimukti sedikit kaget..
"Wangsa? Kami mencari Nyoman, Pak. Apa ini benar rumahnya?" Tanya Ajimukti sembari bangun dari duduknya dan mendekati orang itu.
"Oh, iya, Mas. Wangsa atau Nyoman itu satu orang. Kalau orang orang di kampung sini manggilnya Wangsa." Jelas orang itu kemudian.
"Oh, begitu ya, Pak. Lalu, apa bapak tahu dimana Nyoman, eh maksud saya Wangsa, Pak. Soalnya kami panggil dari tadi tidak ada jawaban." Ucap Ajimukti pada orang itu menjelaskan.
"Kalau jam jam segini biasanya dia di jalan raya depan sana, Mas." Jawab orang itu sembari mengarahkan tangannya ke sebuah arah menuju jalan.
"Dia jualan buah disana." Lanjut orang itu memberitahu.
"Oh, begitu ya, Pak. Terima kasih kalau begitu Pak. Kami akan mencarinya kesana saja." Sahut Ajimukti kemudian.
"Iya, Mas. Cari saja kesana. Biasanya dia ada disana. Lapaknya dekat warung, Mas." Imbuh orang itu lagi setelahnya.
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih." Sahut Ajimukti lagi.
Tak lama setelah percakapan dengan orang itu dan orang itu berlalu dari hadapan mereka. Mereka pun segera bergegas menuju jalan raya mencari lapak Nyoman sesuai arahan orang itu tadi.
Beberapa saat mereka mencari di sepanjang trotoar jalan raya itu akhirnya mereka menemukan sebuah lapak buah tak jauh dari sebuah warung makan sesuai petunjuk orang yang memberitahu mereka tadi.
"Mungkin itu lapaknya Nyoman, Kang." Tunjuk Ajimukti dari dalam mobil.
"Sepertinya, Gus. Kalau menurut petunjuk orang tadi, memang benar itu, Gus." Sahut Sobri kemudian sembari ikut mengamati lapak yang di tunjuk Ajimukti.
Tak lama setelah itu, saat mereka sedang memastikan kembali apa benar lapak itu milik Nyoman atau bukan, seseorang berhenti di depan lapak itu, seorang yang lain yang sepertinya sejak tadi berada di warung dengan berjalan setengah berlari segera menuju ke lapak itu. Sepertinya yang berhenti di depan lapak itu seorang pembeli.
Ajimukti mengamati seseorang yang baru saja keluar dari warung itu. Seseorang dengan postur agak sedikit jangkung dengan kaos bergaris horisontal berkerah. Memang tidak terlalu begitu jelas jika dilihat dari tempat Sobri memarkir mobilnya, namun Ajimukti cukup bisa menghafal orang itu dari postur tubuhnya yang jangkung itu.
"Benar, Kang. Itu memang Nyoman." Ucap Ajimukti dengan senyum mengembang ketika melihat Nyoman.
"Kita kesana, Kang!" Ajak Ajimukti setelahnya.
"Baik, Gus."
Mereka pun segera turun dari mobil itu dan berjalan menyisir trotoar menuju lapak buah milik Nyoman itu.
"Siki kilo kude niki, Pak?" Ucap Ajimukti sembari sedikit tertunduk menunjuk salah satu buah yang tertata dilapak Nyoman itu. Sobri mangamati Ajimukti dan sedikit menahan tawa, ia tahu Ajimukti sedang ingin mengerjai teman lamanya itu.
"Telung tali." Sahut Nyoman dengan aksen Balinya yang khas tanpa curiga.
"Dados kuang, Pak." Tanya Ajimukti lagi seolah menawar.
"Dados kuang bedik." Sahut Nyoman ramah.
"Siu Pak nggih?" Tawar Ajimukti.
"Nggih dados ampun. Kuda kal meli nike?" Sahut Nyoman kemudian.
"Siki manten Pak." Ucap Ajimukti menyodorkan uang ke arah nyoman.
__ADS_1
Nyoman dengan cekatan mengambil plastik dan segera membungkus buah yang ditawar Ajimukti itu.
"Bli, Niki tiang Bali Nggih?" Tanya Nyoman sembari menyerahkan barang yang ditawar Ajimukti itu.
Ajimukti tersenyum, "Bukan, Bli. Hanya saja saya punya teman orang Bali. Jadi sedikit sedikit bisa." Sahut Ajimukti.
"Oh, pantas, bisa basa Bali." Sahut Nyoman masih tanpa curiga.
"Niki pesne, Bli." Ajimukti menyodorkan sesuatu, bukan uang tapi justru selembar foto kebersamaan mereka sewaktu di pesantren.
Seketika Nyoman terperanjat lalu segera mengamati Ajimukti baik baik.
"Aufa? Kamu?" Ucap Nyoman seketika itu juga masih sedikit tidak percaya.
Ajimukti segera tertawa.
"Lagian kamu, Bli. Semangat sekali, sampai sampai teman sendiri datang kamu tidak nggagas." Seloroh Ajimukti sedikit mengibaskan tangannya
"Maaf maaf, Bli." Sahut Nyoman kemudian.
"Kenapa tidak bilang kalau sekarang buka lapak, Bli?" Tanya Ajimukti sembari mengikuti Nyoman duduk tak jauh dari warung diantara tempat yang teduh.
Nyoman nampak tersenyum, "Ini hanya batu loncatan, Bli. Belum terlalu lama juga. Yah, paling juga baru tiga atau empat bulan belakangan ini." Sahut Nyoman.
Ajimukti hanya mengangguk.
"Oh, iya, Bli. Bagaimana, apa sudah ada kabar soal Arya?" Tanya Ajimukti kemudian.
Nyoman menggeleng lalu berdiri dari duduknya, "Belum, Bli."
Tak lama, ia masuk ke dalam warung dan setelah beberapa saat ia keluar lagi membawa tiga cangkir kopi.
"Kenapa repot repot, Bli." Ucap Ajimukti.
"Kapan lagi bisa ngopi seperti dulu, Bli." Sahut Nyoman sembari terkekeh.
"Oh, iya, Bli. Belum kenalan kan. Ini teman saya. Sobri namanya. Teman sekaligus saudara." Ucap Ajimukti memperkenalkan Sobri pada Nyoman.
"Benar, Bli."
"Bagaimana, Bli. Ramai dasar disini?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Ya, bagaimana ya, Bli. Ramai sih tidak, hanya saja laku, Bli. Yah, lumayan lah untuk mencukupi keperluan harian." Sahut Nyoman.
Ajimukti mengangguk ringan.
"Emmm, bagaimana kalau Bli ikut saya bantu bantu di pesantren?" Tawar Ajimukti kemudian.
Mendengar itu Nyoman menoleh ke arah Ajimukti dengan mata terbelalak, lalu setelahnya tertawa.
"Aufa, Aufa. Kamu masih saja suka bercanda." Sahut Nyoman diantara tawanya.
"Loh, saya tidak sedang bercanda, Bli. Serius ini." Sahut Ajimukti pula setelahnya.
Nyoman menggelengkan kepalanya ringan.
"Lagian apa yang bisa saya bantu disana?" Ucap Nyoman.
"Jangan selalu merendah, Bli. Saya kenal kamu tidak sehari dua hari. Saya tahu betul kemampuan kamu, Bli." Ucap Ajimukti setelahnya.
"Hmmm..." Nyoman hanya kemudian menghela nafasnya.
"Ingat, Bli. Al-'ilman nafi'an Bi 'amalin. Ilmu itu manfaat bila diamalkan." Ucap Ajimukti sembari menepuk lutut Nyoman.
"Tahu saya, Bli. Hanya saja saya masih sangat merasa tidak pantas untuk itu." Sahut Nyoman.
Ajimukti tersenyum, "Kata pantas itu diberikan seseorang, Bli. Bukan kita yang menyematkannya untuk diri kita sendiri."
__ADS_1
"Pandai kamu, Bli. Selalu tidak pernah menang jika harus beradu kata dengan kamu." Ucap Nyoman sembari terbahak.
"Loh, kan memang begitu, Bli." Debat Ajimukti juga sembari tertawa.
"Kenapa tidak Arya saja, Bli. Kamu tahu sendiri bagaimana kemampuannya. Dia akan sangat membantu sekali jika kamu merekrut dia, Bli." Ucap Nyoman kemudian.
Ajimukti justru tertawa, "Kamu juga tahu, Bli. Arya sejak awal adalah santri yang membebaskan dirinya. Dia selalu punya cara sendiri di luaran sana tanpa kita duga." Sahut Ajimukti kemudian.
Nyoman menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ajimukti itu.
"Yang saya dengar dia juga punya dua pengikut, Bli. Memang hanya seperti teman saja, tapi Arya sudah sangat berpengaruh pada dua orang pengikutnya." Ucap Nyoman kemudian.
"Begitu rupanya, menarik sekali memang anak itu." Sahut Ajimukti.
"Memang sangat susah ditebak sekali anak itu. Bahkan untuk mencarinya benar benar susah, Bli." Imbuh Nyoman.
Ajimukti hanya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oh, iya, Bli. Ngomong ngomong kapan tiang makurenan?" Tanya Nyoman kemudian.
Ajimukti kemudian tertawa mendengar itu.
"Insya Allah, Bli. Secepatnya." Sahut Ajimukti kemudian.
"Wah, wah, wah... Sudah ada calon kalau begitu?" Nyoman nampak ikut gembira mendengar itu.
"Insya Allah, Bli. Doanya saja."
"Jangan lupa. Kabar kabar, Bli. Saya tunggu undangannya." Sahut Nyoman.
"Pasti, Bli. Saya harus minta doa kamu, Bli." Sahut Ajimukti juga setelahnya.
Nyoman kembali terbahak mendengar itu.
"Saya hanya bisa aminkan saja, Bli. Soal doa, kamu bakal lebih di ijabah." Sahut Nyoman lagi.
Ajimukti sekali lagi tertawa.
"Saya berharap sekali jika kamu bertemu Arya untuk mengabari saya, Bli." Ucap Ajimukti kembali mengungkit soal Arya.
"Tentu saja, Bli. Saya akan mengabari kamu. Kamu tenang saja, Bli." Sahut Nyoman setelahnya.
"Suksma, Bli. Saya benar benar ingin tahu bagaimana anak itu sekarang." Ucap Ajimukti kemudian.
"Arya. Memang anak itu kalau dekat bikin emosi. Tapi kalau lama tidak bertemu ternyata bikin kangen juga ya, Bli." Ujar Nyoman sembari tergelak.
"Itulah kenapa dia itu saya anggap sahabat, Bli. Sahiba, menyertai. Jadi kemana saya pergi dia nginthil di benak saya terus." Seloroh Ajimukti sembari tertawa.
Mendengar itu Nyoman pun tidak bisa untuk tidak tertawa bersama Ajimukti.
"Saya salut sama kamu, Bli. Rasanya tidak ada keberuntungan saya di dunia ini selain karena saya diperkenalkan dengan kamu juga sebagai sahabat saya." Ujar Nyoman kemudian.
Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya.
"Loh, kenapa bisa begitu, Bli?" Tanya Ajimukti kemudian.
Nyoman tersenyum, "Seorang teman tidak bisa disebut sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga keadaan. Pada saat kamu membutuhkannya, bagaimana sikap yang ia tunjukkan di belakangmu, dan bagaimana sikapnya setelah kematian mu. Dan kamu, Bli. Kamu sudah menunjukkan sikap sebagai teman, Bli."
Ajimukti menepuk lutut Nyoman sekali lagi.
"Jangan berlebihan, Bli. Saya hanya nyontho bapak saya saja, bagaimana almarhum bapak saya memperlakukan temannya." Sahut Ajimukti.
"Tapi lebih akan sering kita temui teman yang baiknya hanya di depan, di belakang malah rerasanan, Bli." Ucap Nyoman.
"Itu hanya buah, Bli. Buah yang kita tanam untuk kita tuai. Hari ini misal kita ngrasani salah satu teman kita, bisa jadi besok saya atau kamu balik ngrasani bersama teman yang tadinya kita rasani itu, Bli." Ujar Ajimukti kemudian.
"Ya, kamu benar, Bli." Sahut Nyoman setelahnya.
__ADS_1
Setelah itu mereka terus bercakap sembari Nyoman sesekali melayani beberapa pembeli yang mampir ke lapaknya. Hari ini cukup terik, namun di bawah pohon rindang itu ada obrolan hangat yang membuat suasana terik siang hari ini tidak begitu mereka rasakan.
Bersambung...