BROMOCORAH

BROMOCORAH
Gus?


__ADS_3

Sore menjelang senja. Di ufuk barat langit perlahan menjingga. Bayangan hitam kebiru biruan dari sebuah gunung yang menjulang tinggi seolah sedang menganga ingin melahap sisa sisa mentari yang tinggal kurang dari separuh.


Ajimukti berjalan bersama Manan di halaman masjid yang terhitung sangat luas itu. Untuk pertama kalinya di pesantren, Dullah sedang tak berada bersama Ajimukti saat ini. Dullah sedang sibuk mencuci pakaiannya.


Dua orang lelaki yang satunya mungkin lebih tua dua tiga tahun dari Ajimukti sementara yang satunya mungkin seumuran adiknya Dullah mendekat ke arah mereka. Melihat kedatangan kedua orang itu Manan segera menyambut kedua orang itu. Meraih tangannya kemudian menciumnya. Melihat itu Ajimukti spontan mengikuti apa yang dilakukan Manan.


"Kang Manan ada waktu kah hari ini?" Tanya salah seorang yang lebih tua diantara kedua lelaki itu.


"Insya Allah, Gus. Lodang. Kiranya ada perlu apa dengan saya?" Tanya Manan kemudian.


"Ada hal yang ingin kami sampaikan ke Kang Manan." Ucap seorang yang lebih tua. Lagi.


"Baik, Gus. Sekarang atau nanti?" Tanya Manan menegaskan.


"Sekarang juga nggak apa apa. Atau kalau Kang Manan sedang ada keperluan sama temannya ini, nanti juga nggak apa apa."


"Oh tidak kok, Gus. Ini hanya sedang jalan jalan saja. Oh iya Gus ini teman saya Ajimukti. Ajimukti ini santri baru. Baru dua hari dia nyantri disini. Sama pamannya sebenarnya. Tapi pamannya sedang mencuci." Manan memperkenalkan Ajimukti pada lelaki yang keduanya dipanggilnya Gus itu.


Kedua lelaki itu hanya mengangguk.


"Jik, beliau beliau ini pengajar untuk santri yang dikelas alfiyah. Ini Gus Ali Jauhari" Manan menunjuk lelaki yang lebih tua.


"Dan ini Gus Faruq." Tunjuk Manan pada satunya yang lebih muda.


Ajimukti menunduk memberi hormat.


"Oh, ini yang dari Jogja itu ya, Kang Manan?" Tanya Faruq kemudian.


"Benar, Gus." Manan membenarkan.


"Oh, iya iya iya. Saya sudah dengar dari Khalil sama Imam tadi waktu sorogan."


Ajimukti mengerutkan kening mendengar nama kedua seniornya itu.


"Yasudah, Kang Manan. Kembali ke yang mau kami sampaikan." Ucap Faruq kemudian.


"Begini, Kang. Menyikapi kabar yang sudah disampaikan oleh Kyai Aminudin mengenai Kompetisi antar pesantren. Bagaimana kalau untuk tahun ini Kang Manan yang mewakili Pondok Hidayah?" Lanjut Faruq.


Manan sedikit terperanjat.

__ADS_1


"Bagaimana, Kang Manan?" Imbuh Ali kemudian.


Manan hanya garuk garuk kepalanya.


"Wah, gimana ya, Gus. Sejujurnya saya sama sekali tidak tertarik untuk itu, Gus. Apa tidak sebaiknya mengajukan santri yang lain, Gus?"


"Begini, Kang Manan. Seperti kita ketahui. Untuk tahun ini kompetisi yang di perlombakan adalah ceramah berbahasa arab. Nah, permasalahannya baik santri dari kelas aliyah sampai alfiyah, setelah saya bersama seluruh pengajar pertimbangkan hanya Kang Manan yang mampu." Ucap Faruq.


"Dan lagi di Pondok Hidayah ini kan tidak terfokus ke pengajaran bahasa arab, Kang." Imbuh Ali kemudian.


Manan hanya cengar cengir.


"Kang Manan tidak usah terburu buru memutuskannya. Kang Manan fikirkan dulu saja. Toh, masih ada waktu. Yang terpenting kami tunggu keputusan sari Kang Manan saja."


"Baik, Gus. Kalau boleh jujur ya saya memang tidak berminat, Gus. Tapi coba saya pertimbangkan lagi. Nanti saya kabarkan ke Gus Gus sekalian."


"Baik, Kang. Kami tunggu keputusan dari Kang Manan. Kalau begitu kami permisi dulu Kang Manan."


"Monggo, Gus."


Sekali lagi Manan menyalami kedua Gus itu dan mencium tangan mereka. Begitu juga Ajimukti.


Beberapa saat setelah Faruq dan Ali berlalu dari tempat Ajimukti dan Manan.


Belum sempat Ajimukti melanjutkan pertanyaannya, Manan susah memotongnya. "Seperti kataku tadi, Jik. Mereka pengajar kelas Alfiyah. Gus Ali Jauhari itu putranya Kyai Jauhari. Nah, Kyai Jauhari itu teman satu pondoknya Kyai Aminudin waktu di Sidogiri dan juga pernah satu pondok sama Kyai Salim Muthoriq pengasuh Pondok Hidayah yang dulu, waktu di Rembang. Kalau Gus Faruq sendiri masih kerabat Bu Nyai, istrinya Kyai Aminudin. Mereka datang kesini waktu kesehatan Kyai Salim mulai menurun. Sebelumnya kan seluruh santri ngajinya langsung ke Kyai Salim, termasuk saya, Jik. Kalau Kyai Aminudin dulu khusus untuk yang semakan Qur'an. Mereka sengaja didatangkan oleh Kyai Aminudin untuk mengajar para santri kelas Alfiyah awalnya. Sebenarnya masih ada yang lain. Seperti Gus Nasihin, Gus Ubaid. Tapi mereka tidak menetap disini. Hanya waktu mengajar saja mereka datang ke Pondok Hidayah." Manan menjelaskan panjang lebar. Ajimukti hanya mengangguk paham.


"Lalu untuk yang disampaikan Gus Ali juga Gus Faruq tadi bagaimana, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan hanya mengangkat bahu lalu ngeloyor pergi.


"Saya balik kekamar dulu, Jik. Mau mandi." Ucapnya sambil berlalu.


Ajimukti hanya geleng kepala lalu ikut berjalan meninggalkan halaman masjid yang luas itu.


Di dalam kamar Dullah sedang merebahkan diri di tempat tidurnya. Melihat kedatangan Ajimukti, Dullah bangun dari rebahannya.


"Dari mana, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


"Itu tadi ngobrol di halaman masjid sama Manan, Gus Ali sama Gus Faruq, Lek."

__ADS_1


Dullah mengerutkan keningnya.


"Siapa tadi, Mas? Gus Ali sama Gus Faruq? Itu siapa, Mas. Kok saya baru dengar."


"Oh itu. Saya juga baru bertemu mereka tadi, Lek. Kata Manan mereka pengajar kelas Alfiyah."


Dullah mengangguk anggukan kepala.


"Apa kata Manan mereka sudah lama mengajar disini, Mas?" Tanya Dullah penuh penasaran.


"Sepertinya baru setelah Kyai Aminudin menjadi pengasuh, Lek. Kata Manan juga mereka sengaja didatangkan Kyai Aminudin begitu. Malah yang Gus Faruq masih kerabatnya Bu Nyai."


"Bu Nyai, Mas?" Tanya Dullah dengan mimik wajah masih penasaran.


"Istrinya Kyai Aminudin." Jelas Ajimukti.


"Ohhh."


"Bagaimana mereka. Emmm, kedua Gus itu maksud saya. Kalau menurut pandangan sampeyan waktu bertemu tadi, Mas?" Lanjutnya kemudian.


Ajimukti menerawang.


"Emmm, menurut saya sih mereka berbeda sih, Lek. Waktu tadi saya disana juga nggak menunjukkan perilaku seperti yang kita temui selama disini."


"Baguslah, Mas. Semoga mereka tidak seperti santri santri yang merasa dirinya senior itu."


Ajimukti hanya tersenyum. Lalu beranjak kembali dari rebahannya.


"Sudah mau maghrib, Lek. Saya mandi dulu."


"Yasudah sampeyan mandi dulu, Mas. Kebetulan saya sudah sekalian mencuci tadi."


Ajimukti meraih handuk di gantungan baju diatas tempat tidurnya. Lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.


Dullah masih menerawang. Dalam hatinya Dullah penasaran dengan kedua Gus yang baru saja ditemui Ajimukti tadi. Ingin rasanya ia bisa bertemu secara langsung dengan kedua Gus itu untuk memastikannya sendiri.


Tak berselang lama Ajimukti sudah kembali dari kamar mandi. Meraih sarungnya dan mengenakan baju koko nya.


Adzan Maghrib sudah berkumandang. Menandakan hari sudah mulai petang. Halaman Pondok Hidayah pun berangsur angsur mulai gelap.

__ADS_1


Ajimukti berjalan menyusuri lorong lorong kamar menuju masjid. Dibelakangnya Dullah hanya mengekor. Dullah berharap di masjid nanti ia bisa bertemu dengan kedua Gus yang di ceritakan Ajimukti tadi untuk menutup rasa penasarannya.


Bersambung...


__ADS_2