
Dua hari sudah mengenai ucapan Nyai Kartika terngiang di benak Ajimukti dan sedikit mengusiknya dalam setiap waktu kesendiriannya. Pun dengan hari ini. Sejak siang tadi, pikiran dan rasa penasaran mengenai ucapan Nyai Kartika kembali mengusiknya. Hal itu di karenakan siang tadi Dullah juga Sobri sudah kembali ke Pondok Hidayah.
"Sepertinya ada yang sedang sampeyan pikirkan, Mas?" Tanya Dullah sembari mengambil duduk tak jauh dari tempat Ajimukti duduk.
"Oh, sampeyan, Lek. Iya ini, Lek. Sebenarnya ini mengenai ucapan Sibu di telfon dua hari lalu." Sahut Ajimukti kemudian.
"Ucapan Mbak Yu, Mas? Maaf kalau boleh tahu itu mengenai apa ya, Mas?" Tanya Dullah yang langsung terlihat penasaran.
"Jadi kemarin waktu di telfon, Sibu kembali menyinggung mengenai Bu Lek Mulatsih, Lek. Dan Sibu bilang katanya Sibu dan sampeyan ada satu petunjuk baru. Nah, saya penasaran dengan itu, Lek." Ucap Ajimukti kemudian.
Dullah sedikit tertawa setelah mendengar penuturan Ajimukti tersebut.
"Oalah, mengenai itu tho, Mas. Saya pikir soal apa?" Sahut Dullah setelahnya.
"Iya, Lek. Sejujurnya saya sangat penasaran. Tadi sudah tidak sabar ingin bertanya ini sama sampeyan. Makanya saya menunggu sampai sampeyan istirahat dulu, baru mau menanyakan ini." Ucap Ajimukti kemudian.
Dullah nampak menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas. Memang ada satu petunjuk baru. Hanya menaruh kemungkinan saja. Itu juga timbul dari pikiran Mbak Yu dan saya waktu itu." Sahut Dullah kemudian.
"Petunjuk itu apa, Lek?" Tanya Ajimukti memburu.
"Mbah Sukro, Mas." Sahut Dullah kemudian.
Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya, rasa penasaran nampak jelas terlihat di wajahnya.
"Kenapa bisa petunjuk itu Mbah Sukrono, Lek?" Tanyanya kemudian.
Dullah sedikit menyunggingkan senyum, "Itu karena kalung yang sampeyan pakai itu, Mas."
Mendengar itu Ajimukti agak sedikit terkejut, lalu mengeluarkan kalung dari balik kerah bajunya.
"Kalung ini, Lek? Memang kalung ini saya dapat dari Mbah Sukro waktu itu dan ternyata kalung ini pemberian dari bapak." Ucap Ajimukti sembari melihat kalung di lehernya.
"Lalu apa hubungannya kalung ini juga Mbah Sukro dengan petunjuk tentang Bu Lek Mulatsih, Lek?" Tanyanya kemudian.
"Soal itu saya juga tahu dari Sibunya sampeyan, Mas. Lalu coba saya hubungkan sebagai kemungkinan seperti yang saya bilang tadi." Sahut Dullah setelahnya.
"Jadi, Mas. Kalung itu sebenarnya turun temurun dari Simbah buyut sampeyan, Simbah Kyai Muthoriq. Kemudian dari Buyut sampeyan Kyai Muthoriq, kalung itu beliau berikan pada Kakek sampeyan, Kyai Idris. Karena Kakek sampeyan adalah anak satu satunya dari Buyut sampeyan. Nah, dari Kakek sampeyan kemudian turun lagi ke anak anaknya. Seperti kita tahu, Mas. Simbah Kyai Idris memiliki dua orang istri, dan dari keduanya masing masing memiliki satu anak, Kang Salim juga Bu Lek Mulatsih. Kata Sibunya sampeyan, Mas. Yang jadi petunjuk, sebenarnya bandulnya itu, Mas. Bandul yang ada pada sampeyan itu sepintas mirip kuncup kembang kenanga kan, Mas. Tapi itu sebenarnya miniatur belati. Sementara yang ada sama Bu Lek Mulatsih longsongnya. Itu juga kata Mbak Yu sesuai dengan yang ia dapat dari Kang Salim, Mas." Cerita Dullah panjang lebar.
Ajimukti nampak mengangguk paham.
__ADS_1
"Lalu, kaitan semua ini dengan Mbah Sukro apa, Lek? Sejujurnya saya masih bingung." Ucap Ajimukti kemudian.
"Begini, Mas. Saya menduga Kang Salim sudah punya firasat sebelumnya bahwa pada akhirnya sampeyan akan bertemu dengan Mbah Sukro. Itu alasan kenapa kalung itu ia berikan pada Mbah Sukro, tepatnya dititipkan. Sementara, kalung itu, meski hanya kalung biasa, tapi itu adalah benda berharga. Tentu ada alasan khusus kenapa Kang Salim menitipkannya pada Mbah Sukro kan, Mas. Selain itu, seperti kita tahu juga, Mas. Antara Mbah Sukro dengan Mbah Zaini, mereka berteman baik. Sementara itu, hubungan Mbah Zaini dengan Mbah Idris juga bagaimana, kita semua tahu, beliau berdua sudah seperti kakak beradik. Jadi, saya menarik kesimpulan, mungkin antara Mbah Sukro dengan Mbah Idris pun ada hubungan persabatan. Dan jika dugaan saya benar, Mas. Bisa jadi Mbah Sukro tahu kehidupan Mbah Idris dulunya bagaimana, tentang pribadi Mbah Idris dan tentu mengenai Mbak Yu Mulatsih." Ucap Dullah menjelaskan.
Ajimukti sekali lagi mengangguk paham.
"Benar, Lek. Dari kesimpulan sampeyan saya pun akhirnya juga sarujuk dan berpendapat yang sama dengan sampeyan." Sahut Ajimukti.
"Lalu kapan kita akan menanyakan perihal ini sama Mbah Sukro, Lek?" Tanyanya kemudian.
"Emmm, kebetulan saya disini juga tidak lama, Mas. Bagaimana kalau besok saja?" Sahut Dullah kemudian.
"Baiklah, Lek. Lebih cepat lebih baik." Sahut Ajimukti yang kini ekpresi wajahnya sudah nampak tidak terlihat gelisah.
Sementara itu di tempat Sukrono berada saat ini.
"Bapak sedang apa? Saya perhatikan bapak nampaknya sedang memikirkan sesuatu." Tegur Mursini, anaknya, ketika melihatnya merenung di halaman belakang rumahnya.
"Beberapa malam bapak bermimpi di datangi Mas Gus Salim, Nduk." Sahut Sukrono lirih.
"Kang Salim, Pak?" Tanya Mursini sedikit ada ekspresi terkejut.
"Firasat? Firasat apa itu, Pak?" Tanya Mursini kemudian.
"Akan ada sesuatu yang terjadi. Tapi entah apa itu, semoga saja bukan firasat buruk. Semoga saja seperti waktu itu, Nduk. Sebelum bapak bertemu dengan Mas Aji anaknya Mas Gus Salim. Mas Gus Salim juga sempat datang di mimpi bapak, Nduk." Ucap Sukrono sembari menghela nafas.
Mursini memperhatikan wajah teduh Sukrono, "Semoga memang pertanda baik, Pak."
Sukrono hanya mengangguk.
"Saya jadi ingat Kang Kyai Idris, Nduk. Dulu saya mbelingnya minta ampun. Seneng gelut. Sampai sampai Kang Zaini harus selalu saya repotkan setiap kali saya habis berantem. Setelah itu Kang Zaini mengenalkan saya sama Kang Kyai Idris muda, saya yang seneng gelut waktu itu di prenahke, saya diajarkan silat sama Kang Kyai Idris. Saya yang punya hobby berantem jelas sangat senang waktu itu. Tapi siapa sangka ternyata Kang Kyai Idris seorang Kyai alim. Padahal dulunya saya manggil Kang Kyai Idris saja njangkar." Ucap Sukrono sembari terkekeh memperlihatkan gigi ompongnya.
"Dan siapa sangka saya yang waktu muda tidak tertarik ilmu agama pada masa tua saya, saya harus berguru sama anaknya teman masa muda saya. Kalau ingat itu saya kadang ingin tertawa karena saking malunya, Nduk." Ucap Sukrono melanjutkan ucapannya.
Mursini hanya bisa mendengarkan saja semua cerita Sukrono itu meski sudah sempat beberapa kali ia mendengar cerita itu diulang ulang.
"Arya beberapa hari ini sudah jarang berkunjung kesini ya, Pak." Ucap Mursini setelah sempat beberapa saat keduanya terdiam.
"Iya, Nduk. Biasanya anak itu suka jedal jedul. Tumben sekarang jarang kelihatan." Sahut Sukrono kemudian.
"Apa kamu juga sudah jarang bertemu Mbak Yu mu, Nduk?" Tanya Sukrono kemudian.
__ADS_1
"Emmm, terakhir bertemu ya pas waktu itu Mbak Sih nitip jadah buat bapak itu." Sahut Mursini kemudian.
Sukrono tertawa, "Mbak mu itu ya lucu. Tahu bapak sudah ompong. Wes ra tedas mangan jadah. Nitip kok ya jadah."
"Ya, mungkin Mbak Sih mikirnya bapak masih suka jadah." Sahut Mursini.
"Iya dulu memang bapak itu kalau lihat jadah kayak lihat inten, Nduk. Suenenge pol. Tapi sekarang jangankan makan satu iris, nyokot secuil saja giginya bapak sudah tidak kuat kok." Ucap Sukrono sembari terkekeh.
"Oh, iya, Pak. Waktu bapak bertemu sama Mas Aji apa bapak sudah tanya soal Mbak Sih? Karena setahu saya sejak simboknya Mbak Sih meninggal, antara Mbak Sih dan Kang Salim sudah tidak pernah bertemu lagi." Ucap Mursini kemudian.
Sukrono nampak mengangguk, "Kamu benar, Nduk. Bapak kelupaan. Wah, wes tuwo tenan bapak iki. Sampai bapak pikun." Sahut Sukrono.
"Padahal waktu terakhir Arya kesini, bapak sempat menyinggung soal Mas Aji. E, bapak kok lupa bilang kalau Mas Aji itu kakange Arya yo, Nduk." Lanjut Sukrono kemudian.
"Tapi Arya apa sudah tahu juga ya, Pak?" Tanya Mursini kemudian.
"Wah, yo embuh, Nduk. Coba nanti kalau bapak bertemu Arya atau Mas Aji bapak tanyakan itu, Nduk." Sahut Sukrono kemudian.
"Apa mimpi bapak soal kerawuhan Mas Gus Salim itu berkaitan dengan ini ya, Nduk? Soalnya di dalam mimpi itu, Mas Gus Salim menanyakan soal kalung stigi yang sempat Mas Gus Salim titipkan pada bapak, Nduk." Ucap Sukrono kemudian.
"Bukankah kalung itu sudah bapak berikan sama Mas Aji?" Tanya Mursini kemudian.
"Benar, Nduk. Seperti pesan Mas Gus Salim waktu itu. Itulah luar biasanya Mas Gus Salim, Nduk. Karomah beliau yang bahkan bapak sendiri tidak habis pikir. Bagaimana Mas Gus Salim menitipkan kalung itu sama bapak dan bilang kelak akan ada yang mengambilnya. Seolah waktu itu Mas Gus Salim sudah tahu bahwa pada akhirnya bapak akan dipertemukan dengan Mas Aji." Ucap Sukrono kemudian.
"Kalau di pikir pikir memang tidak sampai, Pak."
Sukrono mengangguk anggukan kepalanya, "Waktu Mas Gus Salim menitipkan itu, Mas Gus Salim bilang bahwa itu satu satunya benda peninggalan kakeknya beliau, Kyai Muthoriq. Kalung itu sebenarnya sepasang, Nduk. Setelah kalung itu sampai ke tangan Kang Kyai Idris. Oleh Kang Kyai Idris, kalung itu di bagi menjadi dua. Yang wujudnya seperti kuncup bunga untuk Mas Gus Salim yang sekarang dipakai Mas Aji itu, sementara selongsongnya beliau berikan sama Mbak mu Mulatsih dan sekarang di pakai Arya itu, Nduk." Ucap Sukrono kemudian.
"Ah, yasudah, Nduk. Bapak mau masukan ayam ayamnya dulu." Ucap Sukrono sembari beranjak dari duduknya.
"Babone sudah ngarak lagi, Pak?" Tanya Mursini kemudian.
"Iya, Nduk. Tapi yang babon satunya lagi ngengkremi. Paling sebentar lagi ngarak." Sahut Sukrono sembari memutar mutar persendian punggungnya.
"Soalnya Mbak Sih kan pesan kalau babone ngarak, Mbak Sih minta sepasang." Ucap Mursini kemudian.
"Ya, nanti kalau sudah bisa makan sendiri kamu antarkan kesana atau suruh Arya mengambilnya, Nduk."
Setelah mengucapkan itu, Sukrono segera beralih ke kandang kandang ayamnya. Kesibukannya di masa tua Sukrono, selain mengoleksi barang barang antik peninggalan leluhur, dia juga senang memelihara ayam jawa juga beberapa pasang burung perkutut.
Bersambung...
__ADS_1