BROMOCORAH

BROMOCORAH
Dia Dalam Doa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Kang Aji."


Ajimukti mendadak menghentikan langkah dan memutar badannya ketika seseorang tiba tiba menyapanya dari arah belakang.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Jawaban salam Ajimukti melambat ketika dia menyadari siapa yang kini berdiri dibelakangnya.


"Gus Ali?" Sapa Ajimukti dan segera meraih tangan Gus satu itu.


"Sedang sibuk apa, Kang Aji?" Tanya Ali kemudian.


"Tidak ada, Gus. Ini sedang nglaras aja. Gus Ali sendiri dari mana atau mau kemana?" Tanya Ajimukti sesaat kemudian.


Ali hanya sepintas tersenyum tipis, "Saya dari kamar dan tadi melihat Kang Aji melintas jadi sengaja ingin menemui Kang Aji." Sahut Ali dengan sedikit senyum mengembang di wajahnya.


Ajimukti sedikit mengerutkan kening, "Menemui saya? Kiranya ada perlu apa ya, Gus?" Tanya Ajimukti sedikit merasa keheranan.


"Kita ngobrol disana dulu, Kang Aji." Ali menunjuk salah satu bangku di bawah pohon mangga yang cukup teduh di halaman masjid pesantren.


Ajimukti hanya mengangguk lalu mengikuti Ali yang lebih dulu berjalan. Dalam hati Ajimukti sedikit penasaran dengan apa yang akan disampaikan Ali saat ini. Karena baginya, ini pertama kali Ali mengajaknya ngobrol berdua dan bahkan sengaja menemuinya, bukan menyuruh santri untuk memanggilkan nya.


"Duduk, Kang Aji." Ali mempersilahkan Ajimukti duduk setelah dirinya lebih dulu duduk di bangku itu.


Ajimukti masih diselimuti rasa penasaran apalagi ketika Ali tiba tiba menghela nafas berat seolah ada hal serius yang ingin dibicarakan dengannya.


"Ada yang sebenarnya ingin saya tanyakan sejak kemarin, Kang Aji. Entah kenapa saya begitu penasaran." Ucap Ali tiba tiba.


Ajimukti sejenak mengerutkan kening.


"Soal apa itu, Gus?" Tanya Ajimukti masih begitu penasaran nya.


Sekali lagi Ali terdengar menghela nafas berat. "Soal siapa Kang Aji ini sebenarnya?" Ucap Ali kemudian.


Seketika Ajimukti terhenyak, dia pun merasa keheranan dengan maksud pertanyaan Ali tersebut.


"Maksud, Gus Ali? Maaf Gus kalau saya belum begitu paham?" Ajimukti berusaha menelisik dari pertanyaan Ali itu.


"Ajimukti Aufatur Muthoriq? Benar itu kan nama panjang Kang Aji?" Tanya Ali sejurus kemudian.


Ajimukti mengangguk pelan, "Benar, Gus?"


Ali terlihat menyunggingkan bibirnya. "Muthoriq." Selepas mengucapkan nama itu Ali kembali menghela nafas, "Saya begitu hafal dengan nama itu." Ucapnya kemudian.


Ajimukti masih merasa ada sesuatu hal yang sebenarnya ingin disampaikan Ali berkaitan dengan namanya itu.


"Maaf! Apa Kang Aji ada hubungan dengan laki laki di foto ini?" Tiba tiba Ali memperlihatkan sebuah foto usang yang entah sejak kapan Ali memegang foto itu.


Sekilas Ajimukti mengamatinya, dahinya berkerut.


"Ini foto saya bersama teman saya waktu nyantri di Rembang lima belas tahun lalu. Apa Kang Aji mengenal foto disebelah foto saya itu?" Tanya Ali kemudian.

__ADS_1


Ajimukti terbelalak. Dia kini hanya bisa menelan ludah dan untuk sesaat Ajimukti pun menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk ringan.


Ali nampak tersenyum, lalu menepuk pundak Ajimukti sebelum akhirnya berdiri.


"Saya sudah mengiranya Kang Aji." Ucapnya kemudian.


Ajimukti masih di posisinya, kini ia sedikit mendongak. "Saya harap untuk sementara waktu ini Gus Ali merahasiakan ini." Ucap Ajimukti pada Ali yang kini berdiri membelakanginya.


Ali menoleh dan sedikit melemparkan senyumnya. "Tenang saja Kang Aji. Saya bisa amanah."


Ajimukti tersenyum pias.


"Dan saya menunggu hasilnya Kang Aji. Oh maaf haruskah saya memanggil..."


"Ajimukti atau Aji saja, Gus." Secepat kilat Ajimukti memotong ucapan Ali. Ali hanya tersenyum dan kemudian berlalu dari hadapan Ajimukti tanpa berkata sepatah kata pun.


Ajimukti masih duduk di bangku di bawah pohon mangga halaman masjid pesantren memandang Ali yang sudah jauh melangkah meninggalkannya. Mendadak lengkungan di bibirnya terlihat jelas menghiasi wajah teduhnya. Untuk sejenak Ajimukti menghela nafas dalam dalam.


Sementara itu di salah satu kamar ndalem Kyai Aminudin.


"Ehem!" Suara deheman wanita paruh baya itu seketika mengagetkan Habiba yang sedang tidur tengkurap sembari memandangi sesuatu di pergelangan tangan kirinya.


"Ah, Umi. Sejak kapan Umi disitu?" Tanya Habiba kepada Uminya yang kini perlahan mendekati anak gadisnya itu dan duduk di ranjang tempat tidur anaknya.


"Sepertinya kamu sedang asik melamun ya? Sampai sampai Umi datang pun kamu tak menyadarinya." Ucap si Umi sembari tersenyum ke arah putrinya itu.


"Melamun apa kamu, Nduk?" Tanya si Umi memandang dalam dalam ke wajah anak gadisnya yang wajahnya mulai memerah itu.


"Ah, tidak Umi. Habiba tadi cuma sedikit mengantuk saja." Habiba mencoba menyembunyikan perasaannya saat ini.


Uminya tersenyum lalu meraih dagu anak gadisnya. "Umi tahu, Nduk. Pasti ada yang sedang kamu sembunyikan. Iya kan? Cerita sama Umi.".


Habiba menatap sorot mata Uminya. Seketika ia memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Bagaimana apa kamu mau sedikit berbagi kebahagiaanmu itu sama Umi?" Tanya si Umi masih memeluk putrinya itu.


Habiba melepas pelukannya. Lalu tersenyum ke arah ibunya. Wajahnya yang memerah tak mampu ia sembunyikan.


"Sepertinya gelang itu yang bikin kamu melamun seharian ya?" Pandangan si Umi tertuju pada gelang kaoka di pergelangan tangan kiri Habiba. Secepat kilat Habiba menyembunyikan tangan kirinya di ujung bajunya.


"Ah, nggak Umi. Umi ini apaan sih?" Habiba kembali terlihat tersipu malu.


"Siapa yang berhasil membuat tuan putri Umi ini sampai melamun seperti ini?" Tanya si Umi sembari meraih tangan Habiba dan meraba punggung tangan gadis itu.


Habiba tertunduk dan untuk sejenak ia menghela nafas.


"Dia laki laki yang hanya bisa Habiba datangkan dalam doa doa Habiba, Mi." Ucapan Habiba lirih.


Sekali lagi uminya meraih dagu Habiba dan mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Dengarkan Umi mu ini, Nduk. Jangan pernah berhenti dalam berharap, karena Allah itu lebih tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaanmu." Ucap si Umi dengar sorot mata yang penuh ketulusan.


"Tapi Abah, Mi?" Seketika raut Habiba berubah.


Uminya mengelus pipi Habiba. "Jika kamu merasa punya Allah, lantas mengapa kamu ragu, Nduk."


"Tapi Habiba takut, Mi. Takut kalau Abah tetap pada pendiriannya itu." Kini wajah Habiba benar benar dirundung kesedihan. Sorot wajah yang tadinya bersinar kini mulai meredup.


"Allah selalu punya jalanNya sendiri, Nduk." Uminya kembali mencoba menenangkan hatinya. Habiba hanya bisa tersenyum setidaknya Uminya tidak pernah memaksakan apa yang menjadi keinginannya.


"Lalu bagaimana?" Uminya kembali bertanya, Habiba memandang wajah teduh uminya itu.


"Bagiamana apanya, Mi?" Sahutnya tak mengerti maksud pertanyaan uminya itu.


Si Umi tersenyum lalu sedikit mencubit ujung hidung anak gadisnya itu.


"Ternyata meski sudah mengenal cinta. Tuan putrinya Umi ini masih tetaplah gadis yang polos ya." Goda uminya, Habiba hanya kemudian kembali tersipu.


"Apa belum mau kasih tahu Umi siapa laki laki beruntung itu?" Tanya uminya sekali lagi.


"Ah, Umi." Habiba mulai memanja.


"Sepertinya spesial sekali pemuda ini?" Ucap uminya lagi masih berharap Habiba mau berterus terang padanya.


"Dia orang baru di kehidupan Habiba, Mi. Tapi dia bukan orang asing." Ucap Habiba kemudian.


"Orang baru tapi bukan orang asing? Maksudnya, Nduk?" Tanya uminya belum bisa menangkap ucapan Habiba.


"Ya Umi. Dia santri baru disini, tapi dia bukan orang asing. Sudah beberapa kali Habiba berkesempatan bertemu dengan dia nya, Mi." Lanjut Habiba kini kembali tersipu.


Uminya mengangguk sepertinya uminya paham siapa yang dimaksud anak gadisnya itu.


"Pinter anak Umi." Ucap Uminya kemudian, wajah Habiba pun kembali memerah.


"Mi, bantu doanya ya." Ucap Habiba memelas dengan matanya yang berbinar binar.


Uminya hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mengecup keningnya. Habiba kembali memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Makasih, Umi." Bisik nya lirih dalam pelukan uminya.


"Jangan putus doa ya, Nduk!."


Habiba mempererat pelukannya sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu.


Tak lama uminya pun berlalu dari kamarnya, sementara Habiba kembali tersenyum sembari memandang gelang kaoka di pergelangan tangan kirinya itu.


"Ya Umi benar. Dan aku tidak akan pernah berhenti berharap sampai waktu itu datang. Sampai waktu dimana Allah mengabulkan permintaanku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2