BROMOCORAH

BROMOCORAH
Mulut Untuk Telinga


__ADS_3

Suara langkah kaki semakin terdengar mendekat membuat degup jantung semakin tidak beraturan. Rasa gemetar pun kian terasa menjalar, membuat kesadaran sepersekian detik membuyar.


Nafisa menyadari jika ada yang mendekat ke arahnya dari arah belakang. Ia tidak berani menoleh. Ia hanya kemudian mencoba lepas dari situasi saat ini.


"Kang Sobri saya duluan." Ucapnya cepat dan segera melangkah menjauhi Sobri dengan langkah cepat juga. Sobri tidak sempat menyahut, Nafisa langsung saja menghilang di balik tembok yang lain, ia hanya kemudian menaikkan pundaknya sembari memandang arah kepergian Nafisa. Tepat di saat itu Manan datang.


"Loh, sepertinya tadi sampeyan sama seseorang, Kang?" Tegur Manan kemudian.


"Iya, Kang Manan. Ning Afis." Sahut Sobri.


Manan mengangguk, "Adiknya Ajik itu, Kang?"


"Benar, Kang Manan. Tapi entah kenapa langsung saja berlalu." Sahut Sobri.


Manan mengernyitkan dahinya, kali ini ia menyadari dengan suasana hatinya yang tiba tiba bergejolak tidak seperti biasa.


"Perlu bantuan, Kang?" Tanya Sobri kemudian membuyarkan Manan.


"Ah, tidak, Kang. Sudah mau selesai." Sahut Manan kemudian.


"Sampeyan temani Pak Lek Dullah saja. Pasti kangen kan, Kang." Lanjut Manan menggoda.


Sobri hanya kemudian tersenyum. Setelahnya ia kembali ke depan bersama Ajimukti, Nyai Kartika juga Dullah, juga Khalil dan Imam. Namun Nafisa tidak terlihat berada di tengah tengah mereka. Sobri sedikit mengerutkan keningnya.


"Sebaiknya Sibu istirahat dulu saja. Pak Lek juga." Ucap Ajimukti setelah beberapa saat.


"Benar, Mbak Yu. Sebaiknya Mbak Yu istirahat saja dulu." Imbuh Dullah.


"Baiklah kalau begitu. Le, antarkan Sibu ke kamar." Ucap Nyai Kartika beralih pada Ajimukti.


"Nggeh, Bu." Sahut Ajimukti kemudian berdiri di ikuti Nyai Kartika.


"Adimu kemana, Le?" Tanya Nyai Kartika kemudian.


"Tidak tahu, Bu. Tadi sepertinya dia kebelakang. Emmm, mungkin jalan jalan, Bu. Karena kan dua pernah tinggal disini. Mungkin dia kangen suasana disini." Sahut Ajimukti setelahnya.


Nyai Kartika hanya tersenyum setelahnya. Namun dalam hati wanita paruh baya itu menangkap sesuatu yang berbeda dari gadis yang mereka bicarakan itu bahkan sejak dari keberangkatannya pagi tadi.


Sementara Ajimukti mengantar Nyai Kartika untuk beristirahat, di tempat lain, di samping ndalem, di sebuah gang sempit, Nafisa nampak menyandarkan punggungnya ke tembok yang sebagian cat nya sudah mengelupas. Sesekali ia nampak menghela nafas mengatur detak jantungnya. Ada bulir bulir seketika itu juga membasahi sebagian keningnya.


"Awalnya saya tidak terlalu yakin, tapi setelah saya mengaitkan semua kemungkinan, barulah saya yakin. Dan ternyata memang benar, kamu." Tegur seseorang yang keluar dari balik tembok dan entah sejak kapan berada disana.


Mendengar teguran itu, Nafisa seketika terperanjat kaget. Detak jantungnya kian tak beraturan bahkan sebelum ia menoleh ke arah sumber suara.


Nafisa sekali lagi menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kang Manan... Emmm, sejak kapan sampeyan disana?" Tanya Nafisa dengan sedikit ragu dan suaranya terdengar berat.


Manan tersenyum kecut.


"Saya balik pertanyaannya ya. Sejak kapan kamu suka main kucing kucingan seperti ini? Ini seperti bukan kamu, Sa?" Ucap Manan setelahnya.


"Saya pikir Ning Afis yang sejak awal mereka bicarakan bukan kamu. Tapi setelah saya ingat bahwa Nafisa yang saya kenal dulu adalah keponakan Kyai Salim, barulah saya sadar. Mungkin Ning Afis adalah Nafisa yang saya kenal." Lanjut Manan sembari menghisap rokoknya.


"Iya, ini saya, Kang. Saya kembali." Ucap Nafisa lirih.


"Kembali? Kembali untuk siapa, Sa?" Tanya Manan sedikit mempertegas suaranya.


"Kembali untuk tempat ini saja kan?" Lanjut Manan kemudian.


Nafisa menghela nafasnya.


"Apa kabar, Kang?" Tanya Nafisa lirih.


Manan tak menyahut seketika itu juga, sekali lagi ia hanya tersenyum kecut.


Untuk beberapa saat mereka sama sama diam dalam kebisuan.


"Saya pikir kamu akan benar benar memberi kabar waktu itu. Ah, tapi sudahlah." Manan menghela nafasnya lalu menegakkan posisinya untuk pergi dari tempat itu.


"Maaf, Kang." Ucap Nafisa lirih.


Manan mengibaskan tangannya dan benar benar akan pergi setelahnya.


"Tunggu, Kang! Tidak bisakah kita mengobrol barang sejenak?" Nafisa mencoba menahan Manan.

__ADS_1


"Apa lagi? Apa lagi yang harus dibicarakan, Sa?" Manan sedikit menoleh, menatap lekat ke arah Nafisa.


"Apa seperti ini setelah saya benar benar kembali?" Tanya Nafisa kemudian.


"Kembali? Hah..." Manan mendengus.


"Jika memang kamu kembali untuk semua ucapan kita waktu itu, harusnya kamu memberi tahu saya, Sa. Setidaknya menemui saya. Atau memberi kabar melalui Ajik mungkin." Ucap Manan setelahnya.


"Saya... saya..."


"Sudahlah, Sa. Saya tidak memaksa kamu untuk ingat semua, tapi setidaknya jangan menggantung perasaan seseorang. Karena jika terlalu tinggi kamu menggantungnya, hanya akan susah diraih kembali, pun jika terlalu rendah, akan membuat orang lain mudah meraihnya." Ucap Manan kemudian memotong ucapan Nafisa.


Nafisa sekali lagi menghela nafasnya dalam dalam.


"Biar saya menjelaskan semua, Kang." Ucap Nafisa setelahnya.


Lagi lagi Manan mengibaskan tangannya.


"Terima kasih untuk niat baik kamu, Sa. Saya hargai itu. Tapi semua keadaan ini sudah cukup memberi penjelasan untuk saya." Sahut Manan.


"Tapi, Kang. Tidak seperti itu maksud saya." Nafisa sedikit memaksa dan memberi pengertian pada Manan.


"Tidak seperti itu ya? Baiklah, seperti ini saja kalau begitu, Sa." Sahut Manan lagi.


"Kamu adiknya Ajik, pengasuh pesantren ini. Sementara saya santri di pesantren ini. Saya akan membiasakan itu. Tentu saja, akan membiasakannya." Lanjut Manan kemudian.


"Ning Afis." Ucap Manan lirih lalu benar benar melangkah menjauh dari Nafisa.


"Kang... Kang Manan... Tunggu...!" Nafisa sedikit menaikkan suaranya mencoba kembali menahan Manan, tapi kali ini tak ada reaksi dari Manan. Ia hanya kemudian benar benar berlalu meninggalkan Nafisa.


"Seharusnya tidak seperti ini, Kang." Bisik Nafisa lirih.


"Bukan seperti ini yang saya harapkan." Gumamnya lagi.


"Biarkan Manan menenangkan dirinya."


Nafisa sekali lagi dibuat terperanjat dengan suara yang tiba tiba saja menegurnya. Nafisa segera memutar pandangannya.


"Mamas?" Ucapnya lirih begitu melihat Ajimukti sudah berdiri tak jauh darinya.


"Saya tidak menyalahkan kamu, tapi tidak juga membenarkan kamu." Lanjutnya.


"Maksudnya, Mas?" Nafisa sedikit mengerutkan keningnya.


"Jika harus disalahkan, kamu jelas salah. Namun jika harus dibenarkan pun, kamu ada benarnya, Sa." Ucap Ajimukti setelahnya.


Nafisa menghela nafasnya, ia paham maksud ucapan Ajimukti itu.


"Lalu saya harus bagaimana, Mas?" Tanya Nafisa meminta saran Ajimukti.


Ajimukti tersenyum, "Seperti kata saya tadi. Biarkan Manan menenangkan hatinya dulu. Jika sudah saatnya. Barulah kalian bicara lagi. Saya tidak bisa membantu banyak, kalianlah yang tahu harus bagaimana." Ucap Ajimukti setelahnya.


Nafisa mengangguk ketika itu.


"Sekarang temani Sibu saja. Dia ada di kamar saya. Atau kalau tidak, kamu ke kamar kamu yang sudah saya siapkan." Perintah Ajimukti kemudian.


"Saya ke kamar saya saja ya, Mas. Saya ingin menenangkan diri juga." Sahut Nafisa.


Ajimukti hanya mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Nafisa kembali sendiri. Tak lama, Nafisa pun beranjak dari tempat itu.


Beberapa saat kemudian, Manan sudah duduk di lincak sebuah emperan rumah.


"Kamu kenapa sore sore begini kesini, Nan. Bukankah Bu Nyai baru saja datang. Apa tidak repot di ndalem?" Tegur seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Dia kembali, Jeng." Ucap Manan lirih pada Ajeng yang kemudian duduk tak jauh darinya.


"Dia?" Ajeng mengerutkan keningnya keheranan.


"Dia siapa, Nan?" Tanyanya kemudian.


Manan menghela nafasnya, "Nafisa, Jeng."


Ajeng tersentak kemudian kembali mengerutkan keningnya.


"Dia kesini? Mengunjungi kamu? Begitu maksudnya?" Tanya Ajeng masih penasaran.

__ADS_1


Manan menggeleng, "Dia datang bersama Bu Nyai dan Lek Dul." Ucapnya kemudian.


Sekali lagi Ajeng mengerutkan keningnya.


"Datang bersama Bu Nyai? Kok bisa, Nan?" Tanyanya sarat keheranan.


Manan sedikit tersenyum, "Kamu tahu kan? Dia itu keponakan Kyai Salim?"


Ajeng mengangguk, "Oh, iya ya. Hmmm... Berarti Ning Afis yang di maksud Kang Sobri itu Nafisa, Nan? Begitu maksud kamu?"


Manan mengangguk, "Benar, Jeng. Saya pun awalnya tidak yakin itu dia. Tapi setelah saya mengaitkan satu persatu. Barulah saya yakin." Ucapnya kemudian.


"Kamu sudah bertemu dengannya?" Tanya Ajeng setelahnya.


Sekali lagi Manan mengangguk, "Sebelum saya kesini tadi."


"Lalu bagaimana?" Tanya Ajeng kemudian.


Manan sekali lagi tersenyum, "Saya tidak mengerti dengan jalan pikirannya, Jeng."


"Maksudnya, Nan?" Tanya Ajeng masih tidak paham akan ucapan Manan itu.


"Kamu tahu sendirilah. Bagaimana dia sebelum pergi. Dan sekarang, meski dia kembali. Tapi sepertinya tidak untuk saya, Jeng." Manan melenguh kali ini, wajahnya nampak kusut dan begitu nampak sekali kegundahannya.


Ajeng justru tertawa kali ini. "Lalu kalau tidak untuk kamu? Untuk siapa, Nan?" Tanya Ajeng kemudian.


"Ya, entahlah, Jeng. Mungkin ada maksud tujuan lainnya." Sahut Manan.


Ajeng menggelengkan kepalanya, "Nan, Manan. Kamu itu."


"Coba pikir, Jeng. Jika dia memang kembali untuk saya. Kenapa dia tidak memberi tahu saya. Mengabari lewat Ajik misalnya. Kan dia tahu saya disana, dekat dengan Ajik." Ucap Manan menegaskan pikirannya.


"Kamu sudah tanya dia kenapa seperti itu?" Tanya Ajeng kemudian.


"Dia sempat ingin menjelaskannya, tapi saya tidak ingin mendengarnya. Bagi saya semua ini sudah cukup memberi penjelasan pada saya." Sahut Manan.


Ajeng menggaruk keningnya sendiri. " Disitulah letak kesalahan kamu, Nan. Kamu tidak mau tahu alasan dia kenapa seperti itu. Tapi justru kamu menyimpulkannya sendiri. Ingat, Nan. Tidak semua seperti apa yang kita pikirkan. Bahkan terkadang, hal yang kita pikir baik ternyata buruk. Begitu juga sebaliknya, hal yang kita pikir buruk, eh ternyata hal baik. Coba tadi kamu memberinya kesempatan bicara, pasti akan ada titik terangnya. Kamu jadi tahu alasan dia. Kamu juga tidak dikuasai pikiran kamu sendiri." Ucap Ajeng kemudian.


Manan terdiam kali ini.


"Coba kamu bercermin, Nan! Biasanya poros kesalahan ada disana. Disanalah kamu akan menemukan pelaku kesalahannya." Lanjut Ajeng kemudian.


"Sudah, Nan. Jangan selalu mengedepankan ego. Sekali waktu, kamu butuh mendengar penjelasan orang lain." Imbuh Ajeng.


Manan menghela nafas, "Apa masih perlu, Jeng?"


Ajeng tersenyum, "Perlu tidak perlu, Nan. Tapi setidaknya kita tidak dikuasai ego. Adanya mulut itu untuk telinga, pun sebaliknya, Nan. Kita butuh telinga seseorang saat mulut kita bicara, sebaliknya , telinga kita butuh mendengar saat mulut orang lain bicara. Seperti saat ini, Nan. Saya bicara kamu mendengar, kamu bicara saya mendengar."


Manan tersenyum, "Terima kasih, Jeng."


"Sudahlah, Nan. Kamu sudah cukup dewasa juga bijaksana dalam hal ini. Kamu tahu kamu harus bagaimana menyikapinya." Ucap Ajeng kemudian.


Manan mengangguk lalu menghela nafasnya.


"Bagaimana kamu sendiri dengan Kang Sobri, Jeng?" Tanya Manan mengalihkan pembicaraan.


Ajeng tersenyum, "Bagaimana yang seperti apa yang kamu tanyakan, Nan?"


"Apa kamu tidak berniat untuk lebih serius dengan dia?" Tegas Manan kemudian.


"Biar waktu yang menjawab. Semua butuh proses, Nan." Sahut Ajeng.


"Ya ya ya, kalian akan menjadi pasangan yang membuat iri yang lain. Kehati hatian kalian salah satu alasannya." Ucap Manan kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu, Nan Nan. Kalau memang iya. Itu berkat doa kamu ini." Sahut Ajeng juga ikut berdiri.


"Sebagai teman. Eh, saudara. Saya hanya berdoa yang terbaik untuk saudara saya, Jeng." Ucap Manan sembari melengkungkan bibirnya.


"Seperti halnya saya, Nan. Saya juga hanya bisa memberi mu sedikit saran, itu juga sebagai saudara jika kamu anggap." Sahut Ajeng.


Manan tertawa mendengar itu. "Terima kasih, berkat kamu kegelisahan hati saya berangsur angsur membaik."


"Sudah, sebaiknya kamu cari waktu untuk benar benar bisa berbicara dengan Nafisa, Nan. Kesampingkan ego kamu." Ucap Ajeng setelahnya.


Manan hanya kemudian mengangguk, lalu setelahnya kembali berpamitan dan pergi berlalu dari emperan rumah itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2