BROMOCORAH

BROMOCORAH
Nugroho Dan Kehidupannya


__ADS_3

"Mau apa kamu datang kesini?" Pak Nugroho segera mengacungkan telunjuknya ke arah Ajimukti.


"Yang pasti saya kesini karena memang punya tujuan, Pak." Sahut Ajimukti tenang.


Raut wajah dan ekspresi Nugroho terlihat sangat marah, rahangnya nampak keras dan tegas. Ajimukti sekilas melihat ekspresi kemarahan Nugroho itu, ia pun berpikir apa mungkin hanya karena Budi, Nugroho terlihat semarah ini padanya. Tapi Ajimukti segera beralih pada pemuda di sebelahnya yang sejak tadi masih nampak terkejut melihat kedatangan Ajimukti.


"Kang Samuel? Kenapa sampean bisa ada disini? Emmm, maaf, sepertinya saya harus mengganti pertanyaan saya. Sampeyan kenal dengan Pak Nugroho?" Tanya Ajimukti kemudian pada pemuda yang duduk di sebelahnya.


"Pak Nugroho ini..."


"Kamu pulanglah dulu!" Nugroho segera memotong ucapan Samuel sebelum ia menjawab pertanyaan Ajimukti.


Samuel kemudian hanya mengangguk, sepertinya ia tahu Nugroho tak ingin dirinya menjelaskan apapun pada Ajimukti. Ia pun kemudian hanya berdiri, lalu menyalami Nugroho.


"Saya pulang dulu, Pak. Kalau ada waktu saya kesini lagi." Ucap Samuel sembari mencium tangan Nugroho.


Nugroho tak merespon. Samuel hanya kemudian melempar senyum pada Ajimukti.


"Saya duluan, Kang." Ucapnya pada Ajimukti, Ajimukti hanya mengangguk.


Ajimukti melihat ada hubungan khusus antara Samuel dan Nugroho. Tapi dirinya tidak ingin menanyakan itu saat ini. Ia tahu dengan Nugroho menyuruh Samuel pulang, tentu karena Nugroho tidak ingin menjelaskan apapun tentang hubungan mereka.


Begitu Samuel keluar dari ruang kunjungan itu, Ajimukti segera duduk di tempat Samuel tadi duduk.


"Ada apa? Ada apa kamu datang menemui saya kesini?" Tanya Nugroho kemudian.


Ajimukti tersenyum pias, "Soal Pak Warsito." Ucapnya datar.


"Warsito? Bagaimana kamu tahu nama itu?" Nugroho menatap tajam Ajimukti.


"Tidak hanya namanya yang saya tahu. Juga apa yang Pak Nugroho dan Pak Warsito rencanakan pada saya. Saya sudah tahu." Sahut Ajimukti sembari membalas tatapan Nugroho kepadanya.


Nugroho menyeringai, "Ternyata kamu memang tak segampang yang saya kira untuk saya singkirkan."


"Apa tujuan bapak? Ada masalah apa?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Banyak." Sahut Nugroho singkat dan datar.


"Banyak itu apa saja, Pak? Apa saling banyaknya tidak bisa dijelaskan?" Ajimukti mendesak.


Nugroho kembali menyeringai, "Kamu sudah terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan saya. Dan lagi, kamu juga sudah menggagalkan lamaran Budi pada anak Kyai Aminudin. Tentu kamu tidak lupa dengan Budi anak saya kan?" Tanya Nugroho kemudian.


"Tunggu! Jadi maksud Pak Nugroho, selain masalah Budi, ada sebab masalah lain? Begitu?" Tanya Ajimukti menyelidik.


"Heh." Nugroho mendengus, "Saya jelaskan pun rasanya percuma, kamu hanya bocah yang tidak akan bisa mengerti." Ucapnya kemudian.


"Lalu jika Pak Nugroho merasa saya hanya bocah yang tidak mengerti, lantas kenapa bapak berusaha menyerang saya?" Tanya Ajimukti mengintimidasi.


"Karena kamu anak orang itu!" Nugroho sedikit menekan kata katanya.


Ajimukti mengerutkan keningnya. "Apa maksud bapak dengan karena saya anak orang itu?"


"Ya, kamu ternyata anak di b*jing*n bernama Salim itu. Saya tidak menyangka bahwa b*jing*n itu memiliki anak." Ucap Nugroho kemudian dengan tatapan tajam menjurus ke arah Ajimukti.


Ajimukti kini mulai paham kenapa Nugroho sejak awal nampak begitu marah. Ternyata ada dendam pribadi antara Nugroho dengan Salim.

__ADS_1


"Dan ternyata tidak hanya bapakmu yang memang suka bikin ulah. Ternyata kebiasaan itu menurun di kamu. Kebetulan sekali, kau mencari masalah dengan Budi, jadi saya punya cukup banyak alasan untuk membalas dendam kakakku pada si b*jing*an Salim itu." Nugroho terlihat diselimuti amarah, ekspresi kemarahannya kini pun semakin menjadi jadi, wajahnya semakin merah padam.


"Kakak Pak Nugroho? Apa maksudnya saya semakin tidak mengerti, siapa kakak Pak Nugroho itu? Bisa bapak jelaskan! Jadi jika memang dendam itu tertuju pada bapak, biar saya yang menanggung balasan dendam itu atas nama bapak saya." Ajimukti menatap tajam Nugroho dengan tatapan tenang tanpa keraguan.


"Kamu tidak akan pernah mengerti. Dan jangan ikut campur!" Nugroho membentak membuat perhatian pengunjung sekitar tertuju ke arah mereka.


Ajimukti tersenyum sinis kali ini, "Bagaimana saya tidak ikut campur sedang sasaran Pak Nugroho adalah saya yang bapak anggap orang yang bahkan tidak mengerti apa permasalahan sebenarnya." Ucap Ajimukti dengan nada mengejek.


Nugroho diam dan terus memandang tajam Ajimukti. Nafasnya memburu.


"Baiklah jika memang kamu ingin tahu. Dengar baik baik! Gara gara bapak kamu itu kamu tahu? Kakak Perempuan saya satu satunya sudah lebih dari tiga puluh tahun harus menjadi wanita yang kehilangan akalnya. Itu semua gara gara bapak kamu." Nugroho menekan ucapannya.


Ajimukti mengerutkan kening, ia ingat bahwa Nugroho memang memiliki kakak perempuan bernama Ningsih yang sejak gadis berada di pusat rehabilitasi jiwa. Dia pun penasaran dengan masa lalu Ningsih dan bapaknya itu.


"Kakak perempuan yang bapak maksud Bu Ningsih?" Tanya Ajimukti kemudian.


Nugroho menyunggingkan bibirnya, "Bagus jika kamu sudah tahu."


"Lalu apa sebenarnya permasalahannya jika saya boleh tahu?" Tanya Ajimukti semakin menyelidik.


"Saya lihat kamu sangat ingin tahu. Baiklah jika kamu memaksa untuk ingin tahu." Nugroho mendekatkan wajahnya ke Ajimukti, pandangan mereka kini beradu.


Ajimukti tidak merubah ekspresi wajahnya. Ia tetap tenang meski tatapan Nugroho begitu tajam ke arahnya.


"Dengar baik baik. Bapak kamu lah yang membuat Kakak perempuan saya yang bernama Ningsih itu tidak lagi bisa menikmati masa mudanya sampai sekarang ini." Nugroho mulai bercerita.


"Apa yang dilakukan bapak saya pada kakak anda itu, Pak?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Bapak kamu dengan tanpa memikirkan perasaan Mbak Ningsih begitu saja menolak cintanya. Tanpa bapak kamu mau tahu sedalam apa perasaan Mbak Ningsih terhadapnya. Benar benar b*jing*n bapak kamu itu." Nugroho nampak semakin ingin meluapkan kemarahannya.


"Bukankah perasaan memang tidak bisa dipaksakan? Bapak saya tentu memiliki pertimbangan kenapa tidak bisa menerima Bu Ningsih saat itu." Ajimukti mencoba membela bapaknya kali ini.


"Lalu dengan cara anda membalas dendam kepada saya seperti yang sudah anda lakukan, apa Bu Ningsih juga jauh lebih baik? Dari yang saya tangkap, Bu Ningsih sampai seperti itu tentu karena sangat mencintai bapak. Lalu apa beliau yang begitu mencintai bapak akan tega menyakiti bapak?" Ajimukti mencoba menekan pemikiran Nugroho.


"Saya tidak peduli." Nugroho kembali membentak dan sekali lagi membuat pandangan orang orang tertuju ke arahnya. Merasa tak ingin ada kegaduhan di ruang kunjungan, seorang petugas menyuruh seorang tamping untuk menyudahi kunjungan untuk Nugroho.


Ajimukti hanya mengangguk ketika tamping itu datang memberi tahunya bahwa waktu kunjungannya sudah selesai.


"Saya pasti akan kembali kesini untuk tahu lebih lagi soal semua ini, Pak. Yang Pasti saya yakin semua ini bukan kemauan bapak." Ajimukti kemudian sedikit menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf atas nama Salim, bapak saya." Ucapnya kemudian.


Nugroho tak menyahut, ia hanya kemudian berdiri dan melangkah bersama seorang tamping untuk kembali ke dalam sel tahanan. Ajimukti pun segera beranjak dan keluar dari ruang kunjungan itu.


Begitu tiba diluar Ajimukti terkejut melihat Samuel yang masih berada di halaman parkir tempat itu.


"Kang Samuel, masih disini? Apa mau kembali kedalam?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Tidak, Kang. Justru saya disini untuk menunggu sampeyan keluar." Ucap Samuel.


"Menunggu saya? Ada apa ya, Kang?" Tanya Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya.


"Kang Aji kenal bapak saya?" Tanya Samuel kemudian.


Ajimukti tersentak, ia berpikir sejenak, apa bapak yang dimaksud Samuel adalah Nugroho.


"Pak Nugroho maksud Kang Samuel?" Tanya Ajimukti menyelidik.

__ADS_1


Samuel mengangguk, "Ya, benar, Kang. Nugroho adalah bapak kandung saya. Dan saya kesini karena untuk membesuk beliau." Ucap Samuel kemudian.


Ajimukti terperanjat, kali ini ia benar benar terkejut. Bagaimana bisa Samuel dan Budi bersaudara.


"Jadi sampeyan dan Budi?" Tanya Ajimukti kemudian.


Samuel mengangguk ringan. "Ya, Budi adik beda ibu, hanya saja kami beda ibu."


Mendengar itu Ajimukti mengerutkan kening. Jadi Nugroho menikah dua kali? Batinnya.


"Sampeyan sendiri belum menjawab pertanyaan saya. Sampeyan kenal bapak saya, Kang?" Tanya Samuel kemudian.


Ajimukti menaikkan pundaknya, "Sebelumnya tidak, Kang. Sejujurnya pun saya baru kali pertama ini bertemu dengan Pak Nugroho." Ucapnya kemudian.


Samuel nampak mengerutkan kening, "Baru pertama ini bertemu? Lalu ada perlu apa, Kang?"


Ajimukti menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Samuel itu, sejujurnya ia pun ragu apakah ia harus berterus terang atau tidak soal apa yang sudah dilakukan Nugroho padanya.


"Saya hanya diutus Pak Kyai, Kang. Ini soal Kang Budi yang pergi diam diam dari pesantren beberapa Minggu yang lalu. Kebetulan hanya dengan menemui Pak Nugroho kami akan mendapat informasi soal Kang Budi." Ajimukti akhirnya memilih untuk tidak berterus terang soal tujuannya datang menemui Nugroho.


Samuel mengangguk, "Ya, saya tahu, Pak Lek Warsito juga sempat bertanya pada saya apa saya tahu keberadaan Budi, tapi jangankan sekarang, dulu saja ketika dia masih di pesantren tidak sekalipun mau menemui saya, tidak sengaja bertemu pun dia acuh dan seolah tidak mengenal saya." Samuel sedikit tertawa.


"Dan lagi keluarga bapak yang sekarang juga di ungsikan ke rumah Pak Lek Warsito selama bapak ditahan ini." Samuel menambahi. Dia pun yakin kenapa Nugroho sampai terlihat marah dan berdiri tadi sewaktu di ruang kunjungan, mungkin karena bapaknya itu malu ketika pihak pesantren tahu dirinya ada di sel tahanan.


Mendengar nama Warsito disebut sebut oleh Samuel. Ajimukti menangkap sesuatu. Mungkin dirinya akan dapat informasi mengenai Ningsih juga.


"Warsito itu siapa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Warsito itu anak bungsu kakek dari bapak, Kang. Dia juga belum lama ini keluar. Seminggu setelah bapak ditahan sepertinya." Sahut Samuel tanpa menaruh curiga pada Ajimukti.


Ajimukti mengangguk, "Lalu Kang Budi sendiri apa juga sekarang tinggal bersama Pak Lek sampeyan itu, Kang?"


"Yang saya tahu dia jarang terlihat pulang kesana, Kang. Saya pun tidak tahu kemana dia kalau tidak ada dirumah." Sahut Samuel lagi.


"Boleh saya minta alamat Pak Lek sampeyan itu, Kang. Mungkin saya atau santri yang lain bisa bertanya kesana untuk kembali membujuk Kang Budi kembali ke pesantren." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Tentu saja, Kang. Sebentar saya tuliskan." Samuel mengeluarkan bolpoin dan juga secarik kertas lalu nampak menulis sesuatu.


"Ini alamat Pak Lek, Kang." Ucap Samuel sembari menyodorkan secarik kertas berisi alamat Warsito itu pada Ajimukti.


"Terima kasih, Kang. Oh, iya, Kang. Saya masih tidak menyangka ternyata sampeyan ini anaknya Pak Nugroho juga." Ucap Ajimukti setelah menerima alamat Warsito itu.


Samuel nampak tertawa, "Ya, memang tak banyak yang tahu, Kang." Ucapnya kemudian.


"Lalu tadi sampeyan bilang bahwa Kang Budi acuh sama sampeyan dan seolah tidak saling kenal jika bertemu. Kenapa begitu, Kang? Maaf bukannya saya ingin ikut campur, Kang." Ajimukti sedikit penasaran dengan asal usul Samuel ini.


Samuel menghela nafas, "Bapak dan ibu dulu dijodohkan, Kang. Mereka sama sama tidak mencintai ketika pernikahan itu terjadi. Mereka hanya menurut saja, meski sama sama tidak menginginkannya. Lalu setelah kakek Sastro Darmono meninggal, bapak merasa memang hubungan mereka tidak bisa di pertahankan. Mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai, tepat diusia saya tiga tahun saat itu." Samuel mulai bercerita tentang masa lalu Nugroho dan ibunya.


"Setelah perceraian itu, bapak kemudian menikah dengan wanita yang memang sejak dulu dicintainya, yaitu ibunya Budi itu, Kang. Namun berbeda dengan ibu, ibu diam diam mulai menaruh rasa pada bapak, hanya saja ketika perceraian itu terjadi, ibu tidak bisa menolaknya meski ibu sudah mulai mencintai bapak." Lanjut Samuel kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk paham. Ia melihat kekosongan dalam pandangan Samuel.


"Lalu setelah perceraian itu, ibu membawa saya ke Belanda. Disana ibu akhirnya bertemu dengan seorang pria yang bisa membuat perasaan ibu ke bapak berangsur angsur diberikannya ke pria itu. Ibu pun kemudian menetap disana, dan saya baru kembali setelah lulus SMA disana." Samuel meneruskan ceritanya.


Setelah perbincangan pagi menjelang siang itu, Ajimukti sedikit banyak tahu lebih banyak tentang Nugroho. Ia juga tahu alasan dibalik semua rencana Nugroho padanya akhir akhir ini. Setidaknya ia lega, Kyai Aminudin tidak terlibat di dalamnya, tepat seperti perkiraannya.

__ADS_1


Ajimukti dan Samuel pun berlalu dengan mobil masing masing meninggalkan halaman parkir Kantor Lembaga Pemasyarakatan itu. Mereka berjalan beriringan hingga berpisah tak jauh dari pasar tempat Samuel sehari harinya membuka warung makan. Sepintas pun Ajimukti melihat Johanes yang masih seperti ketika dulu mereka bertemu.


Bersambung...


__ADS_2