BROMOCORAH

BROMOCORAH
Do'a Di Iring Shalawat


__ADS_3

...Wong tuo loro banget anggone ngarepake...


...Putra putrine ora nganti nguciwa'ake...


...Harapane dadi wong kang tho’at ing Pangerane...


...Cekelan kenceng ndherek sunnah toriqoh Nabine...


...Allahumma Sholli Wa Sallim Ala......


...Sayyidina Wamaulana Muhammadin......


...Adadama Fi 'Ilmilahi Sholatan......


...Daimatan Bi Dawami Mulkillahi......


...Semono ugo tho’at marang poro gurune...


...Lan wong tuo loro mirengaken wejangane...


...Jejeg lan bener den dadek'ake kebutuhane...


...Sholeh amale mbangun rukun ing poro ikhwane...


...Allahumma Sholli Wa Sallim Ala......


...Sayyidina Wamaulana Muhammadin......


...Adadama Fi 'Ilmilahi Sholatan......


...Daimatan Bi Dawami Mulkillahi......


Lantunan qasidah syi'ir Jawa dari salah satu grub Hadrah yang dibawakan dengan versi gundul gundul pacul itu mengalun indah dari seorang vocalisnya yang bersuara merdu.


Iringan rebana banjary dan darbuka yang dipadu dengan beberapa perkusi terdengar sangat indah mengiring qasidah itu malam ini. Beberapa santri dan warga sekitar pondok tampak senang mengayun ayunkan tangan mereka ke atas seirama dengan iringan musiknya.


Dibagian depan menghadap ke para jama'ah, terlihat Kyai Aminudin, Faruq juga Ali berhadap hadapan dengan grub Hadrah yang berada di shoff paling depan itu. Dibelakang grub Hadrah duduk bersila para santri santri putra dari kelas Diniyah sampai kelas Aliyah.


Ajimukti duduk diujung agak belakang dekat jendela, disebelahnya ada Dullah juga Manan dan juga beberapa santri yang sedang asik mengikuti syi'ir Jawa yang dilagukan apik itu.


Dullah diam diam mengamati Ajimukti yang sejak tadi meraba raba gelang di tangan kirinya. Dullah mengerutkan kening, ia tahu selama ini Ajimukti tidak pernah memakai gelang itu. Ia hafal betul Ajimukti hanya sering menggunakan arloji juga cincin akik peninggalan bapaknya.


"Kemarin beli gelang ya, Mas?" Tanya Dullah sembari melirik tangan kiri Ajimukti.


Ajimukti sedikit gelagapan dan segera menyembunyikan tangan kirinya dibalik tangan kanannya.


"Ah, apaan sih, Lek." Sahut Ajimukti sedikit salah tingkah.


"Emmm, roman roman nya ada yang spesial nih dari gelangnya?" Celetuk Dullah sedikit menyenggol Ajimukti. "Dari Ning Biba ya, Mas?" Bisik Dullah kemudian.


Ajimukti membuang wajahnya dari Dullah. Dullah terdengar cekikikan. Ketika itu juga tanpa sengaja Habiba terlihat melintas dari arah luar jendela. Habiba pun tanpa sengaja melihat ke arah Ajimukti. Untuk beberapa saat mereka saling bertukar pandang dan diakhiri dengan saling melempar senyum.


"Jika saja cinta itu bisa berteriak, maka langit pun tak akan mampu menahan gemanya. Ihiirrr." Tiba tiba saja Dullah sudah berorasi dan kembali menyenggol Ajimukti.


Ajimukti terlihat kaget bahkan hampir saja terbentur ke jendela karena senggolan Dullah itu.

__ADS_1


"Tuh kan, gitu aja Mas Aji sudah nggak fokus." Goda Dullah lagi.


"Apaan sih, Lek. Udah ah. Nggak ada apa apa juga." Ajimukti nampak mulai terlihat kikuk setiap kali Dullah menggodanya.


"Ada apaan sih?" Tanya Manan yang keheranan melihat Dullah dan Ajimukti terlihat asik sendiri sejak tadi.


"Ini lho, Nan. Mas Aji ini..."


"Nggak ada apa apa, Nan. Lagi seneng sama grub Hadrah nya. Variasi sama kekompakan nya dapet." Potong Ajimukti sambil sedikit nyengir.


Dullah akhirnya hanya bisa geleng geleng kepala.


Tak lama qasidah pun berhenti. Dari depan terdengar Faruq mulai memimpin pembacaan Maulid Simtudduror, salah satu kitab maulid karangan Al-Habib Al-Imam Ali bin Muhammad bin Hussein Al-Habsyi. Ruangan itu mendadak hening dan hanya suara serak Faruq yang terdengar sedang membacakan isi dari kitab maulid itu.


"Allaahumma sholli wa sallim asrofa sholaati wataslim 'alaa sayyidina wanabiyyina muhammadinirroufirrohiim... Allaahumma sholli wasallim wabaarik 'alaihi wa 'ala alih..." Suara para jama'ah yang hadir kompak bergema setiap Faruq selesai membaca satu pasal dari kitab maulid itu. Dan kemudian grub Hadrah pun kembali mendendangkan qasidah nya.


Di depan Faruq terlihat memanggil salah satu santri. Membisikkan sesuatu ke santri tersebut dan si santri hanya mengangguk. Tak lama santri itu pun mendekat ke arah Ajimukti dan sempat mengagetkannya.


"Kang, Sampeyan disuruh ke depan sama Guse!" Bisik santri itu.


Ajimukti hanya mengangguk. Kemudian santri itupun kembali menjauh dari tempat dimana Ajimukti duduk.


"Ada apa, Mas?" Tanya Dullah keheranan, begitu juga Manan.


Ajimukti hanya mengangkat bahunya, "Entahlah, Lek. Disuruh kedepan sama Gus Faruq." Sahut Ajimukti seraya berdiri. "Saya kedepan dulu." Ucap Ajimukti kemudian berjalan menyibak diantara para santri.


"Ada apa ya, Nan?" Dullah masih juga penasaran.


Tiba tiba Manan tertawa membuat Dullah mengerutkan keningnya keheranan.


"Kenapa kamu malah ketawa?" Tanya Dullah melihat ekspresi Manan itu.


Dullah hanya kemudian tertawa. "Iya ya. Kok saya lupa ya, Nan.".


Manan hanya menggelengkan kepalanya, "Lek Dul. Lek Dul." Gumam Manan.


Sementara itu di depan, Ajimukti langsung dipersilahkan duduk tepat disebelah kiri Faruq. Ajimukti langsung duduk bersila disana dengan sedikit menunduk. Sejujurnya Ajimukti tidak nyaman dengan semua tatapan yang kemudian tertuju ke arahnya.


Budi melihat itu nampak geram. Terlihat sejak Ajimukti di depan tangannya langsung mengepal. Giginya terdengar beradu diantara rahangnya yang mulai mengeras. Tatapan kebencian terlihat jelas dari sorot matanya.


Khalil yang menyadari sikap Budi itu, segera menepuk pundak Budi mencoba menenangkan sahabatnya itu. Tapi Budi justru menampik tangan Khalil.


"Tenang, Bud." Bisik Khalil.


"Ah, Kenapa anak itu lagi anak itu lagi. Muak saya lihatnya." Budi pun terdengar berbisik.


"Sekarang sabar dulu, Bud. Pas tiba waktunya kamu yang bakal pegang kendali." Bisik Khalil masih mencoba menenangkan Budi.


Tapi Budi belum juga bisa tenang. Wajahnya nampak merah padam menahan emosi. Tangannya makin keras terkepal. Khalil dan Imam yang melihat ekspresi Budi itu hanya bisa saling pandang dan sesekali menaikkan bahu.


"Kang Aji, ini kan acara perayaan kemenangan Kang Aji. Kasih satu qasidah lah." Bisik Faruq disela sela alunan qasidah dari grub Hadrah di depannya.


"Waduh, Gus. Ampun. Saya nggak bisa qasidah." Sahut Ajimukti dengan juga berbisik.


"Sudah, Kang. Kalau sama saya nggak usah pakai acara nggak bisa." Imbuh Faruq sembari menepuk lutut Ajimukti.

__ADS_1


Faruq menyodorkan mic ke depan Ajimukti. Ajimukti tak berkutik, Faruq sepertinya berusaha memaksanya kali ini.


"Tapi, Gus." Bisik Ajimukti lagi.


Faruq lagi lagi hanya memberi isyarat dengan tangan dan ekspresi wajahnya. Ajimukti menghela nafas.


Faruq memberi isyarat ke grub Hadrah untuk berhenti. Tak lama grub Hadrah pun berhenti di ujung qasidah nya. Faruq segera memberi isyarat ke Ajimukti untuk mengangkat mic nya.


Ajimukti sekali lagi menghela nafasnya dan terlihat salah satu jari telunjuknya menggaruk keningnya, sebelum akhirnya pun Ajimukti mulai meraih mic itu.


...Kullul-quluub...


...Kullul-quluubi illal-habiibi tamiilu...


...Wa ma’iya bidzalika syaahidun...


...Syaahidun wa daliilu...


...Ammad-daliilu idzaa dzakartu Muhammadan...


...Shoorot dumuu’ul-'aasyiqiina tasiilu...


...Hadzaa Rosuulullaah...


...Hadzaa Rosuulullaah...


...Hadzal-Mushthofa...


...Hadzaa lirobbil-‘aalamiina kholiilu...


Semua mata tertuju ke arah Ajimukti ketika dirinya mulai mengalunkan salah satu nadzoman itu.


Pandangan Kyai Aminudin dan Ali pun seketika beralih ke Ajimukti dengan sorot mata keheranan. Bahkan Faruq pun seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya ini. Dari kejauhan pun Dullah dan Manan nampak sesekali tersenyum.


Malam ini suara lembut Ajimukti dengan nadzoman nya itu benar benar membuat semua orang tercengang. Budi dan kedua sahabatnya pun kini terlihat makin kesal dengan apa yang mereka saksikan saat ini. Dan, jauh di ruangan sebelah, sebuah senyum pun mengembang dari bibir mungil sosok cantik yang sejak tadi tak henti hentinya menatap gelang kaoka di pergelangan tangannya.


Ajimukti menghela nafasnya sejenak dan untuk sepersekian detik memejamkan pandangannya.


...Al-Madad... Al-Madad......


...Al-Madad Yaa Rasuulallaah......


...Al-Madad... Al-Madad......


...Al-Madad Yaa Habiiballaah......


...Rabbi faj'al mujtama'naa, Ghooyatuh husnul-khitaam......


...Wa'thinaa maa qod sa-alnaa, Min 'athoyaakal-jisaam......


Ajimukti melantunkan qasidah yang cukup familiar di kalangan para santri milenial itu dengan suara lembutnya di iringi ketukan darbuka dan perkusi yang terkombinasi membuat qasidah itu mampu menghipnotis siapa pun yang memiliki kecintaan terhadap Baginda Rasul.


Untuk sesaat Ajimukti melupakan tempatnya berada saat ini. Untuk sesaat ia sendiri pun terbawa dalam kesyahduan alunan shalawat yang di lantunkannya malam ini. Untuk sesaat ia kembali menjadi dirinya sendiri. Dan untuk sesaat ia teringat sosok yang ingin diperjuangkan nya saat ini.


Tak jauh dari tempat Ajimukti berada saat ini. Diantara para jama'ah yang hanyut dalam lantunan shalawat. Diantara merdunya suara Ajimukti yang menenangkan. Seulas do'a terselip dan mengalir begitu saja tanpa disadarinya.

__ADS_1


"Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam do'aku. Aku akan memohon kepada Allah untuk berjumpa denganmu dua kali, sekali di dunia ini dan sekali lagi di surga."


Bersambung...


__ADS_2