
Siang itu di Pondok Hidayah.
"Jadi sampeyan sempat mengikuti Hexa, Kang?" Tanya Ajimukti pada kesempatan itu pada Khalil.
"Benar, Gus. Hanya saja ketahuan sama dia. Emmm, sepertinya sejak di pasar dia sudah tahu kalau saya buntuti dia." Sahut Khalil kemudian.
Ajimukti hanya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya memang agak sedikit aneh, Gus." Sela Sobri kemudian.
"Saya tidak ingin berprasangka yang tidak tidak, Kang. Sebaiknya kita awasi saja anak itu dari jauh. Mungkin memang ada sesuatu." Sahut Ajimukti setelahnya.
"Memang, Gus. Seperti saat pertama dia kesini waktu itu. Pemilik warung saat itu pernah bilang kalau dia sangat hafal dengan anak itu, tapi dilain kesempatan dia bilang tidak kenal. Sepertinya ada yang aneh disini, Gus." Sahut Khalil juga setelahnya.
"Benar, Kang. Saya juga berpikiran sama mengenai itu." Sahut Ajimukti lagi setelahnya ia sejenak diam seolah berpikir sesuatu.
"Emmm, saya ada ide, Kang. Mungkin ini akan membantu kita mencari tahu." Ucapnya kemudian.
Sobri, Khalil juga Imam sama sama mengerutkan kening mereka tidak sabar untuk tahu ide Ajimukti kali ini.
"Apa itu, Gus?" Tanya Sobri sarat penasaran.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan Kang Godril, Kang. Dia sepertinya cocok untuk hal ini. Mengingat dia bukan santri disini, jadi tidak akan membuat curiga Hexa jika Kang Godril mengawasinya di luar pesantren." Usul Ajimukti kemudian.
Seketika senyum Sobri mengembang. "Benar, Gus. Sepertinya itu cara yang bagus."
"Tolong sampeyan kabari Kang Godril, Kang." Ucap Ajimukti pada Sobri kemudian.
"Baik, Gus. Segera saya kabari dia." Sahut Sobri kemudian.
Sementara itu, Hexa yang mereka bicarakan baru saja memasuki gerbang pesantren. Dengan berjalan sendiri, ia menyusuri halaman masjid pesantren menuju ke arah asrama pesantren. Tepat disaat itu pandangannya tertuju pada tiga orang yang berjalan tak jauh di belakangnya yang sama memasuki gerbang pesantren. Sesaat Hexa menghentikan langkahnya, lalu menyembunyikan dirinya di balik pohon besar di halaman masjid itu.
"Gadis itu bukannya yang di foto waktu itu?" Gumam Hexa kemudian.
"Dan wanita satunya, sepertinya itu Bu Nyai yang santri santri bilang itu. Hmmm, berarti adik keponakan orang itu pastilah gadis itu. Memang seperti kata anak anak." Seulas senyum nampak mengembang di wajah Hexa kali ini.
"Anak itu? Manan. Hmmm, memang pandai memilih gadis." Pujinya masih bergumam.
Setelah ketiga orang itu berjalan melewatinya tanpa menyadari keberadaannya, Hexa pun segera berlalu dari tempatnya saat ini dan bergegas ke kamarnya.
Di dalam kamar Hexa segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tempat tidur, pandangannya tertuju pada langit langit kamarnya.
"Gadis itu... Hmmm..." Gumamnya kemudian sembari sedikit menyunggingkan senyumnya.
Jauh dari Pondok Hidayah, di sebuah rumah yang cukup megah, percakapan bapak dan anak juga sedang terjadi. Seorang lelaki paruh baya berperawakan tambun dengan kumis tebalnya nampak serius ketika bercakap dengan anak lelakinya di belakang rumah itu. Lelaki itu adalah Hasan Basri atau Anggoro.
"Jadi gadis yang kamu tunggu tunggu selama ini sudah kembali begitu, Le?" Tanya Anggoro pada anak lelakinya, Manan.
Manan kemudian mengangguk, "Iya, Pak."
"Apa kamu sudah pikirkan matang matang niat kamu itu?" Tanya Anggoro lagi.
"Bismillah saja, Pak. Insya Allah saya sudah menyiapkannya." Sahut Manan.
Anggoro tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.
"Apa itu karena Mas Aji dan Sobri yang sudah mendahului kamu, jadi kamu juga ingin menyegerakan itu?" Tanya Anggoro lagi sembari melingkarkan tangannya ke dada.
__ADS_1
"Bukan, Pak. Bukan sebab itu." Sahut Manan menolak alasan yang Anggoro pikirkan.
Anggoro nampak menghela nafas, "Le, Nan. Bukan maksud bapak menghalangi niat kamu. Tapi kalau bisa mbok yao dipikir pikir lagi." Ucap Anggoro kemudian.
Manan mengerutkan keningnya, "Kenapa, Pak? Apa ada alasan lain?" Tanyanya kemudian.
"Le, bebrayan tidak sebatas siap mental. Tapi lebih dari itu. Kamu akan di Bebani tanggung jawab. Menghidupi, mengarahkan juga tanggung jawab tanggung jawab yang lain. Bapak tahu, Le. Mungkin secara mental kamu siap. Tapi yang lainnya? Terutama pekerjaan." Ucap Anggoro kemudian.
Manan ikut beranjak dari duduknya. "Saya tahu, Pak. Untuk saat ini saya memang belum memiliki pekerjaan. Itukah alasan bapak?" Tanyanya kemudian.
Anggoro tersenyum, "Le, semua ini punya kamu. Bapak mencari semua ini untuk kamu. Kamu anak bapak satu satunya. Siapa lagi kalau bukan untuk kamu? Tapi meski begitu, bapak tidak ingin kamu nompo matenge tanpa tahu ubat ubete, rekasane."
"Bapak benar. Saya pun demikian, Pak. Saya tidak ingin menjadi anak yang hanya bisa menikmati harta orang tua tanpa usaha." Sahut Manan.
"Baguslah kalau kamu tahu itu, Le. Itulah kenapa bapak ingin kamu benar benar memikirkannya." Ucap Anggoro sembari menepuk pundak Manan.
"Kalau gadis itu memang mencintai kamu. Gadis yang tertulis di Lauhul Mahfudz untuk mendampingi kamu. Bapak yakin, dia akan tetap kembali untuk kamu. Tetap akan mengerti dan menunggu kamu." Ujar Anggoro setelahnya.
"Iya, Pak."
"Tapi, Pak. Apa itu berarti saya harus keluar dari pesantren?" Tanya Manan kemudian.
Anggoro tersenyum, "Kerja itu tidak perlu meninggalkan ngaji. Begitu juga sebaliknya, ngaji juga jangan meninggalkan pekerjaan. Keduanya sama sama ibadah, sama sama kesunahan. Bagaimana kamu ngecakne keduanya, tanpa meninggalkan salah satunya." Ucap Anggoro kemudian.
Manan sedikit mengerutkan keningnya, "Bagaimana itu, Pak? Saya jadi bingung sendiri." Sahut Manan sembari menggaruk keningnya.
Anggoro tersenyum, "Bapak kasih modal. Kamu jalankan. Bagaimana?" Usul Anggoro.
"Itu sama saja dengan bergantung dengan bapak." Sahut Manan.
Anggoro spontan menjitak kepala Manan, "Kamu itu! Belum selesai bapak bicara sudah ambil kesimpulan."
"Selagi kamu belum menikah. Kamu masih tanggung jawab kami. Kami beri modal untuk kamu belajar bagaimana ngupokoro upoyo. Sama seperti kamu sekolah, bapakmu iki sing ngragati, selebihnya kamu sendiri yang berusaha mau jadi siswa yang bagaimana. Benar ojo njagakne bandane wong tuo. Tapi orang tua yang sadar ke orang tuaannya tidak akan lepas tangan untuk masa depan anaknya." Ucap Anggoro kemudian.
"Terima kasih ya, Pak. Alhamdulillah saya terlahir dari orang tua seperti bapak." Sahut Manan kemudian.
"Gur welinge bapak, Le. Jamane saiki iki koyo alas, pancet koyo alas, Le. Semakin banyak hewan buas, siapa kuat dia menang. Tidak peduli siapa yang dimangsanya. Kalau kamu belajar bekerja, berhati hatilah. Kamu harus bisa menempatkan diri kamu, Le."
"Iya, Pak."
"Yasudah, kapan kamu kembali ke pesantren?" Tanya Anggoro kemudian.
Manan berpikir sejenak, "Mungkin dua atau tiga hari ke depan, Pak."
"Yasudah, nanti bilang sama bapak. Biar bapak antar." Ucap Anggoro kemudian.
"Hmmm, tidak usah, Pak. Saya bisa berangkat sendiri. Saya tidak ingin mengganggu pekerjaan bapak." Sahut Manan.
Anggoro tersenyum, "Jangan kepedean. Bapak kesana tidak sebatas nganter kamu. Bapak mau bertemu sama Pak Lekmu Dullah. Ada hal yang ingin bapak bicarakan dengannya, kemarin bapak lupa belum bilang."
Manan mengerutkan keningnya, "Bicara soal apa, Pak?" Tanyanya kemudian.
"Bukan apa apa, soal teman Pak Lekmu. Beberapa waktu lalu dia sempat tanya bapak apa butuh tenaga. Waktu itu belum ada, sekarang sudah ada." Sahut Anggoro.
"Teman Lek Dullah? Siapa, Pak?" Tanya Manan kemudian.
"Gandung. Kamu pasti sudah pernah bertemu dengannya kan?" Sahut Anggoro.
__ADS_1
"Oh, iya iya, Pak. Saya tahu." Sahut Manan nampak kegirangan.
"Jadi bapak mau angkat Pak Gandung di tempat kerja bapak?" Tanya Manan kemudian.
Anggoro tersenyum, "Nanti saja bapak kasih tahu."
Anggoro kembali duduk di kursinya sebelumnya, meraih cangkir tehnya lalu menenggaknya.
Manan hanya menaikkan bahunya, dia tidak ingin bertanya lebih soal rencana bapaknya mengajak kerja Gandung.
Ia pun akhirnya ikut kembali duduk bersama Anggoro. Untuk sesaat tak ada lagi percakapan bapak dan anak di halaman belakang rumah itu.
"Kamu lihat bendera itu, Le." Ucap Anggoro kemudian sembari menunjuk bendera yang terlihat dari halaman belakang rumah itu.
Manan mendongak melihat bendera yang ditunjuk bapaknya, "Kenapa dengan bendera itu, Pak?" Tanyanya kemudian.
Anggoro tersenyum, "Kamu perhatikan bendera itu, Le! Kasihan dia." Ucapnya.
Manan mengerutkan keningnya, "Kasihan bagaimana, Pak."
Anggoro menyandarkan punggungnya, "Ya kasihan, panas kepanasan, hujan kehujanan. Belum lagi dia harus kuat setiap saat di terpa angin."
"Maksudnya bagaimana, Pak?" Tanya Manan kemudian.
"Begitulah hidup, Le. Kita harus kuat dengan segala kondisi. Kelak kalau kamu sudah menikah, godane wes bedo dengan saat kamu lajang seperti sekarang ini. Sama seperti bendera itu, semakin naik semakin kencang anginnya. Kudu soyo bakoh." Ucap Anggoro kemudian.
"Iya, Pak. Paham saya sekarang." Sahut Manan.
"Tapi berdiam juga bukan pilihan, Le. Sama seperti bendera itu. Bendera yang hanya di simpan di dalam lemari, tidak kepanasan, tidak kehujanan, tidak harus berhadapan dengan kencangnya angin pun rentan, dia bisa lapuk, jamuran bahkan di makan rayap." Lanjut Anggoro kemudian.
"Benar, Pak." Manan mengangguk.
"Jadi sama sama bakal rusaknya, lebih baik bendera itu di keluarkan, di pasang, Le. Setidaknya iso di sawang." Imbuh Anggoro.
Manan kemudian hanya mengangguk.
"Kelak, Le. Kalau kamu dapat masalah kamu jangan mudah menyerah. Ingat, Le. Gur paku sing jejeg sing di antem palu." Ucap Anggoro lagi memberi petuah anaknya.
"Benar, Pak. Saya mengerti mengenai itu. Saya akan belajar banyak dari pahit manisnya hidup bapak. Biar hasilnya enak." Sahut Manan.
"Enak itu Wang sinawang, Le. Enak sawanganmu. Tapi sing nglakoni mblenak, Le." Sahut Anggoro juga, kini sedikit sembari terkekeh.
Manan pun juga ikut tertawa kali ini.
"Ya, mblenaknya cukup kita yang tahu, Pak. Cukup kita tunjukan enaknya saja. Seperti kopi ini, Pak. Pahit manis kalau di padu pas, jadinya tidak hanya enak. Tapi nikmat." Ucap Manan sembari mengangkat gelas kopinya lalu menyeruputnya sekali.
Anggoro tidak mau kalah, "Dari teh ini juga banyak pelajaran yang bisa diambil, Le. Ora gur kopi."
"Apa itu, Pak?" Manan menoleh ke arah Anggoro.
"Dia harus kuat dengan panasnya air mendidih baru bisa dinikmati. Di kasih es juga enak. Koyo Urip, kudu rekoso disik lagi nemu hasile. Nek wes hasil, mau diolah bagaimana pun tetep penak, Le." Ucap Anggoro kemudian.
Manan tertawa lagi kali ini, "Bapak paling bisa kalau soal membuat filsafah filsafah seperti ini."
"Ya karena Allah menciptakan semua ini bukan tanpa tujuan, Le. Semua pasti ada ilmunya tinggal bagaimana kita mengolah biar dapat ilmunya itu." Ujar Anggoro lagi.
Manan hanya kemudian mengangguk.
__ADS_1
Siang menjelang sore itu pun berlalu hangat di belakang rumah mewah Anggoro.
Bersambung...