BROMOCORAH

BROMOCORAH
Tamu Tamu Sukrono


__ADS_3

Selepas pertemuannya dengan Hexa pagi tadi, kini Arya sudah berdiri di halaman sebuah yang cukup luas. Di depan tempatnya berdiri saat ini, sebuah rumah Joglo Khas Jawa timuran dengan tatanan genteng yang membentuk kerucut seperti gunung dengan empat saka guru dan masih berdinding gebyok kayu jati dengan ukiran pada daun pintu dan beberapa bagian lainnya.


Arya segera melangkahkan kakinya ke emperan rumah itu. Di sana, di emperan rumah itu ada beberapa lincak yang juga terbuat dari kayu jati, tak ada yang berbeda dari ketika ia berkunjung ke tempat ini di beberapa hari yang lalu. Hiasan topeng ganongan yang biasa di pakai penari di dalam kesenian reog, masih menempel di gebyok kayu jati itu, juga candrasengkala, patung yang menyerupai kepala naga itu pun juga masih nampak megah di tempatnya semula. Yang berbeda hanya bunga tapak dara yang kini semakin banyak kelopaknya yang bermekaran juga aroma melati mekar yang menyengat menyeruakkan aroma khasnya.


Mendengar suara langkah kaki Arya, seorang tua nampak keluar dari dalam rumah yang pintunya terbuka itu sembari membenarkan udeng yang mengikat kepalanya.


"Kebetulan sekali kamu kesini, Le." Tegur lelaki tua itu kemudian.


"Kebetulan? Memangnya ada apa, Mbah?" Tanya Arya keheranan sembari mencium tangan lelaki tua itu.


"Tidak ada apa apa, Le. Mlebuo disik. Enak mengobrol di dalam, Le." Ucap lelaki itu kemudian mendahului masuk ke dalam rumahnya.


Arya nampak kembali mengerutkan keningnya lalu setelahnya hanya bisa menaikkan bahu dan ikut masuk bersama lelaki tua itu ke dalam rumah.


"Duduklah, Le." Lelaki tua mempersilahkan Arya untuk duduk setelah dirinya lebih dulu duduk di salah satu kursi kayu di ruang tamunya.


"Sebenarnya ada apa, Mbah. Simbah tidak seperti biasanya. Dan saya merasa ada sesuatu yang serius yang ingin Simbah sampaikan pada saya." Ucap Arya setelah dirinya duduk.


Lelaki tua itu menghela nafas panjang lalu kemudian mengangguk pelan.


"Iya, Le. Memang ada hal yang ingin Simbah bicarakan dengan kamu." Ucap lelaki tua itu kemudian.


Untuk kesekian kalinya Arya mengerutkan keningnya.


"Apa itu, Mbah?" Tanyanya kemudian.


"Kamu ingat yang Simbah sampaikan padamu saat terakhir kamu berkunjung kesini? Yang waktu kamu mengenalkan Simbah pada dua teman kamu itu. Ingat, Le?" Tanya lelaki tua itu kemudian.


Arya mengangguk, "Ingat, Mbah. Yang soal macapat itu kan?" Sahutnya.


Lelaki tua itu menggeleng, "Bukan, Le. Tapi soal yang pernah Simbah bilang waktu itu bahwa Simbah punya kenalan pemuda seumuran kamu. Ingat tidak kamu bahwa Simbah pernah bilang itu ke kamu?" Tanyanya lagi.


Arya menaikkan bola matanya, "Oh ya, saya ingat, Mbah. Ada apa memangnya, Mbah?" Tanyanya setelah itu.


Sekali lagi lelaki tua itu menghela nafas panjangnya, "Pemuda itu sebenarnya bukan orang lain, Le." Ucapnya lirih diantara desah nafasnya.


"Maksudnya bukan orang lain?" Tanya Arya yang semakin dibuat bingung dengan ucapan lelaki tua itu.


"Pemuda itu cucu mbarep Kyai Idris, Le." Ucap lelaki tua itu.


"Maksud Simbah, dia?"


Lelaki tua itu mengangguk, "Ya, Pemuda itu Kang Mas mu, anaknya Pak Dhe mu." Ucap lelaki tua itu dengan suara berat dan seakan tertahan.


Untuk sesaat Arya nampak terkejut, tapi pada akhirnya ia mencoba menenangkan dirinya dengan sedikit tarikan nafasnya.


"Tidak heran kalau Simbah saat cerita waktu itu terlihat begitu bersemangat. Huh, ternyata pemuda yang Simbah maksud anak itu." Ucap Arya kemudian.


"Jadi kamu sudah kenal dia, Le?" Tanya lelaki itu yang kini justru terlihat terkejut.


"Aufa kan Mbah namanya?" Sahut Arya kemudian.


Lelaki tua itu mengerutkan keningnya, "Aufa? Bukan, Le. Namanya Ajimukti." Balas lelaki tua itu.


"Iya, Mbah. Itu satu orang yang sama. Ajimukti Aufatur Muthoriq." Sahut Arya lagi.


Mendengar itu lelaki tua itu hanya mengangguk paham.


"Dan apakah kamu sudah tahu semua, Le?" Tanya lelaki tua itu kemudian.


Arya mengangguk ringan, "Ya, Mbah. Saya sudah tahu kalau orang itu Kang Mas saya, anak dari Pak Dhe saya. Tapi untuk soal pemuda yang dekat dengan Simbah itu dia, saya baru tahu sekarang ini, tapi meski begitu, seperti kata saya tadi, saya tidak heran kalau pemuda yang begitu menarik perhatian dan begitu Simbah agungkan itu dia." Sahutnya setelah itu.

__ADS_1


Lelaki tua itu menghela nafasnya sekali lagi, "Hmmm, jadi ibumu sudah menceritakan tentang Kyai Idris juga Pak Dhe mu, Le?"


Arya mengangguk, "Ya, Mbah. Bahkan sejak saya masih di Tsanawiyah. Ibu sudah memberi tahu saya soal itu. Itu sebabnya begitu lulus Tsanawiyah saya memutuskan untuk mondok waktu itu."


"Maksudmu bagaimana, Le? Kamu tahu dengan kamu mondok waktu itu? Apa kaitannya?" Tanya lelaki itu keheranan.


"Begitu ibu memberi tahu saya soal Pak Dhe, saya ketika itu berusaha mencari alamat yang ibu berikan pada saya. Alamat orang itu di Jogja. Saya ingin sekali bertemu dengan saudara saya. Tapi sayangnya, begitu saya sampai disana, anak itu ternyata tidak tinggal di rumah melainkan mondok di Rembang. Setelah tahu itu, saya memutuskan menyusulnya ke pondok atas restu ibu. Sewaktu di pondok dulu saya dan dia cukup dekat meski kami tidak begitu akrab. Tapi meski begitu saya tetap senang karena pada akhirnya saya bisa dekat dengan saudara saya, Mbah." Ucap Arya bercerita.


"Jadi begitu sampai di pondok kamu tidak terus terang kalau kamu itu adiknya, anak dari adik bapaknya?" Tanya lelaki itu kemudian.


Arya menggeleng, "Tidak, Mbah. Saya ingin mengenal kepribadiannya dulu. Dan lagi, kala itu ada banyak pertimbangan, Mbah." Ucapnya kemudian.


Lelaki tua itu mengangguk paham dan tidak ingin mendebat.


"Kalau saja waktu Pak Lek mu tidak bertemu dengan teman masa kecilnya itu. Mungkin Simbah pun tidak akan bertemu dengan Kang Mas mu itu, Le." Ucap lelaki tua sesaat kemudian.


"Semua sudah di gariskan harus bertemu, Mbah. Entah karena Pak Lek yang bertemu dengan teman masa kecilnya itu atau karena hal lain. Kalau sudah takdirnya berjodoh, ya pasti bertemu." Sahut Arya.


"Kamu benar, Le."


"Tapi, Mbah. Ada hal yang ingin saya tanyakan." Ucap Arya kemudian.


"Katakan saja, Le. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Sahut lelaki tua itu kemudian.


Sejenak Arya menarik nafasnya dalam dalam, "Apa Simbah berniat mengatakan kebenaran ini pada anak itu?"


Mendengar pertanyaan Arya itu, lelaki tua itu diam sejenak.


"Menurut kamu bagaimana, Le?" Tanya lelaki tua itu meminta saran Arya.


"Kalau boleh meminta tolong Simbah. Sebaiknya Simbah jangan dulu mengatakan semua ini, Mbah. Terkecuali jika anak itu sendiri yang menanyakannya, monggo Simbah jawab seperti yang Simbah tahu. Hanya saja, saya mohon untuk yang soal Simbah dekat dengan saya, sementara waktu Simbah rahasiakan dulu." Ucap Arya kemudian.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mbah." Ucap Arya sembari berdiri dari duduknya.


"Loh, Le. Kok terburu buru. Baru juga sampai kok sudah mau pergi lagi?"


"Ini tadi hanya mampir, Mbah. Saya ini mau ke rumah Pak Lek. Mau ada acara, nyewunya Simbah. Ibu juga sudah disana, kemarin mau di jemput Angga katanya." Sahut Arya kemudian.


"Oh, yasudah kalau begitu. Salam saja buat keluarga Pak Lek mu sama buat ibumu. Sama bilang sama ibumu, kuthuknya biar agak besaran dulu kalau mau ambil."


Arya hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama ia pun segera berlalu dari rumah itu.


Sementara itu, Ajimukti juga Dullah pun sudah berlalu dari rumah Kyai Aminudin menuju rumah Sukrono. Setibanya di pertengahan jalan antara rumah Kyai Aminudin dan rumah Sukrono, Dullah yang mengemudikan mobil sedikit melambatkan kecepatannya lalu sedikit mengeluarkan kepalanya dari balik kaca mobil. Pandangannya tertuju pada sebuah motor yang tidak sengaja bersimpangan dengannya.


"Ada apa, Lek? Sepertinya ada yang menarik perhatian sampeyan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Anak yang naik motor barusan, Mas. Sepertinya tidak asing. Sepertinya saya pernah bertemu dengan anak itu sebelumnya." Sahut Dullah.


"Siapa, Lek? Sayang sekali saya tadi tidak memperhatikan." Ucap Ajimukti yang kemudian menoleh ke belakang dan hanya melihat seorang berkendara dengan jaket juga helm hitam.


"Itu dia, Mas. Saya lupa dimana pernah bertemu dengannya. Tapi yang pasti itu tadi, saya seperti tidak asing dengannya." Ucap Dullah lagi.


Tak lama, mereka pun tiba di rumah Sukrono. Ketika mereka tiba, Sukrono nampak sedang duduk di lincak emperan rumahnya. Melihat kedatangan Dullah juga Ajimukti, Sukrono segera bangun dari duduknya dengan ekspresi sedikit kaget.


"Kenapa kaget begitu melihat kami datang, Mbah?" Tanya Ajimukti sembari mencium tangan Sukrono setelah sebelumnya Sukrono menjawab salam Ajimukti.


"Ah, tidak, Mas Aji. Saya... Emmm, saya hanya tidak menduga saja akan di sowani Mas Aji."Sahut Sukrono nampak gugup.


Ajimukti hanya tersenyum.


"Monggo kalau begitu kita masuk dulu. Kita ngobrol di dalam saja." Ajak Sukrono kemudian.

__ADS_1


Ajimukti juga Dullah segera ikut masuk ke dalam rumah itu. Tak ada yang berbeda dari ketika pertama mereka datang kesana. Semua masih tampak sama. Hanya saja, pandangan Ajimukti ketika itu tertuju pada asbak di atas meja di ruangan itu. Masih ada sisa asap yang mengepul di salah satu puntung rokok di asbak itu.


"Baru selesai menerima tamu ya, Mbah?" Tanya Ajimukti kemudian.


Sukrono nampak terkejut, namun setelah sejenak menghela nafas ia pun tersenyum, ia tidak mungkin berbohong pada Ajimukti.


Sukrono pun hanya kemudian mengangguk, "Iya, Mas. Anggap saja cucu saya. Karena memang yang baru saja datang itu sudah seperti cucu saya sendiri." Sahutnya kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk paham tapi pandangannya masih tertuju pada asbak itu. Ketika melihat puntung rokok itu, ia ingat akan seseorang. Orang itu dulu suka sekali dengan rokok kretek satu ini.


"Kenapa, Mas?" Tanya Dullah yang sejak tadi memperhatikan Ajimukti itu.


"Saya jadi ingat teman pondok saya, Lek. Dulu anaknya suka sekali rokok ini, padahal rokok ini itu antep hisapannya. Jarang ada yang suka. Tapi dia nekat saja rokok ini. Bahkan kalau tidak ada, dia pilih libur merokok." Ucap Ajimukti kemudian.


Mendengar jawaban Ajimukti itu, Sukrono menelan ludah. Jika dugaannya benar, Sukrono menduga, bahwa teman yang di maksud Ajimukti itu adalah Arya.


Sejenak Sukrono menghela nafasnya dalam dalam dan diam diam menggelengkan kepalanya ringan sembari sedikit mengguratkan senyum.


"Sebenarnya kedatangan kami kesini ini karena ada perihal yang ingin saya tanyakan sama Mbah Sukro." Ucap Ajimukti setelah beberapa saat mereka berbincang.


Sukrono menganggukkan kepalanya, "Jika boleh tahu, perihal apa itu, Mas?" Tanya Sukrono kemudian.


Ketika itu Ajimukti melepas kalungnya, "Ini mengenai ini, Mbah." Ucapnya kemudian.


Melihat kalung itu, kalung yang pernah ia berikan pada Ajimukti, Sukrono nampak sedikit terkejut.


"Ada apa dengan kalung ini, Mas?" Tanya Sukrono kemudian.


"Apa Mbah Sukro tahu asal usul tentang kalung ini?" Tanya Dullah kemudian.


"Asal usul?" Sukrono mengangguk anggukan kepalanya lalu nampak menghela nafasnya dalam.


"Ya, sedikit banyak tentu saja saya tahu. Meski tidak keseluruhannya." Sahut Sukrono kemudian.


"Berarti Mbah Sukro ini kenal dengan eyang saya. Kyai Idris?" Tanya Ajimukti cepat.


Sukrono tersenyum, lalu mengangguk.


"Saya dulu manggilnya Kang Idris, sebelum saya tahu bahwa beliau ternyata seorang kyai. Saya kenal Kang Idris dari Kang Zaini. Sejak saat itu baik saya, Kang Zaini, Kang Idris mulai berteman. Yah, meski saya tidak terlalu suka ketika beliau sering sekali nuturi saya ini itu. Saya paling suka ketika beliau ngajari saya silat." Ucap Sukrono kemudian.


Ajimukti juga Dullah kompak mengangguk.


"Kalau sudah begitu, tidak heran kalau Mbah Sukro ini tahu sekali tentang kalung ini." Ucap Dullah kemudian.


"Tentu saja saya tahu. Kalung ini kalung peninggalan Kyai Muthoriq yang beliau berikan pada Kang Idris. Lalu oleh Kang Idris di berikan pada anak anaknya." Sahut Sukrono kemudian.


"Diberikan pada anak anaknya? Berarti Mbah Sukro pun tahu tentang kehidupan pribadi eyang saya?" Tanya Ajimukti kemudian.


Sejenak Sukrono menghela nafasnya, pelan pelan ia hanya mengangguk.


Melihat itu, seketika sebuah senyum nampak mengembang dari wajah Ajimukti juga Dullah.


"Kalau begitu, bisakah Simbah cerita kan itu pada saya?" Pinta Ajimukti kemudian.


Sesaat Sukrono terdiam, ia ingat pesan Arya sebelumnya.


"Saya hanya akan bercerita dari yang saya tahu saja kalau memang Mas Aji ingin tahu tentang Kang Idris. Dan nanti jika ada yang kurang mungkin itu diluar apa yang saya tahu." Ucap Sukrono kemudian.


Sekali lagi ia nampak menghela nafasnya berat. Suara kerongkongan yang mulai menyempit itu begitu terdengar di setiap tarikan nafasnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2