
"Jadilah diri sendiri, karena file asli jauh lebih baik dari salinan."
"Saya mengerti, Kang. Tapi setidaknya dengarkan penjelasan saya." Nafisa terdengar lirih bersuara sembari tertunduk.
Manan menghela nafasnya, kali ini ia berusaha mengalahkan egonya.
"Awalnya saya memang seperti kata saya di awal, menganggap semua hanya perkara jarak. Namun, setelah saya pikir, pemantasan diri pun butuh sedikit pengorbanan. Saya ingin meyakinkan diri saya, mengalahkan rasa saya untuk benar benar kuat untuk menjadi yang seharusnya." Ucap Nafisa kemudian.
"Saya pun sama berharapnya dalam pertemuan kita ini. Saya tidak sedikit pun memberi kabar bukan berarti sampeyan tidak saya anggap, Kang. Justru sampeyan lah yang mengusik doa doa saya, selalu memaksa saya menghadirkannya dalam setiap doa saya." Lanjut Nafisa.
Manan sedikit tercengang mendengar penuturan Nafisa yang demikian itu.
"Kedatangan kembali saya pun tidak memberi tahu sampeyan meski saya tahu sampeyan masih disini, juga dekat dengan Mas Aufa. Tapi semua pun bukan tanpa alasan, Kang. Saya sengaja melakukan itu, saya ingin melihat kesungguhan seperti yang sampeyan utarakan kala itu. Saya seperti ini bukan berarti saya bukan Nafisa yang dulu, Kang. Saya seperti ini karena saya harus punya sikap." Nafisa masih terus mengutarakan apa yang seharusnya dia sampaikan.
Manan hanya terdiam mendengar setiap ucapan Nafisa.
"Maaf jika semua yang saya lakukan justru membebani pikiran sampeyan." Ucapnya melanjutkan kata katanya.
"Sudahlah, Sa. Saya yang minta maaf jika memang seperti itu. Benar kata Ajeng. Saya hanya mengedepankan ego saya. Maafkan saya juga, Sa." Ucap Manan lirih.
Untuk sesaat mereka sama diam dalam keheningan, sama sama menikmati semilir angin pagi yang berkesiur. Hanya desah nafas yang samar samar beradu dari kedua pasangan yang sedang dilanda asmara itu. Sama sama membenamkan pandangan mereka, menyembunyikan satu sama lain.
"Hari ini dia melamar gadis pujaannya. Apa kamu sudah dengar itu, Ya?" Tanya Hexa pada Arya di lain tempat di waktu yang sama.
"Alhamdulillah, semoga saja setelah dia berkeluarga, dia jauh lebih matang." Sahut Arya sembari mengambil duduk.
"Gadis itu gadis yang dulunya sangat di idamkan Budi. Bagaimana Budi sekarang? Apa dia sudah mendengarnya?" Gumam Hexa setelahnya.
"Entahlah, saya berharap Budi baik baik saja." Sahut Arya.
"Ngomong ngomong kamu dari mana, Ya?" Tanya Hexa kemudian.
Arya sedikit tersenyum, "Menyapa teman lama." Sahutnya singkat.
"Orang Bali yang kamu ceritakan tempo hari?" Tanya Hexa lagi menegaskan.
Arya mengangguk.
"Dia juga baru saja menemui teman saya itu. Mencari tahu tentang saya." Ucap Arya setelahnya.
Hexa menegakkan tubuhnya, "Lalu?"
"Nyoman, teman lama saya yang juga temannya, tidak bilang apa apa karena memang saat itu dia tidak tahu keberadaan saya. Dan untuk kedepan saya sudah mewanti wanti Nyoman untuk tidak memberi tahu anak itu kalau saya sempat mengunjunginya." Sahut Arya.
"Lagi pula kenapa kamu tidak segera saja menemuinya, Ya?" Tekan Hexa setelahnya.
Arya tertawa, "Kalau semudah itu, tidak asik, Xa."
Hexa hanya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak asik bagaimana sih, Ya? Kamu itu." Sela Hexa.
"Ya tidak asik saja, Xa. Itu sama halnya masuk neraka gur kejet kejet thok, kan gak asik banget tho?" Sahut Arya setengah bercanda.
"Halah, Ya ya. Terus suruh bagaimana. Jangankan kejet kejet, mlethos kuwi iyo." Sahut Hexa.
"Sopo kondho, Xa. Panas api neraka itu tidak membunuh. Buktinya yang di neraka masih pada hidup." Sahut Arya lagi.
"Malah medeni genine ndunyo. Kobong Kobong Kon, Xa. Matek matek tenan. Beda sama api neraka, panasnya tidak sampai membunuh. Buktinya mereka masih bisa kejet kejet, sambat. Ya tho?" Imbuh Arya sembari terkekeh.
"Ngawur kamu, Ya." Sahut Hexa.
"Loh, ngawur gimana, Xa. Innallaha 'ala kulli syai'in qadiir." Sahut Arya masih setengah cengengesan.
__ADS_1
"Kamu, Ya ya."
"Kamu tahu tidak, Xa. Di dasar neraka saja ada yang wiridan Ya Hanan Ya Manan. Ya Hanan, wahai dzat yang memberi kasih, Ya Manan, Dzat yang banyak memberi. Loh, itu menandakan kalau di neraka itu tidak sewates kejet kejet, tapi yo iso wiridan, dan itu artinya mereka hidup, Xa. Yo ora?" Arya masih terus mendebat dengan gaya slengekannya.
"Mosok di neraka masih bisa wiridan, Ya ya."
"Lah buktinya di neraka ada orang hidup begitu kok."
"Ya itu kan karena Allah menghidupkan kembali mereka, Ya." Hexa masih saja mendebat.
"Lha ya itu, Xa. Jangan khusyuknya saja sing banter, ilmunya pas pasan." Sahut Arya.
"Tapi ya mustahil di neraka wiridan." Debat Hexa lagi.
"Loh, begini, Xa. Kalau api neraka itu membunuh, njut ngopo Allah menghidupkan mereka? Mesti pas di uripne langsung bablas teg seg. Nalare. Tapi kenyataannya mereka masih bisa menjerit ketika di siksa. Di Godho moloekat, iseh iso kejet kejet gak bablas matek. Mustahil di mata manusia, tidak bagi Allah, Xa. Innallaha 'ala kulli syai'in qadiir." Lanjut Arya kemudian.
Hexa mendengar itu pun tak bisa untuk tidak tertawa.
"Jadi nanti kalau kamu masuk neraka, kamu ejek saja apinya. Wong panase ngono neng gak iso mateni kon."
"Halah, kamu mendoakan saya masuk neraka, Ya?"
"Tidaklah, naudzubillah, jangan sampai. Tapi kalau iya, ya setidaknya kamu sudah tahu harus bagaimana. Dihafal itu wiridnya, biar nanti kalau masuk neraka bisa wiridan, Ya Hanan Ya Manan." Sahut Arya sembari lagi lagi terkekeh.
"Tuh kan?" Hexa nampak memasang wajah masam kali ini.
Arya tertawa, "Maaf maaf, Xa. Itu hanya pengingat saja, bahwa neraka itu tidak semenakutkan bayangan kita. Dia tidak berkuasa, yang berkuasa Allah. Buktinya sepanas apapun dia, dia tidak bisa begitu saja mematikan yang Allah kehendaki hidup kembali di dalamnya. Kuncinya ingat Allah, Xa. Sebab hisab paling buruk itu lupa dengan Allah. Seperti kata Abdul Qasyim Al-Junaidi Masyhur, lupa dengan Allah itu lebih dahsyat dari neraka." Ucapnya kali ini lebih nampak serius.
Hexa hanya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Nasuullaaha fanasiyahum, seberat beratnya hisab neraka itu, kalau Allah sudah berkomentar waqilal yauma nansaa Kim kamaa nasiitum Liqoo'a yaumikum hadzaa. Asal Allah tidak berkata begitu, Xa. Maka masih ada harapan. Tapi kalau Allah sudah berkata, Aku sekarang lupa denganmu, seperti kamu lupa dengan-Ku. Yasudah, bye." Lanjut Arya kemudian.
"Sebenarnya kita tadi membahas apa sih, Ya. Kok jadi sampai ke neraka segala?" Hexa sedikit merinding kali ini.
"Membahas hal yang asik kan. Lha neraka itu bahasan paling asik, Xa." Sahut Arya sembari tertawa.
Arya kembali tertawa.
"Kamu malah tertawa. Hmmm..." Hexa menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat ia duduk.
Tak lama setelah itu, Budi dengan gontai nampak berjalan ke arah mereka. Arya mengamati setiap langkah malas Budi.
"Kamu dari mana?" Tanya Arya begitu Budi duduk di sebelahnya.
"Tidak dari mana mana." Sahut Budi singkat dan terdengar malas.
"Hmmm..." Arya hanya berdeham sembari menganggukkan kepalanya.
"Maaf, Mas. Apa Mas Budi sudah tahu kabar soal..."
Hexa baru saja akan bicara, namun dengan cepat Arya menahannya dengan tangannya menyentuh ujung lutut Hexa.
Budi sedikit mengerutkan keningnya, "Ada apa, Bang?" Tanyanya kemudian.
Arya menatap Hexa, kemudian menghela nafasnya. Mendapati tidak adanya jawaban langsung dari Arya, Budi beralih pada Hexa.
"Hexa, ada apa?"
Sekali lagi Arya melirik Hexa, kali ini ia memberi isyarat dengan anggukan kepalanya, Hexa paham apa maksud isyarat Arya itu.
"Begini, Mas. Emmm, ini mengenai Gus Aufa." Ucap Hexa kemudian.
"Aufa?" Sahut Budi keheranan.
__ADS_1
"Emmm, maksud saya, Gus Ajimukti." Potong Hexa meralat ucapannya.
"Ada apa dengan Ajimukti?" Tanya Budi memburu.
"Begini, Mas. Ini berkaitan dengan gadis yang pernah Mas Budi harapkan. Hari ini mereka..."
Budi melambaikan tangannya, "Baiklah, tidak usah dilanjutkan." Potong Budi.
"Apa Mas Budi sudah tahu mengenai hal itu?" Tanya Hexa setelahnya.
"Tidak. Tapi tahu atau pun tidak, hal itu pasti akan terjadi, jadi tidak perlu di bahas lagi." Sahut Budi tegas.
"Apa kamu masih belum rela, Bud? Belum bisa menerima kenyataan ini?" Sela Arya kemudian.
"Saya sudah lebih dari rela, Bang. Justru saya tidak rela jika terus meneruskan ego saya dulu. Saya tahu bagaimana egoisnya saya dulu. Kekudung welulang macan, membuat saya buta. Dan mengenai menerima kenyataan, hal itu sudah sebuah kenyataan, jadi bagaimana saya harus tidak menerimanya?" Ucap Budi kemudian.
Arya tersenyum, "Bagus, Bud. Kamu sudah banyak berubah sekarang."
"Seperti kata kamu, Bang. Pikiran dan hati manusia seperti halnya parasut. Akan berfungsi bilamana terbuka." Sahut Budi setelahnya.
Arya menepuk pundak Budi, "Pertahankan yang seperti ini, Bud."
"Tak jarang kita mendermakan petuah, meski lebih seringnya itu seperti berfoto tanpa flash di malam hari. Tapi kamu menyimpan secuil kata kata saya tempo hari, lalu mengaplikasikannya. Saya salut sama kamu, Bud." Puji Arya setelahnya.
"Saya hanya ingin belajar lebih baik, Bang. Kamu banyak memotivasi saya, itu sebabnya saya menjadikan kamu panutan saya saat ini." Balas Budi.
Arya tertawa, "Jangan ikuti saya, saya juga tersesat."
"Dengan tersesat bukankah kita akan menemukan jalan yang berbeda. Tentu jalan itu akan tidak semudah jalan biasanya, dan itu kenapa saya ingin tersesat bersama kamu, Bang." Balas Budi lagi.
"Jalan yang berbeda dengan yang lain memang tidak mudah, Bud. Kamu hanya akan dianggap beda, lalu di anggap nyeleneh." Potong Arya.
"Yasudah, Bang. Biarkan saja. Memang itu resikonya, kan? Yang paham akan mengerti, yang tidak paham akan menganggap aneh. Biarkan saja, Bang. Biarkan orang tertawa karena kita beda, meski seharusnya kita yang tertawa karena melihat orang yang monoton sama." Imbuh Budi.
"Saat semua berlomba lomba naik ke atas panggung dan berbicara, mereka lupa bahwa menjadi penonton yang tenang juga sebuah peranan. Dan saya ingin setenang itu, Bang." Ucap Budi melanjutkan.
"Saya tidak sebaik itu, Bud. Ingat bersama kawan yang salah, kita akan menganggap sebuah kesalahan adalah hal yang benar. Apa kamu yakin saya benar benar seperti pikiran kamu itu?" Debat Arya kemudian.
"Lalu apa saya harus ragu, Bang? Bukankah ragu ragu itu tidak di benarkan?" Sahut Budi kemudian.
Arya kini tak hanya tersenyum, tapi ia kini sedikit tertawa.
"Benar kata Mas Budi, Ya. Saya pun sependapat dengan Mas Budi kali ini." Imbuh Hexa setelah beberapa saat hanya menjadi pendengar.
"Kalian ini sudah membuat saya sedikit sombong." Sahut Arya.
"Sombong saja, Bang. Selagi kamu bisa menyeimbangkan dengan kenyataannya. Sah sah saja menurut saya." Timpal Budi.
Arya hanya kemudian tertawa.
"Kita butuh orang lain, Ya. Seperti kamu misalnya. Kita butuh orang lain meski kita bisa sendiri. Yah, setidaknya kita butuh orang lain untuk saksi bahwa kita bisa sendiri." Imbuh Hexa.
"Benar sekali, Xa. Sebenarnya saya pun tidak bisa memberi pengaruh apapun untuk kalian. Saya khawatir, khawatir kalau kalian kejeglong seperti saya." Sahut Arya setelahnya.
"Nanti kalau kejeglong, kita pundak pundak'an untuk kembali naik. Yang sampai di atas duluan mengulurkan tangan untuk menarik yang masih di bawah." Sahut Hexa setelahnya sembari sedikit tertawa.
"Ya kalau masih ingat yang dibawah, Xa. Wong kadang baru naik dikit saja sudah lupa. Malah di injak biar makin tenggelam kok." Balas Arya.
"Kamu khawatir kita seperti itu, Bang?" Timpal Budi kemudian.
"Tidak, kenapa saya harus khawatir. Hmmm, saya senang melompat dan memanjat. Meski tanpa uluran tangan, saya bisa melompat atau memanjat, sama saja kan?" Sahut Arya lagi.
Pada akhirnya mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain rombongan Ajimukti baru saja sampai di depan rumah Kyai Aminudin. Dari balik kaca mobilnya, Ajimukti sedikit melirik beberapa orang yang berdiri di ambang pintu rumah Kyai Aminudin untuk menyambut kedatangannya kali ini. Di sana selain Kyai Aminudin dan Nyai Sarah, nampak juga Faruq bersama istrinya, Gitun bersama Slamet, suaminya, juga Ari Godril yang segera berlari menyongsong kedatangan rombongan Ajimukti itu begitu melihat kedatangan mereka.
Bersambung...