
"Sepertinya anak itu mengikuti saya. Dia pasti ingin tahu sesuatu. Sebaiknya saya tidak segera menemui Arya." Hexa berhenti tepat di depan sebuah warung. Kemudian ia masuk ke dalam warung dan nampak membeli sesuatu di warung itu.
Tak lama, ia nampak keluar dari warung itu menenteng plastik hitam dan berjalan menjauh dari warung itu. Dari wajahnya sesekali nampak senyuman mengejek. Pandangan matanya hanya ia luruskan ke depan.
Hexa berjalan menuju ke arah luar pasar ke arah jalan yang menuju Pondok Hidayah. Ia terus saja berjalan tak menghiraukan lalu lalang orang orang di sekitarnya.
Tepat di pinggiran pasar di depan sebuah warung, ia nampak melihat Arya sedang duduk sendiri disana. Hexa tak menghampirinya, ia hanya sedikit menyunggingkan senyum, Arya nampak mengangguk, ia seolah paham dengan isyarat yang Arya berikan padanya.
Hexa terus berjalan menyusuri jalanan ke arah Pondok Hidayah.
"Masih juga anak itu mengikuti saya. Sepertinya dia masih begitu penasaran." Batin Hexa sembari mempercepat langkahnya.
Tepat di tikungan jejak Hexa menghilang dari pandangan.
Seorang pemuda nampak celingukan mencari keberadaan Hexa. Beberapa kali ia nampak mengerutkan kening sembari meliarkan pandangannya sarat keheranan.
"Kok hilang?" Gumamnya.
"Sampeyan mengikuti saya ada apa?" Tiba tiba Hexa berseru dari atas sebuah pohon.
Pemuda itu yang tak lain adalah Khalil setengah terperanjat lalu mendongak ke atas, ke arah sumber suara, di sana, di salah satu dahan yang cukup besar, nampak Hexa sedang nangkring sembari mengayunkan kakinya yang tergelantung.
"Ah, tidak." Sahut Khalil nampak canggung.
Hexa hanya kemudian tersenyum kecut.
"Saya hanya kebetulan lewat." Lanjut Khalil terdengar salah tingkah.
"Saya perhatikan sejak di pasar tadi sampeyan terus mengikuti saya. Katakan ada apa?" Hexa kemudian melompat turun dari atas pohon itu dan tepat berjongkok di hadapan Khalil.
Khalil kini terlihat semakin salah tingkah, wajahnya nampak kebingungan.
"Tidak. Tidak. Tidak. Saya tidak mengikuti kamu kok. Memang tadi saya sempat melihat kamu di pasar. Terus penasaran saja ada apa kamu ke pasar sepagi ini." Sahut Khalil kemudian.
"Berawal dari penasaran? Lantas mengikuti saya? Begitu?" Tekan Hexa kemudian.
"Sudah saya bilang, saya tidak mengikuti kamu." Khalil semakin merasa terpojok kali ini.
"Baiklah. Anggap saja begitu." Hexa mengibaskan tangannya.
"Sekarang kamu mau kemana?" Tanyanya kemudian pada Khalil.
"Emmm, saya... Saya mau kembali ke pesantren." Sahutnya ragu.
Hexa kembali menampakkan senyum sinisnya.
"Baiklah, silahkan duluan." Hexa memberi jalan pada Khalil.
Khalil sedikit menelan ludah.
"Kamu sendiri tidak kembali ke pesantren?" Tanyanya kemudian.
"Saya harus kembali ke pasar. Ada yang lupa belum saya beli. Atau kamu mau ikut saya kembali ke pasar, yah dari pada nantinya mengikuti saya lagi." Sindir Hexa kemudian.
Sekali lagi Khalil menelan ludah, wajahnya memerah kali ini.
"Tidak, kamu sendiri saja. Saya akan kembali ke pesantren." Sahut Khalil.
Hexa tak menyahut, ia hanya kemudian berjalan melewati Khalil dan pergi kembali ke arah pasar.
Khalil tak berkutik, ia tidak mungkin lagi mengikuti Hexa kali ini. Ia pun segera melanjutkan langkahnya kembali ke pesantren.
"Sepertinya tadi ada yang sengaja mengikutimu?" Tegur Arya ketika Hexa tiba tiba duduk di sebelahnya di kursi warung tempat Arya berada saat ini.
Hexa tak segera menyahut, ia hanya sedikit menyunggingkan bibirnya, lalu segera meraih rokok Arya dan menyulutnya sebatang.
"Anak yang mengikutimu tadi seingat saya, pernah mengobrol dengan saya." Ucap Arya lagi.
"Bagus kalau kamu ingat. Anak itu memang pernah sekali mengobrol dengan kamu. Di sini." Sahut Hexa kemudian.
__ADS_1
"Sekarang anak itu apa sudah kembali kok kamu berani kesini?" Tanya Arya kemudian.
"Sudah! Saya sengaja memergokinya tadi." Sahut Hexa sembari menghisap rokok yang terselip di jarinya.
Arya hanya kemudian menggeleng ringan, "Sembrono kamu, Xa." Gumamnya.
"Tidak apa apa, sekali waktu perlu sedikit sembrono. Seperti kata kamu, Ya." Sahut Hexa kemudian.
Arya mengerutkan keningnya, "Kata saya? Kapan saya pernah bilang itu?" Tanyanya keheranan.
"Mungkin kamu tidak ingat. Karena memang kamu tidak mengatakannya secara langsung. Hanya saja, saya menukil dari ucapan kamu kala itu, ya intinya sekali waktu sembrono itu perlu." Sahut Hexa sembari tersenyum pias.
Arya kemudian mengerutkan keningnya sembari menaikkan bola matanya seolah dia sedang mengingat ingat sesuatu.
"Saya tidak ingat itu, Xa." Ucapnya kemudian.
Hexa lagi lagi menyunggingkan bibirnya, "Coba ingat lagi, Ya."
Hexa semakin membuat Arya penasaran kali ini.
Arya menaikkan bahunya, "Saya memang lupa, Xa."
Hexa sedikit menggeleng, "Saya anggap kamu tidak lupa, hanya saja kamu itu terlalu bijak, saking bijaknya, banyak kebijakan yang bahkan kamu sendiri lupa."
Arya tergelak lalu tertawa setelah mendengar itu.
"Kamu ingat saya pernah bertanya kenapa kamu sering sholat Dzuhur ketika waktu Azar tinggal selangkah? Bahkan kamu tidak sekali dua kali sholat Dzuhur ketika muadzin sudah akan mengumandangkan adzan. Ingat?" Tegas Hexa kemudian.
Arya mengangguk, "Ya, saya ingat itu, Xa." Sahutnya.
"Lalu apa hubungannya dengan sembrono yang kamu maksud? Perasaan tidak ada kaitannya." Lanjut Arya kemudian.
Hexa memiringkan posisi duduknya, kali ini ia sedikit menghadap ke arah Arya. Hal itu sedikit membuat Arya penasaran.
"Ulangi lagi penjelasan kamu waktu itu!" Ucap Hexa kemudian.
Hexa menaikkan bahunya, "Yah, untuk kali ini anggap saja kamu sedang menjadi itu, Ya."
Arya menghela nafasnya, "Yah, seperti kata saya waktu itu, Xa. Ya saya hanya memantapkan diri saja. Nah, kebetulan mantapnya pas dekat waktu Azar."
Hexa kembali menyunggingkan bibirnya.
"Lalu?"
"Ya, seperti kata saya waktu itu juga. Sekarang banyak yang ibadahnya hanya karena takut tidak masuk surga. Mereka berbondong bondong menuruti obsesi mereka untuk masuk surga. Mereka mengikuti kesunahan, sholat di awal waktu. Bagus, sangat bagus, apalagi kalau bisa jama'ah dan Istiqomah, lebih bagus lagi. Nah, sementara saya kenapa saya mepet waktunya, ya karena saya tidak khawatir soal saya nanti mau masuk neraka apa surga. Toh, sholat itu bukan sekedar waktu dan gerakan. Ada kemantapan yang mana itu lebih penting dari sekedar di awal waktu juga gerakan. Itu kalau saya, Xa. Kalau pada akhirnya saya golongan ahlu nar, ya saya harus terima itu, itu sesuai dengan amal saya di dunia. Saya tidak khawatir kok." Sahut Arya mengulang ucapannya waktu itu.
"Nah, itu lah yang saya maksud, Ya. Ilmu sembrono." Timpal Hexa.
"Sembrono bagaimana, Xa?" Tanya Arya keheranan.
"Mau nyenggol neraka itu kalau bukan sembrono apa namanya?" Tanya Hexa kemudian.
Arya tertawa kali ini, "Ya, anggap saja begitu, Xa. Anggap saja saya sembrono. Tapi sejujurnya, itu bukan sembrono. Saya hanya tidak ingin ibadah saya ini semata karena mengharap surga dan takut masuk neraka. Saya ingin ibadah saya ini lillahi ta'ala. Karena Allah, bukan karena tempat ciptaan Allah." Terang Arya kemudian.
"Itu dia, Ya. Saya sedang ngoncek'i itu. Yah, sekarang sih saya tidak bisa se-ndableg kamu. Tapi saya yakin saya bisa belajar banyak dari kamu. Seperti sembrono itu tadi." Sahut G
Hexa sedikit terkekeh sembari kembali menghisap sisa rokoknya.
"Temunya dimana, Xa Xa. Kalau yang kamu lakukan itu tadi pasti hanya karena ambisi dan ego kamu kan?" Timpal Arya pada akhirnya.
"Tentu saja tidak, Ya. Saya sudah pikirkan semuanya. Saya sembrono tapi tidak asal." Sahut Hexa.
"Yah, terserah kamu sajalah, Xa." Balas Arya pada akhirnya.
"Ngomong ngomong bagaimana acara lamaran Gus kamu, Xa? Ada informasi yang kamu dapat?" Tanya Arya kemudian beralih.
"Tidak. Tapi dilihat dari keadaannya sih saya pikir semua berjalan lancar." Sahut Hexa kemudian.
Arya mengangguk ringan, "Syukurlah kalau begitu. Seperti harapan saya." Gumamnya kemudian.
__ADS_1
"Tapi ya, sejujurnya alasan kamu waktu itu masih terpikirkan oleh saya. Sebenarnya apa maksud ucapan kamu waktu itu, karena dia cucu kakek kamu. Emmm, apa kamu dan dia ada ikatan saudara?" Tanya Hexa kemudian.
Arya tersenyum kecut kali ini, "Waktu itu kamu meminta saya memberi satu alasan dan setelahnya tidak akan bertanya lagi. Satu alasan itu sudah saya kasih, jadi saya harap kamu bisa menepati ucapan kamu. Kamu tidak akan bertanya apapun lagi." Ucapnya kemudian.
Hexa terdiam lalu mengangguk pelan.
"Maaf, Ya." Ucapnya lirih.
"Sudahlah, Xa. Apapun itu, saya hanya meminta bantuan kamu saja. Untuk selebihnya biarkan itu menjadi urusan pribadi saya." Tegas Arya sekali lagi.
"Hmmm, baiklah, Ya."
"Dan satu lagi, Ya. Saya harap kamu lebih berhati hati. Dengan kejadian tadi, itu menandakan ada kecurigaan dari orang orang disana pada kamu. Jangan karena kesembronoan kamu justru akibatnya menggagalkan rencana saya. Saya menaruh harapan banyak pada kamu." Imbuh Arya lagi.
"Iya, Ya. Untuk tadi saya minta maaf. Lain kali saya tidak akan coba coba seperti tadi." Sahut Hexa kemudian.
Arya hanya kemudian membalas ucapan Hexa dengan seulas senyum.
"Kemungkinan dua hari ini saya tidak kesini, Xa." Ucap Arya kemudian.
Hexa tersentak, "Kamu mau kemana, Ya?" Tanyanya keheranan.
"Saya ada urusan dengan Saka." Sahut Arya kemudian.
Hexa mengangguk, kemudian menoleh ke arah Arya.
Arya menyadari tatapan Hexa padanya.
"Kenapa, Xa? Armel?" Tanyanya menebak.
Hexa sedikit gelagapan dengan tebakan Arya itu. Seketika wajahnya memerah.
"Xa, Xa, Kamu itu. Hmmm..." Gumam Arya.
"Sampaikan saja dalam saya, Ya. Itu kalau kamu bertemu dengan dia." Ucap Hexa lirih.
"Insya Allah. Waktu itu dia ingin waktu kamu sejenak untuk berbicara kamu tidak mau. Hmmm, lalu sekarang...." Arya menghentikan ucapannya.
"Tapi ya sudahlah, Xa. Saya tidak ingin ikut memikirkan masalah rumit kalian. Saya harap ada pilihan yang terbaik untuk kamu." Ucap Arya kemudian.
"Jika seseorang mau, maka ia akan bertahan. Jika seseorang mampu, maka ia akan terus memperjuangkan. Jika tidak keduanya, maka seseorang itu akan melepaskan." Lanjut Arya sembari menepuk pundak Hexa.
"Semua hal butuh kepastian entah itu memulai bertahan atau melepaskan, Ya." Sahut Hexa lirih, suaranya terdengar berat kali ini.
Arya tersenyum, "Dia sudah menentukan pilihannya, dan itu sebuah kepastian."
"Tapi dia pun dengan saya...?"
Arya mengarahkan telapak tangannya pada Hexa, memotong ucapan Hexa.
"Jika dia masih bertahan dengan pilihannya, apa yang membuat kamu ragu? Sekali lagi saya tekankan, Ya. Itu sudah sebuah kepastian." Ucap Arya kemudian.
Hexa menghela nafasnya berat.
"Cinta adalah kekuatan liar. Ketika kita mencoba mengendalikannya, itu menghancurkan kita. Ketika kita mencoba memenjarakannya, itu memperbudak kita. Ketika kita mencoba memahaminya, itu membuat kita merasa tersesat dan bingung. Mencintai memang perihal mempertahankan. Tetapi, ada kesempatan lain bisa jadi keberanian untuk melepas." Ucap Arya kemudian.
"Lantas apa yang harus saya lakukan jika bertahan membuat sakit dan melepaskan membuat terluka?" Desah Hexa kemudian.
"Akan datang waktu di hidup kamu ketika kamu harus memilih untuk membalik halaman, menulis buku yang lain atau sekadar menutupnya." Sahut Arya kemudian.
"Saya bingung, Ya. Saya mau berjalan ke arah mana? Tampaknya semua arah adalah arah yang salah." Sekali lagi Hexa melenguh.
Arya kembali menepuk pundak Hexa, "Jika ragu, ikutilah hatimu. Berikan pertanyaan, temukan jawabannya. Belajarlah untuk mempercayai hati. Keraguan bukan merupakan lawan dari keyakinan. Namun keraguan adalah bagian dari keyakinan. Ketidakpastian itu membuatmu jatuh dalam penantian dan kamu terjebak dalam dua pilihan di dalamnya. Bertahan atau melepaskan? Jangan habiskan waktumu untuk memikirkan dan peduli pada hal hal yang tak sedikit pun memberimu kebahagiaan, Xa." Ucapnya kemudian.
"Apa kamu tahu, Ya. Melepas yang hampir tergenggam bukanlah hal yang mudah." Sahut Hexa lirih.
Arya tersenyum, "Saya tahu. Sangat tahu."
Bersambung...
__ADS_1