BROMOCORAH

BROMOCORAH
Prastowo Turun Tangan


__ADS_3

"Gus..."


Sobri terkejut ketika tiba tiba Ajimukti sudah begitu saja berdiri di depannya dan memapahnya berdiri.


"Maaf, Kang. Saya datang terlambat." Ucap Ajimukti sembari masih memegang Sobri.


"Tidak apa apa, Gus. Justru saya berterima kasih Gus Aufa datang menolong saya." Sobri terlihat malu pada Ajimukti.


Suko sudah kembali berdiri dan terlihat sangat marah. Ajimukti segera beralih kepadanya.


"Arogan, tapi terkesan sangat pengecut, menyerang orang yang sudah lemah. Sepertinya bapak ini kehabisan lawan." Ucap Ajimukti dengan tatapan tajam ke arah Suko.


Suko sekelebat memandang wajah Ajimukti lalu tersenyum menyeringai.


"Jadi kamu yang bernama Ajimukti. Sama sama hanya bocah ingusan. Mungkin kamu pun akan bernasib sama seperti santri kamu yang sok berani melawan saya." Ucap Suko jumawa.


Ajimukti tersenyum. "Maaf, Pak. Saya tidak akan mengotori tangan saya." Ucap Ajimukti dengan penuh ketenangan sembari masih memegangi Sobri.


"Cuih...!" Suko meludah dan sangat tidak suka dengan kata kata Ajimukti kepadanya tadi.


Namun pada akhirnya Suko pun tak bisa berbuat banyak ketika tiba tiba Manan sudah datang dengan seluruh santri yang berjumlah ratusan dan bersiap menyerang Suko kapan pun.


Suko menelan ludah. Mendadak tubuhnya gemetaran melihat begitu banyaknya orang disini. Dia berpikir, jika melawan satu santri saja dirinya tadi hampir kewalahan, apalagi jika sebanyak ini, pasti dia hanya akan jadi empal goreng. Membayangkan nasib dirinya jika memaksa melawan, seketika wajah Suko pucat pasi.


"Bagaimana, Pak. Masih ingin dilanjutkan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Suko hanya bisa menahan diri. Ekspresi ketakutannya tidak bisa disembunyikannya lagi. Mau tidak mau ia harus mundur.


"Silahkan bapak pergi dari sini. Dan apapun urusan bapak sampai membuat keributan disini, saya harap bapak tidak berpikir untuk mengulanginya sekali lagi. Karena jika tidak saya tidak lagi bisa menjamin apa yang akan saya dan semua santri ini lakukan pada bapak."


Mendengar ucapan serius Ajimukti itu, Suko merasa merinding. Dengan langkah cepat ia segera berjalan ke arah mobilnya dan segera berlalu dari tempat itu.


"Kang Sobri tidak apa apa?" Tanya Manan kemudian.


Sobri mengangkat tangannya. "Tidak apa apa, Kang. Gus Aufa datang disaat yang tepat."


"Sudah, kita masuk dulu. Sepertinya ada luka yang harus sampeyan obati dulu, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


Ajimukti segera menyuruh beberapa santri untuk membantu Sobri berjalan kembali ke pesantren.


"Siapa orang itu tadi, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Entahlah, Nan. Tapi saya pikir orang itu masih sama seperti empat orang sebelumnya." Ucap Ajimukti sembari meraih kaca mata hitam yang ditinggalkan Suko.


"Dan yang pasti, orang itu pun juga hanya orang suruhan." Lanjut Ajimukti kemudian.


Manan hanya mengangguk.


"Saya ingin ketempat Pak Lek Prastowo. Apa kamu mau ikut, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk cepat, "Iya, Jik. Saya ikut."


Segera mereka berjalan kaki menuju rumah Prastowo yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari pesantren.


Setiba di rumah Prastowo. Prastowo nampak baru saja selesai mengurus ayam ayamnya. Setelah berbincang sejenak Prastowo mulai menanyakan sesuatu pada Ajimukti.


"Mas Aji, Pak Lek dengar dari beberapa warga katanya kemarin ada yang menyerang Mas Aji. Apa itu benar? Dan apa Mas Aji tahu siapa mereka?" Tanya Prastowo kemudian.


Ajimukti menghela nafas, "Benar, Lek. Saya pun tidak tahu pasti siapa orang dibalik ini semua. Tapi saya harap ini tidak sampai ke Pak Lek Anggoro juga Pak Lek Dullah."


Prastowo mengangguk, "Iya, Mas. Kemarin Manan juga sudah mewanti wanti saya."

__ADS_1


"Yang jadi masalah, baru saja ada seorang lagi yang datang, Pak Dhe. Dan orang itu sempat dihadang Kang Sobri. Sayangnya Kang Sobri sempat terkena pukulan orang itu, untung saja Ajik tadi datang tepat waktu." Manan menyela.


Mendengar itu Prastowo tersentak kaget. "Apa? Ada lagi yang menyerang? Lalu bagaimana keadaan Sobri sekarang?" Tanya Prastowo langsung terlihat emosi.


"Kang Sobri baik baik saja, Lek." Ajimukti menjelaskan.


"Siapa mereka? Berani sekali mengacau di wilayahnya Kang Salim." Prastowo bergumam.


"Aminudin. Ya, saya yakin ini pasti pekerjaan Aminudin. Pasti Kyai abal abal itu yang membayar preman preman itu untuk menyerang Mas Aji." Prastowo seketika mengarahkan dugaannya pada Kyai Aminudin.


"Saya tidak berani berprasangka, Lek." Sahut Ajimukti.


"Siapa lagi, Mas? Siapa lagi yang tidak suka dengan posisi sampeyan saat ini selain Aminudin?" Prastowo tetap menduga semua ini ulah Kyai Aminudin.


"Saya akan cari bukti buktinya dulu, Lek." Ucap Ajimukti. "Oh iya, ini tadi saya menemukan kaca mata yang ditinggalkan orang suruhan itu." Ajimukti memperlihatkan kaca mata hitam itu pada Prastowo.


Prastowo mendengus. Tatapannya penuh dengan kemarahan.


"Biar saya cari tahu siapa Bos preman preman itu, Mas. Kebetulan saya masih ada kenalan seseorang. Saya pastikan dalam waktu dekat siapa dibalik orang orang itu akan segera kita ketahui." Prastowo memberi sarannya.


Ajimukti hanya mengangguk. Bagaimana pun juga, dia tahu bagaimana sepak terjang Prastowo semasa masih bersama bapaknya dulu.


"Untuk selanjutnya, sampeyan berhati hatilah, Mas. Bisa jadi orang orang kiriman yang lain akan datang menyerang sewaktu waktu." Pesan Prastowo kemudian.


"Baik, Lek. Saya akan selalu waspada dengan apa yang akan terjadi setelah ini." Sahut Ajimukti.


"Baiklah, Lek. Kalau begitu kami permisi dulu. Hanya itu saja yang ingin kami sampaikan." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Baik, Mas. Serahkan semua pada Pak Lek untuk mencari tahu siapa Bos orang orang itu. Sekali lagi ingat pesan Pak Lek, Sampeyan berhati hatilah." Prastowo mengulang pesannya pada Ajimukti.


Ajimukti hanya mengangguk lalu kemudian beranjak dari rumah Prastowo di ikuti Manan.


Segera setelah Ajimukti pergi, Prastowo meraih ponselnya dan nampak melakukan panggilan ke seseorang.


"Saya ingin bertemu denganmu." Ucap Prastowo singkat.


"Wah, yang benar, Kang. Kapan?" Tanya seorang dari seberang.


"Siang ini. Apa kamu ada waktu?" Tanya Prastowo kemudian.


"Tentu saja, Kang. Saya akan selalu ada waktu untuk sampeyan." Jawab seseorang itu kemudian.


"Baiklah. Kirimkan alamat mu! Saya akan mencarinya dan menemui mu siang ini juga." Ucap Prastowo kemudian.


"Kenapa Kang Prastowo harus repot repot mencari. Biar saya kirim anak buah saya saja untuk menjemput Kang Prastowo." Sahut seseorang itu menawarkan diri.


"Tidak perlu! Saya bisa pergi sendiri. Kamu cukup kirimkan alamat mu saja." Ucap Prastowo mendesak.


"Baik, Kang."


Setelah itu Prastowo segera menutup telfonnya. Tak lama sebuah pesan berisikan alamat masuk ke ponselnya. Prastowo mengamati pesan itu, alamat yang tertulis disana cukup di hapalnya.


"Anak itu, semoga saja kali bisa sedikit berguna." Gumam Prastowo kemudian.


Ajimukti dan Manan sudah kembali ke ndalem pesantren. Di sana Sobri sedang mengompres luka di bibirnya. Ajimukti dan Manan segera duduk di kursi yang lain. Sejenak Ajimukti melihat wajah Sobri, ada luka lebam di pelipis kirinya.


"Bagaimana keadaan sampeyan, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Hanya luka lebam, Gus. Bukan masalah berarti untuk saya." Sahut Sobri sedikit melempar senyum, menandakan dia memang baik baik saja saat ini.


"Sebenarnya bagaimana kejadiannya tadi, Kang?" Tanya Manan sedikit penasaran.

__ADS_1


"Saya hanya kebetulan melintas di depan pesantren. Saya mengamati orang itu untuk beberapa saat. Saya memang sejak awal sedikit curiga, lalu akhirnya saya memutuskan menghampiri orang itu. Kami sempat berkenalan. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan nama Suko Baskoro. Setelah itu saya tanyakan keperluannya, begitu saya tahu dia mencari Gus Aufa, saya mendesaknya untuk berterus terang tentang tujuannya. Setelah itu, ya, terjadilah perkelahian antara saya dan orang itu." Sobri menceritakan kejadian dengan orang itu tadi pagi.


"Saya rasa, orang itu memang memiliki kemampuan bela diri yang lumayan. Kalau tidak, bagaimana mungkin Kang Sobri bisa terluka seperti ini." Imbuh Ajimukti sedikit ada penyesalan di wajahnya.


"Benar, Gus. Kemampuan bela diri orang itu cukup membuat kewalahan." Timpal Sobri membenarkan.


"Bisa jadi, orang itu tadi Bos dari empat orang yang sebelumnya, Jik." Sahut Manan menduga.


"Entahlah, Nan. Jika memang orang itu tadi Bos nya. Mungkin saya tidak perlu khawatir berlebihan, karena nyatanya meski orang itu menguasai bela diri yang cukup bagus, kita masih bisa untuk mengatasinya." Sahut Ajimukti penuh keyakinan.


Siang harinya, Prastowo segera pergi mencari alamat yang dikirim orang yang tadi sempat dihubunginya. Dan kini, dirinya sudah berhasil mendapatkan alamat yang ia cari itu. Begitu memastikan tempat ini sesuai dengan alamat yang dikirim kepadanya, Prastowo segera turun dari motornya dan berjalan ke arah pintu gerbang itu. Di sana dua orang penjaga dengan tubuh tinggi besar menghadang Prastowo.


"Siapa kamu?" Tanya salah seorang penjaga gerbang itu.


"Apa Bos kalian ada? Saya ingin bertemu dengan Bos kalian itu." Ucap Prastowo datar.


Kedua penjaga itu menatap sekilas Prastowo, mereka tidak yakin dengan penampilan Prastowo.


"Katakan saja Bos kalian ada atau tidak? Jangan banyak bertanya." Prastowo mulai tidak bisa menahan diri.


"Br*ngs*k! Kamu pikir kamu ini siapa berani membentak kami. Cari mati ya kamu?" Penjaga itu memandang remeh Prastowo.


"Mana mungkin Bos kami ada janji dengan orang sepertimu. Membual saja kamu ini." Imbuh penjaga satunya.


Prastowo tersenyum kecut. "Kalau begitu panggilkan Bos kalian itu! Bilang Prastowo mencarinya."


"Hah, kamu pikir kamu ini siapa berani menyuruh kami. Sudah hajar saja orang tidak tahu diri ini." Ucap salah seorang penjaga itu kemudian langsung mencoba memukul Prastowo.


Prastowo tidak bergerak, namun begitu penjaga itu mengarahkan serangannya, dengan cepat Prastowo mematahkan serangan itu dan langsung melayangkan pukulan ke arah penjaga itu. Penjaga itu segera terlempar dan tubuhnya menghantam tembok.


Melihat temannya dihajar, penjaga satunya tidak terima dan langsung ingin membalas, tapi sayang belum sempat ia mengarahkan serangannya, tubuhnya sudah dilempar Prastowo.


Prastowo menghampiri kedua penjaga yang jatuh itu kemudian berjongkok.


"Sekali saya tanya. Apa Bos kalian ada?" Tanya Prastowo sembari mencengkeram kerah baju salah satu penjaga itu.


Dengan ketakutan penjaga itu mengangguk. "A...ada... Bos... Bos di ru...ruangannya..." Suara terbata karena tubuhnya yang mulai gemetaran.


Prastowo menghentakkan tubuh penjaga itu. Ia lalu berdiri.


"Antarkan saya keruangan Bos kalian itu." Ucap Prastowo kemudian.


Dengan masih gemetaran salah satu pengawal itu segera berdiri dan berjalan di depan Prastowo untuk mengantarnya ke ruangan Bos mereka itu.


"I...ini ruangan Bos. Bos...a...ada di dalam." Ucap penjaga itu dengan masih gemetaran.


Prastowo tak menyahut, ia lalu hanya mengetuk pintu itu beberapa kali hingga seseorang dari dalam ruangan itu terlihat memutar gagang pintu dan membuka pintu itu.


"Ah, Kang Prastowo. Akhirnya sampai juga. Mari silahkan masuk. Beginilah tempat saya, Kang. Saya harap Kang Prastowo tidak sungkan disini." Ucap orang yang membukakan pintu pada Prastowo itu dengan ramah.


Prastowo tersenyum kecut, "Tentu saja saya tidak akan sungkan. Saya baru saja memberi pelajaran pada kedua penjaga pintu depan."


Lelaki di hadapan Prastowo melotot lalu menelan ludah.


"Tunggu sebentar, Kang. Duduklah dulu." Lelaki itu mempersilahkan Prastowo duduk di kursi ruangan itu, setelahnya ia keluar menemui kedua penjaga pintu yang sempat menghadang Prastowo tadi.


Plak! Plak!


Sebuah tamparan keras langsung saja mendarat di pipi kedua penjaga dengan sangat keras.


"Lancang kalian. Kalian tidak tahu siapa orang itu? Berani beraninya kalian menghadangnya.".

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2