
Keesokan harinya.
Pagi itu selepas kajian kitab Mushtolah Al-Hadits, salah satu kitab matan karangan Syech Al-Qodhi Abu Muhammad Ar-Romahurmuzi, Ajimukti segera berjalan melangkah ke arah ndalem karena Prastowo sudah menunggunya sejak tadi. Kitab Mushtolah Al-Hadits sendiri adalah salah satu dari beberapa kitab yang mulai di ajarkan Ajimukti di Pondok Hidayah sejak dirinya mulai mengambil alih sebagai pengasuh pesantren ini.
Begitu tiba di teras ndalem nya, Ajimukti segera menyapa Prastowo dan menyalami tangan lelaki paruh baya itu dan mencium punggung tangannya. Perbedaan warna kulit begitu jelas terlihat ketika kedua kulit tangan itu bertemu.
"Bagaimana, Mas? Apa sampeyan sudah bertemu Aminudin? Dan apa sudah dapat informasi setelah bertemu dengannya?" Tanya Prastowo begitu mereka sudah sama sama duduk.
"Sudah, Lek. Tapi sepertinya bukan Kyai Aminudin dalang dibalik semua kejadian akhir akhir ini. Saya yakin ada orang lain di belakang orang bernama Warsito itu, dan bukan Kyai Aminudin." Ajimukti menjelaskan.
"Dan saya lihat pun Kyai Aminudin sepertinya sudah sedikit berbeda dari sebelumnya, Lek." Imbuhnya lagi.
Prastowo mengangguk paham, "Apa njenengan yakin, Mas?"
"Sangat yakin, Lek. Dan saya menjamin itu bukan perbuatan Kyai Aminudin seburuk apa pun perbuatan beliau sebelum sebelumnya." Ucap Ajimukti dengan wajah penuh keyakinan.
"Kalau begitu, siapa orang di belakang Warsito itu, Mas?" Prastowo terlihat mulai menggaruk dagunya, nampaknya ia pun sedikit bingung kali ini.
"Entahlah, Lek. Saya pun belum memiliki bayangan siapa orang dibelakang Warsito Warsito itu. Kita tunggu saja informasi dari Pak Suko dan orang orangnya."
"Iya, Mas. Tapi informasi awal mengenai Warsito yang terlihat ke Rutan masih belum cukup untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Ini sangat rumit menurut saya." Prastowo benar benar nampak begitu memikirkan masalah ini.
"Cepat atau lambat pasti kita juga akan menemukan jawabannya, Lek." Ajimukti sedikit memberi ketenangan pada Prastowo.
Prastowo hanya mengangguk.
"Lalu soal pembelian rumah yang saya dengar dari Suko. Apa itu benar, Mas?" Tanya Prastowo kemudian.
Ajimukti mengangguk mengiyakan. "Benar, Lek. Hanya sebagai wujud rasa terima kasih saya saja pada Kyai Aminudin."
Prastowo tersenyum, dalam hati ia mengagumi sifat loman dan tidak perhitungan dalam memberi apapun yang diwariskan Salim pada Ajimukti.
"Oh iya, Lek. Dik Ajeng bagaimana kabarnya di pesantren?" Tanya Ajimukti tiba tiba.
Prastowo melirik Ajimukti.
"Alhamdulillah, Mas. Terakhir menghubungi, dia baik baik saja. Dan mungkin saat ini sudah mulai ujian Akhirus-sanah." Sahut Prastowo sedikit tersenyum.
"Berarti belum ada kabar kapan pulang, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Belum, Mas. Tapi kemungkinan awal bulan besok." Sahut Prastowo.
Sejenak Prastowo kembali melirik Ajimukti. Dalam hati kecil lelaki paruh baya itu ada harapan besar yang terselip. Ia menyadari bagaimana anak gadisnya yang diam diam menaruh hati pada pemuda luar di depannya ini. Tapi meski begitu, ia pun tidak tahu bagaimana perasaan Ajimukti kepada putrinya itu. Dan bagaimana pun perasaan Ajimukti, ia selalu berharap kebaikan untuk keduanya.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah gedung besar di tengah kota, di sebuah Lembaga Pemasyarakatan kelas satu. Seorang pria berbadan sedikit gemuk terlihat berjalan memasuki gerbang besar gedung itu. Setelah bercakap dengan petugas jaga berseragam biru yang berbadan besar, pria itu pun segera masuk dengan barang bawaan yang cukup banyak.
Begitu tiba di dalam, seorang pemuda di dampingi petugas seragam biru yang lain segera mengambil alih barang bawaan pria itu untuk di cek. Ia pun di persilahkan menunggu di ruang besuk.
Tidak butuh waktu lama, seorang lelaki berperawakan tinggi gagah dengan rambut sedikit beruban nampak berjalan ke arah pria gemuk yang menunggunya, di dampingi seorang tamping yang kelihatannya masih sangat muda itu.
"Bagaimana kabar diluar?" Tanya lelaki beruban itu pada si pria gemuk di depannya.
__ADS_1
"Seperti biasa, Mas. Hanya saja, terakhir saya berkunjung kesini waktu itu, ada beberapa orang yang mencoba menyerang saya." Ucap pria gemuk itu kemudian.
"Siapa mereka? Apa kamu tahu?" Tanya lelaki beruban itu sarat penasaran.
"Entahlah, Mas. Saya pun tidak tahu siapa mereka. Terus terang, saya memang sempat beberapa kali terlibat konflik dengan beberapa orang." Sahut pria gemuk itu.
Lelaki beruban itu hanya mengangguk, tidak nampak keterkejutannya, seolah ini hal biasa dan bukan hanya sekali di dengarnya.
"Lalu bagaimana soal tugas yang saya berikan? Apa kamu sudah dapat kabar dari orang orang yang kamu bayar itu?" Tanya lelaki beruban itu kemudian.
Pria gemuk itu hanya menggaruk kepala belakangnya sembari tersenyum, "Sebenarnya saya melarikan diri juga dari orang orang itu, Mas. Tapi saya yakin, mereka sudah membereskan anak itu. Saya tahu kinerja orang orang itu. Tapi sayangnya, mereka terlalu bodoh jika percaya saya akan membayar sisa bayaran mereka." Pria gemuk itu kemudian tertawa.
"Terserah kamu saja. Toh, itu sudah menjadi kebiasaan kamu sejak dulu." Lelaki beruban itu pun nampak biasa tanpa ekspresi.
"Satu lagi! Apa kamu sudah bertemu keponakan kamu?" Tanyanya kemudian pada pria gemuk di depannya.
Pria itu kini geleng geleng kepala, "Anakmu itu sedikit susah diatur, Mas. Dia datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Setelah itu pergi lagi dan entah sekarang kemana saya pun tidak tahu. Setiap kali saya telfon, selalu saja dia menolak panggilan saya." Jawab pria itu nampak malas.
"Hmmm, yasudah. Biarkan saja. Yang terpenting kamu awasi dia." Perintah lelaki beruban itu pada si pria gemuk.
"Mas, tenang saja. Istrimu juga sudah meminta saya mengawasinya." Sahut pria gemuk itu masih datar.
"Lalu, soal...?"
"Soal anakmu yang itu?" Pria gemuk memotong ucapan lelaki beruban di depannya.
Lelaki beruban itu mengangguk.
"Saya sudah mengiriminya pesan. Dan dia bilang mencari waktu luangnya dulu baru bisa menjengukmu kesini." Ucapnya kemudian.
"Tidak apa apa." Meski bilang tidak apa apa, tapi raut wajah lelaki beruban itu nampak terlihat sekali ekspresi kekecewaannya.
Setelah berbincang cukup lama, pria gemuk itu terlihat berdiri sesaat setelah seorang tamping terlihat mendekat ke tempat duduk mereka. Sepertinya waktu kunjungan hari ini sudah berakhir.
"Mbok Warsi saya suruh masak lebih banyak, Mas. Tenanglah, disini pun kamu saya akan tetap menjaga martabat kamu." Ucap pria gemuk itu sebelum pergi.
"Terima kasih, berhati hatilah." Sahut lelaki itu seraya berjalan beriringan keluar dari ruang besuk itu.
Kedua lelaki itu akhirnya berpisah, lelaki beruban kembali masuk ke dalam, sementara pria gemuk itu keluar dari gedung itu. Sekali lagi ia nampak bercakap dengan petugas jaga gerbang berseragam biru itu sebelum akhirnya benar benar melangkah ke mobil yang di parkirnya.
"Itu Warsito!" Tunjuk seorang lelaki berjaket Levis kearah pria gemuk itu ketika dirinya baru mau masuk mobil.
"Benar. Itu Warsito. Kita ikuti diam diam seperti instruksi Kang Suko, karena orang itu cukup licik. Kamu sebaiknya segera kabari Kang Suko." Sahut seorang lelaki lain.
"Baik. Saya sudah mengirim pesan pada Kang Suko. Dia segera meluncur kesini." Sahut lelaki berjaket Levis itu kemudian.
Mereka berdua segera mengikuti pria gemuk yang bernama Warsito itu secara diam diam. Mereka sengaja menjaga jarak mobil mereka dengan mobil Warsito agar tidak membuat Warsito curiga kalau sedang di ikuti.
"Begitu tiba di tikungan kita hentikan mobil Warsito itu. Kang Suko menunggu kita disana." Ucap lelaki berjaket Levis pada rekannya yang memegang kemudi.
"Baik. Saya mengerti." Ucapnya segera lebih mendekatkan mobilnya ke mobil Warsito.
__ADS_1
Seperti kata lelaki berjaket Levis, begitu mereka tiba di tikungan yang cukup sepi, mobil mereka segera menyalip mobil Warsito dan menghadang mobil Warsito itu.
Warsito menyadari ada yang tidak beres, tapi terlambat untuk dia kabur saat ini karena dua orang lelaki dari mobil yang menghadangnya sudah terlihat keluar da berjalan menghampirinya.
Dua orang itu segera menggedor pintu mobil Warsito.
"Keluar! Atau saya hancurkan kaca mobil kamu ini untuk menyeret mu keluar!" Teriak lelaki berjaket Levis itu mengancam.
Warsito pun mau tidak mau harus keluar dan menghadapi dua orang lelaki itu.
"Ah, kalian lagi. Ada apa lagi? Siapa orang yang mengirim kalian?" Ucap Warsito dengan suara malas.
"Ikut kami dan kamu akan tahu!" Ucap lelaki berjaket Levis itu kemudian.
"Sayangnya itu bukan jawaban yang saya inginkan." Warsito dengan ekspresi malasnya merasa mampu untuk mengatasi dua lelaki yang menghadangnya ini.
Duak!
Tiba tiba dengan sangat cepat seseorang dari arah belakang sudah melayangkan pukulan kerasnya ke arah tengkuk leher Warsito yang langsung membuat Warsito jatuh tersungkur ke tanah dan tak sadarkan diri.
"Kang Suko..." Ucap lelaki di sebelah lelaki berjaket Levis nampak kagum dengan kemampuan Suko.
"Sudah cepat ikat dia dan masukkan ke mobil, bawa ke tempat Kang Baron." Perintah Suko kemudian.
"Baik, Kang." Kedua anak buah Suko itu segera menyiapkan tali dan mengikat erat Warsito lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Tak lama setelah itu mereka segera berlalu dari tempat itu meninggalkan mobil Warsito di pinggiran jalan itu.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Suko menyempatkan menelfon Baron untuk menyampaikan berita ini pada Prastowo.
"Bagaimana? Ada berita apa?" Tanya Baron dari seberang.
"Saya sudah berhasil meringkus Warsito, Kang. Bowo sama Aan sedang membawa mereka kesitu." Ucap Suko kemudian.
"Bagus, Suko. Saya akan segera kabari Kang Prastowo." Sahut Baron terdengar bersemangat.
"Bagaimana kalau saya menjemput Kang Prastowo, Kang. Sekalian mengajaknya kesana?" Usul Suko pada Baron.
"Begitu lebih baik. Segera saya akan kabari Kang Prastowo." Sahut Baron kemudian terdengar menutup telfonnya.
Suko pun segera berlalu meninggalkan jalanan itu dan segera menuju rumah Prastowo.
Sementara Prastowo yang masih bersama Ajimukti ketika mendapat kabar itu pun segera menyampaikannya pada Ajimukti.
"Saya mungkin tidak kesana, Lek. Jadi saya menyerahkan soal Warsito ini sepenuhnya pada sampeyan." Ucap Ajimukti kemudian.
"Baik, Mas. Saya tahu apa yang harus saya lakukan." Sahut Prastowo kemudian berdiri dan segera bergegas kembali ke rumahnya menunggu Suko menjemputnya.
Ajimukti menatap kepergian Prastowo. Sejenak ia menghela nafasnya panjang. Ia bersyukur, satu persatu masalah yang ia temui mulai menampakkan titik terangnya.
Bersambung...
__ADS_1