
Pondok Hidayah malam harinya. Langit nampak cerah dengan setengah wujud bulan menggantung di antara gelapnya. Udara tidak begitu dingin, justru ada sebagian yang merasa malam ini cukup gerah. Suara serangga malam mengisi diantara kelenggangan sudut sudut kegelapan berpadu dengan gemerisak daun daun yang digoyang angin yang begitu saja menyambarnya.
Ajimukti sedang duduk bersila di teras masjid pesantren sejak selepas kajian ba'da Isya' malam ini bersama Sobri, Manan juga Khalil. Dihadapannya, uap kopi masih terlihat mengepul dari cangkir dan bercampur dengan asap rokok yang sudah kesekian batang ia nyalakan sejak duduk di teras masjid itu.
"Tadi kemana, Kang?" Tanya Ajimukti pada Sobri ditengah perbincangan mereka malam ini.
Sobri sedikit mendongak, "Hanya duduk duduk saja di taman alun alun, Gus." Sahut Sobri.
Ajimukti pun kemudian hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia tidak ingin terlalu jauh untuk tahu tentang Sobri dan Ajeng. Ia ingin membiarkan ia itu menjadi privacy mereka berdua.
"Gus boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Khalil ketika untuk beberapa saat mereka saling diam.
Ajimukti tersenyum, "Bukankah itu sudah termasuk pertanyaan, Kang?" Sahut Ajimukti.
"Silahkan, Kang. Sampeyan mau tanya apa? Kalau saya bisa jawab ya saya jawab. Kalau tidak, saya akan bertanya pada yang lebih mumpuni." lanjutnya kemudian.
"Begini, Gus. Sebenarnya ini cuma karena guyon kemarin malam, Gus." Ucap Khalil sedikit malu.
"Jadi begini, Gus. Kemarin malam itu, saya, Imam dan beberapa santri yang lain sedang udur soal akhirat, Gus. Mbok ya sekali sekali sampeyan kasih wejangan bab akhirat, Gus." Imbuh Khalil kemudian.
Ajimukti dan Sobri juga Manan pun sontak tertawa.
"Ini tanya karena memang butuh wejangan atau hanya apa biar kalau udur menangan, Lil?" Celetuk Manan.
"Itu juga, Nan." Sahut Khalil tidak malu malu lagi.
"Sampeyan tahu tidak, Kang Khalil. Berapa perbandingan lamanya dunia dan akhirat?" Tanya Ajimukti kemudian.
Khalil sedikit menaikkan bola matany seolah berpikir, meski kemudian menggeleng, "Tidak, Gus."
Ajimukti kembali menyalakan sebatang rokoknya.
"Perbandingannya itu, Kang. Sejak Nabi Adam Alaihis-Salam sampai sekarang itu hanya delapan menit." Ucap Ajimukti kemudian.
Mendengar itu Khalil sontak melongo, "Hanya delapan menit, Gus? Masak sih, Gus?" Tanyanya antara penasaran dan maido.
"Maksudnya, Kang. Lamanya keberadaan dunia ini hanya delapan menit menurut waktu akhirat, Kang. Entah bagaimana cara para ulama menghitungnya, yang jelas hanya sekitar delapan menit." Jelas Ajimukti kemudian.
"Walah, Gus Gus." Khalil seketika menelan ludah membayangkan ucapan Ajimukti itu.
"Maka menjadi miskin hanya sekitar delapan menit itu wis rapopo blas. Toh, hanya delapan menit. Jadi kalau ada orang melarat ora betah itu sak keliru kelirune uwong, Kang. Hanya delapan menit saja mosok yo ra betah? " Celetuk Ajimukti setelahnya.
Khalil hanya meringis kemudian menggaruk garuk keningnya.
__ADS_1
"Sebenarnya itu juga ada haditsnya, hanya saja tidak sedetail perhitungan ulama. Sabda Njeng Nabi dalam riwayat Ibnu Majah, bahwa kelak orang orang kafir itu bakal dicelupno neng neroko. Lalu di tanya sama Gusti Allah. 'Semua kenikmatan yang kamu jalani di dunia dengan bebas melakukan apa saja, dibanding kamu harus masuk neraka, apa itu ada artinya?' Jawab orang orang itu, 'Tidak Gusti'. Jadi semua kenikmatannya orang kafir itu, jika mereka sudah masuk neraka, itu semua tidak ada artinya. Mergo ale nikmati dunyo mung wolung menit." Ajimukti sedikit menekan ucapan terakhirnya sembari kemudian menghisap rokoknya dalam dalam.
Khalil hanya menganggukkan kepalanya ringan.
"Lalu kalau orang mukmin yang di dunianya miskin, terhina, pokok'e wis blas gak tau seneng. Itu, akan di masukkan ke surga, lalu ditanya sama Gusti Allah. 'Apakah kamu pernah miskin selama di dunia?' lalu orang itu menjawab, 'mboten blas Gusti.' Sebab semua yang ada di dunia, cemawis nang Suwargo."
"Alhamdulillah, Gus." Khalil kemudian menyahut dengan ekspresi sedikit senang.
"Kenapa kamu, Lil?" Tanya Manan yang berada tepat disebelahnya dan sedikit keheranan.
"Ya, karena saya kan terbilang miskin, Nan. Yang punya apa apa orang tua saya, bukan saya. Hehehe..." Khalil sedikit tertawa di akhir ucapannya.
Semua yang ada disitu pun kemudian ikut tertawa.
"Tapi jangan terlalu senang juga, Kang Khalil. Biar pun miskin, tapi harus miskin yang berkualitas." Timpal Ajimukti.
Khalil sedikit mengerutkan kening, "Yang bagaimana itu, Gus?" Tanyanya kemudian.
"Ya kalau jadi orang miskin itu harus jadi wali, Kang. Karena itu salah satu caranya dapat nikmatnya surga. Jadi biar tidak melarat dunia akhirat, Kang. Sekali miskin tapi tidak wali. Ya sudah, berarti bakal hanya menjadi miskin dunia akhirat, Kang." Ucap ajimukti kemudian.
Khalil dan yang ada di teras masjid pesantren itu kemudian hanya mengangguk.
"Kalau yang kaya mah, tidak masalah tidak menjadi wali, Kang. Sebab di dunia mereka sudah kaya. Tapi tetap lebih nikmat lagi di dunia kaya, di akhirat pun kaya, Kang."
"Makanya, Kang Khalil. Wali wali terdahulu sering mewanti wanti di setiap wejangan beliau beliau. Manusia yang paling sengsara itu adalah orang miskin yang tidak ibadah. Sebab dunia tidak dapat, akhirat pun tidak dapat. Khosirod-dunyaa wal-akhirota dzalika huwal-khusroonul-mubiin. Makanya, Kang. Mulai sekarang di ingat ingat, kalau dunia itu hanya sekitar delapan menit dibandingkan akhirat." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Berarti benar ya, Jik. Kata orang tua dulu yang sering kita dengar, neng ndunyo iku mung sewates mampir ngombe. Lha, mung delapan menit. Po ra gur ibarat mlebu ngomah, ngombe sak cegukan gek bali lungo?" Timpal Manan kemudian.
Ajimukti hanya tertawa ringan.
"Memang, Nan. Kadang ucapannya simple tapi jika kita mau membuka pikiran, ngolah lagi segelintir kata dari wejangan orang orang dulu, kita akan dapat ilmunya, Nan. Karena rata rata, ucapan orang orang dahulu itu sarat akan pembelajaran." Imbuh Ajimukti melengkapi.
"Setiap ucapan atau wejangan yang kita dengar, coba kita ibaratkan seperti halnya saat kita diberi mangga." Lanjutnya.
Manan mengerutkan keningnya lalu sedikit memundurkan kepalanya. "Apa hubungannya dengan mangga, Jik?"
"Ibarat itu, Nan. " Sahut Khalil sembari geleng kepala.
Ajimukti kemudian tersenyum mendengar pertanyaan Manan itu.
"Emmm, begini, Nan. Waktu kamu diberi mangga. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ajimukti kali ini tertuju pada Manan.
"Ya kalau sudah masak ya saya makan lah, Jik." Sahut Manan singkat dan jelas.
__ADS_1
"Anggap saja mangga masak." Sahut Ajimukti juga, "Sudah? Kamu makan begitu saja?" Tanyanya kemudian.
"Ya iyalah, Jik. Masak iya masih mau dimasak lagi, diolah lagi." Manan geleng geleng kepala. "Eh, kecuali kalau mau di buat jus, Jik. Perlu sedikit olahan." Imbuhnya kemudian.
"Bukan itu maksudnya, Nan. Kenapa saya mengibaratkan ucapan atau wejangan itu seperti saat kita diberi mangga. Itu memang untuk dimakan, Nan. Tapi apa iya cuma dimakan begitu saja?" Tanya Ajimukti lebih mendetail.
Manan mengerutkan kening. "Lalu bagaimana, Jik?"
"Bukankah untuk memakannya ada beberapa tahapan. Kita kupas dulu kulitnya, kita buang. Lalu kita makan daging buahnya, disana ada bijinya kan, pelok kalau di tempat saya. Pelok itu pun nantinya juga akan kita buang. Maksudnya apa, Nan? Itu sama seperti ketika kita mendapatkan wejangan. Kita kupas dulu cari yang bisa kita ambil, yang bermanfaat tentunya, seperti kita memilih daging buah mangga untuk kita makan bukan kulit mangganya, lalu yang tidak perlu kita ambil ya kita buang, itu seperti kulit mangganya itu tadi. Bahkan tak jarang, yang kita ambil pun masih harus kita pilah pilah lagi agar benar benar hanya yang bermanfaat saja yang kita pergunakan. Jangan sampai mangan pelem sak pelok'e." Lanjut Ajimukti.
Manan tertawa kemudian mengangguk anggukan kepalanya. "Paham paham, Jik. Benar sekali. Di filter atau disaring kalau istilahnya. Begitu kan?"
Ajimukti pun mengangguk membenarkan, "Kalau saya bilang disaring kamu tidak mikir nantinya, Nan. Makanya saya suka membuat ibarat. Biar gampang nyantole. Jadi nanti kalau ndelalah kamu makan mangga, siapa tahu kamu ingat kata kata saya ini." Sahut Ajimukti setelahnya.
Manan tertawa, "Kamu benar, Jik. Sama seperti soal ilmu rokok waktu itu. Saya jadi ingat terus."
Khalil mengerutkan keningnya, "Ilmu rokok? Bagaimana lagi itu, Gus?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Ah, itu hanya guyonan, Kang."
"Ya, siapa tahu dari guyonan jadi gujengan, Gus." Sahut Khalil.
"Sudah, Jik. Jelasin. Entar Khalil tidak bisa tidur karena saking penasarannya, lho." Timpal Manan menggoda Khalil.
Ajimukti lagi lagi tersenyum lalu meraih sebatang rokoknya.
"Lihat kedua benda ini, Kang." Ajimukti menunjukkan sebatang rokok dan korek api diharapkannya pada Khalil. Khalil pun memperhatikan itu.
"Warna putih dari sebatang rokok ini, yang ada mbakonya ini, anggap saja iman kita. Kita terlahir fitrah tanpa dosa. Dan gabusnya ini akhir hayat kita. Lalu ini, korek api ini. Anggap saja ini molimo. Madat, mendem, maling, main, medok. Nah, korek api ini, kalau kita nyalakan lalu kita gunakan membakar sebatang rokok ini, kita hisap perlahan lahan. Beh, rasane mantep, Kang. Benar kan?" Tanya Ajimukti kemudian.
Khalil hanya kemudian mengangguk.
"Tapi tanpa kita sadari. Lihat ini, Kang. Putih rokoknya berangsur angsur habis dan menjadi abu. Itu apa artinya? Artinya begini, Molimo itu, sak nikmat nikmate tumindak, tapi tanpa kita sadari itu akan menggerogoti iman kita. Untung kalau sempat bertaubat kalau tidak? Rokok itu akan habis sampai mbakonya habis. Artinya, kita akan menikmati itu sampai akhir hayat kita. Masih untung jika puntung rokok ini dibuang di asbak, yang memang tempatnya. Lha kalau cuma prung dibuang di jalan? Maksudnya, puntung itu jasad akhir kita, asbak itu kuburan. Kalau ndelalah kita matinya dijalan lalu membusuk begitu saja. Itu sama halnya dengan tegesan rokok di jalan jalan, dibuang tidak pada tempatnya, Kang." Jelas Ajimukti.
Khalil masih menyimak dengan sesekali menganggukkan kepalanya ketika dirasa ia paham akan penjelasan Ajimukti.
"Nah, untungnya apa Molimo? Tidak ada, Kang. Ketika mbako ini terbakar, ia hanya akan jadi abu. Tahu sendiri kan, Kang. Abu ya abu, hanya akan dibuang begitu saja. Lalu asapnya ini, asapnya ini seperti buah dari yang dilakukannya. Asap ini mau setebal apapun, dia tidak akan sampai ke langit kok, Kang. Begitu mengepul ia hanya akan hilang begitu saja. Tapi imbasnya, dari asap ini bisa membuat sakit sekitar. Itu ibarat amal, sehebat apapun dalam ber-Molimo, itu tidak akan sampai ke langit, artinya tidak akan dicatat sebagai pahala. Nulari kiwo tengen iyo." Lanjut Ajimukti.
"Wah, mantap, Gus. Ini sih bukan guyonan, Gus. Benar benar ilmu ini." Puji Khalil kemudian.
Ajimukti sekali lagi tersenyum, "Yang terpenting, Kang. Kita kejar kebahagiaan akhirat. Kalau bisa dua duanya. Dunia dapat akhirat selamat. Dan yang terpenting lagi, ojo kesel tumindak apik, lumo ing pandum, sepi ing pamrih."
"Nggeh, Gus. Sendiko." Sahut Khalil. Yang lain hanya mengiyakan dengan anggukan.
__ADS_1
"Seperti dalam Al-Qur'an surat Al-Qasas ayat Tujuh puluh tujuh, Kang. Wabtaghi fiimaa ataakallahud-daarol-akhiroh, walaa tansa nashiibaka minad-dunyaa. Kamaa ahsanallahu ilayk. walaa tabghil-fasaada fiil-ardh. innallaaha laa yuhibbul-mufsidiin. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan."
Bersambung...