
Brukkk!!!
"Aow...!"
"Aduh...!"
Manan jatuh tersungkur ke belakang.
"Maaf maaf..." Manan segera meminta maaf ketika itu sebelum melihat siapa yang bertabrakan dengannya.
"Iya, saya juga minta maaf." Ucap orang itu kemudian.
Manan kini menengadahkan kepalanya, pandangannya seketika itu tertuju pada Hexa yang sedang berusaha bangun karena Hexa pun sempat terjatuh ketika bertabrakan dengannya.
"Kamu? Emmm, maaf saya tadi buru buru soalnya jadi tidak melihat. Sekali lagi saya minta maaf."Ucap Manan setelah itu.
"Tidak apa apa. Saya juga minta maaf. Tadi saya tidak fokus saat berjalan." Sahut Hexa yang kini sudah berdiri.
Manan pun segera bangun dari duduknya.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Manan kemudian.
Hexa menggeleng, "Tidak apa apa. Kamu sendiri bagaimana?" Tanyanya kemudian.
"Tidak apa apa, hanya kaget saja." Sahut Manan setelahnya.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Hexa kemudian melanjutkan langkahnya.
"Oh, iya, silahkan. Saya juga sedang buru buru." Sahut Manan yang juga segera kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman masjid pesantren.
Namun setibanya di halaman masjid pesantren dan memutar pandangannya, Manan tak juga menemukan apa yang dicarinya. Manan kembali menyisir dari tempatnya tadi terakhir melihat foto itu hingga saat dia di teras ndalem sampai dia kembali ke kamarnya. Tetap saja, foto itu tidak ditemukannya.
Manan melenguh, lalu menghela nafasnya dengan berat kemudian terduduk di salah satu sudut tempat tidurnya dengan putus asa, melepas songkok yang dikenakannya dan mengusap rambutnya. Ada rasa penyesalan yang kini benar benar menggelayuti hatinya, mengusik ketenangannya.
"Maafkan saya Nafisa. Saya tidak bisa menjaga apa yang kamu tinggalkan untuk saya." Keluhnya kemudian.
Sementara itu, Hexa yang juga baru saja tiba di kamarnya baru tersadar kalau ia sebelumnya mencari Manan. Tapi justru ketika tadi dirinya bertemu Manan justru lupa pada tujuannya karena rasa canggung.
"Ah, sudahlah. Paling juga dia sudah kembali ke kamarnya. Masih ada besok." Gumamnya, lalu segera menjatuhkan diri ke tempat tidur.
Pagi harinya, pagi pagi sekali selepas kajian subuh, Sobri sudah siap memanaskan mesin mobil Ajimukti ketika Ajimukti tiba tiba menghampirinya.
"Assalamu'alaikum, Kang." Sapa Ajimukti ketika itu.
"Wa'alaikumsalam, Gus. Sios tho Gus niki?" Tanya Sobri kemudian, seperti pesan Ajimukti semalam untuk mengingatkannya.
"Jadi, Kang. Mungkin sebentar lagi. Nyarap dulu saja, Kang." Ucap Ajimukti sembari melirik jam di tangannya.
"Nggeh, Gus."
Tepat pukul tujuh pagi, mobil yang dikemudikan Sobri keluar dari area Pondok Hidayah menembus jalanan padat kota itu.
"Njenengan sudah tahu alamatnya teman njenengan itu, Gus?" Tanya Sobri setibanya mereka di jalanan kota.
"Kebetulan saya sudah dapat share lokasi dari Nyoman, Kang." Ucap Ajimukti sembari menunjukkan maps lokasi yang dikirim Nyoman padanya.
"Loh, ini kan tidak jauh dari rumah Kang Godril Gus?" Ucap Sobri begitu melihat denah lokasi di layar ponsel Ajimukti.
"Iya ya, Kang. Kok saya tidak memperhatikan itu ya, Kang." Sahut Ajimukti yang juga turut memperhatikan denah lokas itu.
"Apa sekalian kita mampir kesana, Gus?" Tanya Sobri setelahnya.
__ADS_1
Ajimukti sedikit mengerutkan kening. Ia paham maksud Sobri. Rumah Ari Godril dan Kyai Aminudin bersebalahan. Mampir ke rumah Ari Godril sama saja dengan mampir ke rumah Kyai Aminudin.
Ajimukti menghela nafasnya, "Tidak saja, Kang. Karena besok Sibu kesini. Jadi lusa kemungkinan saya juga kesana." Ucapnya kemudian sembari tersenyum.
Sobri hanya kemudian mengangguk.
Untuk sesaat kedua pemuda itu sama sama diam dalam keheningan di dalam mobil yang terus melaju itu.
"Oh, iya, Kang. Soal sampeyan sama Dik Ajeng bagaimana?" Tanya Ajimukti setelah beberapa saatnya terdiam.
Sobri mengerutkan kening lalu sedikit menoleh ke arah Ajimukti.
"Maksudnya bagaimana itu, bagaimana pripun, Gus?" Sahut Sobri.
Ajimukti melengkungkan bibirnya, "Ya, apa sudah ada kemajuan begitu, Kang." Ucap Ajimukti tanpa basa basi.
Sobri tergelak mendengar itu, "Njenengan ini, Gus Gus. Wong saya saja juga jarang lho bertemu Dik Ajeng." Ucapnya diantara tawanya.
Ajimukti juga tertawa, "Siapa tahu, diam diam sampeyan malah sudah melangkah." Goda Ajimukti.
Sobri memperjelas tawanya, "Belum, Gus. Alon Alon waton kelakon tho, Gus."
Ajimukti lagi lagi tertawa, "Tapi juga kudu gliyak ben amrih kecandak, Kang."
Lagi lagi Sobri tergelak mendengar ucapan Ajimukti itu.
"Apa tidak sebaiknya sampeyan khitbah dulu Dik Ajeng, Kang?" Saran Ajimukti setelah itu, kali ini ia nampak lebih serius dari sebelumnya.
"Saya masih khawatir, Gus." Sahut Sobri lirih.
"Khawatir? Khawatir soal perasaan Dik Ajeng?" Tanya Ajimukti memastikan.
Sobri mengangguk, "Sejujurnya iya, Gus. Saya tidak ingin grusah grusuh."
Sobri hanya tersenyum mendapati pujian Ajimukti padanya itu.
"Kita nyarap sama ngopi dulu, Kang. Kita menepi kalau ada warung." Ucap Ajimukti kemudian.
"Nggeh, Gus."
Perjalanan terus berlanjut, namun tak lama setelah itu, mobil yang membawa mereka nampak menepi di depan salah satu warung di pinggiran jalan.
Setelah mereka berdua keluar dari mobil itu, mereka segera masuk ke dalam warung itu, memesan kopi juga menu yang tersedia di warung makan kecil itu.
"Mas Aji?" Sapa seseorang pada Ajimukti dari arah belakang ketika Ajimukti dan Sobri belum lama duduk di warung itu.
"Pak Gandung?" Sahut Ajimukti begitu ia menoleh dan mendapati Gandung berdiri di belakangnya.
"Assalamu'alaikum, Mas." Lanjut Gandung kemudian.
"Wa'alaikum salam, Pak Gandung." Sahut Ajimukti di ikuti Sobri yang turut menjawab salam Gandung itu.
"Ini Mas Aji kok bisa ada disini?" Tanya Gandung sembari mengambil duduk tak jauh dari Ajimukti.
"Itu, Pak. Saya mau ke tempat teman saya. Kebetulan ini mampir dulu ngopi sekalian sarapan." Sahut Ajimukti.
"Pak Gandung sendiri dari mana atau mau kemana?" Tanya Ajimukti setelah itu.
"Saya kebetulan kerja dekat dekat sini, Mas." Jawab Gandung sembari mengarahkan tangannya ke sebuah arah.
"Loh, sudah tidak mbecak lagi, Pak?" Tanya Ajimukti sedikit penasaran.
__ADS_1
"Sepi, Mas. Sudah jarang yang mau naik becat. Penumpang lebih suka naik ojek online. Lebih praktis, murah, juga lebih cepat. Jadi perlahan lahan kami para supir becak mulai tergerus jaman, Mas. Ubet lagi biar tetap bisa ngliwet." Sahut Gandung lalu sedikit terbahak di akhir ucapannya.
Ajimukti mengangguk anggukan kepalanya, setelah itu dia ingat sesuatu.
"Oh, iya, Pak Gandung. Perkenalkan ini teman saya, Sobri namanya. Dan Pak Gandung tahu tidak Sobri ini siapa?" Lanjut Ajimukti memperkenalkan Sobri pada Gandung.
"Siapa memangnya, Mas?" Tanya Gandung penasaran sembari berjabatan tangan dengan Sobri.
Ajimukti tergelak membuat Gandung juga Sobri sama sama mengerutkan kening tidak paham akan maksud tawa Ajimukti itu.
"Pak Gandung, Sobri ini itu anaknya Pak Lek Dullah." Ucap Ajimukti setelahnya.
Seketika itu mata Gandung terbelalak.
"Ya Allah, jadi kamu anaknya Dullah? Benar kamu anaknya Dullah?" Ucap Gandung penuh semangat hingga mengulangi pertanyaannya untuk meyakinkan kebenaran itu.
"Benar, Pak. Saya anaknya Dullah." Sahut Sobri sembari mengangguk ringan.
"Kamu tahu tidak. Saya ini teman bapakmu sejak kami berdua masih umbelen. Bahkan kami sama sama saling mengangkat saudara. E, tidak disangka sekarang Dullah sudah punya anak seganteng ini." Ucap Gandung sembari menepuk nepuk punda Sobri.
"Nah, Kang. Pak Gandung ini yang pernah saya ceritakan waktu itu. Dan Pak Gandung ini menantunya Mbah Sukrono yang sampeyan kira wali itu, Kang." Imbuh Ajimukti kemudian.
"Jadi kamu sudah bertemu dengan bapak mertua saya, Le?" Tanya Gandung pada Sobri kemudian.
"Benar, Pak. Tidak sengaja." Sahut Sobri sembari menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja, Gus. Saya tidak asing dengan namanya Pak Gandung ini begitu tadi saya dengar njenengan menyebut nyebut nama beliau." Ucap Sobri setelahnya.
Gandung juga Ajimukti hanya kemudian tertawa.
"Saya juga kok koyone ora asing begitu melihat kamu, Le. Kamu itu sedikit mirip sama bapak kamu waktu nom nomane dulu." Imbuh Gandung.
"Begitulah, Pak. Kalau Allah sudah berkehendak. Dengan caraNya yang tanpa kita duga, yang tidak mungkin menjadi mungkin atas kuasaNya." Ucap Ajimukti menyela.
"Benar, Mas Aji. Alhamdulillah saya belajar banyak setelah bertemu dengan Mas Aji juga Dullah waktu itu. Saya bertekad untuk memperbaiki hidup saya." Sahut Gandung.
"Harus itu, Pak. Bukan bagaimana kita dulu, tapi bagaimana kita saat ini dan nanti. Bagaimana kita menutup usia kita dengan amal baik. Percuma baik selama hidup tapi ketika ajal mendekat ia justru melupakan Allah, jauh lebih beruntung bagi mereka yang meski uripe blangsak tapi ketika mendekati ajal ia tidak lupa untuk mengingat Allah." Lanjut Ajimukti lagi.
"Mas Aji benar. Meski saya terbilang terlambat untuk belajar tapi saya ingin bisa menjadi manusia yang lebih baik."
"Tidak ada kata terlambat selama nafas masih ada, Pak. Bahkan ketika nafas itu tinggal yang terakhir, tapi jika masih ada keinginan tulus untuk bertobat, insya Allah, Allah pasti akan mengampuni dosa hambaNya itu kok, Pak."
Gandung hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
"Tapi godane iku kadang ada ada saja, Mas. Apalagi tonggo teparo. Hmmm..." Keluh Gandung setelahnya.
"Sudah, Pak. Yang seperti itu biarkan saja. Nanti kalau sudah lelah juga istirahat. Jangan njenengan yang lelah. Pokoknya terus saja Istiqomah sampai kiwo tengen njenengan bilang, e jebule si kae wonge ngene..." Ucap Ajimukti sembari mengarahkan jempolnya ke arah Gandung.
Gandung yang mendengar itu hanya kemudian tertawa.
"Yasudah, Mas Aji. Saya ini cuma beli teh buat di bawa ke proyek. Obrolan kita sudahi dulu. Insya Allah kalau ada waktu saya pasti sowan sowan ke pesantren. Banyak yang ingin saya pelajari dari sampeyan, Mas." Ucap Gandung setelah beberapa saat.
"Baik, Pak. Hati hati njenengan. Bismillah." Ucap Ajimukti sebelum Gandung berlalu.
"Terima kasih, Mas. Oh, iya, Le. Salam untuk bapak kamu, Dullah." Ucap Gandung kemudian.
"Insya Allah, kalau tidak besok ya lusa bapak kesini, Pak." Sahut Sobri.
Gandung hanya mengangguk. "Insya Allah juga saya akan meluangkan waktu menemuinya, Le."
Tak lama setelah itu Gandung pun berlalu dari warung itu. Begitu juga dengan Ajimukti juga Sobri yang kemudian juga melanjutkan perjalanan mereka ke tempat Nyoman.
__ADS_1
Bersambung...