
Selepas Dzuhur di Pondok Hidayah. Ajimukti yang baru saja keluar dari dalam masjid bergegas mempercepat langkahnya begitu melihat Sobri tak jauh dari halaman masjid sedang berjalan bersama Manan.
"Kok baru kelihatan, Kang?" Tanya Ajimukti ketika sudah berada bersama Sobri.
"Tadi sowan ke rumah Lek Pras, Gus. Ngapunten tadi tidak matur dulu. Soalnya tadi niatnya cuma beli rokok saja." Sahut Sobri sedikit senyum malu malu.
"Ah, tidak apa apa, Kang." Sahut Ajimukti pula sembari mengibaskan tangannya.
"Tadi saya dengar Ning Habiba juga sowan kemari, Gus? Apa benar?" Tanya Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Tapi sudah pulang. Tidak lama kok, Kang." Sahut Ajimukti.
Sobri hanya mengangguk tanda paham.
"Oh, iya, Kang Sobri, besok temani saya mencari teman lama saya ya." Ucap Ajimukti kemudian.
"Nggeh, Gus. Memangnya siapa, Gus?" Tanya Sobri kemudian.
"Nyoman, Kang." Sahut Ajimukti setelahnya.
"Itu siapa, Jik?" Sela Manan dengan rasa keingintahuannya seperti biasa.
"Nyoman itu satu diantara teman saya sewaktu mondok, Nan. Dia itu berasal dari Bali. Dia itu cantrik yang sangat mumpuni." Jelas Ajimukti kemudian.
"Cantrik, Jik? Cantrik itu apa?" Tanya Manan lagi.
"Cantrik itu juga sama seperti santri, Kang." Sahut Sobri.
"Benar, Nan. Cantrik itu juga sama kok seperti santri. Hanya saja teman saya Nyoman ini enggan dipanggil santri, dia lebih senang di sebut cantrik." Imbuh Ajimukti.
"Kenapa begitu, Jik? Apa karena orang Bali itu?" Tanya Manan lagi.
"Bukan, Nan. Ini bukan karena dia berasal dari Bali. Justru sebenarnya cantrik itu sangat kental di lingkup pesantren selain istilah santri yang kita kenal saat ini." Jelas Ajimukti lagi.
"Begitu ya, Jik. Lalu cantrik itu apa, Jik?" Tanya Manan lagi.
"Begini, Nan. Saya cerita sedikit dulu soal santri. Istilah santri sendiri itu kan baru ada sekitar tahun 1600 Masehi. Istilah santri itu berasal dari Pondok Gebang Tinatar, Jetis, Ponorogo, pencetusnya adalah Kyai kenamaan yaitu Kyai Muhammad Besari yang wafat pada tahun 1747 Masehi. Bahkan Sunan Pakubuwono II adalah salah satu anak raja yang pernah nyantri di situ. Selain itu, nama nama besar seperti pujangga Ronggowarsito dan Pangeran Diponegoro juga tercatat pernah menjadi santri di Gebang Tinatar, Nan." Jelas Ajimukti pada kemudian.
"Benar Kang Manan. Pesantren Gebang Tinatar mengubah sistem pendidikan, terutama di keraton, dari yang semula Kyai dipanggil ke keraton untuk mengajarkan agama, berubah menjadi keraton mengirimkan anak anaknya kepada Kyai di pesantren." Imbuh Sobri menyela.
"Betul itu kata Kang Sobri, Nan. Oleh karena itu, pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari dianggap sebagai pesantren tertua dan merupakan akar dari munculnya pesantren pesantren di Nusantara ini." Imbuh Ajimukti juga.
"Emmm, sayang sekali selama saya mondok malah baru dengar ini, Jik. Padahal ini sejarah lho, Jik." Sahut Manan.
"Lalu, Jik. Apakah sebelum adanya Pesantren Gebang Tinatar belum pernah ada sistem pendidikan yang mensyaratkan siswanya bermukim di lokasi?" Tanya Manan kemudian.
__ADS_1
"Ada, Nan. Bahkan sebelum mendirikan Gebang Tinatar, Kyai Muhammad Besari sendiri belajar kepada Kyai Donopuro di Desa Sentono, tidak jauh dari Desa Tegalsari. Akan tetapi, sistem pendidikannya waktu itu bersifat padepokan, siswanya tidak terlalu banyak dan berasal dari lingkungan terdekat. Siswanya juga belajar apa saja, tidak melulu belajar agama. Siswa bahkan dituntut untuk bekerja membantu kyai melakukan pekerjaan pekerjaan fisik, seperti bertani, merawat rumah, menjadi kurir barang dan sebagainya. Oleh karena itu disebutnya bukan santri melainkan cantrik." Jelas Ajimukti pada akhirnya.
"Seperti khodam begitulah, Jik?" Tanya Manan lagi masih diliputi rasa penasaran.
"benar, Nan. Itu istilah rewang pondok saat ini. Kata cantrik memang lebih berasosiasi pada sosok pembantu atau asisten bagi seorang guru, ksatria, pendeta, dhalang, ataupun pertapa. Sifatnya berguru secara personal berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan mentor dalam keseharian. Konsekuensinya, memang tidak ada kurikulum yang baku dan tidak ada kelas. Berbeda dengan santri yang orangtuanya membayar kepada pesantren meskipun tidak selalu dalam bentuk uang, cantrik tidak pernah dituntut untuk membayar." Sahut Ajimukti setelahnya sembari kembali menjelaskan.
"Lalu, Nan. Apakah konsep cantrik sekarang ini masih ada?" Tanya Manan lagi lagi masih nampak rasa penasrannya.
"Tentu saja masih ada. Pun di sebuah pesantren yang sudah besar, biasanya ada beberapa santri yang karena keterbatasan biaya memilih jalan menjadi cantrik demi untuk mendapatkan ilmu." Terang Ajimukti kemudian.
"Ya, seperti halnya Nyoman teman saya itu, Nan. Dia jauh jauh datang dari Bali untuk ngangsu ilmu, tapi karena tidak punya cukup biaya, makanya dia memilih menjadi cantrik di pesantren dulu." Imbuh Ajimukti.
"Emm, jadi itu alasan teman kamu itu lebih memilih di sebut cantrik ketimbang santri, Jik?" Tanya Manan sembari sedikit menganggukkan kepalanya.
"Benar, Nan. Begitulah." Ajimukti pun nampak menganggukkkan kepalanya mengiyakan.
"Namun, Nan. Ada kekurangan dan kelebihan menjadi cantrik. Kekurangannya, karena sebagian besar waktunya musti didedikasikan untuk melakukan pekerjaan pekerjaan fisik suruhan Kyai nya, maka kesempatan untuk mengikuti kelas kelas pembelajaran di pesantren secara langsung terbatas. Namun demikian, ada kelebihan sebagai cantrik, yaitu memiliki kesempatan untuk interaksi langsung dengan Kyai dan menimba secara langsung ilmu kehidupan dari sang kyai. Seorang cantrik mendapatkan privilege untuk mendapatkan mentorship langsung dari sang mentor yaitu Kyai nya itu sendiri melalui interaksi keseharian. Asal ikhlas, meski tidak selalu ngedep kitab, tapi tidak jarang, seorang cantrik justru mendapat karomah dari Kyai nya itu." Jelas Ajimukti kemudian.
Manan mengangguk anggukan kepalanya beberapa kali, "Emmm, tak heran ya, Jik. Orang orang dulu meski hanya santri tapi memliki karomah karomah luar biasa.".
"Begitulah, Nan."
"Berarti asal usul santri itu dari cantrik itu sendiri ya, Jik?" Tanya Manan lagi.
"Banyak pendapat, Nan. Ada yang mengatakan santri itu berasal dari bahasa Sansekerta, Shastri yang artinya melek huruf atau bisa membaca. Nah, shastri sendiri dalam bahasa India berarti orang yang mempelajari kitab kitab suci agama Hindu." Imbuh Ajimukti kemudian.
Ajimukti sedikit tersenyum, "Itu bukan tanpa alasan, Nan. Itu karena Sanskerta merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, serta salah satu dari dua puluh tiga bahasa resmi di India. Sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad kedua Masehi hingga menjelang abad ke enam belas seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit." Jelas Ajimukti lagi.
Manan hanya kemudian menganggukkan kepalanya seolah mulai sedikit paham.
"Akan tetapi, Nan. Dari bahasa Arab, asal usul istilah santri juga bisa ditelaah. Kata santri terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri." Imbuh Ajimukti lagi.
"Nah, ini, Jik. Semakin penasaran saya." Wajah Manan nampak sangat berseri saat ini setelah mendapatkan wawasan baru.
"Monggo Kang Sobri mang jelaske." Ucap Ajimukti menunjuk Sobri.
"Loh, Gus..."
Ajimukti hanya menyimpulkan senyumnya.
Sobri kemudian hanya menghela nafasnya dalam dalam.
"Singkatnya, Kang Manan. Menurut Simbah Kyai Haji Abdullah Dimyathy Pandeglang Banten, huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh, menutup aurat, huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti wakil dari ulama, huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau meninggalkan kemaksiatan, serta huruf ro' dari ra’isul ummah yaitu pemimpin umat. Untuk penjelasannya Gus Aufa lebih bisa merinci, Kang. Monggo, Gus." Ucap Sobri sembari menunjuk kembali Ajimukti.
Ajimukti tersenyum cukup lebar merasa dikerjai balik oleh Sobri.
__ADS_1
"Jelaskan sekalian lah, Kang." Ucap Ajimukti.
"Mpun njenengan mawon, Gus." Sobri nampak sungkan.
"Tapi sepertinya tidak perlu kita jelaskan Manan pasti juga sudah tahu kok, Kang." Ucap Ajimukti sembari melirik Manan.
"Dijelaskan malah tambah paham saya nanti, Jik." Ucap Manan melebarkan senyumnya.
Ajimukti mengibaskan tangannya. "Halah kamu, Nan Nan."
Manan tertawa kali ini.
"Lalu, Jik. Mengenai hari santri yang kita peringati setiap tanggal 22 Oktober itu sendiri bagaimana menurut kamu?" Tanya Manan kemudian.
"Emmm, hari santri ya, Nan?" Gumam Ajimukti.
"Itu sebenarnya hari peringatan cetusan resolus jihad yang di cetuskan Hadratusy Syeh Hasyim Asy'ari, Nan. Itu juga tidak lepas dari penjajahan sebenarnya negara ini, Nan." Sahut Ajimukti.
"Setahu saya memang begitu, Jik. Hampir rata rata pejuang kita adalah para para santri." Sahut Manan kemudian.
"Benar, Nan. Itulah kenapa santri sangat nggondheli Hubbul Wathon Minal Iman, Nan. Sejarah negara ini sudah mengajarkan kita." Imbuh Ajimukti.
"Ya, memang benar, Jik." Manan nampak menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Ajimukti.
"Lalu bagaimana tentang hari santri itu, Jik? Emmm, juga sejarahnya." Tanya Manan setelahnya.
"Ya itu tadi, Nan. Itu berawal dari resolusi jihad cetusan Hadratusy Syeh Hasyim Asy'ari." Sahut Ajimukti.
"Maksudnya kaitan dengan sejarah negara, Jik." Tegas Manan.
"Hmmm, begini, Nan. Yang kita tahu selama tiga ratus tahun negara kita dalam penguasaan penjajahan Belanda, kemudian tiga tahun setelahnya di bawah penjajahan Jepang. Baru pada tanggal 17 Agustus 1945, presiden pertama kita Insinyur Soekarno mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Tapi apakah negara kita bebas dan merdeka pada saat itu?" Tanya Ajimukti kemudian di akhir ucapannya.
"Entah, Jik. Bahkan sampai sekarang pun jika harus di bilang merdeka rasanya kok belum tepat ya, Jik." Sahut Manan.
Ajimukti tersenyum, "Soal itu memang, Nan."
"Lalu, Jik?"
"Tentara Jepang saat itu memang berhasil dipukul mundur oleh NICA. Tapi setelah itu, justru NICA berusaha menguasai kembali negara kita. Negara kita kembali dikuasai orang orang barat. Saat itu, Mbah Hasyim memproklamirkan resolusi jihad itu untuk memukul mundur mereka pada 22 Oktober. Satu tahun tiga bulan setelahnya, yaitu pada tanggal 15 November 1946 di adakanlah perjanjian Linggarjati yang intinya mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan di sahkan pada tanggal 25 Maret 1947 oleh kedua belah pihak yaitu Indonesia dan NICA atau Belanda. Tapi setelah itu ternyata masih ada pengingkaran atas perjanjian itu, Nan. Hingga adanya perjanjian renville atas agresi militer pertama Belanda karena pengingakaran perjanjian Linggarjati itu. Setelah itu sekali lagi Belanda kembali melakukan agresi keduanya hingga adanya konferensi meja bundar. Atas semua itu, sekali lagi santri bergerak. Dan baru pada tanggal 27 Desember 1949, Indonesia benar benar terakui kedaulatannya, Nan." Jelas Ajimukti kemudian.
"Jadi pada dasarnya, Indonesia merdeka itu pada tanggal itu kah, Jik?" Tanya Manan.
"Entahlah, Nan. Seperti kata kamu tadi." Sahut Ajimukti sembari tersenyum lalu mengajak mereka masuk ke teras ndalem.
"Kita lanjutakan obrolan di teras saja."
__ADS_1
Bersambung...