
"Le, Aufa."
"Bapak? Kenapa bapak bisa ada disini?"
Langit begitu cerah, angin berkesiur menggoyang beberapa dedaunan dan hamparan rumput hijau yang tumbuh subur. Gemericik air dari aliran sungai yang begitu jernih seolah menjadi irama semesta yang akan menanggalkan setiap lelah yang dirasa.
Salim tersenyum dan kemudian duduk di akar pohon besar yang merambat kedalam tanah.
"Kamu baru akan mulai, Le. Tugas utamamu kedepan tidak semata nggulowentah pamardi siwi, nanging ugo memayu hayuning bawono. Jagad ini seperti orang yang baru akan berjalan namun terjegal dan harus kembali merangkak. Matahari terang bersinar namun mereka berjalan menyampar nyampar, seakan dunia ini gelap dimata mereka. Kaum elit memangsa kawula alit tidak lagi berbelit belit." Setelah mengucap itu Salim melenguh lalu menarik nafasnya dalam dalam, pandangannya lurus ke depan diantara wajahnya yang teduh.
"Aufa tahu, Pak. Ulama hanya dikenal lewat nama. Kyai dipandang tak lebih dari sekedar aki aki. Orang-orang mempercayai Tuhan pencipta alam semesta sebagai mitos yang membuat orang-orang menghentikan mesin-mesinnya, turun dari pelananya, tertegun, tersenyum, dan bahkan menangis saat ceritanya didongengkan. Namun, ketika dongengnya usai mereka mulai lapar. Kemudian menyalakan mesin-mesinnya lagi, meloncat ke pelananya lagi, lalu berputar, gila, dan menggerus rakus lagi. Orang-orang tidak bertegur sapa seperti manusia. Setiap dari mereka mempunyai wakil berupa angka atau kode, yang dengannya setiap mereka bisa menjadi siapa saja yang bukan dirinya, dan bertemu dengan siapa saja yang sebenarnya tidak ada. Daging bertemu daging tidak lagi penting, hati bertemu hati tidak lagi sejati. Huh, seperti inilah jagad ini sekarang, Pak." Ajimukti pun hanya bisa menengadah melihat gumpalan awan yang tergantung di langit cerah.
"Le, Aufa. Welinge bapak gur ojo nganti awakmu keseret jaman. Adigang, adigung, adiguno. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun keduanya baik. Bersungguh sungguh meraih apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah bantuan kepada Allah, jangan melemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jangan berkata, 'Seandainya aku melakukan ini dan itu’, tapi ucapkanlah, 'Ini telah ditakdirkan Allah, apa yang Dia kehendaki dilakukan, jangan berkata seandainya, karena seandainya membuka pintu masuk setan’. Kelak, jangan menjadi ulama su'ud, ulama yang hanya mementingkan kekuasaan dunia, ingat, Le. Buruknya Masyarakat akibat buruknya Penguasa, Buruknya Penguasa akibat buruknya Ulama, buruknya Ulama disebabkan gila harta dan kedudukan. Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk kehidupan setelah kematian."
"Bapak hanya bisa menitipkan semua ditangan kamu, Le. Dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, asih ing sesami, wani ngalah luhur wekasane, ojo dumeh, adigang, adigung, adiguno."
Salim kemudian berdiri dari duduknya.
"Bapak sudah mau pergi?" Tanya Ajimukti yang kemudian ikut berdiri.
"Tugas bapak sudah selesai, Le. Sekarang tugas itu akan kamu mulai. Sing ngati ati. Bedo sirah bedo rah. Sabar, pasrah, ngalah." Ucap Salim sembari tersenyum.
Angin sepoi yang mengibaskan jubah putihnya sesekali turut membelai wajah teduhnya.
"Satu lagi, Le. Jodoh terbaik akan diberikan oleh Allah selama kita selalu memantaskan diri menjadi orang yang baik dan pantas dipilih. Prinsip jodoh itu sebenarnya sederhana, karena kamu hanya tinggal mengikuti pilihan yang baik. Orang yang baik pasti akan mendapatkan yang baik juga sebagai pasangan hidup. Seorang lelaki yang berperilaku buruk dan berakhlak buruk akan berjodoh dengan perempuan yang sama buruknya."
"Terima kasih, Pak. Aufa paham itu." Ajimukti tertunduk.
Salim mengusap ujung kepala Ajimukti lalu melangkah menjauh. Jubah putihnya mengibas seirama dengan langkah kakinya. Ajimukti memandang kepergian Salim, setelah Salim menghilang diantara Padang rumput jauh di depannya, Ajimukti kemudian kembali menengadah memandang gumpalan kapas putih yang menggantung indah di langit yang cerah.
"Ash-Sholaatu khairum minan-naum... Ash-Sholaatu khairum minan-naum..."
Adzan subuh baru saja berkumandang, memaksa mata yang masih berat terbuka untuk segera terjaga.
Ajimukti segera terduduk ketika bangun dari tidurnya, lalu ia mengusap wajahnya.
"Mimpi semalam terlihat nyata sekali. Banyak pesan yang bapak sampaikan lewat mimpi saya semalam. Tapi kenapa bapak berpesan seperti itu?" Gumam Ajimukti.
Ajimukti segera membangunkan kesadarannya dan bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama, ia pun sudah berjalan ke arah masjid pesantren.
"Assalamu'alaikum, Gus." Sapa Faruq ketika melihat Ajimukti keluar dari arah ndalem nya.
"Wa'alaikumsalam, Gus." Sahut Ajimukti kemudian segera meraih tangan Faruq.
"Emmm, sepertinya ada sesuatu yang sedang sampeyan pikirkan, Gus?" Tanya Faruq melihat ekspresi wajah tak biasa dari Ajimukti.
Ajimukti kemudian tersenyum, "Tidak ada, Gus." Sahutnya kemudian.
Ajimukti tidak mungkin menceritakan bahwa ia semalam bermimpi bertemu dengan bapaknya dan mendapat banyak nasehat di dalam mimpi itu, karena seperti yang ia tahu. Jika seseorang bertemu dengan ulama atau guru di dalam mimpi, lalu ulama atau guru itu memberinya nasehat maka tugas kita hanya tinggal melaksanakannya saja. Tapi, jangan riya' dan sum'ah. Mimpi yang seperti itu tidak untuk di minta lihat orang lain. Tidak untuk di minta dengar orang lain. Karena Insya Allah, dengan kita tidak memberitahukannya pada orang lain tentang mimpi itu, kita akan mendapatkan madad dari guru atau ulama itu.
Faruq kemudian hanya membalas senyuman Ajimukti itu. Mereka pun terus berjalan hingga sama sama memasuki masjid pesantren.
Selesai sholat subuh pagi ini, Ajimukti melanjutkan kegiatan mengajarnya, sama seperti Faruq yang juga langsung menuju ke kelas mengajarnya.
Tepat disaat akan menuju kelas mengajarnya, Ajimukti bertemu dengan Khalil juga Imam.
"Assalamu'alaikum, Gus." Sapa Khalil dan Imam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam..." Sahut Ajimukti kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Oh, Kang Imam Kang Khalil, mau sorogan? Monggo sareng." Ucap Ajimukti setelah tahu yang menyapanya adalah Khalil juga Imam.
"Oh iya, Gus. Belum lama ini waktu kami ke pasar, kami sempat melihat Budi di warung makan ujung pasar." Ucap Khalil kemudian.
"Benar, Gus. Tapi begitu kami akan mengejarnya, Budi seperti menghindari kami, Gus." Imbuh Imam.
"Kang Budi di pasar?" Tanya Ajimukti memastikan, keningnya berkerut sedikit penasaran.
"Iya, Gus. Di warung yang padahal dia sendiri tidak pernah mau makan disana." Sahut Imam kemudian.
"Kenapa memangnya?" Tanya Ajimukti lagi.
"Itu karena warung itu milik orang non muslim, Gus. Rata rata mereka kan masaknya pakai minyak babi. Jadi untuk kehalalannya agak diragukan, Gus. Begitu kata Kyai Aminudin dulu." Jawab Khalil, Imam pun mengangguk membenarkan.
Ajimukti tersenyum, ia tahu warung makan yang mereka maksud. Pasti itu warung makan milik Johanes dan Samuel. Dan lagi, Ajimukti merasa kalau Imam dan Khalil ini tidak tahu kalau antara Samuel dan Budi sebenarnya adalah saudara satu ayah.
"Apa sampeyan pernah melihat sendiri atau bertanya apa mereka masaknya pakai yang seperti sampeyan bilang itu, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
__ADS_1
Khalil dan Imam kompak menggeleng, "Tidak, Gus." Ucap mereka bersamaan.
"Itu hanya kata Kyai Aminudin dulu." Imbuh Khalil.
Ajimukti hanya kemudian geleng geleng kepala, "Belum lama ini, saya baru saja makan disana. Makanan disana enak. Menunya komplit. Tempatnya juga bersih, Kang. Kapan ada waktu, kita bisa makan bareng di sana. Alhamdulillah saya sama pemilik warungnya sudah cukup akrab. Namanya Samuel dan Johanes." Ucap Ajimukti kemudian.
Khalil dan Imam hanya saling pandang. Mereka tahu kenapa Ajimukti berkata seperti itu.
"Baik, Gus. Kapan ada waktu kita kesana. Saya juga dengar katanya masakan disana enak, tempatnya juga bersih dan nyaman." Sahut Imam kemudian.
Ajimukti hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas mengajar.
Satu setengah jam berlalu begitu cepat. Selesai menyimak sorogan Al-Qur'an, Ajimukti segera menuju ndalem. Ia masih memikirkan mimpinya semalam. Bahkan di dalam mimpinya, Salim, bapaknya juga menasehatinya soal jodoh.
"Semoga bapak disana merestui niat baik saya ini." Gumam Ajimukti setibanya di teras ndalem.
Ajimukti menyalakan sebatang rokoknya. Disaat itu, tiba tiba ingatannya tertuju pada Ajeng, anak gadisnya Prastowo. Sejak dua hari yang lalu sekembalinya ia dari Jogja, ia bahkan belum mengabarkan tentang Ajeng.
Ajimukti segera bangun dari duduknya dan melangkah keluar ndalem, ketika itu ia berpapasan dengan Sobri.
"Mau kemana, Gus?" Sapa Sobri dari arah berlawanan dengannya.
"Kebetulan bertemu sampeyan disini, Kang. Saya mau ke rumah Pak Lek Prastowo. Mau ngertakne Ajeng. Apa sampeyan mau ikut?" Tanya Ajimukti kemudian.
Sobri diam sejenak. Tapi dengan sedikit ragu, akhirnya pun ia mengangguk dan ikut bersama Ajeng.
"Jadi waktu menjemput Ajeng itu sampeyan langsung kembali, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Iya, Gus. Habis subuh saya sama Pak Lek berangkat. Jadi masih pagi sampai disananya." Sahut Sobri.
Ajimukti hanya mengangguk. Ia tak mungkin menceritakan bahwa dirinya dan Manan juga ke pesantren itu untuk menjemput Habiba. Ajimukti hanya tidak ingin hal itu sampai terdengar Ajeng yang nantinya akan membuat Ajeng berpikiran yang tidak tidak. Meski Ajimukti hanya menganggap Ajeng tidak lebih dari saudaranya, tapi ia tahu Ajeng memiliki perasaan yang berbeda terhadapnya. Ia hanya ingin menghargai perasaan Ajeng saja untuk saat ini, sampai Ajeng benar benar bisa melepaskan perasaan terhadapnya itu.
Tak lama mereka pun tiba di rumah Prastowo. Saat mereka tiba disana, Prastowo seperti biasa, tengah sibuk mengurus ayam ayam nya. Begitu melihat kedatangan Ajimukti Prastowo pun segera menghentikan aktifitas rutinannya itu.
"Masuk dulu, Mas. Saya bersih bersih dulu." Seru Prastowo dari belakang kandang ayamnya.
"Iya, Lek. Dilanjut dulu saja. Saya mau ketemu Dik Ajeng. Dik Ajeng ada, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Ada, Mas. Masuk saja. Saya panggilkan sebentar." Seru Prastowo segera melangkah ke dalam melalui pintu belakang.
__ADS_1
Namun mendengar suara bapaknya yang cukup keras. Ajeng pun segera muncul dari dalam rumahnya. Melihat Ajimukti sudah di teras bersama Sobri, Ajeng pun segera menyapa kedua tamunya itu. Seketika wajah Ajeng nampak berseri, ada seulas senyum yang diam diam merekah dari bibirnya. Sobri pun diam diam mengamati itu, meski itu tidak tertuju padanya. Tapi untuk saat ini, ia tahu situasinya.
Bersambung...