BROMOCORAH

BROMOCORAH
Mas Kyai Salim Dan Ustadz Amin


__ADS_3

Pondok Pesantren Hidayah beberapa tahun silam.


Suasana masih segar dan asri. Masih banyak pepohonan di sekitar halaman pesantren. Pagar yang mengelilingi pesantren pun masih berupa pagar bambu yang dengan beberapa tanaman rambat yang menjalar membuat sekitar pesantren nampak subur. Bunga Bougenville dan Soka Jawa juga nampak indah dan tumbuh subur di gapura masuk pesantren.


Salim duduk di bangku yang terbuat dari batang bambu di depan teras langgar pesantren. Rencananya langgar ini akan di renovasi menjadi masjid untuk mempererat hubungan pesantren dan masyarakat sekitar pesantren.


Tampaknya, Salim sedang merenung. Pandangannya kosong. Semilir angin yang menerbangkan debu debu dari halaman yang masih berupa tanah, tak dihiraukannya meski sesekali hampir membuatnya kelilipan.


Belum lama sepeninggal Zaini, Salim mulai kewalahan untuk mengurus pesantren seorang diri. Belum lagi pembangunan pesantren yang tentu setelah pembangunan ini selesai, akan lebih banyak santri santri baru yang berdatangan.


Disisi lain, dia harus bolak balik ke Jogja karena Kartika, istrinya, belum lama ini juga baru saja melahirkan. Bagaimana para santri ketika nanti dirinya ke Jogja?


Salim mau tidak mau harus mencari rekan untuk membantunya mengurus pondok. Tapi dia pun bingung siapa orang yang bisa membantunya dalam hal ini.


Beberapa temannya seperti Prastowo, Dasman dan Anggoro, kalau sekedar untuk mengawasi dan bantu bantu di pesantren mungkin mereka bisa di andalkan. Tapi kalau untuk mengajar, itu jelas jauh dari kemampuan mereka.


Salim bangun dari duduknya, lalu melangkah menuju bagian belakang langgar. Di sanalah dirinya tinggal, di rumah yang dulu penuh kenangan bersama Satriyo sahabatnya dan yang menyadarkannya. Di rumah yang dititipkan bapaknya pada Zaini.


Di teras rumah, Salim melihat Anggoro yang sepertinya sudah mau pulang. Anggoro hari ini di tugaskan untuk mengawasi pembangunan pesantren oleh Salim.


"Mau langsung pulang, Ro?" Sapa Salim yang melihat Anggoro sudah menaiki motornya.


Melihat Salim datang, Anggoro turun lagi dari motornya, "Nggak, Kang. Mau ke pasar dulu, tadi pagi mbok wedok pesen suruh beli susu sekalian buat tole." Sahut Anggoro setengah membungkuk.


"Yasudah, saya nebeng ke pasar, Ro." Ucap Salim kemudian.


Anggoro terlihat mengerutkan keningnya, "Jam segini ke pasar mau ngapain, Kang?" Tanya Anggoro penasaran juga gelisah.


Salim melempar senyum, melihat ekspresi Anggoro sepertinya mengkhawatirkan dirinya, "Tenang saja, Ro. Saya cuma mau cari seger seger." Sahut Salim kemudian.


Anggoro pun tanpa berpikir panjang mengangguk, lalu segera menyalakan mesin motornya. "Yasudah saya temani, Kang."


"Tidak usah, Ro. Nanti kamu langsung pulang saja nggak apa apa. Kasihan kalau memang anakmu kehabisan susu." Ucap Salim meyakinkan Anggoro, sembari naik ke jok belakang motor Anggoro.


"Tidak apa apa, Kang. Sebenarnya di rumah masih. Suruh beli juga cuma buat stok." Sahut Anggoro datar. Salim tahu maksud Anggoro yang secara tidak langsung memaksa untuk menemaninya.


Salim hanya diam diam tersenyum di belakang kepala Anggoro, lalu menepuk pundak Anggoro.


Tak lama mereka pun sampai di pinggiran pasar. Salim berdiri di depan sebuah warung makan pinggiran pasar. Di depan warung itu terdapat MMT besar yang mulai sedikit lusuh karena kepanasan dan kehujanan, bertuliskan Warung Makan Masakan Jawa AMINUDIN. Salim segera masuk ke warung itu di ikuti Anggoro di belakangnya.


Tak lama seorang lelaki seumurannya, yang kelihatannya si pemilik warung, nampak berjalan ke arahnya. Melihat penampilan Salim yang mengenakan sarung dan songkok hitam, lelaki pemilik warung itu menyipitkan matanya.


"Mas Kyai Salim, ya?" Tanya lelaki pemilik warung itu sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Salim.

__ADS_1


Salim hanya melempar senyum, lalu sedikit menganggukkan kepalanya.


Beberapa pengunjung yang mendengar si pemilik warung menyapa seseorang yang sangat mereka kenal. Mereka segera berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Wah, Monggo, Mas Kyai." Si pemilik warung buru buru mengelap mejanya. "Pangapunten Mas Kyai, tempatnya berantakan."


"Sudah tidak apa apa, Kang Amin." Sahut Salim ramah.


"Oh, iya, Mas Kyai ngersakne dahar sama unjukan apa? Biar saya siapkan." Tanya pemilik warung yang dipanggil Salim dengan nama Amin itu kemudian.


"Kopi hitam saja, Kang Amin. Jangan terlalu manis!" Sahut Salim, "Kamu apa, Ro?" Salim beralih ke Anggoro.


"Saya juga kopi saja, Kang." Ucap Anggoro, sembari melepas jaket Banser nya.


Ya, untuk beberapa tahun terakhir ini. Anggoro memang aktif dan sudah terdaftar dalam keanggotaan badan otonom dari Gerakan Pemuda Anshor itu.


Tak lama Amin pun kembali ke meja tempat Salim dan Anggoro dengan membawa dua gelas kopi hitam panas. Aroma harum kopi yang menyeruak bersama asap yang mengepul dari gelas kecil itu begitu terlihat menggoda.


"Monggo Mas Kyai, kopinya." Ucap Amin sembari menyodorkan gelas kopi ke meja Salim dan Anggoro.


"Duduk dulu, Kang Amin." Ucap Salim ketika Amin hendak kembali ke belakang.


Anggoro yang mendengar itu, sedikit mengerutkan kening.


Salim terlihat melengkungkan sedikit bibirnya lalu terdengar menghela nafas.


"Begini, Kang Amin. Saya ada perlu sedikit sama Kang Amin sebenarnya." Ucap Salim sejurus kemudian.


Amin menyipitkan matanya, merasa penasaran ketika Salim berkata bahwa Salim ada perlu dengan dirinya.


"Apa itu, Mas Kyai?" Tanya Amin kemudian, ia ingin segera menutup rasa penasarannya kali ini.


"Saya membutuhkan ilmu Kang Amin." Ucap Salim tanpa basa basi.


Amin tersentak, pun dengan Anggoro yang sedikit kaget dan langsung tahu maksud dari ucapan Salim itu.


"Maksud Mas Kyai?" Tanya Amin yang belum paham arah pembicaraan Salim.


Salim kembali menghela nafas, "Pesantren sedang kekurangan tenaga pengajar, Kang." Ucap Salim nampak serius, "Saya tahu Kang Amin ini alumni pondok pesantren yang sudah banyak mendidik santri santri alim dan mumpuni, saya yakin dengan adanya Kang Amin di Pondok Hidayah, nantinya akan membuat pesantren Pondok Hidayah lebih berkembang ke depannya." Sambung Salim berterus terang.


Amin nampak kaget, namun ekspresi wajahnya tidak dapat ditutupi bahwa dirinya senang sekali dengan tawaran Salim ini.


"Bagaimana, Kang Amin?" Tanya Salim menunggu keputusan Amin. "Apa Kang Amin bersedia membantu saya mengajar para santri di pesantren?" Sambungnya kemudian.

__ADS_1


"Waduh, bagaimana ya, Mas Kyai. Saya senang dengan tawaran Mas Kyai ini. Tapi apa Mas Kyai yakin saya mampu?" Tanya Amin kemudian.


Salim nampak tersenyum, "Saya sangat yakin, Kang. Tapi semua juga kembali ke Kang Amin, bersedia atau tidaknya. Saya tidak akan memaksa Kang Amin." Lanjut Salim meyakinkan.


Amin mengangguk ringan, lalu tersenyum, "Insya Allah, Mas Kyai. Saya bersedia." Jawab Amin tanpa ragu ragu lagi.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, Kang Amin. Semoga dengan adanya Kang Amin setelah ini. Benar benar bisa meningkatkan kwalitas para santri." Ucap Salim dengan tulus.


Anggoro yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan Salim dan Amin tidak berkomentar apapun. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya dengan keputusan Salim ini. Tapi dia pun yakin, ketika Salim sudah membuat keputusan ini, tentu Salim sudah memikirkannya matang matang.


Sejak sore itu, Amin setiap hari tidak pernah absen datang ke Pondok Hidayah. Salim sengaja menugaskan Amin untuk mengajar para santri selepas Maghrib dan ba'da Isya', itu agar tidak menganggu pekerjaan Amin di warung makannya.


Hampir dua tahun sudah Amin menjadi ustadz pengajar di Pondok Hidayah. Pembangunan pesantren pun sudah seluruhnya selesai dikerjakan. Langgar yang dulunya hanya cukup untuk menampung para santri, kini pun sudah menjadi bangunan masjid yang besar dan mewah, cukup untuk seluruh santri juga warga sekitar yang ingin melaksanakan sholat berjama'ah.


"Mas Kyai Salim, sekarang ini Alhamdulillah pesantren sudah berkembang pesat. Banyak santri yang datang dari berbagai daerah tak hanya dari sekitaran wilayah Jawa timur saja." Ucap Amin suatu ketika, "Apa tidak sebaiknya kita tarik iuran ke para wali santri itu, Mas Kyai. Ya, setidaknya untuk tambah tambah biaya pembangunan." Sambung Amin mengusulkan.


Salim yang mendengar usulan Amin itu hanya tersenyum, lalu berdiri dari duduknya memandang jauh ke arah depan.


"Maaf, Mas Kyai kalau usulan saya ini kurang sesuai." Ucap Amin kemudian, melihat Salim yang tidak berekspresi setelah mendengar usulannya.


Salim terdengar menghela nafas berat, "Usulan Ustadz Amin itu bukan tidak sesuai. Tapi sejujurnya, saya membangun pesantren ini bukan untuk mempersulit para santri. Alhamdulillah Allah selalu memudahkan niat kita. Dan meski selama ini kita tidak pernah sepeser pun menarik iuran dari mereka, mereka dengan keikhlasan dan ketulusan pun berbondong bondong untuk membantu kita." Sahut Salim kemudian.


"Tapi kan juga banyak yang hanya berpangku tangan tanpa pernah urun andil, Mas?" Ucap Amin menambahi.


Salim tersenyum, "Mungkin ekonomi mereka yang terbatas, Ustadz Amin. Dan saya sangat memahami itu. Tanpa iuran pun, pesantren kita ini sudah mampu untuk menampung mereka semua yang bersungguh sungguh ingin ngangsu ilmu. Saya khawatir dengan adanya iuran, justru akan mempengaruhi niat belajar para santri. Justru nantinya akan membebani mereka." Sahut Salim tenang.


"Tapi kan untuk mendapat ilmu juga perlu usaha, Mas. Tidak murah. Wong saya saja dulu waktu mondok sebulan sampai ratusan ribu kok, Mas." Amin sepertinya masih berusaha membuat Salim memahami maksudnya.


Salim hanya lagi lagi merespon ucapan Amin dengan seulas senyum, "Saya tahu, Ustadz Amin. Justru kesungguhan mereka itu sudah cukup untuk menjadi bayaran. Dan itu jauh lebih mahal dari berapa pun nominal uang." Ucap Salim kemudian.


"Banyak wali santri yang rela mengeluarkan biaya yang mahal, mereka berpikir dengan semakin mahal biaya, semakin menjamin kualitas ngaji si anak. Tapi pada akhirnya mereka terbebani sendiri. Niat yang seharusnya tulus, justru berubah seiring berjalan nya waktu. Yang melihat itu, akan muncul pemikiran pemikiran bahwa ngaji di pesantren itu mahal dan lain sebagainya. Pada akhirnya banyak yang takut memasukan anaknya ke pesantren dan memilih menyekolahkan di sekolah umum. Nah, Ustadz Amin, mindset yang seperti itu yang ingin saya hapuskan." Salim mencoba menjelaskan pada Amin.


Amin hanya geleng geleng kepala, sepetinya dia masih memikirkan sesuatu.


"Tapi, Mas Kyai. Lazimnya pesantren ada uang pangkal atau awal masuk, apalagi pondok yang masih baru dalam pembangunan seperti Pondok Hidayah ini, tentu ada kolom sumbangan atau investasi pembangunan. Dan saya pikir itu sah sah saja, Mas. Nantinya juga biaya uang pangkal ini untuk seragam, perabot kebutuhan kamar, mos, ta’aruf, buku pembelajaran maupun kebutuhan almari maupun tempat tidur santri juga, Mas. Pembayarannya pun hanya satu kali selama mondok di pesantren." Amin masih mencoba mengutarakan pendapatnya.


Salim sekali lagi terdengar menghela nafas, "Ya, saya paham itu, Ustadz Amin. Tapi sering saya mendengar dari beberapa wali santri yang mboyong anaknya kesini, yang dengan biaya awal masuk yang hampir mencapai jutaan rupiah, itu cukup menggetarkan dompet kalangan wali santri yang ekonominya masih repot. Tentunya keberadaan uang pangkal yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan itu hanya akan semakin melegitimasi keabsahan mahalnya biaya pesantren. Dan semakin membuat orang orang enggan memasukkan anaknya ke pesantren karena terbentur mindset mindset yang terlanjur menjamur itu. Padahal yang kita butuhkan adalah generasi yang ber akhlakul karimah, berbudi pekerti, punya unggah ungguh, dan tahu ajaran Rasulullah. Tapi jika mereka justru takut memasukan anaknya ke pesantren karena adanya syahriyah atau biaya tertentu yang bertabrakan dengan kebutuhan mereka, apa malah sia sia niat kita itu nantinya, Tadz?" Salim masih mencoba menjelaskan tanpa menyinggung Amin.


"Akan tetapi, Mas Kyai. Jika kita konversi kepada kebutuhan siswa dan peruntukan biayanya maka nominal nominal itu nantinya bisa jadi agak rasional diluar sumbangan investasi akhirat mereka untuk amal jariah, yaitu turut serta menyumbang untuk pembangunan fasilitas pondok." Amin masih terus berusaha meyakinkan Salim. "Dan lagi saya cuma kasihan sama Mas Kyai Salim jika harus menanggung semua nya secara pribadi. Saya khawatir, mereka hanya mungkin akan memanfaatkan kebaikan Mas Kyai saja." Imbuh Amin kemudian.


Salim hanya tersenyum, "Nanti coba kita pikirkan lagi untuk usulan sampeyan itu, Ustadz Amin. Tapi untuk saat ini, insya Allah masih bisa saya tanggung semuanya. Saya tidak pernah merasa sedang menanggung apapun. Ini sudah kewajiban bukan lagi sebuah tanggungan. Ustadz Amin jangan khawatir. Khusnudzon saja!" Ucap Salim kemudian, lalu melangkah ke dalam rumah yang bagian depannya sedang dalam proses renovasi itu.


Amin nampak masam melihat Salim sepertinya memang tidak tertarik dengan usulannya itu. Dia terlihat menggelengkan kepala ringan dan kemudian berlalu dari teras rumah Salim itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2