
"Sibu jadi pulang besok pagi?" Tanya Ajimukti ketika itu pada Nyai Kartika.
"Iya, Le. Kalau Sibu kelamaan disini, nanti disana keter." Sahut Nyai Kartika sembari mengembangkan senyumnya.
Ajimukti hanya mengangguk ringan.
"Pak Lek mu sudah kembali, Le?" Tanya Nyai Kartika kemudian.
"Sepertinya belum, Bu." Sahut Ajimukti.
"Memangnya kemana Pak Lek mu tadi?" Tanya Nyai Kartika lagi.
"Ke rumah Pak Gandung, Bu. Ada welingan yang harus disampaikan dari Pak Lek Anggoro." Sahut Ajimukti.
"Pak Gandung?" Nyai Kartika nampak mengerutkan keningnya.
"Iya, Bu. Pak Gandung itu teman kecilnya Lek Dul yang sudah Lek Dul anggap seperti saudaranya sendiri, Bu." Jelas Ajimukti kemudian.
Nyai Kartika tak lantas menyahut. Ia kemudian hanya sekali lagi mengembangkan senyumnya.
Sementara itu, jauh dari Pondok Hidayah, tepatnya di kediaman Sukrono malam ini.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Dul. Kamu sudah mau repot repot membantu saya." Ucap Gandung pada Dullah.
"Jangan berterima kasih pada saya, Ndung. Terima kasih sama Allah. Saya hanya perantara saja." Sahut Dullah.
"Karena nanti kamu akan dekat pesantren, Le Ndung. Kamu jadi sekalian bisa ngangsu ilmu. Ikut majelis. Jadi selain oleh kadonyane, kamu juga bisa sekalian ngepikno akheratmu." Imbuh Sukrono kemudian.
"Nggeh, Pak." Sahut Gandung sembari mengangguk.
"Allah itu kalau memberi penyelesaian itu asale sangkan paran. Makanya kamu harus banyak banyak bersyukur, Ndung." Imbuh Sukrono lagi.
"Benar itu, Ndung. Saya setuju dengan apa yang Mbah Sukro bilang. Kurangi sambat akehi syukur nikmat." Imbuh Dullah setelahnya.
"Iya, Dul. Saya memang sering sambat ketimbang berbuat. Yah, mau bagaimana lagi, Dul. Kadang keadaan yang membuat kita isane mung sambat." Sahut Gandung.
"Sambat harus dengan tujuan yang tepat, Ndung. Kalau sambat itu sama Allah." Sahut Dullah setelahnya.
"Iya, Dul."
"Ingat, Ndung. Ada dua pilihan ketika kita mengangkat tangan. Menyerah atau berserah." Imbuh Dullah lagi.
Gandung hanya mengangguk.
"Apa lagi kamu itu laki laki, Le. Wong lanang iku kudu kendel misuh, ora ngeluh." Imbuh Sukrono.
"Kok misuh, Pak? Saru to, Pak." Sahut Gandung kemudian.
Sukrono hanya tersenyum sekilas, "Saru kui lak penampenmu, Le. Tidak jadi saru kalau menangkapmu tidak saru." Sahut Sukrono setelahnya.
"Kok, mboten saru pripun to, Pak. Misuh nggeh saru ngoten." Sahut Gandung kemudian.
"Le Le, kalau nggagas saru. Nuswantoro iki ora bakal ngrasakne kamardikan. Tidak mungkin para pejuang dulu itu melawan penjajah tidak ada yang misuh. Pasti sambil ngetungno gaman sambi misuh. Genah kuwi, Le." Sahut Sukrono kemudian.
"Tapi maksud bapak ngomong itu tadi yo ora terus tak kon misuh misuh, Le. Jangan semua ucapan di makan mentah mentah. Itu hanya peribahasa saja. Maksudnya ya menjadi laki laki itu sing teteg, sing jejeg." Jelas Sukrono kemudian.
"Nggeh, Pak. Saya paham itu."
"Oleh sambat ananging sing sumbut. Sambat thok juga tidak menyelesaikan masalah. Yang ada hanya menjadikan kita lembek. Sitik sitik sambat, sitik sambat. Lali syukur akhire." Lanjut Sukrono kemudian.
"Benar itu, Ndung. Jangan kita menjadi kawulaning yang suka menyimpan drama dengan cara mengeluh dan mengeluh saja. Gunakan setiap inci anugerah Allah ta'ala untuk membuat perubahan agar kita tidak lupa bersyukur. Akeh sitik di syukuri, bakal nikmat. Akeh dadi turah, sitik dadi cukup." Imbuh Dullah.
"Iya, Dul. Saya akan berusaha untuk mensyukuri apapun itu. Sekecil apapun itu." Sahut Gandung.
__ADS_1
"Apa sih gunanya mengeluh, Ndung? Laki laki mengeluh itu koyone ora sak pase. Soalnya laki laki itu lak gur nggowo manuk sak endoke. Jadi kalau malah mengeluh njut piye?" Sukrono kini nampak sedikit tertawa kecil memperlihatkan sebagian giginya yang sudah tanggal.
"Wah, Mbah Sukro ini ada ada saja." Mendengar itu Dullah pun nampak ikut tertawa.
"Lho, kan benar tho Nak Dullah. Wong lanang gawanane lak gur manuk sak ndoke. Ora patut yen sambat. Bedo karo wong wadon, sambat lumrah sak bab gawanane gunung kembar." Sukrono kembali tertawa, kali ini lebih lebar.
"Wah, Pak. Saru niku." Sahut Gandung kemudian.
"Ora saru, Ndung. Hanya menangkapmu saja itu." Sahut Sukrono setelahnya.
"Pasti ada maksudnya tho, Mbah?" Tanya Dullah yang awalnya juga berpikir apa yang di ucapkan Sukrono terdengar tabu untuk di ucapkan.
"Lelaki itu bawaannya hanya manuk sak ndoke, ateges ngene, Nak Dullah. Manuk iku tegese manteping ukoro, mantapnya sebuah perkataan, sebab laki laki itu imam dalam sebuah rumah tangga. Apa yang keluar dari mulutnya, itu sabda yang tidak bisa dibantah oleh makmum di dalam rumah tangga itu. Jadi kalau ucapan itu tidak ada kemantapan, lalu bagaimana makmumnya? Kalau si imam hobbynya mengeluh, bagaimana kabar makmumnya? Kan begitu tho, Nak?" Jelas Sukrono kemudian.
Dullah hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
"Beda dengan wanita, wanita itu bawaannya gunung kembar. Gunung kembar itu maksudnya guneman nungsung, cangkeme jembar. Jadi tidak heran kalau wanita itu hobbynya ngerumpi, seneng mendekati yang bebauan ramai ramai, kalau sudah begitu kadang wanita susah kontrol kalau sudah mulai asik ngerumpi. Karena sebab itu, wis ojo kaget kalau wanita itu doyan sambat, sebab hubungan sosialnya wanita ya seperti itu, krungu tanggane omong ngene, kesindir akhire sambat karo sing lanang, ngerti tanggane nduwe ngere iri, akhire sambat karo sing lanang. Makanya, sambat itu tugase wong wadon, tugase wong lanang mbakohne balung, ngandelne kuping, nguatne ati." Lanjut Sukrono kemudian.
Gandung juga Dullah masih mendengarkan uraian yang di sampaikan Sukrono itu.
"Ternyata dari barang saru saja ada hikmah ya, Mbah?" Sela Dullah.
"Lho, lha iya tho, Nak Dullah. Jangan apa apa itu di pangan mentah mentah. Kudu dionceki." Sahut Sukrono setelahnya.
"Benar, Mbah. Saya setuju dengan itu." Imbuh Dullah kemudian.
"Yen nggagas perbedaan laki laki dan perempuan kuwi akeh, Nak. Koyo dene sabar. Sabar itu juga kewajibannya laki laki, bukan wanita, biar pun banyak laki laki yang suka kesusu, katanya tinimbang kesikut." Sukrono terbahak setelahnya.
"Kok begitu, Mbah?" Tanya Dullah sarat keheranan.
"Wong jowo, Nak Dullah. Tembung sabar dikaitkan dengan ngelus dodo, iya tho?" Tanya Sukrono kemudian.
"Iya, Mbah. Benar sekali." Sahut Dullah membenarkan.
"Kenapa begitu, Mbah?" Tanya Dullah lagi lagi masih belum paham maksud Sukrono.
"Sebab dadanya laki laki itu lempeng, lurus. Di eluso bola bali yo lempeng wae. Tegese ojo gampang pedot sabare. Beda dengan wanita, dielus pisan kroso gronjal. Makanya jarang wanita bisa sabar, kemrungsungan." Jelas Sukrono sembari terkekeh.
"Wah, Mbah Sukro ini bisa saja. Bukannya malah enak itu, Mbah?" Ujar Dullah kemudian.
"Enak kanggomu, dokoh awakmu yo." Sukrono pun tidak bisa lagi untuk tidak tertawa lepas kali ini, pun dengan Gandung juga Dullah.
"Pokoknya, Le Ndung. Bapak hanya berpesan, selagi ada kesempatan baik seperti ini manfaatkan sebaik baiknya." Ucap Sukrono kemudian pada Gandung.
"Nggeh, Pak. Saya akan manfaatkan betul betul." Sahut Gandung kemudian.
"Tapi ngomong ngomong, Dul. Itu kapan dimulainya?" Tanya Gandung pada Dullah setelahnya.
"Saya sendiri tidak tahu, Ndung. Seperti kata saya di awal. Anggoro akan segera mengabari saya begitu semua siap, dan setelah itu nanti biar Manan sendiri yang mengabari kamu." Sahut Dullah kemudian.
Gandung kemudian hanya mengangguk, "Lalu besok itu kamu juga jadi kembali ke Jogja, Dul?" Tanyanya kemudian.
"Iya, Ndung. Karena Mbak Yu Kartika sudah khawatir soal anak anak disana. Selain itu saya juga harus menyiapkan keperluan untuk Sobri." Sahut Dullah.
"Sobri? Memangnya mau kemana anak kamu itu, Dul?" Tanya Gandung kemudian.
Dullah menegakkan duduknya, "Begini, Ndung. Ini sekalian minta doa restu kamu juga Mbah Sukro. Ceritanya anakku Sobri itu sudah menunjukkan kematangannya, dia sudah kesengsem sama wong wadon. Masih anaknya teman saya juga. Nah, sebab itu, Ndung. Ya cilik cilik'an saya sama ibunya mau menyiapkan untuk melamar gadis itu." Jelas Sobri kemudian.
"Alhamdulillah, Dul. Saya ikut senang dengarnya. Saya pasti merestuinya, Dul. Pasti."
"Begitu juga saya, Nak Dullah. Saya sudah bertemu dengan anak kamu itu. Dia anak yang berwawasan bagus. Akhlak dapat. Tindak tanduk toto kromo, dapat. Pasti beruntung besan kamu nanti dapat mantu seperti Nak Sobri anak kamu itu, Nak Dullah." Imbuh Mbah Sukro.
"Alhamdulillah, Mbah. Terima kasih atas pujiannya. Saya pun sebagai orang tuanya memang berharap dia jauh lebih baik dari saya. Jangan sampai apa yang pernah saya perbuat dulunya nurun ke dia." Sahut Dulla kemudian.
__ADS_1
"Jangan lupa Simbah di undang nanti." Goda Sukrono kemudian.
"Pasti, Mbah. Tapi belum tahu juga kapannya itu. Saya manut sama Sobri saja, Mbah. Toh, dia yang akan menjalaninya." Sahut Dullah juga setelah itu.
Sukrono hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya ringan.
Jauh dari percakapan di rumah Sukrono itu pun, ada percakapan antara seorang pemuda dengan seorang gadis juga ayah dari si gadis. Ketiga orang itu adalah Sobri, Ajeng juga bapaknya, Prastowo.
"Jadi ini Dullah ke rumah Gandung itu, Bri?" Tanya Prastowo kemudian.
"Iya, Pak Lek." Sahut Sobri setelahnya.
"Ya ya ya, kemarin sewaktu Anggoro mampir kesini dia juga sudah cerita soal itu. Baguslah, Bri. Setidaknya Anggoro benar, dengan tidak begitu saja memberi kemudahan pada Manan. Dia ingin benar benar mendidik Manan menjadi pribadi yang mandiri." Ucap Prastowo kemudian.
"Pak Lek menyindir saya?" Sahut Sobri kemudian.
Prastowo hanya memiringkan bibirnya.
"Untuk apa menyindir, Bri. Kalau ada di kamu yang tidak sesuai, saya bakal terus terang." Sahut Prastowo setelahnya.
"Ya siapa tahu karena calon menantu Pak Lek ini tidak ada pekerjaan. Dan..."
"Hush..." Prastowo memotong ucapan Sobri, lali mengibaskan tangannya.
"Saya tahu cak cak'ane urip, Bri. Bekerja hal utama, itu juga ibadah. Tapi ada yang memang pekerjaan itu tidak semata jadi yang utama. Seperti halnya kamu. Jika kamu bekerja, pesantren juga keteteran. Kan malah jadi mudharat tho." Jelas Prastowo kemudian.
"Tapi bagaimana pun juga, apa Pak Lek tidak khawatir nantinya?" Sela Sobri.
"Khawatir soal apa?" Tanya Prastowo setelahnya.
"Khawatir soal kehidupan Dik Ajeng di kemudian hari." Sobri mengucapkan itu sembari sedikit melirik Ajeng yang duduk di sebelah Prastowo.
Mendengar itu Ajeng nampak menghela nafas.
"Sepertinya justru sampeyan yang Khawatir lho, Mas?" Sela Ajeng kemudian.
Sobri hanya sedikit menyimpulkan senyumnya.
"Sejujurnya iya, Dik." Sahut Sobri.
"Sudahlah, Bri. Buang kekhawatiran kamu itu. Khawatir itu sama dengan tidak percaya dengan ke Rahman dan ke Rahiman Allah. Kamu harusnya lebih tahu soal itu." Sahut Prastowo kemudian.
Mendengar itu Sobri sedikit termangu. Prastowo beranjak dari duduknya, lali menepuk pundak Sobri.
"Kalian lanjutkan obrolannya. Bagaimana pun besok kamu akan ikut ke Jogja. Jangan buat anak saya ini tidak bisa tidur nyenyak karena rindu." Goda Prastowo sembari berlalu dari hadapan Sobri dan anak gadisnya.
"Bapak ini lho..." Ajeng justru yang nampak tersipu mendengar ucapan Prastowo itu.
"Apa memang begitu, Dik?" Tanya Sobri pada Ajeng.
"Sampeyan Mas Mas. Hmmm..." Ajeng terlihat menggelengkan kepalanya.
"Kalau iya, kan saya jadi punya alasan untuk cepat kembali kesini lagi, Dik. Tapi kalau tidak, ya saya bisa berlama lama disana." Goda Sobri kemudian.
"Ya kalau soal itu terserah sampeyan sih, Mas. Mau lama monggo, cepat *m*onggo." Sahut Ajeng.
Sobri hanya kemudian terbahak mendengar ucapan Ajeng itu.
Tidak terlalu lama obrolan itu, Sobri tak lama melirik jam di tangannya. Hari sudah cukup malam, ia pun segera undur diri dari rumah Prastowo itu.
"Untuk besok hati hati ya, Mas." Ucap Ajeng sebelum Sobri berlalu dari hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1