BROMOCORAH

BROMOCORAH
Santri Itu Tosan Aji


__ADS_3

"Mbah Sukrono? Assalamu'alaikum, Mbah." Sapa Ajimukti setelah turun dari mobilnya.


"Wa'alaikumsalam, Nak Aji." Jawab Sukrono ramah dengan senyumnya yang khas.


"Simbah dari mana? Kok bisa ada disini?" Tanya Ajimukti kemudian.


Sukrono masih tetap dengan senyumnya, "Saya mendadak ingin berziarah ke makam Kang Zaini, Nak Aji. Rencananya mau sekalian mampir ke pondok. Kebetulan sudah sangat lama tidak kesana setelah Gus Salim wafat." Sahut Sukrono kemudian.


"Wah, Kebetulan sekali, Mbah. Mari masuk kita ngobrol di pondok saja, Mbah." Ucap Ajimukti dengan penuh keramahan.


"Loh, memangnya Nak Aji ini dari mana atau mau kemana?" Tanya Sukrono setelah itu.


"Saya dari rumah Pak Kyai kebetulan ini mau kembali ke pondok, Mbah. Jadi kita ngobrolnya di pondok saja." Ajimukti masih memaksa Sukrono.


Sukrono pun akhirnya mengangguk, Ajimukti segera membukakan pintu mobilnya dan Sukrono pun segera masuk ke dalam mobil, duduk di bangku sebelah bangku kemudi.


"Wah, sak umur umur. Lagi pisan iki Simbah naik mobil sebagus ini, Nak Aji." Puji Sukrono begitu berada di dalam mobil Ajimukti.


Ajimukti hanya tersenyum, "Ini hanya titipan, Mbah. Hanya buatan manusia. Mau bagus mau jelek. Juga hanya akan jadi rongsokan." Sahut Ajimukti kemudian.


Sukrono tersenyum, "Menungso opo ora iyo, Nak Aji. Kalau batas kontraknya sudah selesai juga hanya akan jadi bathang, jadi tulang belulang." Sahut Sukrono sembari terkekeh.


Tak berselang lama, mereka berdua pun tiba di Pondok Hidayah. Ajimukti segera mempersilahkan Sukrono masuk ke ndalem nya.


"Sekarang bangunan ini benar benar nampak megah. Saya ingat pertama kali Kang Zaini mengenalkan saya pada Gus Salim. Masjid depan itu masih langgar. Rumah masih gebyok, dan masih ditinggali Kang Zaini." Kenang Sukrono kemudian.


"Pohon Pelem besar itu." Sembari menunjuk pohon mangga di halaman pesantren. "Dulunya, saya suka ngiyup disana. Dulu ada cabangnya, suka buat penek'an bocah bocah, karena tempatnya idum." Lanjut Sukrono.


Ajimukti jadi membayangkan betapa tenteram nya masa masa itu.


"Oh, iya, Mbah. Bagaimana kabarnya Pak Gandung juga Bu Mur?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Alhamdulillah, Nak Aji. Sekarang Gandung sudah banyak sekali perubahannya. Dia sekarang sudah tidak pernah ninggal sholat. Sepertinya pertemuannya dengan Nak Dullah waktu itu banyak membuka pikirannya." Sahut Sukrono kemudian.


"Alhamdulillah kalau begitu, Mbah." Timpal Ajimukti.


"Oh, iya, Nak Aji. Tadi sebelum saya kesini, saya sempat bertemu pemuda. Sepertinya dia santri pesantren ini." Ucap Sukrono kemudian.


"Dimana, Mbah? Mbah kenalan sama santri itu?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Di pinggir jalan desa. Simbah memang sempat mengobrol tapi Simbah lupa tanya namanya." Sahut Sukrono.


"Memangnya anaknya gimana, Mbah?" Tanya Ajimukti kemudian.


Sukrono pun menyebutkan ciri ciri pemuda yang diajaknya mengobrol beberapa jam yang lalu. Dari ciri cirinya Ajimukti tahu siapa pemuda yang bertemu Sukrono itu.


"Emmm, Kalau tidak salah pemuda tadi itu bernama Sobri, Mbah. Dia anaknya Pak Lek Dullah." Ucap Sobri setelah mendengar ciri ciri santri yang di ceritakan Sukrono.


"Sobri? Anaknya Nak Dullah? Hmmm, ya ya ya, sepintas anak itu memang sangat mirip dengan Nak Sobri." Sahut Sukrono sembari mengangguk anggukan kepalanya.


"Dan kalau saya lihat. Dari tindak tanduknya juga caranya berbicara. Anak tadi itu memiliki wawasan yang luas, Nak." Lanjut Sukrono kemudian.

__ADS_1


"Memang, Mbah. Kang Sobri memang terbilang sangat mumpuni dalam penguasaan beberapa kitab. Jika boleh jujur, bahkan saya sebagai putra Pak Salim saja merasa tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan Kang Sobri." Sahut Ajimukti.


"Jangan begitu, Nak. Manusia itu punya cak cak'ane dewe. Ada jatahnya sendiri sendiri. Tidak bisa jika harus sama, Ndak Ra adil, padahal Allah itu Maha Adil." Potong Sukrono ketika itu juga.


"Benar, Mbah. Ada kelebihan pasti ada kekurangan. Ada kekurangan pasti ada kelebihan." Imbuh Ajimukti.


"Maka dari itu, Nak Aji. Kita sebagai manusia jangan sekalipun membandingkan diri kita pada manusia lain. Gusti iku Mohon Adil. Semua sudah di sesuaikan sesuai takarannya." Imbuh Sukrono.


Ajimukti mengangguk, "Simbah benar. Terima kasih sudah mengingatkan saya."


Sukrono tersenyum, "Takaran adil itu bukan berarti sama, Nak Aji. Ibarat ada gelas dan botol. Kalau kita kasih takaran yang sama, bisa jadi yang ke gelas luber, sementara yang ke botol kurang. Tapi jika diberi air sesuai wadahnya, akan jadi pas, biarpun takarannya tidak sama." Sukrono masih menambahi lagi.


"Iya, Mbah. Insya Allah wejangan Simbah ini akan jadi pangeling untuk saya ke depannya." Sahut Ajimukti.


"Simbah bukan sedang memberi wejangan, Nak Aji. Simbah pun manusia, kadang juga lupa dan berlaku sama. Simbah bilang begitu juga untuk ngelingne Simbah sendiri." Sahut Sukrono kemudian.


"Santri itu ibarat keris, Nak Aji. Tidak ada yang mau memilikinya, kecuali orang yang mengerti keistimewaan keris itu sendiri. Makanya, ketika saya melihat anak anak muda semangat nyantri, saya senang bukan main." Ucap Sukrono sembari tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi ompongnya.


"Benar, Mbah. Saya juga pernah mendengar itu. Bahkan setiap dari keris itu sendiri memiliki filosofinya sendiri." Imbuh Ajimukti.


Sukrono mengangguk anggukan kepalanya ringan. "Ya, benar sekali, Nak Aji. Meski keris ada dua jenis yaitu lurus dan berlekuk. Tapi kita sering melihat wujud keris ya yang berlekuk itu. Pada keris berlekuk, jumlah luk selalu ganjil. Makna yang dihadirkan dari jumlah ganjil tersebut adalah kondisi batin manusia harus disempurnakan dengan belajar dan beribadah agar hidup menjadi genap. Keris ber luk satu, sebagai simbol kesederhanaan. Luk tiga, sebagai simbol bahwa pemiliknya bersikap semeleh, berserah pada pemilik kehidupan. Keris disimpan dalam warangka, sarung berukuran presisi pun punya maksud. Hubungan antara keduanya dapat digambarkan melalui filosofi Manunggaling Kawulo Gusti yaitu persatuan, keselarasan, dan keharmonisan antara manusia dan Tuhannya maupun rakyat dengan pemimpinnya. Dari sanalah akan tercipta kehidupan yang damai dan sejahtera. Keris itu sejatinya hanya ageman atau piyandel, bisa diartikan busana atau pakaian untuk meningkatkan kewibawaan seseorang. Bagi orang Jawa, keris mengandung makna mendalam, bahkan terdapat filosofi alur kehidupan. Meski bagi sebagian masyarakat yang tidak memahami keris, pasti akan mengaitkan pusaka ini dengan klenik. Misalnya dengan menganggap keris itu sakti, kemudian membakar dupa dan diberi bunga-bunga. Mereka beranggapan bahwa tindakan itu memberi makan penunggunya. Padahal itu bertujuan untuk merawat dan menghormati pusaka tersebut, benda warisan leluhur dan juga empu yang telah membuatnya. Keris atau dalam bahasa Jawa disebut Tosan Aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati. Jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini memiliki kandungan yang mempunyai makna harus dihormati, karena merupakan warisan budaya nenek moyang yang bernilai tinggi." Sukrono pada akhirnya justru membeberkan detail tentang seluk beluk keris, Ajimukti hanya mendengar dan mencatatnya dalam ingatan. Bagaimana pun ia tahu, dalam hal budaya tanpa meninggalkan agama, Sukrono sangat mumpuni.


"Makanya, Nak Aji. Saya bilang santri itu ibarat keris. Santri pun harus bisa ngeluk atine. Harus berwibawa dan bisa diagem di semua kalangan sesuai kemampuan yang diajarnya." Imbuh Sukrono lagi.


"Insya Allah, Mbah. Saya akan mengingat weling Simbah ini." Sahut Ajimukti kemudian.


"Oiya, Simbah tadi kesini apa sendiri saja?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Nak Aji. Wong memang sengaja. Sengaja mau ziarah ke makamnya Kang Zaini." Sahut Sukrono.


Sukrono sedikit tertawa, "Ya mau naik apa lagi, Nak Aji. Mau ngonthel juga tenaganya sudah tidak conggah. Mau naik motor juga Simbah tidak punya motor. Jangan kan punya motor, bawa motor saja saya tidak bisa. Kemana mana ya saya ngangkot. Kebetulan angkotnya kalau yang dari pasar langsung berhenti di depan rumah."


Ajimukti mengangguk, "Yasudah kalau begitu nanti saya antar saja, Mbah." Tawar Ajimukti kemudian.


Sukrono mengibaskan tangannya, "Halah, tidak udah repot repot, Nak Aji. Wong ya banyak angkot."


"Tidak baik menolak niat baik seseorang, Mbah." Ajimukti sedikit memaksa dengan ucapannya yang meski terdengar bercanda.


"Tapi nanti yang adem adem itu mbok ya di matikan saja, Nak Aji. Simbah ndrodok, katisen." Ucap Sukrono dengan mimik wajah terlihat lucu.


Ajimukti tertawa ringan, "Iya, Mbah. Nanti AC nya saya matikan."


Disaat yang bersamaan. Diluar ndalem Ajimukti. Di teras masjid pesantren. Sobri nampak mengatur nafasnya yang memburu sembari sesekali mengusap peluh di keningnya. Wajahnya merah padam karena sengatan matahari yang cukup panas siang ini.


Imam dan Khalil yang kebetulan juga ada di teras masjid itu dan melihat Sobri, segera mendekat ke arah Sobri.


"Dari mana, Kang Sobri. Sepertinya habis panas panasan?" Tanya Khalil kemudian.


Sobri sedikit mendongak, "Oh, Kang Khalil. Iya ini, Kang. Tadi habis beli rokok trus ke sarean." Sahut Sobri.


Khalil dan Imam kompak saling melempar pandang.

__ADS_1


"Ke sarean, Kang? Ngapain? Bukankah tidak ada keluarga Kang Sobri yang dimakamkan disana?" Tanya Khalil sarat keheranan.


Imam hanya mengangguk setuju dengan pertanyaan Khalil itu.


"Tadi pas neduh, ketemu Simbah Simbah, sempat ngobrol tapi lupa tidak kenalan. Eh, saya kejar, simbahnya sudah hilang." Cerita Sobri kemudian.


Khalil dan Imam sekali lagi saling melempar pandang.


"Memangnya ada apa dengan Simbah Simbah itu, Kang?" Tanya Imam kemudian.


"Iya, Kang. Kok sampai mengejar ke sarean." Imbuh Khalil nampak bergidik.


"Lha, waktu ngobrol simbahnya bilang mau ziarah ke makam sahabatnya. Jadi ya saya susulin kesana. Eh, sampai disana sepi nyenyet." Sahut Sobri lagi.


"Jangan jangan... Demit, Kang." Celetuk Khalil semakin merinding.


Sobri mengibaskan tangannya, "Halah, sampeyan ini. Orang kakeknya tadi banyak ngasih wejangan saya kok. Saya berpikirnya malah beliau itu wali. Wali Mastur." Ucap Sobri kemudian.


Khalil dan Imam nampak terkejut mendengar kata wali.


"Ah, yang benar, Kang?" Tanya Imam memastikan.


Sobri sedikit menaikkan bahu, "Saya juga tidak tahu, Kang. Saya menduga duga saja." Sahut Sobri.


"Oh, iya, Kang. Apa Guse sudah kelihatan di ndalem?" Tanya Sobri kemudian.


"Tadi saya lihat Gus Aufanya pulang sama seseorang, Kang. Tapi tidak tahu siapa. Mereka masih mengobrol di ndalem." Jawab Khalil kemudian.


"Oh, ada tamu?" Tanya Sobri lagi.


"Sepertinya begitu, Kang." Jawab Imam.


"Tapi tadi datangnya sama Guse, Kang." Imbuh Khalil.


"Datang sama Guse?" Gumam Sobri sedikit mengerutkan kening.


"Siapa ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri lirih.


Khalil dan Imam hanya sama sama menaikkan bahu tanda mereka pun tidak tahu.


Beberapa saat setelah itu, nampak mobil Ajimukti melintas keluar gerbang pesantren.


"Itu Guse sepertinya tindak lagi, Kang." Seru Khalil sembari menunjuk mobil Ajimukti yang melaju keluar area pesantren.


Sobri yang tadinya rebahan segera saja bangun dan memastikan.


"Mau kemana itu Guse ya, Kang?" Tanya Imam.


"Entahlah. Mungkin Guse sedang ada keperluan." Sahut Sobri datar.


Namun meski begitu, sejujurnya Sobri pun sedikit menaruh rasa penasaran karena tidak biasanya Ajimukti pergi sendiri seperti itu. Kecuali untuk menemui Habiba.

__ADS_1


Seketika Sobri pun mengerutkan kening lalu kemudian mengangguk anggukan kepalanya ringan seolah dia baru saja mendapatkan sebuah jawaban.


Bersambung...


__ADS_2