BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sedulur Papat Limo Pancer


__ADS_3

Sore harinya, di teras masjid pesantren, Ajimukti dan Dullah juga Manan terlihat sedang menikmati sepoi angin sore sembari berbincang membahas soal pertemuan mereka dengan Sukrono tadi pagi.


"Untung tadi saya ikut, Jik. Kalau tidak. Wah, saya melewatkan perbincangan seru." Ucap Manan kemudian.


"Tapi saya masih tidak menyangka, Mas. Ternyata mertuanya Gandung bukan seperti yang ada dalam bayangan saya. Saya pikir kita akan bertemu seorang dengan klenik nya." Timpal Dullah sembari cekikikan.


"Iya, Lek. Bayangan saya juga begitu. Eh, ternyata malah seorang yang sangat menjunjung tinggi peninggalan leluhur. Bahkan bisa ngecakne dan tidak bertolak belakang dengan syariat." Imbuh Manan.


"Begitulah, Lek, Nan. Kadang orang lebih pandai berasumsi tentang seseorang ketimbang mencari tahu niat seseorang itu apa dan apa tujuannya. Bukan berarti saya menyalahkan Pak Gandung, tapi seperti kita tahu, Pak Gandung pun seorang yang tidak paham dan sungkan untuk bertanya langsung pada Mbah Sukro." Sahut Ajimukti.


"Ya, sejak dulu begitulah Gandung, Mas. Dia selalu berpikir dengan logika nya sendiri. Berpikir dengan apa yang dia lihat bukan apa yang dia dengar." Ucap Dullah kemudian.


"Sama waktu ketika dia memata matai sampeyan waktu itu, Mas. Begitu tahu ada saya, bukannya menyapa malah mencari kesempatan bertemu empat mata, karena di pikirnya saya sudah berubah cuma karena penampilan saya." Imbuh Dullah.


"Sepertinya memang begitu, Lek. Ya semoga saja setelah ini Pak Gandung bisa ngangsu kawruh dari Mbah Sukro. Karena kalau saya lihat, Mbah Sukro itu ilmunya mumpuni. Kebatinan beliau, wawasan dan pengamalan. Semua seolah sudah beliau kuasai, Lek." Sahut Ajimukti kemudian.


Dullah hanya mengangguk ringan menandakan dia pun setuju dengan ucapan Ajimukti itu.


"Oh, iya, Jik. Sebenarnya tadi saya pengen tanya sesuatu sama Mbah Sukro, mumpung ketemu orang yang sepertinya sangat paham kejawen dan tidak bertentangan dengan ajaran kita." Ucap Manan kemudian.


Dullah dan Ajimukti sama mengerutkan kening dan menatap lekat ke arah Manan.


"Tanya apa, Nan?" Tanya Ajimukti penasaran.


Manan tertawa sedikit sebelum berkata, "Itu lho, Jik. Soal istilah orang Jawa sedulur papar limo pancer, Jik. Kamu pernah dengar nggak? Soalnya Simbah ku dulu sering ngomong itu, sampai sekarang saya masih nggak paham apa maksudnya sedulur papat limo pancer itu, Jik." Manan kini meringis.


"Oh, itu? Ya sering banget lah dengar, Nan." Sahut Ajimukti.


"Itu tuh saudara kita waktu dilahirkan, Nan." Imbuh Dullah.


"Iya tahu, Lek. Tapi maksudnya itu saudara yang bagaimana gitu lho, Lek. Nyata apa cuma kiasan." Sahut Manan nampak geregetan.


Dullah tertawa, Manan terlihat jengkel.


"Setahu saya ya mereka itu, Kakang kawah Adi Ari Ari, Nan. Wis, gitu aja." Sahut Dullah ketus.


Manan nampak geleng geleng kepala. "Intinya ya Lek Dul nggak tahu berarti?" Manan ngeyel.


Dullah kembali meringis.


Disaat Dullah dan Manan berdebat, beberapa santri nampak menghampiri mereka. Membuat Manan dan Dullah menghentikan perdebatannya dan memandang ke arah para santri itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." Sapa mereka serempak lalu saling mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Wa'alaikumsalam..." Sahut Ajimukti, Dullah dan Manan yang juga kompak sambil menyambut uluran tangan mereka.


"Ada apa ini, Kang?" Tanya Ajimukti setelah berjabat tangan.


"Nggak ada apa apa, Kang. Ya mau gabung saja kalau boleh." Jawab salah satu santri yang diketahui bernama Hamid itu.


"Wah, ya boleh, Kang." Sahut Ajimukti ramah.


"Mereka ini kamarnya sebelahan sama kamar saya, Jik. Beberapa kali pengen ikut ngobrol. Saya ajak pada nggak mau. Sungkan katanya." Celetuk Manan.


"Iya Kang Aji. Saya dan teman teman sebenarnya pengen bisa ikut ngobrol Kang Aji dan yang lain. Tapi saya canggung. Soalnya dulu pernah meremehkan sampeyan." Ucap Hamid lagi.


Ajimukti tersenyum, "Santai mawon, Kang. Disini semua saudara. Jadi jangan sungkan jangan canggung, Kang." Sahut Ajimukti terdengar begitu ramah.


Mereka hanya mengangguk malu. Tapi sambutan ramah Ajimukti, membuat mereka akhirnya pun terbiasa.


"Kapan kita kesana lagi, Jik?" Ucap Manan kemudian disela sela perbincangan.


"Kemana, Nan?" Tanya Ajimukti tidak paham maksud dari pertanyaan Manan itu.


Manan menepuk jidat, "Ya ke rumah Mbah Sukro lagi lah, Jik. Mau tanya itu tadi." Sahut Manan gemas.


"Iya, Jik. Biar paham." Jawab Manan datar.


"Oh itu, Kang. Saya juga sering dengar istilah itu. Tapi juga nggak paham maksudnya." Sahut santri bernama Ilyas.


"Saya juga pernah dengar dari Simbah saya. Tapi juga nggak ngerti itu maksudnya apa?" Imbuh santri bernama Yudho sambil melengkungkan bibirnya.


"Sama kalau gitu." Timpal Hamid yang juga ikut tersenyum malu malu.


"Sedulur papat limo pancer itu sebenarnya semua yang ada dan mengiringi kita ketika kita lahir, Kang. Makanya Simbah Simbah dulu bilang mereka itu saudara. Among kalau kata Simbah saya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Loh, Kang Aji tahu?" Tanya Ilyas.


"Nggak begitu tahu juga sih, Kang. Hanya sedikit mengerti maksudnya saja." Sahut Ajimukti.


"Menurut kamu itu gimana, Jik? Siapa sedulur papat limo pancer itu, Jik?" Imbuh Manan terlihat tidak sabar.


"Mereka itu Watman, Wahman, Rahman, Ariman, dan Pancer itu sendiri." Sahut Ajimukti kemudian.

__ADS_1


Semua yang ada disitu saling melempar pandang karena tidak tahu siapa yang Ajimukti sebutkan itu.


"Mereka itu siapa, Jik? Terus dimana? Apa wujudnya? Atau mereka itu wujud kasat?" Tanya Manan memberondong.


"Iya, Kang. Mereka itu siapa?" Imbuh Hamid.


Yang lain juga terlihat penasaran untuk tahu siapa mereka itu. Siapa nama nama yang disebutkan Ajimukti itu.


Ajimukti menghela nafas sebelum menjelaskan, "Watman itu, Wat nya dari tembung Khawatir yaitu rasa cemas. Rasa cemas dari seorang ibu ketika hendak melahirkan anaknya. Seorang ibu harus berjuang antara hidup dan matinya dalam proses kelahiran si jabang bayi. Meski paling kasat mata tapi Watman ini paling jelas. Watman adalah saudara tertua yang menyiratkan betapa utamanya sikap menaruh hormat dan sujud pada orang tua khususnya ibu. Welas asih, perhatian dan doa ibu adalah kekuatan yang akan mengiringi perjalanan hidup sang anak. Makanya, ada pepatah mengatakan bahwasannya Surga itu di telapak kaki seorang ibu. Bahkan sering kita dengar bahwa Rasulullah pun memerintahkan kita untuk tiga kali lipat berbakti pada ibu kita dan hanya sekali untuk ayah kita." Ucap Ajimukti.


Semua yang ada di teras masjid pesantren mengangguk seolah paham akan maksud penjelasan Ajimukti itu.


"Lalu untuk yang lainnya, Jik?" Tanya Manan tidak sabar.


Ajimukti tersenyum, "Saya lanjutkan ya?"


"Iya, Kang." Sahut beberapa santri itu juga terlihat kian penasaran.


"Yang selanjutnya Wahman, Wah nya itu dari kata kawah atau air ketuban. Seperti kita tahu, Nan. Fungsi air ketuban adalah menjaga agar janin dalam kandungan tetap aman dari goncangan. Ketika sebuah proses kelahiran terjadi, air ketuban pecah dan kemudian musnah menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara penjaga dan pelindung.


Sementara Rahman, Rah nya itu dari kata darah. Yaitu darah persalinan. Darah adalah sebuah gambaran kehidupan, nyawa dan juga semangat. Darah juga gambaran kesehatan jasmani dalam hidup seseorang.


Sementara yang ke empatnya, Ariman, Ari nya itu dari tembung ari-ari atau plasenta. Dan fungsi ari-ari itu sebagai saluran makanan bagi janin dalam kandungan. Dan ke empat empatnya itu saudara tak kasat mata tapi keberadaannya nyata dan tak bisa kita pungkiri." Ucap Ajimukti melanjutkan.


"Itu yang sedulur papat nya ya, Kang. Lalu untuk pancer nya sendiri itu maksudnya bagaimana, Kang?" Tanya Hamid kemudian.


"Iya, Kang. Biar kami benar benar paham gitu lho, Kang!" Imbuh Ilyas nampak bersemangat.


Ajimukti melengkungkan bibirnya. Untuk sejenak, ia kembali menghela nafasnya, "Pancer itu artinya Pusat, Kang. Lalu yang dimaksud pusat itu, ya si jabang bayi itu sendiri. Pancer atau Pusat juga dimaknai sebagai Ruh yang ada dalam diri manusia, yang akan mengendalikan kesadaran seseorang agar tetap eling lan waspodo, ingat pada Sang Pencipta dan menjadi insan yang bijaksana. Jadi sedulur papat berperan sebagai potensi / energi aktif, sedangkan pancer sebagai pengendali kesadarannya. Ya, kurang lebih begitu, Kang. Secara falsafah Jawa nya." Ucap Ajimukti.


"Wah, keren, Jik. Nggak nyangka kamu malah tahu." Puji Manan nampak puas dengan penjelasan Ajimukti itu.


"Itu saya juga tahu nya dari Simbah saya, Nan." Sahut Ajimukti.


"Enak, Kang Aji. Bisa di gamblangin sama simbahnya. Nah, kalau saya boro boro." Sahut Ilyas kemudian tertawa.


"Tapi... Ada tapinya ini, Kang. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwasannya, falsafah Jawa selalu sarat dengan perlambangan, sehingga ia kaya akan interpretasi tanpa mengeliminir substansinya. Demikian pula falsafah Sedulur papat limo Pancer, Kang. Secara normatif dapat berupa perlambangan untuk makna yang jauh lebih hakiki lagi. Sedulur papat, menggambarkan elemen dasar dalam diri manusia atau ego nya yaitu Cipta, Rasa, Karsa dan Karya. Cipta adalah pikiran, sumber dari segala logika, ide, imajinasi, kreativitas dan ambisi yang berwujud pikiran, dan itu adalah manipulasi otak atas informasi untuk membentuk konsep, penalaran dan pengambilan keputusan. Lalu rasa. Rasa adalah emosi atau reaksi afekif atas peristiwa dan pengalaman hidup. Berbagai ekspresi emosi begitu kaya, Kang. Bahkan jauh lebih kaya daripada bahasa yang dapat mengungkapkannya. Sementara Karsa. Karsa adalah kehendak atau niat, yaitu motivasi dalam diri individu untuk melaksanakan keputusan dan rencananya. Seseorang dapat termotivasi oleh rangsangan dari luar, namun sebaliknya juga dapat dari dalam dirinya sendiri. Dan yang terakhir Karya. Karya adalah tindakan, yaitu aspek psikomotor dalam diri individu yang menghasilkan suatu wujud konkrit, sehingga dapat dikenali dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Nah, keempat elemen dasar dalam diri manusia itu akan menjadi efektif, apabila manusia tersebut dikontrol oleh Pancer. Dan Pancer disini, diartikan sebagai kunci yang disebut dengan ke-sa-da-ran, yang biasa diistilahkan dengan eling. Nah, Di sinilah letak perjuangan spiritual sesungguhnya, Kang. Ketika katup-katup kesadaran mampu dibuka, maka potensi empat elemen dasar manusia akan menjadi kekuatan quantum yang luar biasa, memiliki daya ledak, ibaratkan lah begitu. Mampu menjadikan seseorang menjadi insan seutuhnya, sukses lahir batin, satria pinandhita sinisihan wahyu!" Ucap Ajimukti mantap.


Seketika semua yang menatap Ajimukti berdecak kagum. Bahkan Dullah pun yang sejak Ajimukti masih kecil selalu mendampinginya, takjub mendengar wawasan Ajimukti yang seluar biasa ini.


"Itu secara falsafah Jawanya ya, Kang. Tapi sebenarnya, jika kita mau ngoncek'i menurut ajaran kita juga dapuk, Kang." Ucap Ajimukti setelahnya.

__ADS_1


Kembali mereka memusatkan pandangan ke arah Ajimukti. Tak ingin melewatkan apa yang akan Ajimukti sampaikan kali ini.


Bersambung...


__ADS_2