BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kalung Kayu Stigi


__ADS_3

"Loh ini apa, Mbah. Ini terlihat seperti bukan benda pusaka?" Tanya Ajimukti begitu melihat isi di dalam kotak kecil yang baru saja dibuka Sukrono itu.


Sukrono nampak tertawa, "Ya, memang semua ini bukan benda pusaka, Le. Tapi ini semua akan sangat berguna bagi sebagian orang orang yang mengaku dirinya paranormal lah dukun lah atau orang pinter. Ini bisa menjadi media untuk meyakinkan orang orang bahwa para para itu linuwih." Sukrono mencoba menjelaskan sedikit.


"Maksudnya bagaimana, Mbah?" Tanya Manan yang begitu penasarannya.


Sukrono tidak menyahut, namun tangannya terlihat menuangkan sesuatu ke telapak tangan satunya dari sebuah botol kecil. Dari botol itu nampak keluar serbuk serbuk halus. Tak lama Sukrono menetesi serbuk itu dengan beberapa tetes air lalu mencampurnya.


"Kita tunggu sebentar, nanti kalian akan lihat sendiri apa yang akan terjadi." Gumam Sukrono kemudian. Semua mata masih tertuju pada tangan sukrono dengan seksama.


Tak lama Sukrono kembali mengusap serbuk yang sudah dicampur dengan beberapa tetes air tadi. Dan seketika dari tangan sukrono keluar asap halus. Semua yang ada di ruangan itu terperanjat karena kaget. Itu seperti sebuah keajaiban.


"Itu tadi bubuk apa, Pak? Bapak ini mbok jangan bikin si Mur khawatir to, Pak." Ucap Mursini dengan wajah cemas melihat apa yang dilakukan bapaknya itu.


Sukrono justru tersenyum, "Seperti itu lah trik yang digunakan mereka untuk menciptakan kesan asap keluar dari tangan mereka ketika mereka seolah olah merapal mantra."


Gandung mengerutkan kening. Dia ingat dia pernah melihat itu ketika pernah mengantar tetangganya yang katanya kena santet. Tidak menyangka kalau semua itu hanya trik orang pintar itu.


"Ini serbuk apa, Mbah? Kalau tidak salah, apakah ini itu serbuk batubara?" Ucap Ajimukti mengendus botol wadah serbuk itu disimpan.


Sukrono tersenyum, "Kamu memang benar, Le. Ini itu serbuk batubara." Sahut Sukrono kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Ya ya ya, benar ini cuma reaksi. Karena batubara sifatnya panas, jadi jika terkena air ia akan menguap."


Sukrono kembali tersenyum, "Kamu memang benar, Le. Begitulah mereka bekerja. Menggunakan reaksi dari serbuk batu bara ini."


Setelah itu Sukrono mengambil botol yang lebih kecil. Botol itu nampak seperti botol bibit minyak. Dari warna cairan di dalamnya, Ajimukti mengira itu minyak jafaron.


"Apa itu minyak jafaron, Mbah?" Tanya Ajimukti memastikan.


Lagi lagi Sukrono tersenyum, "Kamu pun mikirnya ini minyak jafaron to, Le?" Sukrono justru bertanya itu ke Ajimukti.


Ajimukti hanya mengangguk, dan kini Sukrono terdengar tertawa, membuat yang lain mengerutkan kening tidak mengerti.


"Ini itu sebenarnya hanya alcohol yang diberi pewarna, Le. Biar kesannya mirip minyak jafaron." Sukrono menyuruh Ajimukti mencium baunya.


Ajimukti mencium cairan di botol itu, dan benar itu memang alcohol. Manan dan Dullah yang penasaran pun ikut mencium cairan di botol kecil itu.


"Benar, Jik. Ini alcohol." Imbuh Manan.

__ADS_1


Sukrono kini nampak mengambil selembar tisu, lalu kembali menuang sedikit serbuk batubara itu ke dalam tisu, setelahnya ia membungkus serbuk batu bara itu dengan menggulung selembar tisu itu dan mengikatnya dengan benang.


"Itu untuk apa, Mbah?" Tanya Manan penasaran.


Sukrono mengangkat gulungan tisu berisi serbuk batubara itu ke depan wajahnya.


"Kalian pasti tidak tahu ini apa?" Sukrono justru melempar pertanyaan pada mereka yang penasaran.


Semua menggeleng kecuali Gandung.


"Bukankah itu untuk mencari tahu apa seseorang sedang di santet atau tidak, Pak? Soalnya pas saya nganter Kang Joyo kemarin juga begitu." Sahut Gandung merasa tidak asing dengan yang dipegang bapak mertuanya itu.


"Lalu apa lagi yang kamu tahu?" Tanya Sukrono pada Gandung setelahnya.


"Itu nanti dimasukkan ke botol minyak dan tiba tiba botol minyaknya mlethos, Pak." Sahut Gandung ingat betul saat dirinya mengantar tetangganya kala itu.


"Kamu benar, Ndung. Dan begini inilah mereka bekerja." Sukrono memasukkan gulungan tisu yang berisi serbuk batu bara itu kedalam botol alcohol, lalu meletakkannya di lantai.


Semua pandangan tertuju ke botol kecil itu. Dan tak lama setelahnya, botol kecil itu meledak begitu saja. Semua yang menyaksikan itu tercengang, lebih lebih Gandung dan istrinya, Mursini.


"Sekarang kalian paham, kan? Tidak ada ilmu semacam itu. Semua adalah trik yang digunakan untuk memperdaya kalian." Ucap Sukrono kemudian kembali duduk di kursinya.


Sukrono mengelus punggung anaknya itu. "Sudahlah. Wong bapak iki cuma seneng saja, Mur. Nguri uri kabudayan sama peninggalan leluhur kita. Nggak ada itu istilah bapak nduwe cekelan atau khodam dan lainnya. Wong gini gini bapak juga nggak pernah ninggalin sholat. Malah kamu sama Gandung nggak pernah bapak lihat kalian itu sembahyang." Ucapan Sukrono itu seketika membuat Gandung malu dan tertunduk tanpa bisa berkata apa pun. Mursini pun juga tak berbeda dengan suaminya.


"Sudah sudah sudah. Saya terlalu banyak ngoceh ini." Ucap Sukrono mencairkan suasana di omah ndalem itu. "Sebenarnya sejak tadi ada yang ingin sekali saya tanyakan padamu, Nak Dullah." Seketika Sukrono beralih kepada Dullah.


Dullah mengerutkan keningnya, "Tanya apa, Mbah? Silahkan! Mbah Sukro jangan sungkan." Ucap Dullah kemudian, meski dirinya pun sebenarnya juga penasaran dengan yang ingin Sukrono tanyakan padanya.


"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi sudah sangat lama sekali. Tapi entah apa benar atau kebetulan saja Nak Dullah mirip dengan yang saya maksud." Sukrono menghela nafasnya membuat seisi ruangan itu dipenuhi tanda tanya.


"Apa Nak Dullah beberapa puluh tahun silam pernah tinggal di Pondok Pesantren Hidayah di desa sebelah?" Tanya Sukrono kemudian.


Seketika Dullah, Ajimukti juga Manan menatap tajam pada Sukrono. Kali ini tak hanya Dullah. Ajimukti dan Manan pun dipenuhi dengan rasa penasaran.


"Be...benar, Mbah. Apa Mbah Sukrono tahu sesuatu?" Tanya Dullah begitu ingin segera tahu apa maksud Sukrono saat ini.


Tapi tiba-tiba Sukrono justru tertawa, dan semakin membuat mereka penasaran. Dullah melempar pandang ke arah Ajimukti dan sedikit menaikkan pundaknya, begitu juga Ajimukti.


"Ada apa, Mbah?" Tanya Dullah kemudian.

__ADS_1


"Tidak, Nak Dullah. Saya cuma merasa tidak asing saja sama Nak Dullah ini. Kebetulan dulu saya sempat ngangsu ilmu disana, sama Gus Salim. Ya, walaupun paling tua tapi saya semangat, Nak. Karena saya menyadari saya ini wong bodho." Ucap Sukrono kemudian dengan sedikit merendah.


"Mbah Sukro kenal Kang Salim?" Tanya Dullah kemudian.


"Dulu sangat akrab, Nak. Pernah beberapa kali main kesini. Dan kalung ini..." Sukrono memperlihatkan kalung berbandul kayu stigi yang baru saja ia kenakan. "Ini kalung pemberian Gus Salim."


Dullah menatap tajam kalung itu. Mungkin kalung itu pernah dipakai Salim ketika dirinya masih menyandang status seorang Bromocorah. Mungkin Anggoro atau Prastowo tahu sesuatu tentang kalung itu.


"Dulu saya berpikir Gus Salim itu masih bujang, Nak. Saya sampai berpikiran mau menjodohkan Si Mur ini sama Gus Salim. E, ternyata Gus Salim sudah berkeluarga di Jogja." Cerita Sukrono sembari tersenyum


Mursini yang mendengar itu pun sontak tersipu malu, sementara Gandung melirik istrinya itu dan menyenggol lengannya membuat Mursini meringis. Sukrono diam diam mengamati anaknya dan anak menantunya itu.


"Tapi, Alhamdulillah. Mursini akhirnya bertemu dengan Gandung ini. Meski dengan ekonomi yang pas pasan. Tapi saya tahu bagaimana Gandung selalu berusaha mencukupi Mursini. Saya tahu bagaimana Gandung berjuang dan bertanggung jawab." Ucap Sukrono kemudian.


Gandung pun kini gantian yang terlihat tersipu mendapat pujian seperti itu dari mertuanya. Dan bisa di bilang ini pertama kalinya Sukrono memuji Gandung setulus itu.


"Benar, Mbah Sukro. Waktu itu Kang Salim memang sudah menikah. Dan ini..." Dullah menunjuk Ajimukti. "Dia adalah putra tunggal Kang Salim."


Seketika Sukrono, Gandung dan Mursini terbelalak. Sukrono hampir hampir tidak percaya bahwa yang bertamu di rumahnya kali ini adalah seorang putra dari gurunya.


"Jadi, Nak Aji ini?" Tanya Sukrono memastikan.


Ajimukti hanya mengangguk ringan dengan sedikit melengkungkan bibirnya.


"Ya, Allah ternyata dunia ini sempit sekali." Gumamnya kemudian.


Perbincangan di omah ndalem Sukrono itu pun kini kian terasa hangat hingga waktu menjelang pertengahan siang. Dullah, Ajimukti dan Manan berniat untuk undur diri mengingat sebentar lagi dhuhur.


"Nak Aji, ini. Ini dari Gus Salim. Dan sekarang saya serahkan ke njenengan." Di halaman, Sukrono melepas kalung yang ia kenakan tadi dan menyerahkannya pada Ajimukti. Seketika Ajimukti memeluk tubuh renta Sukrono.


"Terima kasih banyak, Mbah. Terima kasih sudah menjaga ini dengan baik. Saya akan menjaga peninggalan bapak ini." Ucapnya kemudian.


Sukrono hanya tersenyum. Rasanya ia seperti bertemu Gus Salim sekali lagi.


Gandung sudah siap dengan becaknya. Tetangga Mbah Sukro yang juga tukang becak sudah di panggil Mursini untuk menemani Gandung mengantar Dullah dan yang lainnya.


Mereka kini sudah meninggalkan pekarangan rumah Sukrono. Dari kejauhan Sukrono nampak masih memandang kepergian tamu tamunya itu hingga mereka tidak lagi terlihat oleh mata tuanya.


"Dul, setelah ini saya mau ngaji. Istri saya juga. Nggak perduli mau sudah terlambat atau gimana. Pokoknya kamu harus bimbing saya, Dul. Kamu harus jadi guru saya." Ucap Gandung ditengah perjalanan sembari bersemangat mengayuh pedal becaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2