BROMOCORAH

BROMOCORAH
Menjemput Habiba


__ADS_3

Mobil bercat silver itu berhenti di teras masjid pesantren. Di sana banyak para santri yang sepertinya juga akan pulang tahun ini.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai, Jik." Ucap Manan sembari menggeliat meregangkan otot otot tubuhnya.


"Capek, Nan?" Tanya Ajimukti sembari melepas safety belt nya.


"Nggak lah, Jik. Cuma agak kaku saja ini badan.


Ajimukti tersenyum, "Kamu mau ikut ke dalam atau mau menunggu disini saja, Nan?" Tanya Ajimukti ketika akan keluar dari mobilnya.


"Emmm, saya tunggu disini saja ya, Jik. Sekalian rokok'an dulu." Sahut Manan kemudian.


"Yasudah kalau begitu saya masuk dulu." Ucapnya sembari membuka pintu mobil dan bergegas melangkah ke arah pintu menuju pesantren.


Setibanya di ruang di dalam pesantren Ajimukti segera menuju ke ruang informasi pesantren. Di sana ia kembali bertemu santri pengurus yang waktu itu. Setelah beberapa saat saling sapa. Ajimukti pun segera mengatakan tujuannya.


"Emmm, Habiba ya, Gus. Sebentar saya cari datanya dulu." Ucap santri itu sembari melihat data santri yang sudah pulang di layar komputernya.


"Sepertinya belum, Gus. Habiba nya masih di dalam itu. Apa perlu saya minta tolong santri untuk memanggilkan." Tawar santri pengurus itu kemudian.


"Boleh, Kang. Maaf merepotkan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Ah, sama sekali tidak merepotkan, Gus. Ampun sungkan ngoten." Ucap santri itu ramah kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu lalu terdengar memanggil salah satu santriwati.


Setelah beberapa saat menunggu di ruang itu. Terdengar pintu di ketuk seseorang di barengi suara salam dari seorang wanita yang suaranya begitu tak asing untuk Ajimukti. Ajimukti pun segera memutar badannya untuk memastikan suara orang diluar pintu itu.


"Kang Aji. Emmm, maaf. Maksud saya Gus Aufa." Sapa Habiba begitu melihat sosok Ajimukti yang duduk di kursi tamu ruang pengurus itu.


Ajimukti hanya tersenyum lalu berdiri.


"Maaf, Kang. Saya mau mengobrol dulu dengan Habiba di luar." Ucap Ajimukti pada santri pengurus itu setelahnya.


"Oh, iya, Gus. Monggo Monggo." Sahut santri pengurus itu terdengar begitu ramah.


Ajimukti pun segera menemui Habiba dan mengajaknya menjauh dari ruang pengurus pesantren itu.


"Kenapa njenengan bisa ada disini, Gus?" Tanya Habiba sedikit heran.


"Pak Kyai belum menjemput?" Tanya Ajimukti kemudian.


Habiba menggeleng, "Belum, Gus. Mungkin Abah masih sibuk atau mungkin tidak sempat menjemput." Ucapnya kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Berarti nggak pulang hari ini sampeyan, Ning?" Tanyanya kemudian.


"Pulang, Gus. Mungkin kalau Abah memang tidak bisa menjemput, saya pulang naik bis." Jawab Habiba sedikit menunduk.


"Sampeyan telfon Pak Kyai. Tanyakan beliau menjemput tidak. Kalau ternyata beliau jemput, tapi hanya terlambat saja, sedang nanti sampeyan sudah baik bis, kan kasihan Pak Kyai sudah jauh jauh kesini." Ucap Ajimukti sembari menyodorkan ponselnya.


"Tidak usah, Gus. Nanti saya bisa pakai fasilitas pesantren untuk telfon Abah." Sahut Habiba. Habiba tidak bermaksud menolak tawaran Ajimukti hanya saja ia tidak ingin Abahnya tahu kalau saat ini Ajimukti sedang menemuinya di sini.


"Kenapa? Takut Pak Kyai marah karena tahu sampeyan hubungan dengan saya?" Tanya Ajimukti menebak.


Habiba tersentak, ia begitu kaget saat tebakan Ajimukti benar. Seolah Ajimukti tahu apa yang ada dalam pikirannya.


Ajimukti kemudian tersenyum lalu segera mengamati layar ponselnya yang menyala dan terlihat seperti sedang mencari nomor telfon seseorang.


"Saya tidak tahu nomor baru Pak Kyai. Tapi saya tahu seseorang yang bisa menghubungkan saya dengan Pak Kyai." Ucap Ajimukti kemudian.


Habiba sekali lagi terkejut. Selama ini, apakah Ajimukti sudah mencari alamat tinggalnya yang baru. Habiba pun penasaran, siapa sebenarnya orang yang dimaksud Ajimukti.


Ajimukti sudah begitu saja menempelkan ponselnya di telinga, Habiba masih menatap heran, siapa yang sebenarnya di telfon Ajimukti saat ini.


"Assalamu'alaikum, Gus. Wonten dawuh?" Ucap seseorang dari seberang.


"Wa'alaikumsalam, Kang Godril. Anu, Kang Godril. Apa sampeyan ini lagi di rumah? Saya mau sedikit merepotkan sampeyan niku." Ucap Ajimukti kemudian.


Dari seberang Ari Godril yang ternyata yang di telfon Ajimukti terdengar terkekeh, "Nggeh, Gus. Pripun. Apa saya pernah merasa direpotkan tho, Gus? Sampeyan niku lho." Ucapnya setelahnya.

__ADS_1


"Sampeyan tolong lihat ke ndalem nya Kyai Aminudin, Kang. Apa Kyai Aminudin ada atau tidak. Kalau ada, tolong berikan sebentar telfon sampeyan ini sama beliau, ada yang ingin saya bicarakan sama beliau, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


"Oh, Nggeh, Gus. Siap." Sahut Ari Godril cepat.


Ajimukti menatap Habiba sembari tersenyum.


"Kenapa sampeyan nampak keheranan begitu, Ning? Kang Godril ini tetangga sebelah sampeyan, kebetulan dia ini santri saya di Jogja." Ucap Ajimukti kemudian.


Habiba terlihat semakin kaget dan nampak menelan ludah. Padahal Kyai Aminudin sudah mencari kontrakan yang cukup jauh dari Pondok Hidayah, tapi kenapa justru ada kebetulan seperti ini. Habiba semakin tidak habis pikir.


Tak lama pun terdengar kembali suara dari seberang.


"Ada apa kamu mencari saya sampai menyuruh orang?" Tanya suara serak dari seberang.


"Oh, Assalamu'alaikum, Kyai." Ucap Ajimukti setelah memastikan pemilik .suara itu orang yang dicarinya yaitu Kyai Aminudin.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa?" Tanya Kyai Aminudin mengulangi pertanyaannya pada Ajimukti.


"Emmm, Kyai tidak menjemput Habiba nopo pripun?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Apa urusannya dengan kamu?" Tanya Kyai Aminudin terdengar acuh dan sinis.


"Ah, maaf, Kyai. Kebetulan saya sekarang sedang bersama Ning Biba. Apa Kyai mau bicara dengan Ning Biba?" Tanya Ajimukti lagi.


"Apa? Kamu di Pacitan? Berikan telfonnya pada Habiba!" Ucap Kyai Aminudin terdengar setengah terkejut.


"Tentu, Kyai." Sahut Ajimukti lalu kemudian menyodorkan telfonnya pada Habiba.


"Pak Kyai ingin berbicara dengan sampeyan." Ucap Ajimukti pada Habiba.


Habiba sedikit ragu menerima telfon itu meski akhirnya pun menerimanya dan mulai berbicara dengan Kyai Aminudin.


"As...Assalamu'alaikum, Bah." Ucap Habiba dengan suara sedikit ditahannya sembari sesekali melirik Ajimukti.


"Wa'alaikumsalam, Nduk. Maaf Abah sepertinya tidak bisa menjemput kepulangan kamu kali. Seperti yang kamu tau sendiri, Nduk. Abah harap kamu bisa mengerti." Ucap Kyai Aminudin dari seberang pada Habiba.


"Abah minta maaf, Nduk." Ucap Kyai Aminudin sekali lagi.


"Tidak apa apa, Bah. Habiba mengerti. Yasudah Abah. Habiba siap siap dulu." Ucap Habiba menutup telfonnya, kemudian kembali menyerahkan ponsel itu pada Ajimukti.


"Sudah, Ning?" Tanya Ajimukti sembari menerima telfon itu.


Habiba kemudian hanya mengangguk.


"Sampeyan siap siap dulu, Ning. Kita pulang sekarang. Biar tidak kemalaman sampai rumah." Ucap Ajimukti setelah itu.


Habiba tersentak, "Kita? Apa maksud njenengan dengan kita?" Tanya Habiba kemudian.


Ajimukti tersenyum, "Sudah, Ning. Saya antar sampeyan pulang. Saya kesini karena memang tahu sampeyan akan pulang." Ucapnya setelah itu.


"Maaf, Gus. Sepertinya tidak usah. Saya akan ke terminal saja. Maaf sudah merepotkan." Sahut Habiba.


Ajimukti lagi lagi tersenyum, "Kenapa, Ning? Takut Kyai Aminudin akan duko? Tenang saja, Ning. Seperti yang sampeyan tahu sendiri tadi. Apa Pak Kyai terdengar marah? Tidak kan? Emmm, dan lagi saya kesini tidak sendiri, ada Manan menunggu di luar." Ucap Ajimukti menjelaskan.


"Tapi, Gus..."


"Sudah, Ning. Tapinya disimpan dulu saja. Saya ke ruang pengurus dulu untuk berpamitan. Nanti sampeyan langsung keluar saja. Ada Manan disana. Saya parkir di depan masjid." Ucap Ajimukti kemudian melangkah kembali ke ruang pengurus tanpa menunggu jawaban Habiba. Habiba pun segera menyusul kembali ke dalam pesantren dan mengambil barang barangnya di kamar yang memang sudah di packing sejak semalam.


Tak lama Habiba pun keluar dan segera berjalan ke arah halaman masjid. Benar seperti kata Ajimukti, di sana Manan terlihat sedang bersandar pada sebatang pohon di halaman parkir masjid sembari menikmati sebatang rokok. Habiba ragu untuk mendekat.


"Kenapa berhenti, Ning. Mana, saya bawa barangnya, biar saya masukan ke dalam mobil. Kebetulan di dalam juga ada titipan oleh oleh dari Sibu." Ucap Ajimukti yang tahu tahu sudah berada di belakangnya.


Habiba terkejut, lalu menoleh ke arah Ajimukti. "Tidak usah, Gus. Saya sudah merepotkan. Saya bawa sendiri saja." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti tersenyum, "Kenapa harus sesungkan ini sih, Ning?"


Ajimukti segera meraih ransel besar dari tangan Habiba. "Monggo, Ning." Ucapnya kemudian sembari mempersilahkan Habiba jalan.

__ADS_1


Dengan langkah berat Habiba pun mulai mengayunkan kakinya menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Manan. Manan yang melihat Ajimukti datang bersama Habiba pun sempat terkejut, lalu segera berdiri dan membuka pintu mobil.


"Lama ya, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ah, tidak, Jik." Sahut Manan sembari membantu Ajimukti memasukkan barang barang Habiba.


"Ning Biba apa kabar?" Sapa Manan kemudian.


"Alhamdulillah." Sahut Habiba sedikit melotot ke arah Manan.


Manan hanya menahan senyumnya, ia ingat Habiba sudah mewanti wanginya untuk tidak lagi memanggilnya Ning.


"Manan, biar mobilnya saya yang bawa saja. Mungkin Ning Biba akan canggung kalau harus mengobrol dengan saya. Tapi kalau sama kamu mungkin tidak, biar Ning Biba juga nggak sepaneng." Ucap Ajimukti kemudian.


"Wah, jangan, Jik. Biar saya saja yang bawa." Manan menolak tawaran Ajimukti kali ini.


"Hmmm, yasudah saya ikut duduk di depan saja kalau begitu. Biar kesannya kamu tidak seperti sopir." Sahut Ajimukti sedikit nyengenges.


Manan hanya tertawa.


"Ning Biba tidak apa apa kan duduk di belakang sendiri?" Tanya Ajimukti beralih pada Habiba.


Habiba hanya mengangguk ringan. "Iya, Gus. Tidak apa apa. Maaf sudah merepotkan." Ucapnya sekali lagi.


Ajimukti hanya tersenyum. "Yasudah, silahkan, Ning." Ucap Ajimukti setelah itu sembari membukakan pintu mobil untuk Habiba. Dengan perlakuan Ajimukti ini membuat ada yang terasa berdesir di ulu hatinya, bahkan rasanya seluruh tubuhnya lemas seketika.


Tak berselang lama, mereka pun akhirnya berlalu dari halaman parkir masjid pesantren itu. Habiba cukup canggung ketika harus satu mobil dengan Ajimukti seperti saat ini. Ajimukti menyadari itu. Ia sesekali hanya melirik Habiba yang terlihat salah tingkah juga ekspresi wajahnya yang nampak tegang dari kaca spion di depannya.


"Sebentar lagi masuk waktu Dzuhur, Nan. Kita nanti cari rumah makan yang ada musholanya. Kita sholat sekalian makan siang dulu saja." Ucap Ajimukti begitu di tengah tengah perjalanan.


"Oke, Jik. Saya cari dulu. Sepertinya beberapa kilometer di depan sana ada warung makan cukup besar." Sahut Manan dan kemudian menambah kecepatan laju mobilnya.


Tak lama mereka pun tiba di rumah makan yang Manan maksudkan. Setelah Manan menepi dan memarkir mobilnya, mereka pun segera keluar dari dalam mobil.


"Kita sholat dulu ya, Ning. Sekalian makan siang." Ucap Ajimukti pada Habiba.


"Sampeyan sama Manan saja, Gus. Kebetulan saya sedang tidak sholat." Sahut Habiba malu malu sembari tertunduk.


Ajimukti paham apa maksudnya, kemudian ia tersenyum, "Yasudah kalau begitu, sampeyan tunggu di dalam warung saja sementara kami tinggal sholat, Ning." Ucapnya kemudian.


"Tidak usah, Gus. Tadi saya tadi sudah sarapan sama teman teman." Sahut Habiba.


"Kan sarapan. Sekarang waktunya makan siang, Ning. Kemungkinan Maghrib kita baru tiba di rumah. Saya tidak ingin kepercayaan yang sudah diberikan Kyai Aminudin pada saya, saya sia siakan dengan membiarkan putrinya kelaparan." Ucap Ajimukti sembari melempar sebuah senyuman.


"Iya, Ning. Sampeyan tunggu di dalam warung saja." Imbuh Manan.


"Sholat butuh kekhusyukan, Ning. Jangan buat saya tidak khusyuk sholat karena memikirkan sampeyan disini sendirian." Ucap Ajimukti setelahnya.


Mendengar itu hati Habiba terasa bergetar dan detak jantungnya semakin tak beraturan. Dengan tubuh mulai gemetaran ia pun kemudian mengangguk.


"Yasudah, ayo masuk, saya carikan tempat dulu." Ucap Ajimukti sembari turun dari mobil di ikuti Manan juga Habiba.


Ajimukti berjalan di depan beriringan dengan Manan, sementara Habiba hanya mengekor mereka dari belakang dengan jarak beberapa langkah.


"Sampeyan mau pesan apa, Ning?" Tanya Ajimukti begitu mereka sudah memilih tempat duduk.


"Nanti saja, Gus. Sekalian sama njenengan dan Manan setelah selesai sholat." Sahut Habiba.


Ajimukti mengangguk, "Yasudah kalau begitu. Saya pesankan minum saja dulu bagaimana?"


"Tidak usah, Gus. Maaf merepotkan. Biar saya pesan sendiri saja." Ucap Habiba menolak tawaran Ajimukti.


"Yasudah kalau memang begitu, saya sama Manan ke mushola dulu." Ucap Ajimukti kemudian mengajak Manan untuk bergegas ke mushola di rumah makan itu.


Habiba memandang kepergian Ajimukti. Di tempatnya duduk kini, ia diam diam tersenyum dan kemudian wajahnya memerah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2