
"Assalamu'alaikum..." Ucap seorang lelaki sembari melihat ke dalam kamar salah satu santri yang terbuka. Kamar itu adalah kamar Dullah dan Ajimukti.
Dullah yang baru selesai membuat kopi segera bergegas menjawab salam dan menyalami lelaki yang berdiri di ambang pintu itu.
"Gus Ali ada apa kok tiba tiba mengunjungi kamar kami?" Tanya Dullah sembari mempersilahkan Ali masuk ke dalam kamar.
"Ah, tidak ada perlu apa apa, Kang. Hanya tadi kebetulan saya muter ke kamar kamar santri terus sekalian saja mampir." Ucap Ali kemudian. "Ngomong ngomong, Kang Aji mana, Kang?" Tanyanya kemudian, melihat Ajimukti yang tidak terlihat di dalam kamar.
"Oh, itu, Gus. Mas Aji nya baru ke kamar mandi." Sahut Dullah sembari menunduk.
Ali hanya mengangguk.
"Sebentar, Gus. Saya buatkan kopi dulu." Ucap Dullah seraya berdiri dari duduknya.
"Tidak usah repot repot, Kang. Saya sudah ngopi tadi." Sahut Ali mencoba menolak.
"Tidak apa apa, Gus. Cuma kopi." Dullah memaksa.
"Oh, iya, Kang. Sampeyan teman dekat Kyai Salim ya?" Tanya Ali kemudian.
Dullah sedikit tersentak, meski akhirnya mengiyakan, "I...iya, Gus. Bisa di bilang begitu. Gus Ali tahu dari siapa?" Tanya Dullah sedikit ragu.
Ali hanya tersenyum, "Saya tahu, Kang. Tenang saja. Saya juga tahu siapa Kang Aji itu sebenarnya. Kebetulan kami sempat ngobrol." Sahut Ali menjelaskan.
Dullah kemudian kembali ke gelaran tikar sembari membawa kopi.
"Di minum, Gus." Ucap Dullah kemudian.
"Terima kasih, Kang." Sahut Ali ramah.
"Emmm, saya dulu sama Mas Gus Salim teman akrab waktu sama sama nyantri di Rembang, Kang. Beliau itu orangnya ngemong sekali sama yang usianya lebih muda. Apalagi sama saya yang waktu itu masih usia belasan. Kami sudah seperti Kakang Adi." Ucap Ali kemudian.
"Berarti sudah sangat dekat njenengan sama Kang Salim nggeh, Gus?" Tanya Dullah kemudian.
"Ya, sangat dekat. Bisa dibilang kami saudara ketemu usia, meski beda bapak lain ibu." Ali sedikit tertawa, Dullah pun tak canggung untuk ikut tertawa.
"Kang Salim itu orangnya memang mudah bergaul, Gus. Meski wataknya keras, tapi dia itu sebenarnya sangat penyayang." Imbuh Dullah kemudian.
"Benar, Kang. Saya sendiri sudah merasakannya. Merasakan bagaimana cara beliau ngemong kami waktu di pesantren, sangat berbeda dengan watak kesehariannya." Ali pun ikut menambahi lagi.
"Loh, Gus Ali ini ngajar disini dibawa Kang Salim atau Kyai Aminudin, Gus? Maaf saya tanya begini, Gus." Ucap Dullah kemudian.
Ali nampak tersenyum, "Panjang ceritanya, Kang. Jadi dulu itu Abah saya pernah satu pesantren sama Kyai Aminudin sewaktu di Sidogiri. Abah saya dan Kyai Aminudin sahabat karib. Lalu Kyai Aminudin boyong ke pesantren di Jawa Barat, sementara Abah saya masih tetap di Sidogiri. Setelah beberapa tahun berlalu, Abah dan Kyai Aminudin bertemu di acara bahsul Masail, waktu itu saya kebetulan yang mengantar Abah. Nah, sejak saat itu saya diminta Kyai Aminudin untuk membantu disini. E, siapa sangka ternyata pengasuh pesantren ini justru Kakang saya sendiri, yaitu Kyai Salim. Begitu Kang singkat ceritanya." Ali menceritakan awal mula dirinya ke Pondok Hidayah ini. Dullah hanya mengangguk paham.
"Berarti sedikit banyak Gus Ali ini tahu apa saja yang terjadi di pesantren ini?" Tanya Dullah kemudian.
Ali tersenyum, "Tidak ada yang tidak saya ketahui, Kang. Sejak saya disini, saya tahu hampir seluruhnya saya tahu apa yang terjadi disini. Tapi saya tidak punya daya, Kang. Mengingat Kyai Aminudin adalah sahabat karib Abah saya." Ucap Ali dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
"Saya mengerti, Gus." Sahut Dullah singkat.
Ali menghela nafas, "Saya berharap Pondok Hidayah bisa kembali kepada yang memang berhak, Kang. Saya hanya bisa membantu melalui doa doa saya." ekspresi wajah Ali masih terlihat begitu kalut.
Tak lama setelah itu, terdengar langkah kaki yang berhenti di ambang pintu lalu mengucap salam. Ali dan Dullah serempak menoleh, bebarengan dengan mereka yang kemudian menjawab salam.
__ADS_1
"Ada tamu rupanya. Sudah lama, Gus." Ucap Ajimukti segera meraih tangan Ali dan mencoba mencium punggung tangganya, tapi ditarik secepat kilat oleh Ali.
"Belum, kang. Ini kopinya saja masih kemebul, belum berani nyruput." Ucap Ali sembari tertawa ringan.
Ajimukti hanya ikut tertawa, "Maaf nggeh, Gus. Tadi mandi sekalian nyuci. Jadi nggak tahu kalau njenengan berkunjung." Ucap Ajimukti kemudian.
"Iya, Kang. Wong saya juga bisa ngobrol sama Kang Dullah. Nggeh Kang?" Ali beralih ke Dullah.
Dullah hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Wah, ngobrol apa, Gus? Kayaknya tadi sedikit serius sekali." Tanya Ajimukti sedikit penasaran.
Ali tertawa kecil, "Ini, Kang. Tadi lagi ngeling-eling kenangan sama Mas Gus Salim saja."
"Iya, Mas. Nggak nyangka ternyata Gus Ali ini teman akrabnya Kang Salim." Imbuh Dullah.
"Iya, Lek. Saya kebetulan pernah ngobrol sama Gus Ali ini, kapan itu." Sahut Ajimukti.
Ali hanya tersenyum. Untuk sesaat kamar itu dipenuhi perbincangan hangat antara penghuni kamar dan Ali. Hingga sampai ketika seorang santri sekaligus pengurus pesantren dengan tergopoh-gopoh datang ke kamar.
"Gus Ali," Ucap santri itu setelah memberi salam dan melihat Ali berada di kamar itu.
"Kang Herman, ada apa?" Tanya Ali sarat keheranan melihat Herman yang sepertinya tergesa-gesa.
"Oh, itu, anu, Gus. Saya dapat dawuh dari Pak Kyai untuk memanggilkan Kang Aji. Suruh menghadap ke ndalem. Sekarang, Gus." Ucap Herman kemudian.
Ali mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Dullah. Sementara Ajimukti segera bangun dari duduknya setelah tahu Herman di utus Kyai Aminudin untuk menyampaikan pesan padanya.
"Wah, saya juga kurang tahu, Kang." Sahut Herman. Tapi Ajimukti melihat gelagat yang beda dari ekspresi wajah Herman, yang sepertinya Herman tahu sesuatu, tapi tidak ingin jujur, mungkin karena ada Ali disana.
Ajimukti memahami itu lalu hanya mengangguk, "Baik, Kang. Saya kesana sekarang." Ucap Ajimukti kemudian.
"Oh, iya, Kang. Sekalian sama Pak Dullah juga." Herman melanjutkan ucapannya.
Dullah tersedak ketika baru saja menyeruput kopinya dan mengetahui dirinya juga dipanggil Kyai Aminudin.
"Saya juga, Kang?" Tanya Dullah kemudian.
"Iya, Pak Dullah. Sampeyan juga." Sahut Herman.
"Yasudah kalau begitu Kang Aji sama Kang Dullah kesana dulu. Saya juga heran kenapa Kyai Aminudin tiba tiba memanggil kalian. Emmm, tapi ada baiknya kalian segera kesana. Saya kembali ke kamar saya dulu." Ucap Ali sejurus kemudian.
"Iya, Gus. Saya pun juga penasaran, ada apa sebenarnya." Ketika mengucap itu Ajimukti sedikit mengarahkan bola matanya ke arah Herman. Benar saja, Herman sepertinya memang tahu keperluan Kyai Aminudin memanggil dirinya dan Dullah apa.
"Saya permisi dulu ya, Gus, Kang Aji, Pak Dullah." Ucap Herman sesaat kemudian sembari mencium tangan Ali.
"Apa Kang Aji tadi memperhatikan sesuatu?" Tanya Ali sembari melangkah keluar.
"Maksud Gus Ali. Sikap Kang Herman?" Tanya Ajimukti memastikan.
Ali mengangguk ringan. Ajimukti tersenyum.
"Saya pikir hanya saya yang memperhatikan, Gus." Sambung Ajimukti setelah melihat anggukan Ali.
__ADS_1
"Sepertinya ada sesuatu penting, Kang. Saya akan kabari Gus Faruq." Ucap Ali kemudian.
Ajimukti mengerutkan kening, lalu menoleh ke Ali, "Gus Faruq, Gus?"
"Iya, Kang. Tenang saja, beliau ada di pihak Kang Aji." Ucap Ali sembari melempar senyum tulus.
Ajimukti membalas senyum itu.
Setiba di ujung lorong mereka berpisah. Ali bergegas menaiki tangga, sementara Ajimukti dan Dullah segera mempercepat langkah menuju ndalem Kyai Aminudin. Di sana, di teras ndalem, Kyai Aminudin nampak duduk di sofa seorang diri, menyandarkan punggungnya dengan kaki disilangkan.
Melihat kedatangan Ajimukti dan Dullah, seketika Kyai Aminudin berdiri dan kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk setelah Ajimukti dan Dullah menyalami dan mencium punggung tangan Kyai itu.
"Duduklah dulu kalian!" Ucap Kyai Aminudin datar.
Dari ekspresi wajah Kyai Aminudin, Ajimukti memang menangkap sesuatu yang berbeda. Sepertinya memang ada hal yang begitu penting yang akan Kyai Aminudin sampaikan padanya dan Dullah.
"Ada apa Pak Kyai memanggil kami?" Tanya Ajimukti mewakili Dullah yang memilih menundukkan kepalanya.
Mendengar pertanyaan Ajimukti itu, tiba tiba Kyai Aminudin menyeringai. Nampak sebuah ekspresi yang tak terduga, dan Ajimukti sekelebat melihat ekspresi itu.
"Saya dengar dengar, sebelum Nak Budi pergi, kamu sempat berselisih dengan dia? Apa itu benar?" Dari cara berbicara Kyai Aminudin saat bertanya ini dapat ditangkap Ajimukti memang ada sesuatu yang akan terjadi.
Ajimukti menunjukan sikap tenangnya, "Entah itu dianggap berselisih atau apa. Tapi iya, Kyai. Saya memang sempat mengobrol dengan Mas Budi." Sahut Ajimukti dengan tetap menunjukkan ketenangannya.
Lagi lagi Kyai Aminudin menunjukkan sikapnya yang aneh melalui ekspresi wajahnya. Kali ini Kyai Aminudin terlihat tersenyum sinis, menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki juga tangannya.
"Mengobrol ya? Mengobrol yang seperti apa? Bisa kamu jelaskan kepada saya?" Tanya Kyai Aminudin penuh selidik.
Ajimukti masih di posisinya, sementara Dullah mulai mencium ketidak enakan dari cara berbicara Kyai Aminudin.
"Hanya obrolan biasa saja, Kyai." Ajimukti menjawab seperlunya, karena sebenarnya Kyai Aminudin pun tentu sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Kyai Aminudin pasti sudah tahu dari Herman, seperti kata Habiba waktu itu.
"Obrolan biasa? Obrolan biasa yang bagaimana, ketika kamu terang terangan mengungkap seluruh keluarga Nak Budi tanpa kamu saring!" Kali ini Kyai Aminudin terlihat lebih mempertegas ekspresi wajahnya yang kian merah padam. Suaranya pun meninggi. "Tahu dari mana kamu tentang semua yang kamu bicarakan ke Nak Budi itu? Tentang silsilah keluarga Nak Budi itu." Tanyanya kemudian, dengan suara lebih rendah tapi dengan tatapan tajam ke arah Ajimukti.
Ajimukti menghela nafas, dengan tenang ia menjawab pertanyaan Kyai Aminudin, "Sekarang semua sudah dimudahkan, Kyai. Dengan internet kita bisa mencari tahu apapun, apalagi untuk mencari tahu orang seterkenal Pak Nugroho. Bukankah itu sangat mudah, Kyai?"
Kyai Aminudin menegakkan duduknya, dan menatap tajam ke arah Ajimukti, "Dari internet katamu?"
Kyai Aminudin tersenyum mengejek, "Berarti kamu memang sengaja mencari tahu tentang Pak Nugroho untuk menyerang Nak Budi? Begitu maksud kamu?" Suaranya kembali meninggi, hampir bisa dibilang membentak.
Ajimukti terlihat tetap tenang dan sedikit pun merubah ekspresi wajahnya.
Kyai Aminudin kembali menyandarkan punggungnya, "Kamu pikir saya ini bodoh. Bisa percaya dengan alasan kamu itu?" Senyum mengejeknya sekali lagi diperlihatkannya pada Ajimukti. "Sekarang katakan pada saya! Siapa kalian ini sebenarnya? Dan ada maksud apa kalian kesini? Saya tidak ingin kalian menyembunyikan apapun dari saya." Ucapnya kemudian dengan suara rendah dan pandangan yang beralih dari Ajimukti dan Dullah.
Ajimukti hanya menghela nafas, lalu menegakkan duduknya. Dullah pun kini tidak ragu lagi untuk mengangkat kepalanya.
Untuk sesaat Ajimukti hanya sedikit melengkungkan bibirnya.
Melihat ekspresi tenang Ajimukti dan Dullah, Kyai Aminudin semakin geram namun tidak menampakkan terang terangan.
"Kalian ingin mengatakannya pada saya, atau kalian lebih memilih saya suruh boyong dari pesantren ini saat ini juga?"
Bersambung...
__ADS_1