
Ajimukti menyeruput kopi hitam di mejanya. Sembari menyalakan sebatang rokok. Wajah teduhnya kini diliputi asap rokok yang mengepul tebal di depan wajahnya.
"Tapi jangan disini, Kang. Saya tidak enak jika Johanes mendengarnya." Samuel sedikit lebih menundukkan badannya, dan mendekatkan wajahnya ke arah Ajimukti. Suaranya begitu lirih dan serak.
"Baik, Kang. Tenang saja. Kita nanti bisa ngobrol. Kebetulan hari ini kami tidak ada kegiatan di pesantren. Itu kalau sampeyan juga sedang lodang." Ajimukti menyahut ucapan Samuel juga dengan suara lirih.
"Saya bisa meluangkan waktu, Kang. Nanti biar Johanes yang jaga warung nggak apa apa." Ucap Samuel terlihat bersungguh sungguh.
Ajimukti hanya mengangguk dan sedikit melempar senyum. Kegelisahan di wajah Manan pun berangsur angsur hilang melihat keramahan yang di berikan Samuel yang sangat berbeda dengan Johanes.
Tak berapa lama Ajimukti dan yang lain beranjak dari duduknya setelah menghabiskan kopi dan sarapan mereka. Samuel pun buru buru menghampiri mereka.
"Sudah, Kang?" Tanyanya pada Ajimukti.
"Sudah, Kang!" Sahut Ajimukti ramah dan sedikit melempar senyum.
Setelah menyerahkan uang, Ajimukti dan yang lainnya pun berlalu dari warung itu. Ketika mereka berpapasan dengan Johanes di depan warung. Senyum menyeringai tergambar di wajah Johanes. Ajimukti membalas senyum itu dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Han, saya tinggal dulu ya. Kamu nggak apa apa kan jaga warung sendiri?" Ucap Samuel sembari melepas celemek nya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Johanes menyelidik.
"Ada urusan sebentar." Ucap Samuel singkat dan tanpa menunggu komentar Johanes ia segera menyusul Ajimukti yang sudah berjalan menjauh dari warung mereka.
"Sepertinya Samuel Samuel tadi serius untuk tahu tentang Islam, Jik." Ucap Manan ketika mereka berada agak jauh dari warung makan itu.
"Iya, Mas. Saya melihat dia sepertinya memang tulus." Imbuh Dullah kemudian.
"Ya, saya melihatnya juga begitu. Ya, kita berdoa saja, semoga Samuel segera mendapat hidayah dan menjadi saudara kita." Timpal Ajimukti bersungguh sungguh.
Manan dan Dullah hanya mengangguk mengaminkan ucapan Ajimukti tersebut.
Setibanya mereka di ujung pasar Samuel nampak berlari kecil menyusul mereka. Ajimukti, Manan dan Dullah yang melihat Samuel menyusul segera menghentikan langkahnya.
"Maaf ya, Kang. Saya sengaja bicara disini. Soalnya benar benar tidak enak jika Johanes tahu." Ucap Samuel nampak bersungguh sungguh dan dengan nafas yang sedikit memburu.
"Tidak apa apa, Kang. Saya mengerti. Bagaimanapun saya juga tidak ingin menyinggung Kang Johanes yang memang sepertinya sudah begitu tidak suka dengan pihak pesantren, ya, gara gara ucapan Kyai kami itu." Sahut Ajimukti kemudian.
"Kita duduk disana saja, Kang." Ajak Samuel kemudian sembari menunjuk ke salah satu bangku kayu di bawah pohon waru.
Ajimukti hanya mengiyakan lalu berjalan mengiring Samuel di ikuti yang lainnya.
"Sebenarnya apa yang ingin sampeyan ketahui tentang Islam, Kang?" Tanya Ajimukti ketika dirinya sudah duduk di bangku kayu di bawah pohon waru itu.
Samuel tersenyum. Ekspresi wajahnya itu tak luput dari pandangan Dullah dan Manan yang tidak tahu apa maksud dibalik senyum Samuel itu.
"Tidak banyak, Kang. Hanya dua hal sebenarnya." Ucap Samuel kemudian.
Ajimukti mengerutkan keningnya, "Dua hal? Apa itu Kang?" Tanyanya sarat rasa keingintahuan.
"Saya hanya ingin tahu Allah dan Muhammad, Kang. Hanya itu saja." Samuel sekali lagi tersenyum.
Mendengar itu, seketika Ajimukti merasakan sebuah debaran yang begitu terasa di dadanya. Baginya ini adalah sebuah hidayah yang luar biasa ketika seorang yang berbeda keyakinan dengannya, ingin tahu tentang Tuhan dan Rasul-Nya.
"Tunggu tunggu. Maksud sampeyan ini, ingin tahu yang seperti apa ya, Kang?" Tanya Ajimukti sedikit menyampingkan badannya.
Samuel menghela nafas, "Seperti yang seharusnya, Kang. Katakanlah yang..." Samuel tiba tiba menghentikan ucapannya lalu kembali menarik nafas, "Yang sebenarnya, Kang." Sambungnya beberapa saat kemudian.
Untuk kedua kalinya Ajimukti nampak tersenyum, sepertinya ia tahu apa yang dimaksudkan Samuel dalam pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Begini, Kang. Saya tidak ingin berbicara dengan konteks saya sebagai yang meyakini kebenaran Allah dan Rasulnya, Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam. Tapi coba kita berbicara seperti konteks dalam keyakinan sampeyan. Bagaimana?" Ucap Ajimukti kemudian.
Samuel sedikit mengerutkan kening, sepertinya dia bingung dengan maksud ucapan Ajimukti kali ini.
"Maksudnya, Kang?" Tanyanya kemudian.
"Begini, Kang. Taruhlah sebuah peribaratan, saya dan sampeyan seorang yang berjualan barang yang sama. Nah, jika saya berbicara kualitas barang saya tentu saya akan mengunggulkan barang saya dong, ketimbang barang sampeyan?" Ucap Ajimukti kemudian.
Samuel mengangguk ringan, sepertinya ia mulai menangkap ucapan Ajimukti. Dullah dan Manan pun hanya terus memperhatikan.
"Nah, bagaimana jika posisi saya dirubah sebagai rekan bisnis jualan sampeyan? Kondisinya akan berbeda kan?" Sambung Ajimukti sesaat kemudian.
Samuel kembali menganggukkan kepalanya ringan. "Saya paham, Kang." Ucapnya kemudian.
"Sampeyan tentu sudah sangat hafal isi Markus dua belas ayat ke dua puluh sembilan kan, Kang?" Tanya Ajimukti kini sedikit menghadapkan wajahnya ke Samuel.
Samuel mengangguk, "Ya, Kang. Lalu bagaimana menurut sampeyan?"
Ajimukti tersenyum, "Begini, Kang. Di sana dikatakan Shema yisrael adonai eloheinu, adonai ehad, dengar hai Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Apa itu masih harus ditanyakan lagi, Kang? Tentu sudah sangat jelas kan, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Dan bahkan di ayat setelahnya dikatakan, Kasihilah Tuhan Allah mu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan seluruh akal mu, dan dengan segala kekuatanmu. Hal ini pun ditegaskan lagi dalam Matius pasal ke empat ayat ke sepuluh, Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan, Allah mu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! Nah, Bukankah disana pun sudah jelas, Kang? Sudah di gamblangkan, segamblang gamblang nya?" Lanjut Ajimukti.
Samuel hanya terdiam mendengarkan, sesekali ia terlihat mengangguk ringan.
"Dan, dalam keyakinan kami, Kang. Dijelaskan dalam surat Al-Ikhlas, Qul huwallaahu Ahad, Katakanlah Muhammad! Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allaahush-shamad, Allah tempat meminta sesuatu, Lam yalid walam yuulad, Allah, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Walam yakul-lahuu kufuwan Ahad, Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." Ajimukti menekan ucapan terakhirnya.
"Lalu bagaimana, Kang. Emmm, tentang Yesus sendiri?" Tanya Samuel sedikit ragu untuk menyampaikannya.
Ajimukti tersenyum, "Saya tidak tahu banyak, Kang. Dan lagi saya takut menyinggung sampeyan."
"Tidak, Kang. Saya yang meminta kali ini." Sepertinya Samuel bersungguh sungguh dengan pertanyaannya.
"Apa itu harus ya, Kang?" Ajimukti sedikit tertawa kecil untuk mencairkan ketegangan saat itu.
"Begini, Kang. Saya hanya ingin sedikit mengutip dulu Yohanes pasal tiga belas ayat tiga belas dalam bahasa Ibrani." Ucap Ajimukti kemudian.
"hymeis phoneite me ho didaskalos kai ho kyrios kai kalos legete eimi gar. Benar begitu, Kang?" Tanya Ajimukti pada Samuel.
Samuel hanya mengangguk, "Benar, Kang." Samuel membenarkan.
"Coba sampeyan terjemahkan ke dalam bahasa kita, Kang!" Pinta Ajimukti kemudian.
Samuel nampak menghela nafas, "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan." Ucap Samuel mantap menterjemahkan.
Ajimukti tersenyum, "Itu kan, Kang. Ayat kesaksian ketuhanan dalam keyakinan sampeyan?" Tanyanya kemudian.
Samuel mengangguk, "Benar, Kang. Kami meyakini Yesus adalah Tuhan seperti ayat itu." Sahut Samuel kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Maaf, Kang. Bukan maksud saya mendebat. Tapi itu hanya terjemahan yang menurut saya jauh dari kebenaran. Sekali lagi maaf ya, Kang. Tapi, Kyrios itu bukankah sebenarnya berarti Tuan. Tuan bukan Tuhan. Bahkan dalam Alkitab berbahasa Arab pun jelas, antum tad'uunanii mu'allaman wa sayyidan wa hasanan taquuluunal-annii anaa kadzalik. Nah, dalam bahasa Arab pun ditulis, Sayyid, yang artinya tuan. Sekali lagi tuan, bukan Tuhan.
Samuel mengangguk, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dullah dan Manan sejak tadi pun tak beralih pandang dari Ajimukti.
"Baiklah, Kang. Sedikit banyak saya bisa sangat memahami dari penjelasan sampeyan itu. Lalu bagaimana dengan Muhammad, Kang?" Tanya Samuel kemudian.
Ajimukti menghela nafas, "Maaf, Kang. Ijinkan saya sedikit mengutip dalam Yohanes pasal empat belas ayat enam, 'anokhi haderekh Veha'emet vehakhayim. Akulah jalan pembuka bagi, Veh-ahmet, Ahmad, Muhammad sang kebenaran, Veh-khayim, dan kehidupan." Ucap Ajimukti lalu tersenyum.
"Mungkin itu belum bisa menguatkan ya, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
Samuel hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
__ADS_1
"Emmm, tapi bukan itu yang ingin saya tanyakan, Kang?" Ucap Ajimukti fokus pada Samuel.
Samuel mengerutkan kening, "Lalu apa, Kang?" Tanyanya sarat keheranan.
"Begini, Kang. Benarkah Nubuatan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam ada dalam Bibel? Nah, itu yang ingin saya tanyakan ke sampeyan." Ucap Ajimukti melanjutkan.
Samuel kembali mengerutkan kening dan sedikit menerawang.
"Entahlah, Kang. Untuk saat ini terus terang saya pun tidak bisa menjelaskan." Ucap Samuel sepertinya sedikit bingung kali ini.
Ajimukti tersenyum kemudian, "Begini, Kang. Coba sampeyan ingat ingat dalam kitab kidung agung pasal lima ayat ke sepuluh!" Ucap Ajimukti kemudian.
Samuel hanya mengangguk, "Ya, Kang. Saya tahu itu."
"Di sana ditulis, Dodi tsakh ve'adom dagul mer'vavah, kulitnya putih bersih kemerah merahan, mencolok diantara selaksa atau sepuluh ribu orang. Nah, ini dalam keyakinan kami juga diperkuat dengan beberapa hadits, Kang. Menurut saudara sepupu sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Ali bin Abu Thalib, ciri ciri Nabi Muhammad disebutkan, Tubuh beliau tidaklah terlalu gemuk, mukanya bundar, warnanya putih bercampur merah, ini terdapat dalam hadits riwayat tirmidzi dalam Sunan dan Syama'ilnya. Sedangkan menurut Anas bin Malik, ciri ciri Rasulullah, wajahnya terang bercahaya, tubuhnya tidak terlalu putih dan tidak pula terlalu merah, hal ini seperti diterangkan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dan Tirmidzi, Kang. Nah, itu diterangkan ketika memasuki kota Mekah pada tahun enam ratus tiga puluh Masehi, yang kemudian dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah, ketika itu, Rasulullah disertai sepuluh ribu pengikut yang shaleh." Ucap Ajimukti sedikit menggambarkan.
"Sementara itu, dalam literatur lain juga dikatakan, Abu Sufyan berteriak untuk mengumpulkan orang orang, Wahai orang orang Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan. Muhammad bersama sepuluh ribu pasukan baja, kata Abu Sufyan ketika itu." Ajimukti menghela nafas, "Nah, dari situ dapat kita ambil garis besar kan, Kang? Bahwa yang dimaksud dalam Kidung Agung pasal lima ayat kesepuluh seharusnya sudah bisa dipastikan, dialah Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam." Lanjut Ajimukti.
Samuel sekali lagi hanya mengangguk. "Sedikit banyak saya sedikit paham, Kang. Meski belum seluruhnya." Ucapnya kemudian.
Ajimukti kemudian tersenyum, "Hal ini juga dikuatkan dengan pasal ke enam belas, Kang. khiko mam'taqim vekhulo makhamadim zeh dodi vezeh re'i benot yerousyalaim. Kata katanya manis semata mata, dia, Muhammad, sungguh sangat digemari. Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai Puteri Puteri Yerusalem. Benar begitu kan, Kang?" Tanya Ajimukti di akhir ucapannya.
Samuel lagi lagi mengangguk, "Iya, Kang. Justru saya tidak terlalu pandai untuk berbahasa Ibrani. Tapi justru sampeyan sepertinya lebih mumpuni." Ucap Samuel sedikit tertunduk.
"Tidak juga, Kang. Saya hanya tahu sedikit sedikit saja." Ucap Ajimukti merendah lalu sedikit melengkungkan bibirnya.
"Saya lanjutkan ya, Kang?" Ucap Ajimukti setelahnya.
Samuel hanya mengangguk lalu kembali fokus memperhatikan Ajimukti.
"Dalam naskah Ibrani asli, kata makhamadim diterjemahkan menjadi, 'sungguh sangat digemari', yang pada dasarnya adalah kata Mukhamad dengan tambahan 'im'. Nah, Dalam bahasa Ibrani 'im' ini digunakan untuk menyatakan jamak kan, Kang? Emmmm, Sebagaimana kata Ellohim yang kemudian di terjemahkan menjadi Allah-Allah seperti dalam Perjanjian Lama yang pada dasarnya adalah kata Elloha yang artinya Allah. Lalu, Kang. Jika tidak didistorsi berulangkali, maka seharusnya Kidung Agung pasal lima ayat enam belas akan berbunyi begini, Kata-katanya manis semata-mata, DIALAH MUHAMMAD, Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai putera-puteri Yerusalem." Ajimukti menghela nafasnya.
"Oh iya, Kang. Sebagai catatan, bahwa kata Makhamadim atau Mukhammad adalah nama orang, yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa manapun secara apapun, karena ia merupakan nama orang pemberian secara langsung dari Tuhan, yaitu Allah." Jelas Ajimukti kemudian.
Samuel sekali lagi mengangguk. "Terima kasih, Kang. Sedikit banyak saya jadi sedikit tahu. Ya, seperti yang tadi saya utarakan, meski belum seluruhnya. Emmm, mungkin lain waktu saya harus meluangkan waktu lagi untuk ngobrol yang lain, Kang." Ucap Samuel sembari tersenyum.
"Insya Allah, Kang. Kapan pun sampeyan ingin ngobrol, saya akan coba luangkan waktu saya." Sahut Ajimukti kemudian melirik jamnya. "Oh iya, Kang. Apa masih ada yang perlu ditanyakan lagi. Soalnya sudah mau Dzuhur, kami harus kembali ke pesantren." Ucapnya kemudian.
"Sudah, Kang. Hari ini segini dulu saja. Sekali lagi terima kasih banyak, Kang. Sampeyan sudah meluangkan waktunya untuk ngobrol. Dan maaf kalau merepotkan." Ucap Samuel tulus.
"Tidak, apa apa, Kang. Justru saya yang minta maaf kalau ucapan saya dan apa yang saya sampaikan mungkin ada yang menyinggung sampeyan." Balas Ajimukti sembari bangun dari duduknya di ikuti Dullah dan Manan yang juga ikut berdiri.
"Tidak, Kang. Sama sekali tidak ada yang menyinggung. Justru saya senang dengan obrolan kita hari ini." Samuel menutup ucapannya dengan sedikit senyum terlukis di wajahnya.
"Yasudah, Kang. Silahkan kalau mau balik ke pesantren. Saya juga mau balik ke warung. Sekali lagi saya benar benar terima kasih, Kang." Imbuh Samuel sekali lagi mengucapkan rasa terima kasihnya dengan sedikit menundukkan kepala.
"Sama sama, Kang." Sahut Ajimukti pun dengan sedikit senyum.
"Yasudah, saya kembali ke warung, Kang. Mari semua saya duluan. Assalamu'alaikum..." Ucap Samuel lalu berlalu kembali ke warungnya.
"Hmmm, 'alaikumsalam..." Sahut Ajimukti kemudian.
Dullah dan Manan hanya mengerutkan kening.
"Jik, Jik! Kok kamu bisa tahu isi isi Alkitab? Salut saya, Jik." Ucap Manan ketika Samuel sudah berlalu dan mereka pun berjalan untuk kembali ke Pondok Hidayah.
"Iya, Mas. Saya juga baru tahu sampeyan sedikit banyak tahu isi Alkitab." Imbuh Dullah.
"Sudah, ayo balik, obrolin di pondok saja. Keburu Dzuhur entar." Sahut Ajimukti kemudian terus berjalan.
__ADS_1
Dullah dan Manan hanya saling melempar pandang dan sama sama menaikan pundaknya, lalu bergegas menyusul Ajimukti yang sudah berjalan mendahului mereka.
Bersambung...