BROMOCORAH

BROMOCORAH
Terselip Dalam Kitab


__ADS_3

Manan sedang menikmati semilir angin malam di halaman masjid pesantren. Di antara gelap, ia duduk menyendiri di bawah pohon besar. Lampu temaram halaman masjid pesantren membuatnya tak begitu jelas terlihat dari kejauhan.


Di tangannya, ia nampak sedang memegang sebuah kitab. Ia tidak sedang membaca kitab itu. Namun, ia hanya sesaat mengamati selembar foto yang sejak beberapa tahun belakangan ini terselip disana, lalu kembali menutup kitab itu.


Tak berselang lama, ia melihat sekelebat orang berjalan melintas tak jauh darinya. Melihat siapa yang berjalan, Manan segera bangun dari duduknya lantas memanggil orang itu.


"Hexa, tunggu!" Seru Manan dengan suara datar.


Hexa yang hanya melintas dan tidak menyadari keberadaan Manan disana segera menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar seseorang memanggil namanya.


Hexa menoleh, memusatkan pandangannya di antara lampu temaram.


"Kamu? Ada apa lagi?" Sahut Hexa juga dengan suara datar.


Manan sedikit mengembangkan senyumnya, tak lama, ia lalu menjulurkan tangannya.


"Maafkan saya untuk yang waktu itu." Ucap Manan kemudian.


Hexa mengerutkan keningnya lalu tersenyum pias. Ragu ragu ia pun menjulurkan tangannya ke arah Manan. Kini mereka saling berjabat.


"Iya." Ucap Hexa datar kemudian segera melepaskan tangannya dari tangan Manan.


"Saya harap kamu tidak memasukannya dalam hati dan menyimpan dendam pada saya." Ucap Manan kemudian.


"Tentu saja tidak. Saya bahkan sudah lupa." Sahut Hexa sedikit tersenyum kecut.


"Terima kasih." Sahut Manan setelahnya.


Hexa hanya mengangguk. Manan tak lagi mengucapkan apapun setelah itu, ia hanya membalas senyum kecut Hexa dengan seulas senyum lalu mengayunkan kakinya meninggalkan Hexa tanpa lagi berkata apapun.


Hexa masih berdiri disana. Sesaat setelahnya ia hanya menaikkan bahunya.


"Pandai tapi tidak cerdas." Gumamnya sembari menghela nafas.


Namun, belum juga ia melangkah ia menemukan sesuatu tergeletak di tanah tak jauh dari tempatnya berdiri. Selembar kertas yang kini sedikit bergerak tertiup angin. Hexa segera memungut kertas itu..


"Foto? Foto siapa ini?" Gumamnya.


"Emmm, cantik juga. Apa ini punya orang itu. Ah, sebaiknya saya tanyakan nanti kalau bertemu, sementara biar saya simpan dulu saja." Gumam Hexa lagi kemudian memasukkan foto itu ke dalam saku bajunya setelahnya ia pergi dari halaman masjid pesantren itu.


"Dari mana, Kang?" Tegur Sobri ketika Manan tiba tiba datang ke teras ndalem.


"Cari angin di halaman, Kang." Sahut Manan singkat.


Sobri hanya mengangguk anggukan kepalanya saja.


"Ajik kemana, Kang?" Tanya Manan kemudian pada Sobri melihat Sobri yang sedang duduk sendiri di teras ndalem itu.


"Guse sedang telfon sama Bu Nyai, Kang. Dengar dengar Bu Nyai mau sowan kesini." Sahut Sobri kemudian.


"Iya, Kang. Soal itu saya juga sudah tahu. Emmm, apa mungkin kedatangan Bu Nyai untuk membahas soal pernikahan Ajik sama Habiba ya, Kang?" Tanya Manan di akhir ucapannya.


Sobri sedikit mengangkat bahunya.


"Entahlah, Kang. Saya tidak berani menanyakan itu sama Guse. Tapi sepertinya memang begitu." Sahut Sobri.


"Baguslah, Kang. Semoga saja memang iya. Persiapan Hidayah nduwe gawe geden kalau memang iya." Sahut Manan setelahnya dengan sedikit senyum terkembang di wajahnya.


Sobri hanya kemudian tersenyum mendengar ucapan Manan itu.

__ADS_1


"Tapi dengar dengar Bu Nyai juga sekaligus mau mengantar adik keponakannya Ajik, Kang?" Imbuh Manan lagi.


"Yang saya dengar begitu, Kang. Makanya waktu itu saya di ajak Guse beres beres kamar untuk adiknya Guse itu." Sahut Sobri kemudian.


"Kang Sobri kenal dengan adiknya Ajik itu, Kang?" Tanya Manan kemudian.


"Cukup kenal, Kang. Karena waktu kami kecil, kami sering main bareng. Karena kebetulan waktu kecilnya adiknya Guse itu ikut kakeknya. Sementara kakeknya rumahnya sebelahan sama rumah saya, Kang." Sahut Sobri kemudian.


"Oh, begitu ya, Kang. Berarti seumuran ya, Kang?" Tanya Manan lagi.


"Emmm, tidak, Kang. Adiknya Guse itu kurang lebih empat atau lima tahun dibawah saya, Kang. Karena seingat saya, waktu itu saya sama Guse sudah kelas lima SD waktu dititipin Simbah untuk mengantar adiknya Guse itu waktu TK nya." Sahut Sobri setelahnya.


"Emmm, begitu ya. Terus, Kang. Itu hubungan keluarganya bagaimana sih Kang dengan Ajik?" Tanya Manan kemudian.


"Oh kalau soal itu, Kang. Simbah kakungnya Guse dari pihak Bu Nyai itu kakaknya Simbah kakungnya Ning Afis, Kang." Sahut Sobri setelahnya.


"Oh, jadi namanya Afis, Kang?" Tanya Manan lagi.


"Iya, Kang. Saya sejak kecil dibiasakan manggil begitu. Ning Afis. Kalau nama aslinya..." Sobri berhenti meneruskan ucapannya ketika tiba tiba Ajimukti keluar dari dalam rumah.


"Wah, belum ada kopinya ini?" Tanya Ajimukti melihat di atas meja masih kosong.


"Itu, Gus. Kang Khalil baru masak air. Terus Kang Imam saya suruh beli gorengan." Sahut Sobri setelahnya.


"Bu Nyai jadi kesini, Jik?" Tanya Manan setelah itu.


"Insya Allah lusa, Nan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Oh iya, Kang Sobri. Lemari untuk kamarnya ndoro ayu belum saya carikan. Cari dimana ya, Kang?" Tanya Ajimukti beralih pada Sobri.


"Loh, bukannya sudah ada, Gus?" Sahut Sobri.


"Waktu itu dia request, Kang. Minta lemari yang ada gantungan buat gamis. Tadi nyemantakne lagi dianya." Keluh Ajimukti sembari mengambil sebatang rokok kemudian menyalakannya.


"Iya, Nan." Sahut Ajimukti.


"Kok bingung sih, Jik. Bilang saja sama bapakku." Ucap Manan kemudian.


"Oh iya ya, Nan. Pak Lek Anggoro kan juga jual mebel ya, Nan. Kok saya sampai lupa." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Sudah, Jik. Soal itu serahkan sama saya. Biar nanti saya yang matur sama bapak." Sahut Manan juga setelahnya.


"Baiklah, Nan. Pokoknya kamu pasti juga tahu lah yang bagaimana." Ucap Ajimukti pada Manan sembari menghisap rokoknya.


"Beres, Jik."


"Oh, iya, Jik. Boleh saya bertanya sesuatu?" Lanjut Manan kemudian.


"Silahkan saja, Nan. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?" Sahut Ajimukti kemudian.


"Emmm, tapi maaf sebelumnya kalau saya laduk, Jik." Ucap Manan setelah itu.


Ajimukti tersenyum, "Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan, Nan?" Ulang Ajimukti perihal yang akan Manan tanyakan padanya.


"Soal kedatangan Bu Nyai, Jik. Apa itu mau membahas soal pernikahan kamu dengan Habiba, eh maksud saya Ning Biba." Ucap Manan kemudian.


Sekali lagi Ajimukti tersenyum kemudian menghisap dalam dalam sisa rokoknya.


"Insya Allah, Nan. Doanya saja." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


Seketika itu ekspresi wajah Manan juga Sobri turut nampak bahagia.


"Wah, bakal beneran nduwe gawe geden, Kang." Ucap Manan menyikut Sobri.


Sobri pun hanya bisa menahan senyumnya mendengar itu.


"Saya tidak ingin ada acara besar besaran, Nan. Cukup mengumpulkan sanak saudara juga teman dan sahabat sahabat saya saja." Sahut Ajimukti setelah itu.


Manan hanya mengangguk anggukan kepalanya, sementara Sobri terlihat mengerutkan keningnya seolah mengingat sesuatu.


"Oh, iya, Gus. Ngomong ngomong soal teman. Njenengan apa tidak jadi mencari teman njenengan yang bernama Nyoman itu, Gus?" Tanya Sobri seketika dirinya ingat.


Ajimukti menegakkan posisi duduknya, "Astaghfirullah, saya sampai lupa, Kang Sobri. Padahal rencananya hari ini tadi ya, Kang?" Ucapnya kemudian.


Sobri kemudian mengangguk. "Benar, Gus. Tadi saya ingin mengingatkan njenengan. Tapi tadi saya lihat nejengan kelihatan nembe sayah. Jadi saya pikir bakal njenengan tunda." Ucapnya kemudian.


"Capek sih tidak, Kang. Tapi saya benar benar kelupaan tadi." Sahut Ajimukti.


"Kalau begitu insya Allah besok ya, Kang. Tolong Kang Sobri besok ingatkan saya kalau kalau saya kelupaan lagi." Imbuh Ajimukti setelahnya.


"Nggeh, Gus."


Sementara itu Hexa yang sekelebat melihat Manan sedang berada di teras ndalem, memutar arah langkahnya dan mengurungkan niatnya menemui Manan.


"Emmm, sedang disana rupanya. Sebaiknya besok besok saja saya tanyakan apakah foto ini miliknya atau bukan." Gumamnya sembari memegang selembar foto yang di temukan ya di halaman tadi kemudian kembali memasukkannya ke saku bajunya.


"Loh, Hexa. Mau kemana? Saya lihat tadi mau ke ndaleme Guse. Kok tidak jadi?" Tanya Imam yang kebetulan berpapasan dengan Hexa dari arah berlawanan.


"Tidak, Kang. Saya hanya kebetulan lewat saja." Sahut Hexa.


"Saya permisi, Kang." Ucapnya setelah itu kemudian pergi tanpa menunggu jawaban Imam.


Imam hanya memandang kepergian Hexa sembari geleng geleng kepala. Setelah itu pun ia segera melanjutkan langkahnya menuju ndalem untuk bergabung bersama Ajimukti dan yang lainnya.


Setelah beberapa saat mereka yang berada di teras ndalem itu pun membubarkan diri kembali ke kamar masing masing, menyudahi obrolan malam mereka saat ini.


Manan denagn langakah gontai segera menuju ke kamarnya. Begitu tiba di kamar ia segera menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Pandangannya lurus ke atas menatap langit langit kamar itu. Namun seketika ia kembali duduk dan merogoh kitab kecil di saku bajunya lalu meletakkan ke atas meja di kamar itu.


Untuk sesaat ia memandang kitab kecil itu. Disaat itu sebuah senyum segera saja mengembang dari bibirnya.


"Kitab ini satu satunya yang kamu tinggalkan. Kelak saya pasti akan mengembalikan kitab ini padamu." Gumam Manan sembari memandang kitab itu.


Perlahan lahan tangannya mulai membuka kitab itu satu persatu, tidak untuk membacanya tapi mencari sesuatu yang sejak lama terselip di antara lembaran kitab itu yang sengaja diselipkan pemilik lama kitab itu disana, diantara kembaran kitab itu.


"Dimana foto Nafisa?" Gumam Manan sembari kembali membuka satu persatu halaman kitab itu.


"Perasaan tadi masih ada." Gumamnya lagi.


Manan masih terus membuka, bahkan ia sempat menggoyang goyangkan kitab itu, tapi nyatanya foto itu tidak ada diantara selipan lembar kitab itu.


"Halaman masjid. Ya, pasti tadi terjatuh disana. Semoga saja masih ada." Gumam Manan mengingat hal sebelumnya.


Dengan cepat ia segera kembali keluar dari kamarnya menuju halaman masjid pesantren. Langkahnya cepat setengah berlari. Beberapa santri yang melihatnya hanya merasa heran melihat sikap Manan yang sepertinya begitu tergesa gesa sekali.


Manan tidak lagi peduli ketika para santri yang masih terjaga itu melihat dirinya. Yang ia pikirkan saat ini, foto itu. Ya, ia harus bisa kembali menemukan foto itu. Bagaimana pun juga, foto itu pemberian Nafisa, sengaja Nafisa selipkan diantara kitab yang ia tinggalkan untuk Manan saat itu.


Brukkk!!!


"Aow...!"

__ADS_1


"Aduh...!"


Bersambung...


__ADS_2