BROMOCORAH

BROMOCORAH
Belajar Dari Lalat dan Lebah


__ADS_3

Angin malam berkesiur lambat lambat. Hawa dingin yang dibawanya sesekali menembus sampai ke tulang tulang. Aroma embun yang jatuh dan membasahi tanah pun semakin malam semakin tercium anyirnya.


Di bawah gelap di antara lampu temaram. Ajimukti, Sobri, Manan juga beberapa santri yang masih setia dengan rokok, kopi juga gorengan masih terdengar berbincang bincang. Tak jarang terdengar tawa renyah mereka mengisi kelenggangan malam ini.


"Jadi bagaimana soal harus menjadi lalat atau lebah, Jik?" Tanya Manan.


"Nggeh, Gus. Kok saya jadi malah ikut penasaran." Imbuh salah seorang santri yang lain sembari tersenyum malu malu.


Ajimukti menghela nafasnya setelah baru saja menghisap sebatang rokok kretek yang masih manis terselip di antara jarinya.


"Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kedua hewan itu, Kang. Dari lalat juga dari lebah. Keduanya sama sama mengandung filosofi yang bisa kita jadikan contoh untuk laku lampah setiap harinya." Jelas Ajimukti kemudian.


"Seperti apa itu, Jik?" Tanya Manan yang memang sejak tadi dibuat penasaran dengan ucapan Ajimukti itu.


Ajimukti melengkungkan bibirnya sejenak sebelum akhirnya menghela nafas untuk sedikit memberi gambaran.


"Begini, Nan. Kita bicarakan lebah dulu. Kamu tentu tidak asing dengan lebah atau tawon. Apa yang kamu tahu tentang lebah?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan sedikit mengerutkan kening.


"Ya setahu saya, Jik. Lebah ya penghisap madu dan kalau ngentup, duh, memarnya bisa berhari hari." Sahut Manan sekenanya.


Ajimukti tersenyum sesaat. "Benar, Nan. Tapi sangat sederhana. Sebagai tambahan, Nan. Lebah sebenarnya hanya mengambil yang inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak yang lain hukumnya adalah haram, itu pelajaran pertamanya, Nan. Selanjutnya, lebah memberi manfaat bagi manusia. Ini juga pelajaran bagi manusia. Madu berasal dari saripati bunga dan baik, maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula dan akan banyak memberi manfaat bagi orang lain. Seperti firman Allah dalam surat Ar Rahman ayat ke enam puluh, Hal jazaaul-ihsaani illal-ihsaan, Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan dan semua yang ada di halaman itu hanya mengangguk sembari mendengarkan ucapan Ajimukti itu.

__ADS_1


"Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari lebah. Di mana pun lebah hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul tidak menyakiti siapa pun, justru senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip ketenteraman dalam pergaulan. Dalam satu hal ini, manusia tidak ada apa apanya, kalah jauh jika dibandingkan dengan lebah." Lanjut Ajimukti sedikit menekan di akhir ucapannya.


"Kamu benar, Jik. Untuk satu itu memang banyak manusia yang kalah dengan lebah." Timpal Manan sedikit nyengenges.


"Begitulah, Nan. Lebah tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap menyengat pengganggunya. Karena itu, setiap manusia harus mampu menjaga kehormatan dirinya masing-masing. Muru'ah." Lanjut Ajimukti.


"Muru'ah ya, Gus? Muru'ah itu sama Iffah apa beda, Gus?" Tanya salah seorang santri sesaat setelah Ajimukti menjelaskan itu.


"Beda, Kang. Muru'ah itu lebih ke menjaga kehormatan diri, sementara Iffah itu menahan diri. Karena di dalam ajaran Islam, ada tiga hal yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan harga diri seseorang, yakni izzah atau kemuliaan diri, muru’ah menjaga kehormatan diri, dan 'iffah menahan diri. Ketiga hal tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya, Kang. Izzah juga berarti keagungan, kehormatan dan kekuatan. Jika kita sering mendengar kata izzul islam, itu bermakna betapa mulianya Islam bagi kehidupan manusia. Izzah harus ada dalam hati setiap orang, yang didapat dengan cara mendekat kepada Rabb-nya. Sementara muru’ah, menurut Syekh Imam Mawardi dalam Adabud-Dunya wad-Din, memiliki pengertian menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian. Lebih lengkapnya, Kang. Menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, muru’ah adalah mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk, menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya. Sedangkan 'iffah sendiri, Kang. Menurut Ibnu Maskawaih di dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak, ialah suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan keutamaan yang dimiliki manusia ketika ia mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari sifat 'iffah inilah lahir akhlak akhlak mulia seperti sabar, qana'ah, adil, jujur, dermawan, santun, dan perilaku terpuji lainnya. Sifat 'iffah ini pulalah yang membuat manusia menjadi mulia atau izzah. Sekiranya manusia sudah tidak lagi memiliki sifat ini, maka ia tidak ubahnya seperti binatang. Karena, ketika seseorang mampu memfungsikan 'iffah-nya, berarti akal sehatnya bekerja dengan baik." Jelas Ajimukti kemudian.


"Nah, kita lanjut soal lebah tadi, Kang. Alangkah bagusnya jika kita bisa meniru kehidupan lebah ini, yaitu hanya menyantap sesuatu yang bersih dan yang baik. Lebah tidak pernah belajar ilmu kesehatan layaknya seseorang yang kuliah di fakultas kesehatan atau kedokteran. Akan tetapi ia bisa menjaga kesehatannya dengan hanya memakan sesuatu yang bersih. Ia tahu mana yang bersih dan mana yang tidak." Sambung Ajimukti setelahnya.


"Wah, ternyata dari hewan sekecil lebah saja kita bisa banyak belajar kehidupan ya, Jik?" Sela Manan kemudian.


Manan hanya kemudian mengangguk paham.


"Dan soal lalat, Nan. Lalat ini berbeda dengan lebah. Bisa dibilang kebalikannya. Mereka sangat bertolak belakang. Dilihat dari aspek naluri dan pikiran. Naluri dan pikiran lebah hanya untuk menemukan bunga. Meski dalam keadaan yang sangat lapar, lebah hanya hinggap dikelopak bunga untuk mengambil manisnya kelopak bunga. Bunga yang dihinggapinya pun tak pernah rusak, apalagi sampai mematahkan ranting pohon. Hal itu berbeda sekali dengan lalat. Naluri dan pikiran lalat hanya untuk menemukan kotoran. Ia bangga mencari kotoran dan hidup menyebarkan berbagai kuman penyakit yang berdampak derita bagi semua makhluk. Dilihat dari aspek solidaritas. Madu yang dihasilkan lebah merupakan akumulasi solidaritas yang kompak. Kemampuan lebah mengumpulkan madu tak lebih dari berat tubuhnya. Namun, solidaritas membangun asa lebah untuk mencapai tugas dan fungsinya, semua bersatu padu dan saling bekerja tanpa iri. Bila lebah diganggu, semua saling membantu. Sifatnya tak akan mengusik bila tak diusik. Berbeda dengan lalat, solidaritas tak pernah dikenalnya. Semua hidup untuk memperjuangkan diri sendiri. Saling berebut makanan busuk terus dilakukan. Bila ada musuh ingin mengganggu komunitas, semua saling mencari selamat tanpa menghiraukan sesamanya. Meski lalat hidup bergerombolan, namun tanpa instink saling membela dan membantu." Jelas Ajimukti panjang lebar.


"Benar sekali itu, Jik." Manan mengangguk membenarkan, seolah ia sangat paham dengan apa yang dijelaskan Ajimukti padanya itu.


"Saya setuju juga, Gus. Hal itu juga pernah saya dengar dari bapak. Bagaimana dulu Kyai Salim dan sahabat sahabatnya menjaga solidaritas meniru lebah itu." Imbuh Sobri.


"Benar, Kang. Kata kata bapak yang juga selalu saya ingat bahwa solidaritas itu seperti senjata, untuk menggunakannya ya dikokang bareng bareng." Imbuh Ajimukti kemudian.


Manan mengacungkan jempolnya. "Setuju, Jik."

__ADS_1


"Nah, dari kedua aspek itu saja kita sudah bisa membedakan kan, Nan. Sudah bisa sebagai contoh untuk kita manusia yang berakal. Belum dari aspek aspek lain. Aspek lingkungan misalnya. Dilihat dari aspek lingkungan dan pemahaman tugas juga fungsi. Lihatlah rumah lebah, Nan. Dibangun secara bersama dan dimanfaatkan bersama sama pula. Semua tersusun rapi dalam kamar kamar yang berukuran sama. Meski tanpa alat ukur, lebah mampu membuat sarangnya dengan susunan yang teratur. Bahan bangunannya pun terbuat dari zat yang juga bermanfaat bagi manusia, bahan membuat lilin. Semua lebah bekerja tanpa lelah. Giat dan pantang menyerah. Semua dilakukan sesuai tugas dan fungsinya masing masing. Tak ada saling iri, apalagi saling menyerang. Lingkungan yang bersih dan tersusun dalam aturan yang baik ternyata ikut membangun karakter lebah menjadi lebih baik. Sangat berbeda dengan lingkungan lalat. Hidup tanpa rumah, hanya menempel dionggokan sampah. Kehidupan tanpa pedoman dan tugas yang teratur. Lingkungan yang dipilih ternyata membangun sifat lalat itu sendiri. Lingkungan kumuh membangun tabiat lalat menyenangi kotoran dan membenci kebersihan. Bagi lalat, kotoran adalah sumber kehidupan mereka." Jelas Ajimukti pada akhirnya.


"Sifat lebah dan lalat merupakan perumpamaan sifat dan naluri manusia. Ada manusia yang bernalurikan lebah dan sebagian bernalurikan lalat. Manusia yang memiliki naluri lebah akan cenderung mencari kebaikan, menyebar kebaikan, dan memberikan kebaikan pada sesama. Ia tak tertarik pada hal hal yang tak baik. Solidaritas, memahami tugas dan fungsi, hidup dalam lingkungan teratur menjadi modal bagi lebah membangun pribadinya. Sungguh mulia bila manusia berkaca pada lebah. Hidup hanya untuk sesuatu yang mulia dan memberikan kebaikan pada sesama. Sementara manusia yang memiliki naluri lalat akan cenderung mencari keburukan dan memberikan mudharat bagi orang lain. Bagi manusia yang berinstink lalat, hidup adalah mempertahankan diri tanpa mau tau mudharat bagi makhluk lainnya. Hidup baginya adalah merindukan lingkungan yang kotor." Imbuh Ajimukti kemudian.


"Berarti saya sudah punya jawaban untuk pertanyaanmu tadi Jik kalau begini." Sela Manan sembari menahan senyum.


"Ya, memang dengan dasar itu kita bisa meniru untuk menjadi manusia yang seperti apa, Nan. Sungguh, kebaikan dan keburukan tergantung pada apa yang menjadi gerakan instink dan otak yang mendorong manusia melakukan suatu perbuatan, Nan. Jika tipe lebah menjadi dasar diri, maka semua yang ada disekeliling diri akan mendapatkan manisnya kebaikan dan kebermanfaatan yang disebarkan. Namun, jika hidup seperti lalat, maka hidup hanya menyebarkan kuman dan racun yang akan mencelakai atau memberi mudharat bagi semua yang ada disekelilingnya. Meski manusia lebih suka hasil yang diproduksi oleh lebah, serta tak menyukai apa yang dilakukan dan dihasilkan lalat, namun dalam kehidupan justru lebih banyak meniru tabiat lalat. Suka sesuatu yang kotor dengan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan hidup, saling berebut kuasa hanya untuk mendapatkan makanan yang busuk, saling mencari dan membuka busuknya sesama agar keberhasilan dirinya mendapatkan tempat karena berhasil membuat nama orang lain menjadi busuk. Tentu upaya pembusukan sesama dilakukan oleh kelompok lalat­ lalat yang suka yang busuk hadir di era modern. Zaman boleh canggih, namun sayang sifat segelintir manusia masih terkebelakang dengan memilih lalat sebagai karakter dirinya yang senang atau membuat lingkungan busuk." Sambung Ajimukti seakan belum puas untuk menjelaskan sejelas mungkin pada yang ada di halaman itu.


"Sungguh mulia manusia yang memilih sifat lebah, Nan. Atas kemuliaan lebah pada dirinya, wajar bila Allah memberi nama lebah an-Nahl, sebagai salah satu surat dalam al Quran. Namun, Nan. Untuk menjadi lebah perlu ketekunan dan pilihan makanan yang akan masuk dalam diri. Bila makanan yang masuk baik, maka akan baik pula diri dan semua yang akan keluar dari diri. Namun, bila makanan yang masuk berasal dari kejelekan atau bersumber dari menjual kebaikan menjadi kotoran kotoran dengan berbagai variannya, maka akan menjadikan diri kotor dan mengeluarkan kotoran selama hidupnya. Mungkin orang bisa dikelabui dengan aksesoris yang ditampilkan, namun hati dan Allah tak mungkin bisa menutupi keburukan diri itu, Nan. Demikian pula sebaliknya, bila kebaikan yang dipilih dan keluar berbagai kebajikan dalam diri, maka meski sejuta makhluk ingin menutupi, niscaya tak akan mampu dilakukan. Kebaikan akan tetap dicari. Sementara keburukan tak pernah membuat manusia bahagia. Sebab, lebah tak akan pernah menjadi lalat dan lalat tak akan mampu menjadi lebah, Nan." Ucap Ajimukti kemudian menghela nafasnya.


"Benar, Jik. Sangat benar. Sangat mengena sekali apa yang kamu jelaskan tadi." Sahut Manan sembari masih sesekali mengangguk anggukan kepalanya.


"Tak hanya gambaran untuk kita memilih, Gus. Penjelasan itu juga sangat menjelaskan kondisi manusia manusia saat ini. Dan itu sangat benar." Imbuh salah seorang santri yang lain.


"Wallahu a'lam bish-shawwab, Kang. Pilihan tentu ada pada setiap manusianya itu sendiri. Hanya saja, pilihan mana yang akan dipilih, tentu tergantung pilihan hidup yang akan diambil, lebah atau lalat." Sahut Ajimukti sembari tersenyum dan mematikan rokoknya.


"Sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kita istirahat, Kang." Ucap Ajimukti seraya bangun dari duduknya.


"Nderekne, Gus. Sepertinya kami mau sekalian sholatul-lail." Jawab salah seorang santri sembari ikut berdiri dan menyalami Ajimukti.


Manan dan Sobri pun ikut beranjak dari halaman pesantren itu. Di halaman itu, dibawah gelap dan lampu temaram, kini hanya tersisa beberapa santri yang terdengar masih bercakap membahas apa yang baru saja dijelaskan Ajimukti pada mereka.


Angin masih berkesiur membelai raga raga diantara gelap dengan hawa dinginnya. Malam yang hening semakin memperlihatkan sisi gelapnya. Kini, celoteh serangga malam seolah mulai bergema tanpa cela. Suaranya, benar benar menjadikan nuansa khas bila malam menyapa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2