BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bro Sobri...!


__ADS_3

Malam membentangkan gelap tak berujung. Angin berkesiur menerpa daun daun membuatnya menari anggun. Ada hawa dingin membelai sekian raga yang terkulai.


Dibawah gelap tertutup sebuah batang pohon besar, Hexa nampak sedang duduk seorang diri. Kepalanya ia sandarkan pada batang pohon itu, sementara pandangannya nampak kosong. Sesekali terdengar desah nafasnya yang berat.


Dalam diam yang terbungkus keheningan, hatinya sedang menggumam penuh kenelangsaan.


"Armel, hmmm, apa kabarnya dia sekarang." Gumamnya dalam hati.


"Aku hanya bisa memelukmu dalam doa untuk setiap kebahagiaanmu yang sekarang. Semoga masih ada malaikat menjajakan mimpinya untukku bisa bersapa denganmu meski dalam lelapku. Semoga nafas dari setiap kerinduanku yang telah membaur dengan angin malam ini, mampu menyusup dalam tirai selambu kamarmu dan membelaimu, membisikkan setiap jengkal rinduku. Ah, mau sampai kapan kamu duduk di hatiku ini dan enggan pergi? Aku lelah, Mel. Sangat lelah. Aku lelah dengan semua kesia siaan dari pengharapan semu ini." Hexa mulai menegakkan tubuhnya kemudian mengangkat tubuhnya dan berdiri dari duduknya. Sejenak menatap gelap diatasnya, menghela nafas panjang dan mulai mengayunkan kakinya meninggalkan tempatnya itu.


"Ingatlah Allah saat hidup tak berjalan sesuai keinginanmu. Allah pasti punya jalan yang lebih baik untukmu. Berdoalah, Allah mendengarmu tapi bersabarlah karena Allah akan menjawab doamu pada waktu yang tepat. Karena Allah selalu menjawab doamu dengan tiga caraNya. Pertama, langsung mengabulkannya. Kedua, menundanya. Ketiga, menggantinya dengan yang lebih baik untukmu." Suara seseorang dari balik pohon lain sedikit mengagetkan Hexa dan seketika itu juga menghentikan langkahnya.


Hexa menoleh, lalu tersenyum ketika mendapati sosok Sobri bersandar di salah satu pohon tak jauh darinya.


"Sejak kapan kamu disitu?" Tanya Hexa kemudian.


"Menyendiri dan merenung. Ada dua kemungkinan, penyesalan kedua perenungan. Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita menyesali apa yang belum kita capai. Merenung, seolah beban itu hanya ditimpakan kepada kita." Ucap Sobri kemudian berjalan dan kembali bersandar di batang pohon yang lebih dekat dengan Hexa.


"Kamu itu bicara apa?" Sahut Sobri sembari tersenyum kecut.


"Apapun yang saya bicarakan, tidak semuanya benar, tapi juga tidak ada salahnya. Ada yang sedang mengganggu pikiran kamu kan?" Tebak Sobri kemudian.


Hexa kemudian kembali tersenyum kecut, "Berhenti membual dan sok tahu."


"Ya terserah kamu." Sahut Sobri lagi.


Hexa pun kemudian ikut bersandar di pohon sebelah pohon tempat Sobri bersandar. Sobri meraih rokoknya, menyalakannya sebatang, setelah itu menawarkan rokoknya pada Hexa, tanpa sungkan Hexa pun meraihnya dan menyalakannya sebatang.


"Jangan hanya mengucap syukur dan berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik, terima kasih kepadaNya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit. Jika Allah memberi kamu nikmat sepotong roti saja, syukurilah itu, karena Allah tidak membuat kamu meminta minta kepada orang lain untuk mendapatkan itu." Ucap Sobri kemudian.


"Jadi kamu menganggap saya sedang meminta minta karena menerima sebatang rokok kamu ini?" Ucap Hexa namun setelah itu menghisap sebatang rokoknya.


Sobri tersenyum, "Tentu saja tidak. Saya yang menawarkannya. Allah memberinya lewat saya. Berbeda ketika tadi kamu memintanya dari saya. Bisa dipahami?"


Hexa pun tersenyum, "Sudah lama kamu disini?"


Sobri menghela nafas, "Disini belum ada setengah tahun, tapi jika kamu tanya sejak kapan ikut Guse, jawabannya akan sangat lama."


"Maksud kamu?" Tanya Hexa sedikit mengerutkan keningnya.


"Bahkan sejak saya belum ada, sejak saya masih berwujud janin, saya sudah ikut Guse." Sahut Sobri sedikit terkekeh.


Hexa mengangguk, "Orang tua kamu abdi ndalem pesantren ini?" Tanya Hexa menebak.


Sobri menggeleng, "Bukan, bapak saya hanya seorang yang tahu terima kasih lalu mengabdikan dirinya pada malaikatnya itu dengan meniatkan dirinya untuk menjadi lebih baik."


Hexa mengangguk, "Sebegitunya ya?"

__ADS_1


"Hati manusia itu ibarat es. Kadang sangat keras tapi rentan hancur. Namun jika sudah mencair, akan sangat lembut." Sahut Sobri setelahnya.


Hexa kemudian mengangguk anggukan kepalanya. "Masuk akal." Ucapnya kemudian.


"Bersyukurlah jika Allah memberimu ujian hidup, karena dengan demikian, Allah memberikanmu kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi." Ucap Sobri sembari menghisap dalam dalam rokoknya.


"Kamu berbicara seolah tahu apa yang ada dipikiran saya saja. Berhentilah sok tahu seperti itu!" Sahut Hexa.


Sobri tersenyum kecut, "Kadang ucapan mata itu kata katanya lebih jujur dari pada ucapan dari tempat dimana sebuah kata seharusnya keluar." Ucapnya kemudian.


Hexa tak menyahut, ia hanya kemudian menghisap sisa rokoknya.


"Nikmati saja kesendirian kamu itu. Cara manusia kadang terbatas dan selalu berhenti dengan keluhan, tapi sekali waktu gunakan cara Allah, Allah punya cara yang tidak terbatas." Ucap Sobri kemudian.


Hexa hanya tersenyum tipis, sementara Sobri mulai mengayunkan kakinya meninggalkan Hexa sendiri di tempat itu.


"Saya tidak begitu tahu nama kamu, meski kita beberapa kali sempat bertemu." Ucap Hexa sembari memandang kepergian Sobri.


"Sobri." Sahut Sobri hanya sedikit menoleh sembari melempar senyum dan terus melangkah menjauh.


"Oke, Bro Sobri." Ucap Hexa sedikit mengeraskan suaranya.


"Terima kasih." Imbuhnya dengan suara melirih.


Sementara itu di sudut yang lain. Ajimukti sedang nampak duduk berdua dengan Manan. Kopi yang Manan bawa belum sekali pun mereka seruput. Uapnya masih nampak mengepul menyerbakkan aroma harum kopi.


Ajimukti tidak langsung menyahut. Ia hanya kemudian sedikit melempar senyumnya dan mendongakkan kepalanya.


"Saya minta maaf untuk itu, Jik." Imbuh Manan.


"Sudahlah, Nan. Mungkin cara yang kamu gunakan tidak benar, tapi kamu juga tidak sepenuhnya salah." Sahut Ajimukti kemudian.


"Saya hanya merasa muak saja, Jik." Sahut Manan juga.


"Begitulah saat kesabaran kita di uji, Nan. Kita kadang bertindak tanpa pemikiran." Ucap Ajimukti setelahnya.


Manan kemudian hanya mengangguk.


"Yasudah, Nan. Mungkin sebaiknya kita tidak usah bahas itu lagi." Ucap Ajimukti kemudian.


"Sebenarnya saya menyesal setelahnya, Jik. Hanya saja..." Manan menghentikan ucapannya.


Ajimukti tersenyum, "Entah kapan, sebaiknya kamu meminta maaf, Nan. Percayalah, kita hanya butuh waktu saja." Sela Ajimukti setelahnya.


"Hmmm, iya, Jik. Maaf untuk semua kelancangan saya." Ucap Manan lagi.


"Sudahlah, Nan. Memang sangat sulit untuk bersabar, tetapi menyia nyiakan pahala dari kesabaran itulah yang lebih buruk. Tapi kamu sudah mengakui kelalaian atas ego kamu itu sudah sangat baik, Nan. Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." Sahut Ajimukti setelah itu.

__ADS_1


"Iya, Jik. Terima kasih untuk pemahaman kamu ini."


Ajimukti tidak menyahut, ia hanya kemudian meraih gelas kopinya, lalu menyesapnya.


"Tadi saya lihat Kang Sobri sepertinya keluar, Jik. Apa dia kerumahnya Pak Dhe malam malam begini?" Tanya Manan kemudian.


"Saya juga tidak tahu, Nan. Tapi sepertinya tidak kalau ke rumah Pak Lek Prastowo, Nan." Sahut Ajimukti sembari meletakkan kembali gelas kopinya.


"Hmmm, Kang Sobri itu luar biasa ya, Jik. Dalam diamnya tersimpan segudang wawasan yang sulit dijangkau." Ucap Manan memuji Sobri.


Ajimukti tersenyum, "Kamu benar, Nan. Kang Sobri itu dalam hal apapun sebenarnya sak nduwurku adoh, Nan. Tapi dia tidak pernah umuk dan menunjukkan kelebihannya itu. Dia begitu rendah diri, Nan. Selain itu, dia juga orang yang amanah dan terlebih sangat sangat Istiqomah." Ajimukti pun tak kalah memuji Sobri.


"Iya, Jik. Soal bagaimana ke istiqomahan Kang Sobri sudah tidak bisa diragukan lagi. Saya kadang iri, Jik. Iri dengan ke istiqomahan Kang Sobri itu." Imbuh Manan kemudian.


Ajimukti tersenyum, " Bagus, Nan. Iri dalam kebaikan dan amalan, itu bisa membangun semangat kita untuk berkembang." Timpal Ajimukti.


Manan hanya mengangguk.


"Al istiqoomatu Khoirun-min Alfi karomah, Nan. Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah." Imbuh Ajimukti pula.


Sekali lagi Manan mengangguk, "Iya, Jik. Meski tidak begitu paham. Tapi saya sering mendengar hadits itu."


"Dari hadits Rasul itu bisa kita petik hikmah betapa luar biasanya kekuatan istiqomah, Nan. Betapa tidak, Allah berikan kepada orang yang istiqomah seribu karomah, satu karomah saja sudah dahsyat apalagi seribu karomah." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan sedikit tertawa, "Seribu karomah ya sudah seperti para waliyullah, Jik." Ucapnya kemudian.


"Bisa jadi, Nan. Kita sering mendengar kata keramat yaitu karomah, sesuatu yang diberikan kepada para wali wali Allah. Begitulah kekuatan yang diberikan Allah kepada orang orang yang istiqomah. Mari kita perhatikan bagaimana orang-orang yang istiqomah itu, dalam berbagai kitab banyak diceritakan tentang orang-orang yang istiqomah, seperti diceritakan dalam kitab Uqudullijain karangan Muhammad Almu’tarifdisanaz, Nan." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Bagiamana itu, Jik? Mungkin saya pernah mendengarnya." Tanya Manan kemudian sedikit penasaran.


"Sebenarnya ini tidak asing, Nan. Tentang adanya seorang wanita yang memiliki seorang suami yang munafik dan wanita itu setiap melakukan segala sesuatu dari ucapan maupun perbuatannya selalu dengan mengucapkan bismillah. Maka, suaminya berkata sungguh aku telah berbuat sesuatu yang memalukan, lalu dia memberikan sebuah kotak yang berharga berisi barang benda antik dan dia berkata kepada istrinya untuk menjaganya. Kemudian istri tersebut meletakkan dan menyimpan benda tersebut di suatu tempat dan menutupinya agar tidak ketahuan oleh orang lain. Akan tetapi, karena dasar suami munafik, dia melalaikan terhadap apa yang ia katakan alias ingkar. Ya, sebagaimana kita tahu, Nan. Tanda tanda orang munafik adalah ingkar apabila berjanji, dusta apabila ia berkata, khianat apabila diberi amanah." Ucap Ajimukti kemudian.


"Lalu selanjutnya, Jik? Saya antara ingat atau tidak, tapi cerita ini seolah tidak asing, Jik." Sahut Manan setelahnya.


"Memang sebenarnya cerita ini sering sekali diceritakan entah oleh guru guru kita atau sewaktu di majelis ilmi, Nan." Sahut Ajimukti juga.


"Hmmm, benar, Jik. Sepertinya begitu. Lalu selanjutny, Jik?" Tanya Manan mengulangi pertanyaannya.


"Ya, lalu si suami itu justru malah mengambil benda yang disimpan tadi oleh istrinya tanpa sepengetahuan si istri dan membuangnya ke dalam sumur yang ada di rumahnya. Kemudian, suami munafik itu mencari kotak tersebut. Maka istrinya datang ke tempat benda tersebut, seperti kebiasaan yang ia lakukan, ia pun membaca bismillahirrahmanirrahim. Nah, disini pertolongan Allah turun sebelum dia sampai ditempat benda itu, maka Allah perintahkan malaikat Jibril AS untuk turun dengan segera dan mengembalikan benda itu tadi ke tempatnya semula yaitu dalam kotak yang di minta si suami tadi. Subhanallah dengan izin Allah, benda itu sudah kembali ketika akan diambilnya, padahal benda itu telah masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tadi. Maka suami munafik ini takjub dan terheran heran. Dan akhirnya dari kejadian itu, ia taubat dari kemunafikan nya." Ucap Ajimukti melanjutkan.


"Hmmm, benar, Jik. Rasanya kisah itu sangat tidak asing bagi saya." Sahut Ajimukti


Ajimukti hanya kemudian tersenyum.


Namun disaat bersamaan, dari balik pohon tak jauh dari teras tempat Ajimukti dan Manan sedang berbincang, sepasang mata mengamati dan mendengarkan dengan seksama obrolan Ajimukti dan Manan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2