
Malam ini Ajimukti dan Manan dibantu beberapa santri sudah selesai packing beberapa barang yang akan mereka bawa kembali ke Pondok Hidayah.
Ajimukti sempat melihat kotak kecil yang Nyai Kartika berikan padanya untuk diberikan pada Habiba, lalu meletakkan kotak itu di dalam dashboard mobilnya agar tidak lupa keesokan harinya.
Tepat disaat itu, seorang santri nampak berjalan setengah menemui Ajimukti.
"Assalamu'alaikum, Gus." Ucap santri itu kemudian mencium tangan Ajimukti.
"Wa'alaikumsalam, Ada apa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian sembari melihat heran santrinya yang sedang berusaha mengatur nafas.
"Anu, Gus. Itu. Njenengan di padosi Kang Poniman. Katanya Kang Poniman mau ada yang ingin ditanyakan." Ucap santri itu kemudian.
"Oh, begitu. Lalu ini Kang Ponimannya dimana, Kang?" Tanya Ajimukti setelahnya.
"Di teras langgar, Gus." Sahut santri itu sembari mengarahkan tangannya ke arah teras langgar diluar ndalem.
Ajimukti mengangguk, "Yasudah, Kang. Saya akan menemuinya. Terima kasih sebelumnya." Sahut Ajimukti kemudian segera berjalan ke teras langgar.
Tak lama Ajimukti pun segera menemui Poniman yang kelihatannya memang sedang cemas sembari menunggu Ajimukti. Sesaat setelah bertegur sapa, Ajimukti pun menanyakan tujuan Poniman menemuinya.
"Ada apa, Kang? Sepertinya sampeyan gelisah sekali." Tanya Ajimukti kemudian.
Poniman nampak ragu, ekspresi wajahnya agak terlihat berbeda.
"Anu, Gus. Saya mau tanya soal..." Poniman menghentikan ucapannya, matanya melirik sekitar.
Ajimukti memperhatikan Poniman sekilas.
"Soal apa, Kang? Kok, sepertinya bikin saya penasaran." Tanya Ajimukti kemudian.
"Soal talak, Gus." Ucap Poniman lirih.
Ajimukti sempat terkejut mendengar Poniman ingin bertanya bab talak padanya.
"Sampeyan itu ya aneh, Kang. Masak tanya talak sama saya yang belum menikah. Itu sama kayak sampeyan tanya gimana rasanya hidup sama bayi yang belum lahir, Kang." Sahut Ajimukti sedikit terkekeh.
Poniman nampak malu, ia kemudian hanya bisa garuk garuk kepala belakangnya.
__ADS_1
"Sampeyan kan banyak tahu hukum hukum dalam Islam, Gus. Jadi saya pikir sampeyan juga tahu bab seperti ini meskipun sampeyan belum menikah." Ucap Poniman kemudian.
Ajimukti nampak menggelengkan kepalanya ringan.
"Memangnya bab thalaq yang bagaimana yang sampeyan ingin tanyakan, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Begini, Gus. Umpama saya sebagai suami bicara begini sama istri saya, kowe iku wis ora bojoku. Tapi niat saya nggak talak, Gus. Terus itu hukumnya bagaimana?" Tanya Poniman kemudian.
Ajimukti mengerutkan keningnya, "Ini masalah yang rumit sebenarnya, Kang. Karena yang saya tahu, qinayatu thalaq tahtaju ila niah. Lafadz thalaq, itu kalau sharih waqa'at thalaq, kamu saya cerai ya waqa'at thalaq ya pasti jadi thalaq, tapi kalau qinayah, lafadz yang seperti thalaq seperti iya seperti tidak, itu ketentuannya, melihat yang mengucapkannya, Kang. Misal, suami bilang begini, 'sudah kamu pulang sana, kembali sama orang tuamu!', itu kan mirip mengusir pegat atau cerai, mirip mengusir mangkel atau emosi." Jelas Ajimukti.
Poniman kemudian hanya mengangguk dan tidak menyela ketika Ajimukti mulai menjelaskan.
"Sebab thalaq itu resikonya tinggi, Kang. Kalau beneran thalaq yo dadi haram dikeloni, kan ngoten? Tapi kalau tidak beneran ya berarti masih berstatus istri. Lha, kalau ternyata masih berstatus istri terus di rabi wong liyo, ya berarti kan selamanya haram. Itu kan ekstrem semua tho, Kang?" Lanjut Ajimukti.
Poniman masih hanya bisa mengangguk tanpa menyahut sepatah katapun.
"Thalaq itu hampir hampir mirip dengan sholat Ied, Kang. Emmm, Bakdho, Kang. Misal, kalau ada yang meyakini hari A lebaran, berarti haram orang itu puasa. Tapi kalau meyakini hari A masih puasa, berarti masih wajib berpuasa. Jadi nggak bisa bilang, aku jane isih yakin nek iki ijek poso, tapi tak melu bakdho ben koyo umume. Nggak boleh seperti itu, Kang." Ajimukti masih memberikan penjelasannya agar mudah dipahami Poniman.
Poniman sendiri masih seperti sebelumnya, ia hanya mengangguk dan mendengarkan.
"Kalau kemudian si istri itu mengira kalau ia sudah diceraikan lalu kemudian menikah lagi tapi ternyata hakikatnya belum dicerai, kan haram jadinya pernikahan selanjutnya, karena masih berstatus istri. Sebaliknya, jika ternyata hakikatnya sudah diceraikan lalu merasa belum dan setiap malam berhubungan terus, itu juga haram, Kang. Makanya bab thalaq ini sensitif sekali. Banyak resikonya, Kang. Jadi tergantung niat si pengucap." Lanjut Ajimukti kemudian melirik Poniman.
"Nggeh, mboten megat, Gus." Sahut Poniman lirih.
Ajimukti tersenyum, "Yasudah kalau begitu berarti tidak ada thalaq disana, istri sampeyan statusnya juga masih istri sampeyan. Tapi ya jangan diulangi lagi, Kang." Pesan Ajimukti kemudian.
"Nggeh, Gus." Sahut Poniman tertunduk malu.
"Sampeyan juga seorang santri, Kang Poniman. Tentu sampeyan pun tahu. Itu mirip seperti kalimat pada hadits hadits, tidak ada iman untuk orang yang tidak beramal. Maksudnya iman yang sempurna." Lanjut Ajimukti kemudian.
Poniman lagi lagi hanya bisa mengangguk.
"Makanya, Kang. Ketika ada yang mengucap 'kowe ora bojoku' seperti sampeyan itu. Itu bukan jaminan menjadi lafadz thalaq. Karena ini dianggap kalimat yang mengisyaratkan bahwa si istri tidak memenuhi standard bebojoan yang ideal. Bukan selalu menafikan maksud sifat bukan istri lagi. Tapi bisa jadi thalaq ketika si suami memang punya niat menceraikan istri. Makanya ucapan yang seperti itu dikatakan qinayah, bisa saja diniatkan ekstrem bukan istri atau ora bojo itu karena niat sehingga terputuslah taline katresnan, tapi juga di ucapkan karena si istri tidak memenuhi standard istri yang seharusnya. Bisa dipahami nggeh, Kang?" Ucap Ajimukti masih menjelaskan.
"Insya Allah paham, Gus." Sahut Poniman sembari hanya bisa mengangguk.
"Itu kan sama ketika Nabi ngendiko, ora ono Jum'atan kanggo wong sing ora adus. Tapi apa terus kalau tidak mandi Jum'atannya tidak sah? Itu yang dimaksudkan disana kan sikap kesempurnaan tho, Kang?" Ajimukti masih ingin memberi gambaran pada Poniman, Poniman sendiri masih tetap mengangguk seperti sebelum sebelumnya.
__ADS_1
"Kalau sampeyan cermat, Kang. Di dalam kitab i'anah itu dijelaskan mengenai quyatuth-thalaq, anti lafti bizaujati, Kowe iku ora bojoku, itu masih dicontohkan dalam qinayath-thalaq bukan dimasukkan dalam shorihul thalaq. Tapi berbeda ketika sampeyan bilang thalaq, misal 'kowe tak pegat, kamu saya ceraikan. Itu sampeyan niatkan cerai atau tidak karena lafadznya jelas, ya sudah cerai, karena lafadznya jelas. Kalau lafadz jelas itu niat sudah nggak ada gunanya, Kang."
"Itulah problemnya kalimat, Kang. Sehingga kalimat itu dianalisis oleh para ulama dalam hal hal yang sifatnya sensitif. Seperti pegat utowo ora pegat, kafir utowo ora kafir, dan lain lainnya. Makanya ahlusunah wal jamaah itu hati hati kalau ada teks teks hadits yang dhahir isinya mengkafirkan orang karena dosa dosa tertentu, misalkan dalam sebuah hadits dikatakan, tidak ada orang zina berstatus mukmin, tidak ada orang maling berstatus mukmin, maknanya itu, normalnya orang mukmin itu tidak zina tidak mencuri, bukan kok kalau sudah melakukan dosa besar terus jadi kafir. Paham kan, Kang? Jadi kalau menemukan ayat ayat tertentu dalam hadits ya sampeyan tahmilkan, tangguhkan seperti dawuh ulama." Lanjut Ajimukti kemudian.
"Nggeh, Gus. Hanya kadang saya bingung ketika memahami sebuah kalimat." Sahut Poniman masih agak sedikit malu.
Ajimukti mengangguk, "Kalau menuruti kalimat, Kang. Kita hanya akan makan mentah mentahan saja. Seperti waktu Jum'atan, Kang. Bilal muadzin sebelum adzan sering mengingatkan wa man laghaa falaa jum'atalah, jadi kalau dibaca sesuai kalimat, kita akan menangkap waktu Jum'atan terus bicara yang nggak penting Jum'atannya tidak sah. Tapi tidak ada ulama yang bicara seperti itu, tidak mensahkan, karena yang benar adalah siapa yang saat jum'atan melakukan laghaa maka Jum'atannya tidak sempurna, bukan sampai tidak sah."
"Baik, Gus. Insya Allah kedepan saya akan lebih berhati hati dalam mengucap kalimat juga mengurai kalimat. Terima kasih, Gus." Ucap Poniman kemudian.
"Iya, Kang. Jadi kalau ada yang bilang anti lafti bi zaujati. Nduk, kowe iku wis dudu bojoku. Padahal itu di ucap tanpa niat. Berarti seorang istri sedang berperilaku tidak selayaknya seorang istri namun secara status masih istri. Masih sah hanya tidak sempurna sebagai istri. Namun bila itu memang itu diucapkan disertai niat, maka wis haram mbok keloni. Makanya kalimat itu masuk ke dalam qinayatuth-thalaq. Bisa dipahami nggeh, Kang?" Tanya Ajimukti setelahnya.
"Insya Allah, Gus. Sangat paham." Sahut Poniman kemudian.
"Baiklah, kalau begitu. Apa masih ada lagi yang ingin sampeyan tanyakan?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Tidak, Gus. Itu saja. Sekali lagi terima kasih. Dan maaf sudah mengganggu waktu istirahat panjenengan." Ucap Poniman kemudian.
"Tidak, Kang. Hanya saja saya seperti kata saya tadi. Sebenarnya masalah thalaq seperti ini, bisa sampeyan tanyakan sama Lek Dullah, mungkin sampeyan juga bisa dapat wejangan yang berkaitan dengan pernikahan dari beliau, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.
Poniman hanya mengangguk kemudian tersenyum tersipu malu.
"Yasudah, Gus. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Poniman setelah beberapa saat.
"Iya, Kang. Gek mriko dikeloni garwane." Sahut Ajimukti sembari terkekeh. Poniman pun hanya ikut tersenyum malu malu.
Setelah Poniman pergi dari teras langgar itu. Ajimukti kembali ke halaman ndalem. Di sana Manan dan beberapa santri yang tadi membantunya packing sudah selesai dan tengah duduk santai di emperan ndalem.
"Tadi saya memasukkan kitab ke dashboard, tapi di sana tadi saya melihat ada kotak kecil, itu punya kamu, Jik?" Tanya Manan kemudian.
Ajimukti menoleh ke arah Manan, kemudian mengangguk.
"Kamu membukanya, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.
Manan menggeleng, "Tidak, Jik. Memangnya itu isinya apa?" Tanyanya.
"Bukan apa apa, Nan." Sahut Ajimukti datar.
__ADS_1
Bersambung...