BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ilmu Ikhlas


__ADS_3

Pagi itu ketika Ajimukti sedang berada di pasar bersama Khalil juga Manan.


"Ini sudah semua atau masih ada yang mau dibeli lagi, Gus?" Tanya Khalil sembari menunjukkan belanjaan mereka.


"Sebentar, Kang. Sebaiknya kita cek dulu sebelum kembali ke pesantren dari pada nanti bolak balik lagi." Usul Ajimukti kemudian.


"Yasudah, Gus. Biar kami cek dulu saja." Sahut Imam sembari memilah milah barang belanjaan mereka.


"Telur sudah, Sayur sayuran sudah, ada tempe tahu juga sudah, minyak goreng, gula pasir gula merah sudah, bumbu pawon, cabe, bawang merah bawang putih, kelapa juga sudah. Emmm, apa lagi ya, Gus? Sepertinya sudah semua ini." Ucap Khalil setelah selesai mengecek belanjaan mereka.


"Iya, Gus. Sepertinya sudah semua. Kalau yang lain sepertinya di dapur masih ada." Imbuh Imam kemudian.


"Yasudah kalau memang sudah, Kang. Kita masukan ke bagasi dulu saja. Setelah itu kita cari sarapan dulu." Ucap Ajimukti kemudian membuka bagasi mobilnya.


"Sudah biar kami saja, Gus." Sahut Imam ketika Ajimukti hendak membantu memasukkan barang barang itu.


"Tidak apa apa, Kang. Sampeyan tata saja. Biar saya bantu Kang Khalil ngangkatnya." Sahut Ajimukti, kalau sudah begitu, Imam pun tidak berani lagi melarang Gus-nya itu.


"Sudah semua, kan? Kita cari sarapan dulu. Kang Khalil sama Kang Imam mau sarapan apa?" Tawar Ajimukti kemudian.


"Sudah njenengan saja, Gus. Kami nanti sarapan di pondok saja." Ucap Imam sedikit malu malu.


Ajimukti mengibaskan tangannya, "Hais, Kang Imam ini. Sudah kita sarapan dulu. Sampeyan berdua mau sarapan apa?" Tanya Ajimukti sekali lagi sedikit memaksa.


Khalil dan Imam kemudian hanya saling melempar pandang dan sama sama menaikkan bahu mereka.


"Manut kalau begitu, Gus. Sak kersane njenengan mawon." Sahut Imam kemudian.


"Yasudah kalau begitu. Kita ke warung makan itu saja dulu, biar bisa sambil ngopi." Ucap Ajimukti sembari menunjuk warung makan tempat dulu ia biasa ngopi bersama Dullah kalau mereka sedang jalan jalan ke pasar.


Khalil dan Imam kemudian hanya mengangguk, lalu berjalan mengekor di belakang Ajimukti.


Ketika sampai di warung, si pemilik warung yang sudah hafal dengan Ajimukti segera mendekat ke arahnya.


"Pesan apa, Mas Aji?" Tanya si penjual itu ramah.


"Sayurnya apa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Emmm, hari ini ada terik ayam, oseng kikil, cuan cuan pindang, lodeh, oseng so'on, pecel, sama soto, Mas." Ucap si penjual itu menyebut menu masakan warung mereka yang setiap hari kadang berbeda menu.


"Kang Khalil sama Kang Imam apa?" Tanya Ajimukti beralih pada kedua pendereknya itu.


Khalil nampak sungkan lalu garuk garuk tengkuk lehernya, setelah itu melirik Imam seolah meminta saran Imam. Imam pun kemudian hanya sedikit menaikkan bahu karena sama sungkannya.


"Manut saja, Gus." Ucap Khalil pada akhirnya dengan suara lirih.


"Yasudah, oseng kikil bagaimana?" Tanya Ajimukti kemudian.

__ADS_1


"Nggeh, Gus. Nderek." Imbuh Imam.


"Yasudah, Kang. Oseng kikil tiga nggeh. Sama kopinya jangan lupa. Tiga juga. Yang panas, Kang." Ucap Ajimukti sembari terkekeh pada si penjual.


"Siap, Mas Aji. Ini nasinya tambah telur tidak?" Tanya si penjual kemudian.


"Sekalian juga tidak apa apa, Kang." Sahut Ajimukti sembari meraih kacang bawang yang tersedia di meja di depan tempat ia duduk.


Khalil dan Imam hanya kemudian saling melempar pandang dan sama sama canggung dengan perlakuan Ajimukti pada mereka ini.


Disaat mereka sedang asik menikmati sarapan pagi oseng kikil dan telur ceplok. Samar samar mereka mendengar keributan dari arah luar warung.


"Wis rapopo, Kang. Di ikhlaske wae." Seru salah seorang laki laki pada seorang laki laki lain sembari menepuk bahu laki laki itu.


"Iyo, Kang. Ikhlaske wae. Suk Yo bakal oleh sing luwih apik." Seru ibu ibu berbadan gemuk menambahi.


"Iyolah, Kang. Aku ngono wis ikhlas. Piye piye wis kadung arep dikapakno meneh?" Sahut laki laki yang menjadi bahan perbincangan itu.


Ajimukti hanya memutar badannya, sementara Khalil dan Imam sama penasarannya.


"Ada apa, Kang?" Tanya Ajimukti pada si penjual warung ketika melintas tak jauh dari tempatnya duduk.


"Itu, Mas Aji. Bapaknya yang itu habis di tipu adiknya sendiri. Tanah warisan bapak mereka di jual sama adiknya itu." Ucap si penjual warung sambil menunjuk pria yang sedang dikerumuni beberapa orang.


"Oh...!" Ajimukti hanya mengangguk anggukan kepala paham.


"Saya pikir ada apa, Gus. Ternyata ribut soal warisan." Sahut Khalil sambil masih mengunyah sarapannya.


"Kalau sudah ikhlas kenapa masih dibahas ya, Gus?" Celetuk Imam sembari sedikit tersenyum diantara mulutnya yang penuh.


"Ikhlas itu kadang hanya berhenti di ucapan, Kang. Ikhlas yang sebenarnya Sewu siji sing biso nglakoni." Sahut Ajimukti.


"Benar, Gus. Kadang bibir ngomong sudah ikhlas, tapi dalam hatinya masih nggrundel, nggersulo." Imbuh Imam.


"Kalau masih seperti itu namanya belum ikhlas, Kang." Sahut Ajimukti yang kini mulai menyalakan rokok kreteknya setelah selesai makan.


Imam mengangguk, kini ia pun mulai meraih sebatang rokok kreteknya juga.


"Lalu ikhlas itu yang seperti bagaimana, Gus?" Tanyanya kemudian.


"Ikhlas itu yang kayak ini, Kang. Ini namanya ikhlas." Ucap Ajimukti sembari mengangkat gelas kopi sejajar dengan wajahnya.


"Maksudnya, Gus?" Tanya Imam kemudian.


"Ya, kayak kopi ini, Kang." Ajimukti menyeruput kopi yang masih sedikit mengepulkan asap itu.


Imam memandangi Khalil. Khalil pun hanya mengangkat bahu karena sama tidak pahamnya.

__ADS_1


"Bagaimana itu, Gus?" Tanya Khalil kemudian, karena ia pun ingin tahu maksud dari ikhlas versi Ajimukti itu.


"Mau kopi mau teh, gula ada dalam bagian minuman ini, Kang. Yang membuat kopi ini nikmat karena gulanya. Karena gula kopi ini manis. Coba jika segelas kopi ini tidak diberi gula, pasti rasanya pahit. Tapi meski gula bagian yang tidak bisa ditinggalkan, tapi gula tidak pernah disebut. Tetap kopi atau teh lah yang mendapat nama." Jelas Ajimukti masih dengan posisi memegang gelas kopinya.


"Oalah, begitu tho, Gus. Benar benar, Gus. Saya pernah dengar itu tapi tidak kepikiran sampai disitu." Sahut Khalil sembari garuk garuk tengkuk lehernya.


"Tapi kopi ini juga bisa mengajari kita untuk ikhlas, Kang. Tidak hanya si gula saja." Imbuh Ajimukti kemudian.


Imam dan Khalil sama sama mengerutkan kening mereka. "Kalau kopi bagaimana, Gus?" Tanya Imam kemudian.


"Ya ampas kopi ini, Kang. Dia yang membuat kopi berasa. Tapi begitu hilang rasanya, tinggal ampasnya. Ampas kopi ini pun di lupakan dan pada akhirnya dibuang. Ampas kopi ikhlas, dia tidak pernah menuntut untuk ikut diminum." Jelas Ajimukti lagi sembari kini kembali menyeruput kopinya.


"Jadi ada gambaran, Gus. Bagaimana ikhlas itu sebenarnya. Memang untuk ikhlas tidak mudah, Gus. Tidak semudah ketika kita mengucapkan kata kata ikhlas itu sendiri." Khalil terdengar mulai mengimbangi ucapan Ajimukti kali ini.


"Ya, memang, Kang. Ikhlas itu seperti halnya surat Al Ikhlas dalam Al Qur'an, Kang. Coba sampeyan cari dalam surat Al Ikhlas kata kata ikhlasnya, pasti tidak ada kan? Seperti itulah ikhlas, Kang. Ikhlas itu tindakan, atau kata kerja, bukan berhenti di ucapan saja." Lanjut Ajimukti lagi.


"Iya, Gus. Saya pun sering mendengar itu. Memang itulah keistimewaan surat Al Ikhlas, yang tidak terdapat kata ikhlas di dalamnya." Timpal Imam kemudian.


"Selain dari kopi kita bisa benar benar belajar ikhlas itu dari kelapa, Kang. Pernah dengar?" Tanya Ajimukti pada kedua pendereknya itu.


Khalil dan Imam pun kompak menggeleng.


"Tidak, Gus. Tapi kalau kelapa yang dari cikal sampai lidinya semua bisa dimanfaatkan saya pernah dengar, Gus." Sahut Khalil.


"Apa itu, Lil? Kamu dengar dari mana?" Tanya Imam kali ini pada Khalil.


"Dulu waktu masih SMP, Mam. Pernah diceritain sama kakeknya teman saya SMP. Jadi seluruh yang ada di kelapa itu semuanya bisa dimanfaatkan, Mam. Bunganya bisa untuk obat, getahnya di deres dijadikan gula merah, manggarnya bisa untuk bahan bakar, papahnya juga. Airnya bisa untuk penawar racun, minuman segar juga, serabut sepet bisa untuk sapu ijuk, lidinya untuk sapu lidi juga tusuk sate. dagingnya untuk santan dll. Bathok nya bisa untuk siwur. Daunnya bisa dianyam untuk ketupat bahkan atap, blarak nya bisa untuk obor. Batang glugu nya bisa untuk bahan bangunan. Dan masih banyak lagi, Mam. Pokoknya the most versatile plant." Jelas Khalil panjang kali lebar.


"Benar itu, Kang Khalil. Wah, ternyata Kang Khalil tahu juga soal begituan." Puji Ajimukti kemudian.


Khalil nampak malu malu, "Tidak, Gus. Itu juga karena ada yang kasih tahu."


"Tapi bagus itu, Kang. Pelajaran juga itu. Jadi manusia yang multifungsi dan penuh manfaat. Kayak kelapa." Imbuh Ajimukti.


"Nggeh, Gus. Insya Allah." Sahut Khalil setelah itu.


"Lalu ilmu ikhlas dari kelapa tadi bagaimana, Gus. Biar makin komplit ini." Sela Imam kemudian.


Ajimukti sedikit tersenyum, "Oh, iya, hampir lupa, Kang. Jadi begini, Kang. Kita belajar ikhlas itu seperti kita menyaksikan betapa beratnya menjadi kelapa. Kelapa harus dijatuhkan ke tanah dari atas pohonnya yang tinggi, lalu setelah itu kulit kelapa harus dikupas, dibacok, dijambak sekuat tenaga. Setelah tinggal bathok nya, dipukul lagi sekuat tenaga sampai pecah. Sudah pecah, buahnya masih harus dicungkil dengan pisau tajam, setelah lepas dari bathok nya, di parut di atas paku paku kecil, setelah lembut, masih diperas lagi sampai jadi sari sari, sudah jadi sari sari masih di panaskan lagi dengan api membara sampai mendidih. Setelah itu dimasukkanlah pisang atau ubi. Tapi setelah ditempa hidup yang berat, pada akhirnya hasilnya disebut dengan kolak pisang, bukan kolak kelapa. Tapi meski begitu, kelapa tetap ikhlas menerima semua itu. Ia tidak protes." Jelas Ajimukti.


Mendengar itu Imam dan Khalil sontak tertawa.


"Wah, kalau kelapa protes, Gus. Bisa bisa ingin bertukar tempat dengan kepala kita." Sahut Imam sembari cekikikan. Ajimukti pun kemudian ikut terbahak bersama mereka.


"Sekali kali ijolan tidak apa apa, Kang. Daripada punya kepala dikit dikit sambat ngelu." Celetuk Ajimukti masih sembari sedikit terbahak.


"Lha, iya, Gus. Mbingungne. Punya kepala ngelu, tidak punya kepala wagu. Hadegh." Timpal Khalil yang membuat Ajimukti memperlebar tawanya.

__ADS_1


Disaat mereka bertiga masih asik ngobrol di warung makan itu. Tiba tiba pundak Ajimukti ada yang menepuknya dari arah belakang yang kemudian membuat Ajimukti memutar badannya. Khalil dan Imam pun sedikit keheranan melihat seseorang yang tiba tiba sudah ada di belakang Ajimukti tanpa mereka sadari kedatangannya.


Bersambung...


__ADS_2