BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kembalinya Nafisa


__ADS_3

Para santri juga jama'ah shalat Ashar baru saja membubarkan diri dan satu persatu meninggalkan masjid pesantren ketika sebuah mobil tiba tiba melintas masuk ke area Pondok Hidayah dan segera melaju menuju halaman parkir pesantren.


Para santri mengamati mobil itu, sekilas dari balik kemudi itu nampak seorang yang tak asing bagi mereka. Yah, itu adalah Dullah. Seorang yang awalnya para santri itu kenal sebagai pamannya Ajimukti.


"Gus, sepertinya Bu Nyai sama bapak sudah sampai." Bisik Sobri ketika Ajimukti baru saja bangun dari pengimamam masjid pesantren.


"Benarkah, Kang. Kalau begitu ayo kita segera ke ndalem, Kang." Ajak Ajimukti bergegas bangun dari posisi duduk bersilanya dan berjalan cepat keluar masjid di ikuti Sobri di belakangnya.


Begitu Ajimukti juga Sobri tiba di halaman ndalem, ketika itu juga Dullah nampak sedang membukakan pintu belakang mobil dan Nyai Kartika turun dari mobilnya di ikuti Nafisa tak lama kemudian.


"Sibu... Assalamu'alaikum..." Ajimukti segera meraih tangan wanita paruh baya itu dan kemudian memeluknya erat.


"Wa'alaikumsalam... Piye, Le. Baik baik saja kan?" Tanya Nyai Kartika sembari melepas pelukan Ajimukti.


"Alhamdulillah, Bu." Sahut Ajimukti dengan senyum lebar merekah.


"Lek Dul, bagaimana kabarnya?" Tanya Ajimukti beralih pada Dullah.


"Yah, begini begini saja, Mas. Masih terbilang cukup tampan tidak kalah sama anak Lanang Pak Lek ini." Sahut Dullah sembari mendekap pundak Sobri. Mendengar jawaban konyol Dullah itu, Ajimukti juga Sobri hanya kemudian tertawa.


"Mamas tidak menanyakan kabar saya, tho?" Nafisa yang sejak tadi melihat keharmonisan mereka berempat segera ikut bicara.


"Cah ayu. Tambah gede tambah ayu. Tambah pinter ora?" Ucap Ajimukti sembari mengacak kepala Nafisa.


"Ah, Mamas, saya bukan Afis kecil lagi. Berantakan tahu." Omel Nafisa dengan memasang wajah masamnya.


Ajimukti hanya kemudian tertawa, "Yasudah, Sibu, Lek Dul, Fis, kita masuk saja dulu, istirahat dulu di dalam." Ucap Ajimukti setelah itu.


Mereka berlima pun akhirnya masuk ke ndalem dengan masih saling bercakap cakap melepas rindu di antara mereka.


Sementara itu di pawon ndalem.


"Bu Nyai sama Pak Lek Dullah sudah datang. Cepat kita siapkan minumnya." Seru Khalil pada Imam.


Mereka pun segera menyiapkan jamuan untuk Nyai Kartika yang memang sudah di siapkan sejak pagi.


"Jadi Bu Nyai sudah datang, Lil?" Tanya Manan yang tiba tiba muncul dari pintu belakang pawon.


"Sudah, Nan. Tadi pas bubaran shalat datangnya." Sahut Khalil.


"Iya, Nan. Masak kamu tadi tidak tahu?" Imbuh Imam sembari menuangkan teh ke dalam gelas.


"Tadi habis wirid saya ke belakang soalnya, jadi tidak tahu." Sahut Manan sembari ikut menata jajanan ke dalam piring.


"Eh, Nan. Kamu tahu tidak. Adik keponakannya Gus Aji yang katanya nanti mau tinggal disini. Ternyata ayune pol, Nan." Ujar Khalil sesaat setelahnya.


"Benar, Nan. Dekiknya itu lho. Byuh Byuh." Imbuh Imam.


"Hus, kalian jangan begitu. Mau bagaimana pun itu adiknya Ajik. Jangan macam macam kalian! Kualat nanti." Sahut Manan sembari meraih piring yang lain.


"Astaghfirullah, ya tidak begitu, Nan. Mana berani kami macam macam. Kami hanya mengagumi. Wong yo pancene ayu tenan kok." Gerutu Khalil kemudian.


"Benar itu, Nan. Mengagumi itu wujud rasa syukur atas ciptaan Allah, Nan." Imbuh Imam setelahnya.


"Heleh, pintar pintarnya kalian saja. Hati hati, kebablasen malah jadi zina mata." Sahut Manan tanpa menoleh ke arah mereka.


"Ah, kamu, Nan."

__ADS_1


"Pripun, Kang. Minumnya sudah siap?" Tanya Sobri yang tiba tiba saja masuk ke pawon ndalem membuat Khalil dan Imam seketika terkejut dan salah tingkah.


"Su... sudah Kang Sobri. Mari saya antar." Ucap Khalil sangat begitu salah tingkah hingga ucapannya sedikit gemetar.


"Tidak usah, Kang. Sini biar saya sendiri saja." Sahut Sobri sembari meraih nampan berisi minuman.


"Ini cemilannya juga sudah siap, Kang. Diantar sekarang?" Tanya Manan kemudian.


"Iya sekarang juga tidak apa apa, Kang." Sahut Sobri.


"Kang Khalil sama Kang Imam tolong antarkan itu saja. Biar sisanya di tata Kang Manan dulu." Pinta Sobri setelahnya.


"Baik, Kang." Sahut Khalil dan Imam bersamaan dan tanpa menunggu lagi mereka segera meraih beberapa piring yang sudah terisi jajanan yang berada di depan Manan.


Di ruang tengah ndalem sendiri Ajimukti, Dullah juga Nyai Kartika nampak berbincang saling membicarakan pengalaman masing masing selama tidak saling bertemu. Sementara Nafisa justru sibuk meliarkan pandangannya ke segala penjuru ndalem itu, bahkan sesekali ia menengok ke arah luar ndalem.


"Sepertinya kamu gelisah, Fis. Kenapa?" Tanya Ajimukti menyadari Nafisa sejak tadi nampak tidak jenak.


Nafisa agak sedikit salah tingkah, ekspresi kini berubah tegang, "Ah, tidak, Mas. Emmm, saya hanya rindu saja tempat ini, agak sedikit nggumun juga, sudah banyak perubahan ternyata." Sahut Nafisa kemudian.


Ajimukti tersenyum, "Ini Kyai Aminudin yang menata ulang, Fis." Ucapnya kemudian.


"Berarti semua santri disini juga santrinya Kyai Aminudin, Mas?" Tanya Nafisa setelahnya.


Ajimukti menganggukkan kepalanya, "Ya, seluruhnya."


"Lalu, santri santri Pak Dhe, Mas?" Lanjut Nafisa.


"Hanya tinggal beberapa, selain banyak yang boyong, juga karena sudah khatam, juga berkeluarga. Yang tersisa saat ini hanya satu. Dia selain santri, juga anak dari teman akrab bapak." Jelas Ajimukti setelahnya.


"Siapa, Mas?" Tanya Nafisa menyelidik.


Mendengar nama itu, ada yang berdesir di ulu hati Nafisa. Seketika degup jantungnya mulai berdetak tak beraturan.


"Apa sewaktu disini kamu kenal dengan Manan, Fis? Soalnya dulu, waktu pesantren ini masih diasuh bapak, Manan sudah sering di utus bapak untuk mengambil daging ke rumahnya Pak Lek Prastowo. Dan lagi kamu juga kan rewang pawon tho, Fis? Pasti kamu tahu?" Tanya Ajimukti kemudian.


Pertanyaan Ajimukti itu membuat Nafisa sedikit bingung untuk menjawabnya. Ekspresi wajahnya kian menegang, badannya terasa bergetar dan sulit untuk berpikir merangkai kata.


Tak lama, nampak Sobri keluar dari arah pawon ndalem di ikuti Khalil juga Imam di belakangnya.


"Monggo, Bu Nyai." Ucap Sobri sembari meletakkan secangkir teh di atas meja di depan Nyai Kartika.


"Terima kasih, Le." Sahut Nyai Kartika kemudian.


Nafisa mengamati kedua khodam yang keluar bersama Sobri itu, ia berharap seseorang yang ingin dia temui yang membawa minuman itu keluar namun nyatanya tidak sesuai harapannya.


"Kami ke belakang dulu, Nyai." Ucap Sobri kemudian.


"Disini saja dulu, Le. Ada yang mau Sibu minta tolong sama kalian." Ucap Nyai Kartika pada Sobri juga Khalil dan Imam.


Sobri tak menyahut, ia hanya kemudian mengangguk lalu menundukkan kepalanya, pun dengan Khalil dan Imam, meski mereka berdua sempat saling melirik satu sama lain dan sama sama mengerutkan keningnya.


"Manan kemana, Bri?" Tanya Dullah pada Sobri.


"Ada di belakang, Pak. Nembe racik racik." Sahut Sobri.


"Yasudah, nanti sampaikan saja sama Nak Manan yo, Le." Ucap Nyai Kartika menyahut.

__ADS_1


"Nggeh, Nyai."


Mendengar itu, Nafisa sedikit melipir menjauh dari ruang tengah itu dan berjalan ke arah pawon ndalem. Ada detak jantung yang tak biasa yang berdetak sedikit lebih kencang.


Kembali ke ruang tengah.


"Begini, Le, Bri. Nak Khalil juga Nak Imam. Sowan Sibu kesini ini karena memang ada hal yang mengharuskan Sibu kesini. Hal apa itu nanti biar Aufa sendiri yang menjelaskan, intinya Sibu mohon bantuan kalian nanti untuk ewang ewang ngrigenke apa yang menjadi hajat Aufa." Ucap Nyai Kartika kemudian.


Sobri hanya mengangguk di ikuti yang lainnya.


"Iya, Kang. Pokok'e rodok tak repoti." Imbuh Ajimukti.


"Nggeh, Gus. Pokoknya dalem siap untuk semua dawuh njenengan." Sahut Sobri.


"Kami juga, Gus. Bu Nyai." Sahut Khalil juga setelahnya di ikuti anggukan dari Imam.


"Sebelumnya Sibu mewakili Aufa hanya bisa mengucapkan terima kasih." Ucap Nyai Kartika.


"Ampun sungkan, Nyai. Sama seperti kami tidak pernah sungkan ngangsu kawruh sama Guse." Sahut Khalil kemudian.


"Pokoknya sekali lagi terima kasih ya, Nak Khalil." Balas Nyai Kartika setelahnya.


"Oh, iya, Kang Sobri. Selepas Isya' temani saya ke rumahnya Pak Lek Anggoro ya. Mau ngaturi besok untuk mendampingi saya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Iya, Gus."


"Sekalian saya juga ikut, Mas. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Prastowo." Sela Dullah kemudian.


"Baik, Lek."


"Lalu apa kita juga akan mengajak Anggoro, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


"Rencananya begitu, Lek. Kemarin sewaktu saya menghubungi Pak Lek Anggoro untuk pesan lemari, saya sudah matur sekalian sama Pak Lek Anggoro, dan insya Allah Pak Lek Anggoro akan mengusahakannya, dikarenakan saat ini Pak Lek Anggoro sedang berada di Madura, Lek." Sahut Ajimukti kemudian.


"Hmmm, Sudah sukses sekarang si Anggoro itu." Gumam Dullah.


Sementara itu di pawon ndalem. Nafisa sedang berdiri terpaku mengintip dari samping tembok pembatas antara ruang makan dan pawon ndalem itu. Di sana, tak jauh darinya, Nafisa melihat seseorang yang sedang sibuk memetik beberapa sayuran.


Nafisa ragu untuk menyapa seseorang itu meski ia sangat mengenalnya dan sangat ingin menemuinya. Diam diam ia tersenyum sendiri. Ketegangan yang sempat ia rasakan sepenuhnya sudah mampu ia kuasai saat ini. Ia sudah mampu menguasai keadaan hatinya saat ini.


"Loh, Ning. Kenapa ada disini?" Tegur seseorang yang seketika itu juga membuat Nafisa terlonjak dan segera memutar badannya.


"Kang... Kang Sobri. Anu, Kang. Emmm, itu..." Nafisa nampak ragu dan salah tingkah.


"Pantas tadi di cari Bu Nyai sampeyan tidak kelihatan." Ucap Sobri lagi.


Nafisa hanya tersenyum canggung.


"Ini mau kemana, Ning?" Tanya Sobri kemudian.


"Emmm, mau kembali ke depan saja, Kang." Sahut Nafisa masih nampak salah tingkah.


Mendengar ada percakapan dari arah balik tembok pawon, Manan sedikit memutar kepalanya. Disana hanya terlihat punggung seorang gadis yang sedang berdiri membelakanginya.


"Sepertinya itu suara Kang Sobri. Hmmm, tapi gadis itu siapa?" Gumam Manan masih di tempatnya.


"Oh, iya, mungkin itu Ning Afis, adiknya Ajik. Sebaiknya saya menyapanya." Lanjut Manan bergumam sendiri.

__ADS_1


Manan berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah tembok pembatas. Entah kenapa jantungnya sedikit berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada rasa yang sulit ia jelaskan merasuki hatinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2