BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bicara Mahar


__ADS_3

Pagi ini, cuaca cukup cerah, meski sebagian langit masih nampak kelabu, tapi itu hanya sisa sisa hitam semalam. Tidak ada tanda tanda mendung disana, mungkin setelah matahari seutuhnya menampakkan jati dirinya, langit akan penuh dengan gumpalan awan putih bak kapas yang diterbangkan.


Pagi adalah waktu terpenting. Karena bagaimana cara menghabiskan hari yang ingin manusia lakukan, pagi telah memberikan tandanya, begitulah kiranya.


Beberapa pohon pohon rindang pun, dengan daun-daun hijaunya yang masih basah oleh embun semalam, terlihat berdansa satu sama lainnya. Disisi lain, tampak riang berceloteh sekelompok burung pipit yang terbang, melompat dan hinggap di dahan ranting pohon itu. Mereka  asyik berdiskusi membicarakan satu tempat dengan hamparan sari-sari bunga dan biji-biji buah yang telah matang untuk di santap sebagai sarapan pagi mereka.


Ajimukti sedang terlihat berjalan menyusuri jalanan setapak menikmati sebatang rokok di tangannya ketika tiba tiba Habiba menyusulnya dengan setengah berlari kecil.


"Kang Aji. Tunggu!" Seru Habiba begitu sudah semakin dekat jarak antara dirinya dan Ajimukti.


Ajimukti yang samar samar mendengar suara perempuan memanggilnya dari arah belakang segera menoleh dan menghentikan langkahnya. Begitu melihat ternyata Habiba yang memanggilnya dan terlihat tergesa menyusulnya, Ajimukti nampak tersentak kaget.


"Ada apa, Ning Biba?" Tanya Ajimukti begitu Habiba sudah tepat berada di hadapannya saat ini.


"Mau kemana, Kang?" Tanya Habiba kemudian tanpa menjawab pertanyaan Ajimukti padanya.


Ajimukti terlihat gugup, "Ini, mau jalan jalan saja, Ning." Sahut Ajimukti dengan sedikit menggerakkan tangannya ke sekitar.


Habiba nampak celingukan membuat Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya keheranan.


"Sendiri saja, Kang? Nggak sama Pak Dullah?" Tanya Habiba sejurus kemudian.


"Oh iya, Ning. Sendiri ini." Sahut Ajimukti nampak kikuk, "Lek Dul, tadi katanya mau nyuci." Sambungnya.


"Kebetulan, Kang. Ada yang ingin saya sampaikan sama Kang Aji." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti kembali mengerutkan keningnya. Kali ini ekspresi wajahnya nampak seperti seorang yang benar benar penasaran.


"A...ada apa ya, Ning?" Tanya Ajimukti sedikit terbata.


"Kita sambil jalan, Kang." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk kemudian berjalan di samping Habiba. Mereka berjalan lambat beriringan dan hanya berjarak kurang dari satu meter.


"Ini soal Budi, Kang. Apa Kang Aji sudah tahu?" Tanya Habiba kemudian ketika mereka sudah mulai berjalan.


Ajimukti mengangguk ringan, "Iya, Ning. Sudah dengar. Ada apa ya, Ning?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja saya mendengar ketika Abah dan Kang Herman, pengurus pesantren, membicarakan soal perginya Budi yang tiba tiba." Ucap Habiba kemudian dengan sedikit kecemasan tergambar di wajahnya.


"Lalu, Ning?" Tanya Ajimukti belum begitu paham maksud dari ucapan Habiba saat ini.


"Saya dengar mereka juga membicarakan tentang sampeyan, Kang." Ucap Habiba sedikit melambat.


Ajimukti sekali lagi mengerutkan keningnya, "Soal saya, Ning? Soal apa ya?" Tanya Ajimukti lagi.


"Soal Kang Aji yang sedikit banyak tahu tentang latar belakang Pak Nugroho, Bapaknya Budi itu, Kang. Saya dengar Kang Herman mencuri dengar ketika sampeyan sempat berselisih dengan Budi beberapa hari sebelum Budi pergi diam diam dari pesantren. Apa itu benar, Kang?" Habiba terdengar serius menanyakan perihal itu pada Ajimukti.


Ajimukti kini menghela nafasnya berat, lalu terlihat mengangguk ringan, "Iya, Ning. Saya memang sempat berselisih dengan Mas Budi dan sedikit mengungkapkan apa yang saya tahu tentang silsilah keluarganya. Memangnya ada apa ya, Ning?" Tanya Ajimukti kemudian, terlihat sedikit penasaran kali ini.


"Sebelumnya saya boleh tanya sesuatu dulu nggak, Kang?" Ucap Habiba kemudian, ucapannya benar benar terdengar serius.


"Tanya apa, Ning. Silahkan!" Sahut Ajimukti datar masih terus mengimbangi langkah kaki Habiba.

__ADS_1


"Emmm, sebenarnya sampeyan tahu dari mana soal latar belakang keluarga Budi itu, Kang? Maaf bukan maksud saya mau ikut campur, tapi sepertinya baik Abah maupun Kang Herman sedang menyelidiki itu." Tanya Habiba nampak kecemasan dari raut wajahnya, "Emmm, mereka sedang mencari tahu siapa Kang Aji ini sebenarnya." Lanjut Habiba.


Ajimukti terlihat mendongak sejenak, lalu menghela nafasnya dalam, "Saya tahu dari mana itu tidak penting, Ning. Dan kalaupun Pak Kyai juga Kang pengurus mau menyelidiki pun tidak jadi masalah untuk saya. Toh, saya tidak ada sangkut pautnya soal kepergian Mas Budi itu." Sahut Ajimukti nampak tenang.


Habiba nampak sedikit menoleh ke arah Ajimukti, "Bener Kang Aji nggak mau kasih tahu saya?" Desak Habiba lagi.


Ajimukti melempar senyumnya membuat Habiba sedikit kikuk, "Bukan nggak mau, tapi nanti tanpa saya kasih tahu pun, Ning Biba akan tahu dengan sendirinya. Tapi nanti. Tidak untuk saat ini." Ucap Ajimukti masih menoleh ke arah Habiba sembari melengkungkan bibirnya.


"Berarti benar, ada yang Kang Aji tutup tutupi selama ini. Emmm, maksudnya ada yang Kang Aji sembunyikan?" Tanya Habiba kemudian.


Ajimukti mempertegas senyum di wajahnya, ekspresi wajahnya berusaha menenangkan rasa keingintahuan Habiba.


Cukup jauh mereka berjalan di jalan setapak itu pagi ini. Sesekali angin membelai wajah ayu Habiba dibalik jilbabnya yang tipis tipis tersorot bias matahari.


Sementara itu di dalam pesantren, tepatnya di teras ndalem Kyai Aminudin, seorang pemuda terlihat sedang menunggu seseorang di ambang pintu ndalem. Tak lama yang ditunggu pun keluar dengan raut wajah keheranan.


"Ada apa Nak Herman? Sepertinya ada hal serius?" Tanya Kyai Aminudin dengan ekspresi wajah sedikit tegang.


"Benar, Kyai." Sahut Herman setengah menunduk.


"Apa ini ada kaitannya dengan yang tempo hari saya tugaskan ke Nak Herman. Mengenai Ajimukti?" Tanya Kyai Aminudin menebak.


Herman dengan ragu mengangguk, "Be..benar, Kyai. Maaf, Kyai. Saya... saya melihat Kang Aji sedang berjalan berduaan dengan Ning Biba di jalan setapak samping pesantren." Ucap Herman kemudian.


Kyai Aminudin nampak tercengang dan lalu menyilangkan tangannya di dada.


"Apa kamu yakin?" Tanya Kyai Aminudin memastikan.


"Ngapunten, Kyai. Tapi saya yakin, itu Ning Biba dan Kang Aji." Sahut Herman masih dengan sedikit menunduk tanpa berani menatap Kyai nya itu.


Herman pun tak lama setelah itu berlalu dari teras ndalem Kyai nya dan kembali ke kantor kepengurusan pesantren. Sementara Kyai Aminudin nampak menegang, gigi rahangnya yang bertaut mempertegas tulang rahangnya yang mengeras seketika, lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


Nyai Sarah, istrinya, yang melihat ekspresi berbeda dari suaminya itu segera menghampirinya.


"Ada apa, Bah? Sepertinya Abah sedang memikirkan sesuatu?" Tegur Nyai Sarah kemudian.


"Anakmu wadon sudah berani berduaan diluar pesantren sama laki laki, Mi." Ucap Kyai Aminudin dengan suara sedikit meninggi.


Nyai Sarah tercengang lalu mengerutkan keningnya, "Lho lho lho, ada apa ini, Bah? Memangnya Habiba kemana? Sama siapa?" Tanya Nyai Sarah keheranan mendengar ucapan suaminya yang tiba tiba.


"Sama Ajimukti, santri baru itu! Apa kata orang orang nanti. Putri seorang Kyai khalwat, berdua dua an sama laki laki yang bukan mahramnya." Ucap Kyai Aminudin masih dengan suara tinggi. "Apa anakmu itu nggak mikir? Mau taruh dimana muka Abah ini, Mi?" Sambung Kyai Aminudin dengan penuh amarah.


Nyai Sarah nampak menggelengkan kepalanya ringan, "Abah jangan su'udzon dulu. Tidak baik berprasangka buruk sama anak sendiri. Mungkin saja mereka tidak sengaja bertemu." Ucap Nyai Sarah mencoba menenangkan kekhawatiran suaminya itu.


"Halah, wong Nak Herman saja melihat mereka berjalan berduaan. Begitu itu kalau anak terlalu di manja." Kyai Aminudin masih bersuara tinggi.


"Ya, bisa saja mereka tidak sengaja bertemu lalu jalan bareng. Memangnya salah, Bah? Siapa tahu Nak Aji menemani Habiba karena takut ada apa apa, wujud penghormatannya pada kita sebagai guru." Nyai Sarah masih berusaha menenangkan suaminya.


"Bela terus saja anakmu, Mi." Kyai Aminudin mendengus, "Pokoknya Abah tidak suka melihat anak kita berduaan dengan yang bukan mahramnya." Imbuh Kyai Aminudin masih dengan suara tingginya.


"Yasudah, nanti biar Umi yang kasih tahu Habiba." Nyai Sarah berusaha meredam emosi Kyai Aminudin.


Kyai Aminudin tidak lagi bersuara. Tapi dari sorot matanya terlihat jelas emosi yang belum sedikit pun mereda.

__ADS_1


Sementara itu di tempat Habiba dan Ajimukti saat ini.


"Setidaknya satu masalah sudah kelar kan, Ning?" Tanya Ajimukti ragu ragu.


Habiba nampak menyunggingkan senyumnya, lalu mengangguk ringan.


"Tapi masih ada hal lain, Kang." Ucap Habiba nampak bimbang.


Ajimukti sedikit menoleh ke arah Habiba, "Soal apa itu, Ning?" Tanya Ajimukti pada akhirnya.


"Abah, Kang." Habiba terdengar lirih bersuara.


"Kyai Aminudin? Kenapa memangnya, Ning? Apa ada masalah lain?" Tanya Ajimukti kemudian.


Habiba menggeleng ringan, "Tidak, Kang. Tapi Abah sepertinya akhir akhir ini nampak mudah tersulut emosi. Mungkin karena memikirkan pembangunan pondok putri yang pada akhirnya gagal." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti tersenyum, "Saya kok merasa nya itu justru seperti mahar ya, Ning?" Tanya Ajimukti sembari tangannya menggaruk dagunya.


"Mahar? Maksudnya mahar untuk apa, Kang?" Tanya Habiba tidak mengerti.


Ajimukti tergelak lalu terdengar sedikit tertawa kecil, "Ya mahar, Ning. Mahar untuk bisa mendapatkan Ning Biba." Ucap Ajimukti tanpa basa basi.


Habiba tersenyum, "Ya, menurut saya juga begitu sih, Kang."


"Wah, berat juga berarti itu ya?" Ucap Ajimukti sejurus kemudian.


"Berat? Maksudnya berat? Berat gimana, Kang?" Tanya Habiba polos belum paham maksud Ajimukti.


Ajimukti kembali melengkungkan bibirnya, "Ya berat, Ning. Kalau maharnya harus bangun pondok putri dulu. Wah, itu pasti hanya orang orang tertentu yang bisa menuhin, Ning."


"Ah, Kang Aji ini bisa saja. Itu kan Abah Kang yang mau. Buka. Habiba." Sahut Habiba kemudian.


"Iya, sih, Ning. Emmm, kalau saya mana mampu. Paling juga seperangkat alat sholat." Ajimukti kemudian tertawa.


Entah kenapa dada Habiba rasanya berdesir saat ini. Ada aliran yang tiba tiba menyengat ke dalam hatinya.


"Emmm, saya sih sudah cukup seperangkat alat sholat, Kang. Nggak mau muluk muluk. Kan yang terpenting tujuannya. Bisa menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah. Dan yang pasti bisa menjadi imam untuk saya dan mampu membimbing dan menuntun saya ke jalannya Allah, Kang." Ucap Habiba dengan sedikit rona merah merekah di pipinya.


"Emmm, kalau seperti itu sih saya pun berani bersaing, Ning. Kan setiap laki laki memang kewajibannya untuk bisa menjadi imam untuk keluarganya." Ajimukti melambatkan suaranya. Lalu terlihat salah tingkah setelah menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


Seketika wajah Habiba pun benar benar memerah mendengar ucapan Ajimukti yang entah sadar atau tidak sudah membuat aliran darah Habiba berhenti untuk sejenak.


Ajimukti segera sadar akan ucapannya yang tidak terkendali saat ini. Dia pun merasakan debaran debaran yang tak menentu di dadanya. Sekujur tubuhnya pun mendadak terasa lemas.


Untuk sesaat Ajimukti hanya bisa membuang tatapan matanya dan berpikir untuk segera mengakhiri suasana canggung yang mendadak ini.


"Sepertinya sudah mulai panas ini, Ning. Apa tidak sebaiknya kita kembali ke pesantren?" Ucap Ajimukti kemudian, berusaha mencairkan suasana yang mulai canggung.


Habiba hanya diam diam mengangguk ringan dan menyembunyikan senyum di wajahnya saat ini.


Hari masih pagi, matahari pun masih malu malu untuk benar benar menunjukkan jati dirinya. Seperti hati dua insan ini yang masih sama sama belum berani untuk mengakui keberadaan masing masing.


Ajimukti masih mengiring langkah ringan Habiba. Tak lagi ada percakapan diantara keduanya. Hanya suara desir angin yang sesekali menampar wajah mereka di hari sepagi ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2