
"Sampeyan kenapa, Bang? Tak lihat lihat sepertinya sampeyan gelisah sekali." Tanya Budi yang sejak tadi memperhatikan gelagat Arya yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Entahlah, Bud. Kuping saya mbenginging rasanya ada yang sedang ngrasani saya ini, Bud." Sahut Arya sambil merebahkan tubuhnya berbantal lengan tangannya.
Budi tak segera menyahut, ia justru ikut menjatuhkan punggungnya tak jauh dari Arya.
"Ya, semoga saja ngomonginnya yang baik-baik, Bang. Jadi sampeyan juga harus berprasangka baik pula." Ucapnya kemudian.
Arya hanya berdeham isyarat mengamini ucapan Budi barusan.
"Hexa bagaimana, Bang?" Tanya Budi tiba-tiba setelah beberapa saat sempat saling diam menatap langit-langit tempat mereka rebahan.
Mendengar pertanyaan Budi yang seperti itu, Arya hanya sekilas melengkungkan bibirnya. "Entahlah." Ucapnya singkat.
"Entahlah itu jawaban seperti apa, Bang?" Tekan Budi kemudian.
Arya sontak terbahak mendengar Budi yang seolah memojokkannya untuk menjawab pertanyaannya barusan.
"Tumben, Bud?" Tanyanya kemudian.
"Tumben? Apanya yang tumben, Bang?" Tanya Budi balik.
"Ya, tumben kamu menanyakan Hexa? Tidak seperti kamu yang biasanya kamu ini." Seloroh Arya tanpa basa basi.
Budi beranjak dari rebahannya. "Bukankah kemarin sampeyan menyuruhnya mulai membiasakan diri dengan orang-orang di pesantren. Ya, saya hanya ingin tahu saja bagaimana soal itu."
"Oh, itu? Kenapa, Bud? Apakah kamu mulai merindukan teman-temanmu disana?" Tanya Arya yang kemudian juga ikut terduduk.
"Teman?" Potong Budi cepat seolah memprotes pernyataan Arya itu.
Arya sedikit mengangkat bahunya, "Ya, teman. Maaf ini, Bud. Meski tabiatmu dulu tidak terlalu baik. Tapi teman tetap adakan pastinya?"
Budi tersenyum sembari menghela nafas. "Saya sudah melupakannya, Bang."
Arya balik tersenyum mendengar jawaban Budi itu. Kini ia menepuk pundak Budi.
"Jangan bilang melupakan. Tidak baik. Dan tentu itu sangat tidak dianjurkan. Saya akan dengan tegas menyalahkan niatmu itu, Bud." Ucap Arya kemudian.
Budi tak menyahut kali ini. Ia tahu betul apa maksud Arya. Karena Budi tahu, Arya tipe orang yang paling tidak suka memutus silaturahmi.
"Nanti kalau Hexa kesini, sebaiknya kamu tanya sendiri, Bud." Ucap Arya setelah melihat Budi tak menyahut lagi ucapannya barusan.
"Tidak perlu, Bang." Sahut Budi lirih.
Arya tak lagi menyahut, untuk beberapa saat setelahnya, keduanya kembali hanya sama-sama diam. Arya bahkan kembali menjatuhkan punggungnya dan kembali rebahan.
Sementara itu di tempat lain.
"Sebaiknya nanti biar dia sendiri yang memperkenalkan dirinya ke kamu yo, Le. Bu Lek pernah di wanti-wanti sama adikmu itu untuk tidak bilang ke kamu karena kamu pasti langsung tahu. Tidak tahu apa itu berlaku juga setelah pertemuan kita ini atau tidak. Yang pasti Bu Lek tidak mau bikin adikmu kecewa." Ucap Mulatsih pada akhirnya.
Mendengar jawaban Mulatsih yang kemudian seperti itu, tidak sesuai harapannya, Ajimukti nampak sedikit kurang puas, pun dengan Dullah. Tapi pada akhirnya Ajimukti tersenyum dan menghargai sikap buleknya itu.
"Baiklah kalau begitu, Bu Lek. Tapi saya mohon Bu Lek segera beritahu dia untuk segera menemui saya. Katakan saja ini dawuhe kang Mase begitu, Bu Lek." Ucap Ajimukti nampak sungguh-sungguh.
Mulatsih tersenyum, "Tentu saja, Le. Kamu tenang saja. Bu Lek pasti akan segera memberitahukan pertemuan kita ini sama adikmu biar adikmu juga segera mau bloko sama kamu."
"Terima kasih, Bu Lek."
"Oh, iya, Le. Ngomong-ngomong, Bu Lek tapi kebetulan sempat masak sayur lodeh. Bu Lek siapin dulu ya. Kamu harus cobain masakan Bu Lek." Ucap Mulatsih sesaat kemudian.
"Walah, tidak usah repot-repot Bu Lek." Sahut Ajimukti.
"Iya, Mbak Yu. Tidak usah repot-repot." Imbuh Dullah sungkan.
"Sudah. Tidak ada yang merasa direpotkan. Bu Lek juga tidak kerepotan. Piye juntrunge ngladeni anak kerepotan to, Le. Iya to Dik Dullah?" Sahut Mulatsih mencari pengaminan Dullah.
__ADS_1
Dullah hanya kemudian tersenyum, "Nggeh sampun, Mbak Yu. Rejeki pantang ditolak." Ucapnya kemudian.
Mulatsih pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan melangkah menuju dapur.
Diruangan itu Ajimukti terdengar berbisik dengan Dullah.
"Saya benar-benar penasaran siapa sebenarnya adik saya, atau anak Bu Lek Mulatsih itu, Lek." Ucap Ajimukti setengah berbisik.
"Saya pun sama halnya njenengan, Mas. Tapi seperti yang Mbak Yu bilang tadi. Kita tidak bisa memaksa Mbak Yu untuk bilang siapa nama adik njenengan itu, Mas." Sahut Dullah juga setengah berbisik.
Ajimukti nampak menghela nafas, "Ada rencana apa sebenarnya, sampai-sampai dia tidak mau terbuka dan memilih merahasiakan semua ini dari saya sementara seperti kata Bu Lek. Bahkan kami pun se-pesantren se-angkatan malah." Gerutunya kemudian.
"Entahlah, Mas. Tapi Pak Lek yakin, adik njenengan itu bukan orang sembarangan. Artinya begini, Mas. Pasti memang ada satu rencana yang sedang dia rencanakan, dan saya yakin rencana itu baik." Imbuh Dullah.
"Ya itu dia, Lek. Apa sebenarnya rencananya." Timpal ajimukti.
Dullah sedikit menaikkan bahunya, "Entahlah, Mas. Ya kita tunggu saja sampai adik njenengan itu mau menemui njenengan."
Ajimukti tak menyahut, ia hanya sedikit mengangguk pelan.
"Oh iya, Mas Aji. Apa ini nanti njenengan juga akan memberitahu Bu Le Sih mengenai rencana pernikahan njenengan sama Ning Biba?" Tanya Dullah beralih topik.
Ajimukti menarik nafas sejenak, "Sepertinya belum, Lek. Insya Allah kalau waktunya sudah dekat kita kembali kesini untuk memberitahu Bu Lek. Sekaligus minta doa restunya." Lanjutnya.
Dullah mengangguk, "Baiklah kalau begitu, Mas. Karena saya pikir juga tidak lama lagi, siapa tahu Mas Aji mau sekalian memberitahu, takutnya kalau semakin dekat Mas Aji akan sedikit repot dan tida sempat kesini." Ucapnya kemudian.
"Insya Allah masih ada waktu, Lek. Dibilang dekat ya memang sudah dekat. Tapi bukan berarti tidak ada waktu lagi kan, Lek?" Sanggah Ajimukti.
Dullah mengangguk. "Baiklah kalau begitu, Mas."
Tak lama setelah percakapan itu, Mulatsih kembali di tengah-tengah mereka membawa cething berisi nasi juga mangkok besar berisi sayur.
"Sebentar piringnya Bu Lek ambilkan dulu, Le." Ucapnya sembari meletakkan yang dibawanya ke meja.
"Ora, Le. Wes Ojo omong ngrepat ngrepoti to. Adikmu kalau pulang, Bu Lek juga begini, tak oyak oyak kon maem." Sahut Mulatsih setengah tertawa sembari kembali berjalan ke dapur.
Tidak lama, Mulatsih sudah kembali lagi membawa piring dan sendoknya.
"Ayo, Le. Di incipin masakan Bu Lek. Monggo Dik Dullah gek disambi. Jangan sungkan pokoknya kalau disini. Iki ya rumahmu, Le." Ucap Mulatsih mempersilahkan.
Ajimukti hanya tersenyum lali meraih piring di atas meja.
"Wah, baunya sedap sekali ini, Bu Lek." Puji Ajimukti.
"Halah, apa, Le. Masakane wong ndeso. Alakadar, Le. Bumbune Yo gur bras brus, waton mlebu." Timpal Mulatsih merendah.
"Mbak Yu,. sekalian Monggo." Ajak Dullah pada Mulatsih.
"Iya, Bu Lek. Bu Lek tidak sekalian to ini?" Imbuh Ajimukti.
"Saya tadi sudah, Dik Dullah. Wong Urip ijen. Masak, matengan ya terus sarapan." Sahut Mulatsih.
"Sudah, Le. Kamu ajak pak Lek mu makan. Jangan sungkan. Di waregki. Tandhuk." Imbuh Mulatsih pada Ajimukti.
Sementara Ajimukti dan Dullah menikmati hidangan di rumah Mulatsih. Di tempat Budi dan Arya pun nampak masih hening, justru kini samar-samar mata Budi mulai sedikit sayup karena angin sepoi yang bikin kantuk.
"Ngomong-ngomong kamu sudah jadi menemui bapakmu, Bud?" Tanya Arya tiba-tiba pada Budi yang seketika membuat Budi menegakkan tubuhnya.
Budi sedikit menelan ludah lalu mengucek mata dan menyapu wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Arya kemudian.
"Tidak apa-apa, Bang." Sahut Budi pelan.
"Lalu?" Tanya Arya lagi seolah meminta jawaban atas pertanyaannya di awal.
__ADS_1
"Lalu apa, Bang?" Tanya Budi pura-pura bodoh.
"Yang saya tanyakan tadi apa?" Tegas Arya memperjelas.
Budi menghela nafas. "Insya Allah, Bang. Masih dalam proses saya pikirkan." Sahutnya kemudian.
Arya bangun dari rebahannya dan menggelengkan kepalanya.
"Wa jazaa`u sayyi`atin sayyi`atum mitsluhaa, fa man 'afaa wa ashlaha fa ajruhuu 'alallaah, innahuu laa yukhibbudz-dzalimiin. Catat itu Bud." Ucap Arya kemudian.
"Maksudnya apa, Bang?" Tanya Budi kemudian.
Arya terbahak sembari menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dibelakang.
"Bisa-bisanya orang yang mengaku santri senior di Pondok Hidayah tanya arti sebuah ayat." Goda Arya kembali dengan sedikit senyum menggoda Budi.
"Jangan begitulah, Bang." Sahut Budi tertunduk merasa ditampar oleh ucapan Arya barusan.
Arya menepuk pundak Budi, "Yang pasti artinya baik, Bud. Baik untuk kamu, untuk bapak kamu. Baik untuk yang mau mengikuti petunjuk dalam ayat itu. Bahkan baik untuk yang sekedar mendengarnya saja." Ucap Arya.
"Lalu artinya, Bang?" Budi Masih berusaha memburu penjelasan.
Arya lagi-lagi tersenyum. "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim."
Mendengar itu Budi tertunduk.
"Kenapa?" Tanya Arya.
"Ya, Bang. Saya memang dzalim." Ucap Budi lirih.
Arya tersenyum, ia tidak menanggapi ucapan Budi itu, ia justru merogoh rokok di saku jaketnya dan menyulutnya sebatang.
"Dari mana kamu mendapat asumsi bahwa kamu dzalim?" Tanya Arya.
"Ya dari ayat itu saja sudah jelas, Bang. Saya dzalim." Jawab Budi.
"Bagian mana yang menyatakan kamu dzalim?" Kejar Arya.
"Karena.... Karena saya, saya yang belum bisa memaafkan bapak, Bang." Ucap Budi ragu dan terbata.
"Tapi sudah ada niat kan?" Tanya Arya kemudian.
Budi mengangguk.
Arya pun tersenyum mendapati ekspresi Budi yang seperti itu.
"Baguslah, sudah ada niat, berarti tinggal mental kamu saja untuk mengeksekusi niat kamu." Kembali Arya menepuk pundak Budi.
Budi sekali lagi hanya mengangguk.
"Ingat, Bud. Niat adalah doa dalam bentuk draft. Rapikan dulu, baru setelah itu kamu send." Ucap Arya kemudian.
"Kamu tidak akan tahu seberapa kuatnya kamu sebelum kamu mencoba menyangga sesuatu yang menurutmu paling berat." Imbuhnya.
"Terima kasih, Bang." Sahut Budi lirih.
"Kenyang saya, Bud." Sahut Arya.
"Kenyang?" Tanya Budi sembari mengerutkan keningnya.
"Iya,. kenyang. Kenyang dengar terima kasih kamu setiap kali saya kasih masukan. Tapi sampai sekarang, tidak ada greget kamu buat kamu aplikasikan." Arya kini nampak benar-benar memojokkan Budi.
Budi hanya bisa terdiam kali ini.
Bersambung....
__ADS_1