
"Ehem!!!"
Suara deheman seorang laki laki dari arah belakang seketika membuat Ajeng tersentak dan terlonjak kaget, dan seketika itu juga dirinya memutar badannya. Begitu dirinya melihat bahwa suara itu datang dari Manan yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya, Ajeng pun memasang wajah kesalnya.
"Kamu, Nan. Bikin kaget orang saja!" Seru Ajeng sedikit kesal.
Manan hanya tertawa dan melangkah ke arah Ajeng lalu menarik kursi plastik berwarna biru tua yang tak jauh dari Ajeng dan duduk dengan tenangnya.
"Lagian siapa suruh melamun." Celetuk Manan kemudian, "Mikirin apa sih?" Lanjut Manan bertanya.
"Ah, siapa juga yang melamun. Sok tahu kamu itu." Ajeng memprotes.
Manan hanya mencibir.
"Oh, iya. Saya lihat lihat ada yang lagi gimana gitu tadi?" Ucap Manan kemudian.
Ajeng menoleh. Dan sejenak mengerutkan keningnya.
"Tadi? Maksudnya gimana gitu itu gimana memang?" Ajeng masih mengerutkan keningnya.
Manan tertawa, dan tawa Manan membuat Ajeng semakin tidak mengerti maksud ucapan Manan.
"Kenapa sih, Nan? Aneh deh kamu ini." Gumam Ajeng menyandarkan siku kanannya ke meja samping tempatnya berdiri.
"Sepertinya ada yang diam diam sedang mengagumi seseorang, nih." Gumam Manan dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Ajeng memajukan kepalanya dan sedikit menaikan alis matanya. Dirinya merasa ada yang sedang mengintimidasinya.
Manan tersenyum senyum sediri melihat ekspresi Ajeng.
"Maksudnya apa nih?" Ajeng kini merubah ekspresi wajahnya sedikit kesal sembari menggerak gerakan bibirnya.
"Udah nggak usah sok menutup nutupi gitu lah. Keliatan banget tahu." Manan mengibaskan tangan nya ke wajah Ajeng.
"Apaan sih, Nan?" Ajeng nampak tersipu dan keliatan ekpresi salah tingkahnya.
"Gini deh." Kini Manan mengacungkan dua jempolnya ke arah Ajeng.
"Terserah kamu lah, Nan." Ajeng menyembunyikan wajahnya yang mulai nampak memerah.
Manan lagi lagi tertawa, "Berarti benar kan dugaan ku?" Bisik Manan lirih.
"Orang yang kamu omongin apa aja saya nggak tahu lho. Aneh kamu ini." Ajeng mengucapkan itu tanpa menoleh ke arah Manan.
Manan hanya mengangguk anggukan kepalanya. Dan masih senyum senyum sendiri melihat ekspresi Ajeng saat ini.
Ajeng yang merasa sedang di intimidasi seketika memutar posisi nya dan kini dia menatap tajam ke arah Manan.
"Nafisa apa kabar, Nan?" Tanya Manan tiba tiba.
Manan tersentak dan seketika menelan ludah.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget gitu." Lanjut Ajeng melihat ekspresi Manan yang kelihatan kaget mendengar pertanyaannya itu.
"Nggak papa." Sahut Manan datar.
"Yakin nggak papa? Terus gimana?" Tanya Ajeng lagi.
"Gimana apanya?" Manan bertanya balik.
Ajeng menggelengkan kepalanya, "Kan saya tanya tadi. Gimana kabarnya Nafisa?" Ajeng mengulangi pertanyaannya dan sedikit menekannya.
Manan menghela nafas, "Nggak tahu, setelah dia boyong, saya sudah nggak pernah lagi tahu kabar soal dia." Tiba tiba ekspresi wajah Manan berubah.
"Memangnya kamu nggak tanya sama teman teman yang lain? Mungkin salah satu dari mereka ada yang tahu." Lanjut Ajeng kemudian.
"Sudah. Dan mereka juga nggak ada yang tahu." Sahut Manan datar.
"Apa kira kira dia masih di Magelang, Na?" Tanya Ajeng kemudian.
Manan hanya menaikkan bahu. Ajeng paham maksud isyarat Manan itu.
"Nduk, bantu ibu bentar, Nduk!" Disaat itu tiba tiba Sumiatun dari arah dapur memanggil Ajeng.
"Iya, Bu. Sebentar!" Seru Ajeng menyahut panggilan ibunya itu.
"Nan, saya tinggal ke dapur dulu. Kamu nggak ikut jagongan di depan?" Tanya Ajeng kemudian pada Manan.
"Kamu bantu Bu Dhe dulu sana! Saya disini dulu. Bapak dan yang lain lagi ngobrol apa entah saya nggak ngerti." Sahut Manan.
Ajeng hanya menggerakkan bibir dan alis matanya lalu bergegas ke dapur menemui ibunya.
"Kapan kamu jadi boyong, Sa?" Tanya Manan kala itu ketika dirinya tak sengaja bertemu Nafisa di Pawon ndalem.
Kala itu, seperti biasa, Manan lah yang selalu diminta Kyai Salim untuk mengambil ayam ayam potong ke rumah Prastowo.
"Mungkin dua atau tiga hari ini, Kang. Nunggu kabar dari Ayah soal pesantren yang di Magelang dulu gimana." Sahut Nafisa dengan suara lembut dan lirih.
Nafisa ini adalah santriwati sekaligus rewang ndalem kala Pondok Hidayah masih dipegang dan dipimpin oleh Kyai Salim Muthoriq. Anaknya terbilang pendiam dan sangat susah ditebak.
Meski terkesan pendiam, tapi Nafisa terbilang gadis yang ramah dan selalu tampil sederhana. Mungkin itu lah yang akhirnya membuat Manan menaruh hati ke gadis satu ini.
"Berarti setelah ini kita nggak akan ketemu lagi, Sa?" Tanya Manan nampak gelisah kala itu.
"Masih kok, Kang. Nanti pas libur pondok, saya atau sampeyan bisa saling mengunjungi, kan?" Ucap Nafisa dengan sedikit senyum terlukis di wajahnya.
Manan tersenyum kecut. Setidaknya, ia pun tahu jarak Magelang dan Pondok Hidayah ±340KM, dan butuh waktu kurang lebih delapan jam untuk sampai di Magelang. Manan pun tahu, Nafisa hanya ingin mencoba menenangkan kegelisahannya.
"Sampeyan tenang saja, Kang. Ini kan hanya soal jarak. Sebenarnya saya pun berat, Kang. Tapi bagaimana pun juga untuk saat saya harus manut keputusan ayah, Kang." Ucap Nafisa sedikit tertunduk.
"Apa kamu yakin setelah kamu boyong kita masih bisa bertemu lagi, Sa?" Manan mencoba meyakinkan sekali lagi.
"Saya yakin, Kang. Jika dua orang sudah ditakdirkan untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun meraka berasal, pastilah mereka akan bertemu." Nafisa kembali melempar senyum ke arah Manan.
__ADS_1
Manan pun mencoba memaksa bibirnya untuk membalas senyum itu meski rasanya bibirnya berat untuk sekedar tersenyum.
"Sudahlah, Kang. Jangan memberatkan langkah saya. Kasih kepercayaan saya untuk tetap menjaganya meski jarak tak bisa membuat kita sedekat biasanya." Sekali lagi Nafisa terus mencoba menenangkan Manan.
Mendengar itu Manan segera beranjak dari Pawon ndalem meski Nafisa berusaha menahannya.
"Kang, tunggu! Apa Kang Manan ragu? Apa Kang Manan kecewa dengan keputusan saya untuk boyong dari sini?" Tanya Nafisa berusaha menahan Manan.
Tapi Manan tak merespon sedikit pun pertanyaan Nafisa itu dan terus melangkah hendak meninggalkan Nafisa ditempat itu sendiri.
Namun tiba tiba Manan menoleh, dan tersenyum ke arah Nafisa, " Kalau kamu kembali nanti, kamu adalah milik ku. Bila tidak, kamu memang tidak pernah jadi milik ku." Lalu setelah itu Manan benar benar pergi meninggalkan Pawon ndalem Kyai Salim.
Itulah percakapan terakhir Manan dan Nafisa delapan tahun lalu. Bahkan ketika Nafisa boyong pun, Manan hanya terlihat melepas Nafisa dengan pandangan matanya dari jarak yang cukup jauh.
"Melamun saja! Mikir apa sih?" Tiba tiba Ajimukti menepuk pundak Manan. Manan pun segera sadar dari lamunannya.
"Eh, kamu, Jik. Kok kamu kesini? Ada apa?" Tanya Manan ketika menyadari Ajimukti sudah berada di dekatnya saat ini.
"Nggak papa. Sebenarnya saya mau ke kamar mandi. Tapi lihat kamu tadi asik melamun jadi penasaran. Sebenarnya lagi melamunin apa sih, Nan?" Tanya Ajimukti mengulangi.
"Ah, nggak ada kok, Jik." Manan mencoba menyembunyikannya dari Ajimukti.
Ajimukti hanya mengangkat bahunya, "Jangan kebanyakan melamun, Nan. Kesambet kamu entar." Goda Ajimukti lalu berlalu dan segera pergi ke kamar mandi.
Manan menghela nafas panjang. Untuk beberapa saat dadanya terasa sesak.
"Loh, Nan. Tadi sepertinya saya dengar suara Kang Aji. Kok nggak ada?" Ajeng tiba tiba kembali dari dapur setelah mendengar suara Ajimukti di ruang tengah tempat Manan berada saat ini.
"Ke kamar mandi. Tunggu aja entar juga balik. Kayaknya bener ya omongan saya tadi?" Manan kembali menggoda Ajeng. Pipi Ajeng seketika memerah.
"Apaan sih, Nan. Omongan apa yang bener?" Ajeng masih berusaha menutupi perasaannya, tapi kini pipinya memang benar benar memerah, dan itu jelas terlihat oleh Manan.
Memang tak lama setelah itu Ajimukti terlihat keluar dari arah kamar mandi. Dan Manan pun seketika mendeham membuat Ajeng terlihat kikuk dan salah tingkah.
"Loh, Dik Ajeng? Kok baru kelihatan?" Tanya Ajimukti menyapa Ajeng.
"Tadi mbantu ibu masak di dapur, Kang." Jawab Ajeng tertunduk menyembunyikan pipinya yang memerah.
Manan hanya bisa menahan senyum melihat sikap Ajeng yang seperti itu.
"Yasudah, saya ke depan lagi ya, Dik." Ucap Ajimukti kemudian.
"I...iya, Kang." Suara Ajeng terdengar gemetar, lalu sedikit mencuri pandang ketika Ajimukti melintas di depannya. Rasanya seluruh darah dalam tubuhnya mengalir deras saat ini.
Begitu Ajimukti sudah menghilang di balik Gordin, Manan kembali berdeham membuat Ajeng kembali terlihat kikuk dan melirik sinis ke arah Manan.
"Percuma kamu tutupin dari saya, Jeng. Wong sikap kamu aja udah jelasin semua kok." Manan tersenyum tipis dan kini bangun dari duduknya.
Ajeng terdengar menghentakkan kakinya kesal sedari tadi di ejek Manan melulu.
"Nafisa tadi gimana? Kita belum selesai lho ngobrol nya soal dia?" Tanya Ajeng mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Manan hanya menggoyangkan bibirnya dan tak ada niat untuk kembali membahas soal pertanyaan Ajeng itu. Kini Manan melangkah menyusul Ajimukti kembali ke ruang tamu.
Bersambung...