
"Lek, mumpung hari ini kita libur ngaji. Bagaimana kalau kita cari Pak Gandung?" Tanya Ajimukti sesaat setelah kembali dari kamar mandi pagi ini.
Dullah yang sedang merebahkan diri di tikar segera bangun dengan bersemangat.
"Nyari Gandung, Mas? Boleh boleh boleh." Dullah terlihat begitu bersemangat pagi ini. "Apa sekalian ke rumah mertuanya Gandung, Mas?" Tanya Dullah kemudian.
Ajimukti berpikir sejenak, "Emmm, sebaiknya begitu, Lek. Bagaimana pun juga saya sudah janji." Sahut Ajimukti.
Ajimukti meraih celana yang dipakai ketika ia pertama datang ke Pondok Hidayah. Dullah mengerutkan keningnya, nampak keheranan.
"Loh, kok pakai itu, Mas?" Tanya Dullah penasaran.
"Memangnya kenapa, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian, sembari mengenakan celana yang banyak lubang disana sini dipadu dengan kaos hitam polos. Jadi tak heran ketika pertama ia datang pandangan para santri agak aneh melihatnya.
Dullah hanya garuk garuk kepalanya. Ia tahu bagaimana Ajimukti. Meski dia memiliki ilmu agama yang luar biasa, tapi tak pernah ingin mengumbarnya dan terlihat alim hanya dimata manusia.
Beberapa saat kemudian Ajimukti dan Dullah terlihat sudah meninggalkan kamar mereka. Tepat disaat itu, Manan terlihat tengah menuruni tangga.
"Mau kemana, Jik?" Sapa Manan ketika berpapasan dengan Ajimukti dan Dullah.
"Mau nyari Pak Gandung, Nan." Sahut Ajimukti datar.
Manan melihat Ajimukti dari ujung kaki sampai ujung rambut. Penampilan Ajimukti ini membuat Manan sedikit mengerutkan kening. Begitu juga Dullah yang juga terlihat santai.
"Kenapa, Nan? Melihatnya gitu banget." Tanya Ajimukti kemudian.
"Nggak papa, Jik. Tunggu sebentar ya, Jik. Aku ikut. Aku ganti baju dulu." Ucapan Manan segera kembali menaiki tangga.
Ajimukti dan Dullah hanya saling pandang dan menaikkan pundak.
Tak lama Manan sudah kembali dengan pakaian yang lebih santai dan terlihat berbeda dengan penampilan Manan selama ini yang selalu mengenakan baju Koko, sarung dan berpeci. Kali ini Manan terlihat mengenakan sweater dan celana chino. Cukup menarik penampilan Manan kali ini.
Mereka bertiga pun keluar dari gerbang masjid pesantren untuk mencari angkutan antar desa yang menuju desa sebelah. Dan tak lama sebuah angkutan desa berwarna hijau melaju dari arah depan, dengan segera Dullah melambaikan tangan kanannya sebagai isyarat.
"Balai desa sebelah ya, Kang." Ucap Dullah kemudian. Si sopir hanya mengangguk laju kembali melajukan angkutannya.
Tidak terlalu lama untuk sampai di desa sebelah. Sebenarnya jika jalan kaki saja tidak sampai satu jam. Tapi kali ini mereka ingin menghemat tenaga juga memanfaatkan waktu yang ada.
Begitu turun dari angkutan, Dullah segera mencari sosok Gandung diantara beberapa becak yang terparkir di depan balai desa itu. Ada sekitar sepuluh becak disana. Dullah mengamati satu persatu tukang becak yang sedang rebahan di bangku becak sembari menunggu penumpang.
Melihat Dullah, Ajimukti dan Manan yang celingukan salah seorang tukang becak menawarkan becaknya pada mereka.
"Becak, Kang! Mau kemana biar saya antar?" Ucap si tukang becak yang usianya masih terbilang cukup muda itu.
"Tidak, Kang. Saya sedang mencari Gandung. Katanya dia sering ngetem disini." Sahut Dullah kemudian.
__ADS_1
"Oh, Pakdhe Gandung? Itu, Kang. Disana itu!" Tunjuk si tukang becak itu ke salah satu barisan becak yang ada disana.
"Oh itu ya, Kang. Baik. Terima kasih ya, Kang." Ucap Dullah kemudian.
"Sama sama, Kang." Sahut si tukang becak ramah.
Dullah diikuti Ajimukti dan Manan segera menghampiri becak Gandung. Begitu sampai disana terlihat Gandung tengah tertidur dengan wajah ditutupinya dengan topi.
"Ndung!" Sapa Dullah berusaha membangunkan Gandung dengan menepuk kakinya.
Gandung terlihat kaget dan segera bangun. Begitu melihat yang membangunkannya ternyata Dullah, Ajimukti dan Manan. Senyum di bibirnya langsung mengembang.
"Ah, Dullah. Saya pikir penumpang tadi." Ucap Gandung kemudian, lalu turun dari becaknya.
"Kami sengaja kesini, Ndung. Selagi nggak ada kegiatan di pesantren." Ucap Dullah kemudian.
"Terima kasih. Terima kasih sekali kalian sampai meluangkan waktu kesini." Ucap Gandung dengan setengah membungkukkan badannya.
"Iya, Ndung, sama sama. Malah kami yang minta maaf, baru bisa menyempatkan sekarang untuk menemui kamu." Ucap Dullah sembari mengelus pundak Gandung.
"Tidak apa apa, Dullah. Saya tahu kesibukan kalian di pesantren. Pasti sulit untuk mencari waktu luang." Sahut Gandung setelahnya.
"Oh iya, Ndung. Mumpung kami ada waktu. Soal yang waktu itu bagaimana?" Tanya Dullah kemudian, "Apa kita kerumah mertua kamu sekarang saja?" Lanjutnya.
Dullah hanya mengangguk. Tak lama Gandung menghampiri salah seorang pengemudi becak. Nampak berbincang lalu kembali lagi.
"Nanti biar salah satu dianter teman saya, Dul. Terserah siapa yang ikut becak teman saya." Ucap Gandung yang ternyata meminta bantuan temannya sesama pengemudi becak untuk mengantar mereka.
"Biar saya sama Aji naik becak teman Pak Gandung saja, Pak." Sahut Manan.
"Baiklah kalau begitu, Mas." Sahut Gandung.
Tak lama mereka pun berangkat ke rumah mertuanya Gandung. Dullah ikut di becak Gandung, sementara Ajimukti dan Manan naik di becak temannya Gandung.
Tidak terlalu jauh juga rumah mertua Gandung dari balai desa. Dengan menaiki becak pun hanya berkisar 20 menitan saja untuk sampai rumah mertua Gandung.
Mereka turun dari becak. Teman Gandung segera memutar becaknya untuk kembali ngetem di balai desa. Tapi sebelum bapaknya becak itu pergi, Ajimukti menahan bapak itu.
"Ini, Pak. Saya tidak tahu tarifnya. Jika kurang bapak bilang saja." Ucap Ajimukti sembari menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
Gandung yang melihat itu berusaha menahan, "Sudah Mas Aji, tidak usah! Nanti biar itu urusannya sama saya saja."
"Iya, Mas. Tidak usah saja. Lagian saya ikhlas nolongin Gandung. Saya tidak minta bayaran, Mas." Imbuh si bapaknya tukang becak teman Gandung berusaha mengembalikan uang Ajimukti.
"Sudah, Pak. Tidak apa apa." Ucap Ajimukti pada Gandung, lalu beralih ke temannya Gandung itu, "Bapak terima ya. Saya pun ikhlas."
__ADS_1
"Tapi ini kebanyakan, Mas. Saya tidak ada kembalian." Ucap temannya Gandung itu kemudian.
"Sudah, Pak. Saya tidak minta kembalian kok. Bapak terima saja." Ucap Ajimukti lagi.
"Tapi, Mas?" Teman Gandung nampak sungkan.
"Anggap saja ini rejeki anak istri bapak." Ajimukti memotong.
"Mas Aji memang benar benar baik." Gandung memuji. Sementara Dullah dan Manan hanya saling melempar senyum melihat adegan itu.
Tak lama teman Gandung pun berlalu setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih kepada Ajimukti.
Kini mereka berdiri di halaman yang cukup luas. Di depan mereka sebuah rumah Joglo Khas Jawa timuran dengan tatanan genteng yang membentuk kerucut seperti gunung dengan empat saka guru dan masih berdinding gebyok kayu jati dengan ukiran yang indah pada daun pintu dan beberapa bagian lain, terlihat sangat menarik.
Gandung segera mengajak mereka ke emperan rumah itu. Di sana ada beberapa lincak yang juga terbuat dari kayu jati, juga beberapa hiasan seperti topeng ganongan yang biasa di pakai penari di dalam kesenian reog.
Pintu rumah saat itu sedang terbuka menandakan si pemilik rumah ada di dalam. Gandung segera masuk ke dalam, sementara Dullah dan yang lain menunggu di emperan rumah itu.
Suasana di tempat ini cukup sejuk. Angin sepoi terasa sangar segar ketika membelai wajah wajah mereka.
Tak berselang lama, Gandung pun keluar dari dalam rumah bersama istrinya dan seorang lelaki yang sudah cukup tua dengan mengenakan udeng di kepalanya. Rambut yang tidak tertutup udeng terlihat seluruhnya memutih. Kulit keriputnya juga sudah terlihat disana sini. Dengan mengenakan baju pesa'an, lelaki itu nampak begitu mengagungkan tradisi dan kebudayaan.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Ajimukti di ikuti Dullah dan Manan sembari sedikit menundukkan kepala mereka.
"Wa'alaikumsalam..." Sahut lelaki tua itu dengan suara yang berat.
"Mari silahkan duduk. Wah wah wah, jarang sekali saya ketamon seperti ini." Ucap lelaki tua itu nampak sumringah dengan senyum lebar memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal.
"Pak, Mereka ini teman teman Gandung. Ini Dullah, teman Gandung dari masih bocah sampai remaja. Tapi baru bertemu lagi belum lama ini." Gandung memperkenalkan Dullah, "Dan ini Mas Aji dan Mas Manan, mereka ini..."
"Keponakan keponakan saya, Pak." Potong Dullah. Gandung melirik Dullah, Dullah hanya memberi isyrat pada Gandung dengan anggukan kepalanya.
"Iya, Pak. Mas Aji dan Mas Manan ini keponakan Dullah." Lanjut Gandung.
"Wah, Selamat datang Nak Dullah. Ya, begini ini keadaan gubuk saya. Saya mertuanya Gandung, Bapaknya Mursini, istrinya Gandung." Ucap lelaki tua itu sedikit merendah, "Nama saya sendiri, Sukrono. Biasa dipanggil Mbah Sukro." Ucap lelaki tua dengan nama Sukrono itu.
"Ya, wong tuo mbien, Nak Dullah. Kalau kasih nama itu sak sak'e. Karena lahirnya Kliwon kasih nama anaknya Kliwon. Karena lahirnya Sabtu legi, dikasih nama Tugi. Padahal katanya, Asmo kinaryo jopo, nama itu adalah do'a. Dan saya pun diberi nama Sukrono. Sukro itu Jum'at karena saya lahir hari Jum'at. Dan 'NO' nya itu dari tembung Rino, yang artinya siang. Jadi nama saya Sukrono itu karena saya lahirnya Jum'at siang." Cerita Sukrono mengenalkan arti namanya sembari duduk di lincak berhadapan dengan Dullah dan yang lainnya.
Ajimukti untuk sesaat mengamati Sukrono. Dia merasakan hawa yang teduh dari lelaki tua ini. Sebuah perasaan yang nyaman bahkan ketika Sukrono hanya mengoceh tentang arti namanya.
Sejenak Ajimukti mengerutkan kening. Dia ingat ketika Gandung bercerita tentang bapak mertuanya ini. Tapi Ajimukti menemukan hal yang lain bahkan ketika Sukrono menjawab salam Ajimukti dengan lafadz yang sangat fasih.
Ajimukti tidak ingin berprasangka apapun saat ini. Justru saat ini diluar memenuhi permintaan Gandung, dirinya pun sedikit penasaran untuk tahu tentang Sukrono yang duduk tenang dihadapannya saat ini.
Bersambung...
__ADS_1