
Pagi ini selepas kajian, seperti beberapa pagi pagi sebelumnya, Ajimukti dan Dullah memilih untuk menikmati suasana sekitar pesantren ketimbang hanya di kamar tanpa kerjaan. Suasana desa yang belum sepenuhnya terjamah modernitas menjadi pemandangan yang layak untuk dikagumi.
Masih banyak sawah sawah disekitar pesantren ketimbang bangunan mall mall mewah. Di ruas ruas jalan pun belum seluruh pohon berubah jadi beton. Aroma padi yang menguning pun lebih terasa segar ketimbang aroma asap dari cerobong pabrik pabrik besar.
Ajimukti menghentikan langkahnya, dilihatnya di sebuah lahan yang cukup luas beberapa anak laki laki dan perempuan sedang asik bermain gobak sodor. Permainan yang kini sudah hampir dilupakan. Kebanyakan anak anak sekarang lebih menikmati permainan dari gadget mereka.
Ajimukti tersenyum melihat keriangan anak anak itu lalu menghela nafas dan segera menyusul Dullah yang sudah berjalan mendahuluinya. Di sudut lain beberapa anak juga terlihat sedang bermain petak umpet. Permainannya waktu kecil dulu. Dan sekarang sudah jarang sekali di mainkan anak anak jaman sekarang. Pemandangan yang luar biasa masih bisa menyaksikan anak anak di jaman sekarang masih memainkan itu.
Dullah kini menghentikan langkah dan seolah sedang mengamati sesuatu dari kejauhan. Ajimukti penasaran apa yang dilihat Dullah itu.
"Ada apa sih, Lek?" Tanya Ajimukti mengikuti arah pandangan Dullah.
"Itu, Mas. Itu bukannya Ajeng anaknya Prastowo." Tunjuk Dullah ke arah yang cukup jauh di arah pinggiran sawah.
Ajimukti mencoba mencari arah yang ditunjuk Dullah, sampai akhirnya ia pun melihat sosok anak perempuan berjalan sendiri di pematang sawah.
"Iya, Lek. Bener itu Ajeng. Ngapain dia sendiri disana ya, Lek?" Tanya Ajimukti begitu menemukan sosok Ajeng.
"Ya, nggak tau, Mas. Mungkin ikut matun Prastowo." Sahut Dullah sekenanya.
"Memangnya Pak Lek Pras punya sawah, Lek?" Tanya Ajimukti polos.
"Ya nggak tau juga, Mas. Mending kita kesana." Ajak Dullah kemudian.
Dullah sudah lebih dulu jalan, sementara Ajimukti hanya menaikkan pundaknya dan akhirnya pun segera mengikuti Dullah ke arah pematang sawah itu.
"Nduk, Jeng!" Seru Dullah begitu jarak dengan Ajeng sudah cukup dekat.
Ajeng yang dipanggil pun terlihat tengak tengok kanan kiri mencari siapa yang memanggilnya. Dan begitu melihat ternyata yang memanggilnya Dullah dan Ajimukti. Ajeng segera menyambut mereka dengan sebuah senyuman yang merekah.
"Pak lek, Mas Aji. Kalian mau kemana?" Saya Ajeng begitu Dullah dan Ajimukti sudah berada di hadapannya.
"Biasa, Nduk. Jalan jalan. Awakmu sendiri mau kemana, Nduk? Bapakmu mana?" Tanya Dullah kemudian.
"Sama, Lek. Saya juga cuma jalan jalan saja ini. Bapak itu disana lagi bantu tetangga ndaut." Tunjuk Ajeng ke salah satu petak sawah tak jauh dari mereka.
"Halah, jebul disana to? Pantes dari jalan sana tadi nggak kelihatan." Ucap Dullah melihat ke arah yang ditunjuk Ajeng.
Ajeng hanya tersenyum dan sepintas pandangannya tertuju pada pemuda di belakang Dullah.
"Saya tak kesana dulu, Nduk. Kangen rasane ndaut." Ucap Dullah kemudian, "Mas Aji ikut atau mau disini?" Dullah menoleh beralih pada Ajimukti.
"Saya disini saja lah, Lek. Malah cuma ngrusuhi kalau saya ikut kesana." Sahut Ajimukti.
"Yasudah kalau begitu." Dullah segera berjalan di sepanjang pematang sawah itu menuju tempat Prastowo berada. "Nduk, ajak'en jalan jalan itu Mas Aji, biar tahu daerah sini!" Seru Dullah pada Ajeng.
Ajeng hanya sedikit melempar senyum ke arah Dullah yang sudah berjalan cukup jauh itu.
"Nggak ada kajian Kang di pondok?" Tanya Ajeng sejurus kemudian.
"Udah tadi ba'da subuh. Kalau jam jam segini paling kelas Aliyah. Saya sama Lek Dul kan masih di kelas Diniyah." Sahut Ajimukti.
"Halah, Kang Aji ini bisa saja. Bapak sudah cerita semua lho." Sahut Ajeng sedikit melirik ke arah Ajimukti.
__ADS_1
Ajimukti mengangguk ringan, "Ya ya ya. Tapi tolong cukup kamu simpan saja ya. Jangan sampai lingkup Pondok Hidayah tahu." Pesan Ajimukti.
"Iya, Kang. Kang Aji tenang saja. Bapak juga sudah mewanti wanti saya kok." Sahut Ajeng terdengar meyakinkan Ajimukti.
"Oh iya, saya harus panggil apa nih?" Tanya Ajimukti kemudian menoleh ke arah Ajeng yang berdiri tak jauh darinya.
"Ah, Kang Aji ini. Harusnya saya lho yang bertanya seperti itu. Kan Kang Aji ini..."
"Sudah sudah. Jangan diteruskan." Potong Ajimukti. "Saya panggil 'Dik' saja ya. Kan saya manggil Pak Lek Prastowo juga Lek." Lanjut Ajimukti kemudian.
Ajeng menerawang, "Emmm, gitu juga nggak papa sih, Kang."
Ajimukti tersenyum. Ajeng pun diam diam ikut tersenyum sembari sedikit melirik ke arah Ajimukti.
"Temenin muter muter ya?" Ucap Ajimukti sesaat kemudian.
"Eh, entar pusing dong kalau muter muter. Gimana sih Kang Aji ini." Sahut Ajeng yang seketika membuat Ajimukti tertawa.
"Kamu itu lho. Ternyata sama kayak Lek Pras. Suka bikin ketawa."
Ajeng hanya tersenyum malu malu.
Untuk sekilas Ajimukti mengamati putri sulung Prastowo ini. Dibalik penampilannya yang terkesan pendiam ternyata cukup periang.
"Yasudah Kang Aji mau jalan jalan kemana?" Tanya Ajeng kemudian.
"Emmm, saya nggak terlalu tahu daerah sini. Pokoknya saya ngikut kamu ajalah, Dik." Jawab Ajimukti sembari sedikit menggaruk keningnya.
"Yasudah kalau gitu, yuk!" Ajeng berjalan didepan Ajimukti sementara Ajimukti hanya mengekor di belakangnya.
"Kamu kapan balik ke pondok, Dik?" Tanya Ajimukti kemudian
"Belum tahu sih, Kang. Mungkin Minggu depan?" Sahut Ajeng tanpa menoleh.
"Emmm, Habiba juga?" Tanya Ajimukti lagi.
"Sepertinya iya, Kang. Kebetulan saya sama Habiba satu angkatan satu kelas satu kamar." Jawab Ajeng menjelaskan.
"Berarti akrab banget dong sama Habiba?" Ajimukti masih terus melempar pertanyaannya.
"Ya bisa dibilang begitu sih, Kang. Sering curhat juga." Sahut Ajeng sembari terus berjalan.
"Curhat? Curhat apaan?" Ajimukti terdengar sedikit penasaran.
"Emmm, apa aja, Kang. Tapi yang akhir akhir ini dia sering curhatin ke saya masalah sama Abahnya?" Ajeng masih terus berjalan sembari menjawab setiap pertanyaan Ajimukti.
"Kyai Aminudin?" Tanya Ajimukti lagi sedikit menekan ucapannya.
"Iyalah, Kang. Siapa lagi." Jawab Ajeng di tutup dengan sedikit tawa.
"Emang ada masalah apa Habiba sama Kyai Aminudin, Dik?" Kali ini Ajimukti sedikit mulai terlihat menyelidik.
"Bentar, Kang. Kita kesana aja yuk. Agak idum disana." Ajeng menunjuk ke salah satu tempat di bawah sebuah pohon yang cukup besar di pinggiran sawah.
__ADS_1
Ajimukti hanya mengiyakan lalu kembali berjalan mengikuti langkah Ajeng.
"Ah, seger kalau disini. Anginnya cukup besar, Kang." Ucap Ajeng begitu tiba di bawah pohon itu.
Ajimukti hanya sedikit melempar senyum. Sejujurnya ia masih penasaran untuk segera tahu ada masalah apa antara Habiba dan Kyai Aminudin.
"Tadi gimana, Dik?" Tanya Ajimukti karena begitu penasarannya.
"Oh, soal Habiba dan Abahnya, Kang?" Tanya Ajeng memastikan.
Ajimukti mengangguk ringan.
"Sebenarnya masalah privacy sih, Kang. Tapi kemarin Habiba juga minta solusi ke saya. Tapi saya belum ada solusi juga sih. Ya siapa tahu Kang Aji bisa kasih solusi." Ucap Ajeng kemudian.
Ajimukti mengerutkan keningnya, "Solusi? Memangnya ada ada masalah apa, Dik?"
"Begini, Kang. Sebenarnya Habiba itu sama Abahnya mau di jodohkan sama salah seorang santri di Pondok Hidayah. Dan bapaknya si santri itu bahkan sudah terang terangan melamar Habiba untuk anaknya. Dan kalau lamaran itu diterima Habiba. Bapaknya santri itu berjanji sama Abahnya Habiba bakalan nanggung biaya pembangunan pondok putri." Ajeng nampak bersemangat bercerita. Sementara Ajimukti masih memperhatikan cerita Ajeng itu, namun kini raut wajah Ajimukti terlihat berbeda.
"Tapi Habiba sebenarnya tidak mau menerima lamaran itu, Kang. Soalnya kata Habiba. Habiba sudah punya pilihannya sendiri gitu. Tapi Habiba nggak kasih tahu ke saya sih siapa pilihannya itu. Nggak tahu apa santri di pesantren kita atau santri di Pondok Hidayah atau bahkan salah satu Gus pengajar." Ajeng sedikit menaikkan bahunya.
Ajimukti sedikit menelan ludah dan terdengar menghela nafas berat. Rasanya ada yang mengganjal di ulu hatinya. Tapi dia pun tidak tahu ganjalan macam apa itu.
"Habiba bilang tidak siapa santri yang melamarnya itu?" Tanya Ajimukti sekali lagi menyelidik.
"Emmm, nggak sih, Kang. Cuma bilangnya santri Abahnya gitu aja." Sahut Ajeng ringan.
Ajimukti sedikit mendongak dan menerawang. Tatapannya kini sedikit kosong dan ganjalan di ulu hatinya semakin kian terasa.
"Oh iya, Kang Aji. Ajeng boleh nanya sesuatu nggak sama Kang Aji?" Ucap Ajeng kemudian membuyarkan pikiran Ajimukti.
Ajimukti menoleh ke arah Ajeng dan sedikit melempar senyum, "Mau tanya apa, Dik?"
"Emmm, apa setelah ini Kang Aji bakal menetap disini?" Tanya Ajeng sembari menyembunyikan wajahnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Ajimukti balik.
"Emmm, nggak papa sih, Kang. Pengen tanya aja." Ajeng masih berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Doain aja ya, Dik. Semoga urusan ini segera menemukan titik terangnya. Ya soal saya akan menetap dimana tergantung hasilnya nanti saja lah, Dik. Saya tidak bisa memutuskan sekarang." Jawab Ajimukti menjelaskan.
"Berarti ada kemungkinan menetap disini kan, Kang?" Tanya Ajeng lagi, kini sedikit menampakkan pipinya yang mulai terlihat memerah.
Ajimukti hanya tersenyum, "Doanya aja." Sahutnya kemudian.
"Mas Aji, Ajeng! Ayo pulang tidak kalian!" Tiba tiba Prastowo dengan suara yang cukup keras memanggil mereka dan menghentikan obrolan mereka berdua.
"Iya, Lek." Teriak Ajimukti.
"Yasudah kita kesana yuk, Dik." Ajak Ajimukti pada Ajeng.
"Eh, Kang. Kita lewat sini saja. Kita tunggu bapak sama Pak Lek Dullah disana." Tunjuk Ajeng pada ujung pematang sawah yang terhubung dengan jalan.
"Yasudah, kamu jalan duluan gih!" Ajimukti mempersilahkan Ajeng untuk berjalan lebih dulu. Ajeng hanya mengangguk dan kemudian berjalan di depan Ajimukti. Mereka kini kembali menyusuri jalanan petakan sawah yang lebarnya hanya sekitar tiga puluh sentimeter itu. Agak sedikit licin, Ajeng dan Ajimukti harus berjalan sangat hati hati agar tidak terpeleset ke dalam sawah yang digenangi air.
__ADS_1
Bersambung...