BROMOCORAH

BROMOCORAH
Wang Sinawang


__ADS_3

"Hexa ya?"


"Hmmm, saya tidak begitu kenal, tapi saya tahu. Anak itu juga sering nongol disini, tapi beberapa hari ini sudah jarang kelihatan."


"Ada apa memangnya?"


"Yasudah, Mas. Tidak ada apa apa. Hanya tanya saja." Sahut Imam sembari meraih gelas kopi di depannya dan mulai menyesapnya.


"Anak itu santri baru di pesantren, Mas. Sepertinya anaknya orang yang cukup terpandang. Itu jika dilihat dari penampilannya. Tapi bukan itu permasalahannya, masalahnya anak itu sedikit bengal dan tidak tahu tata krama, Mas. Saya saja sampai judeg kalau sama anak itu." Sahut Khalil setelah itu.


Arya nampak menganggukkan kepalanya mulai memahami penjelasan Khalil itu.


"Tapi setiap kali dia disini, saya melihatnya dia biasa biasa saja itu, Mas." Ucapnya kemudian.


"Sekilas memang biasa, Mas. Tapi sekali bicara, beh, sama sekali lupa adab." Sahut Khalil lagi.


"Tapi justru itu menjadi tantangan tersendiri lho, Mas Khalil." Lanjut Arya kemudian.


"Tantangan bagaimana, Mas?" Tanya Khalil sedikit keheranan, keningnya pun mengerut.


"Ya, tantangan, Mas. Ya kan kalau mendidik anak dengan basic dari keluarga yang memang sudah kental dengan agama kan mudah itu. Nah, kalau anak yang seperti Mas bilang tadi, berarti akan menjadi tantangan kan? Tugas pesantren kan tidak berhenti di mengajarkan ilmu tapi juga harus bisa merubah akhlak seseorang, Mas." Sahut Arya.


"Wah, Mas Arya ini bicaranya sama persis seperti Gus Aji. Gus Aji juga pernah bilang begitu pada kami, Mas." Sahut Imam kemudian.


"Wah, ya jangan di bandingkan dengan Gus kalian itu, Mas. Jelas saya tidak sebanding. Beliau bicara dengan ilmu, sementara saya hanya waton saja." Sahut Arya merendah.


"Sekarang itu ya, Mas. Penampilan bukan pathok'an akhlak seseorang. Saya pernah mendengar dari sebuah pengajian di kampung saya. Kata Kyai yang mengisi, banyak yang justru tampil rapi untuk mengelabuhi, sementara para wali justru penampilannya nggegirisi." Lanjut Arya kemudian.


"Memang benar, Mas Arya. Saya sependapat dengan sampeyan. Memang justru yang kita anggap layak disebut manusia kadang lupa memanusiakan manusia. Tapi sebaliknya, yang kita anggap sampah masyarakat sebenarnya mereka adalah manusia manusia tho'at." Sahut Khalil setelahnya.


"Maka dari itu, Mas. Hidup hanya wang sinawang. Apus apusing pangulatan." Sahut Arya pula.


"Benar itu, Mas. Kadang yang jika dipandang susah tapi justru tidak pernah mengeluh, sementara yang kesehariannya bergelimang harta sambate ngaru oro." Sahut Khalil sembari terbahak.


"Yang miskin gayanya selangit ngimbangi sing kaya. Sementara yang kaya ngakunya miskin kalau setiap ada embel embel bantuan. Kan geli, Mas." Sahut Arya juga sembari terbahak.


"Kayak saya ini, Mas. Cari kerja susahnya minta ampun. Sekarang itu cari kerja syaratnya berat, Mas. Harus tiga D." Lanjut Arya kemudian.


"Tiga D? Apa itu, Mas?" Tanya Khalil masih dengan ekspresi sumringah.


"Itu, Mas. Dulur, dukun dan duit? Harus punya kenalan orang dalam, pakai japu japu, kalau tidak ya salam tempel." Sahut Arya kemudian meraih kopinya.


Khalil dan Imam pun hanya bisa terbahak dengan ucapan Arya itu.


"Yah, tapi sekarang saya hanya bisa sabar, Mas. Kata Simbah saya wong urip iku urup. Jadi saya yakin saja, kalau selagi masih diberi nyawa dan percaya dengan Yang Di Atas, tidak akan lah kita di persulit. Urip iku lak mung nandur woh ing pakerti, Mas. Siapa menanam kebaikan pasti menuai dari apa yang di tanamnya itu. Nah, Begitu juga sabar, sabar itu ibarat pohon yang pahit tapi buahnya manis." Lanjut Arya lagi.


"Benar, Mas Arya. Seperti kata Gus Aji sewaktu kami merasa sudah habis kesabaran kami menghadapi Hexa Hexa itu, tapi Gus Aji justru mengingatkan kami tentang luar biasanya unduh unduhaning sabar itu." Sahut Khalil kemudian.


"Memang, Mas. Saya tidak tahu ayat ayat atau dalil dalil soal kesabaran. Tapi Simbah saya selalu mengingatkan bahwa sabar iku subur. Maksudnya, siapa yang bisa sabar pasti akan mendapatkan kenikmatan dari sabarnya itu." Sahut Arya juga setelahnya.


"Benar, Mas. Tapi tak jarang yang bilang sabar itu ada batasnya juga, Mas." Imbuh Khalil kemudian.


"Itu orangnya itu sendiri yang membatasi, Mas. Kalau saya ya sabar itu tidak ada batasnya. Si A suruh sabar, si B suruh sabar, si C suruh sabar dan si si si lainnya suruh sabar. Berarti sabar itu luas dan banyak tak terhitung, tak ada batasnya. Nyatanya bisa di bagi bagi kemana mana kepada siapa saja. Nah, yang membuat sabar itu terbatas ya karena orangnya itu sendiri yang membatasi, Mas." Sahut Arya setelahnya.


Khalil dan Imam mengangguk paham.

__ADS_1


"Kita itu kalah sama ulat, Mas. Ulat saja bisa sabar meski di anggap menjijikkan, di hindari dan kadang malah jadi mangsa hewan lain. Belum sampai disitu, saat remaja, ulat akan menjadi kepompong, sabar lagi itu, Mas. Tidak melihat dunia luar, puasa siang malam. Tapi buah dari kesabarannya apa, ia kemudian menjadi kupu kupu yang indah kan?" Ucap Arya setelahnya.


"Wah, Mas Arya ini bicaranya sama persis seperti Gus Aji. Plek gak nyimpang." Sela Imam yang sejak tadi diam memperhatikan setiap ucapan Arya.


Arya hanya kemudian tersenyum mendapati pujian dari Imam itu.


Setelah melanjutkan perbincangan mereka dan saling menghabiskan kopi mereka masing masing, Khalil dan Imam pun berpamitan pada Arya dan berlalu dari warung itu.


"Kamu merasa aneh tidak, Lil?" Tanya Imam ketika berada di jalan.


"Aneh? Aneh kenapa, Mam?" Tanya balik Khalil tidak paham dengan pertanyaan Imam itu.


"Soal Arya tadi." Ucap Imam kemudian.


Khalil tersenyum. "Saya pikir hanya saya yang merasa bahwa dia tidak sekedar anak muda biasa. Ternyata kamu juga merasa dia berbeda, Mam."


"Cara bicaranya sudah bisa memperlihatkan bagaimana dia sebenarnya." Lanjut Imam.


"Mungkin lain waktu kita bisa lanjutkan mengobrol dengannya. Kita pancing terus saja agar dia menunjukkan jati dirinya." Sahut Khalil. Imam hanya mengangguk mengiyakan.


Setibanya mereka di pesantren mereka segera menemui Ajimukti untuk menyerahkan rokok titipan Ajimukti tadi.


"Ini, Gus. Rokoknya." Ucap Khalil sembari memberikan dua bungkus rokok pada Ajimukti.


"Tumben lama di pasarnya, beli apa saja tadi?" Tegur Manan kemudian.


"Tadi ngopi sama ngobrol dulu di warung, Nan." Sahut Imam.


"Iya, Nan. Tadi kebetulan kami bertemu seseorang, berkenalan terus ngobrol sekalian ngopi." Imbuh Khalil.


"Bukan lah! Mas Mas." Sahut Khalil sembari mengibaskan tangannya.


"Betah banget." Lanjut Manan.


"Iya kebetulan ngobrolnya agak nyambung." Sahut Imam.


"Oh, iya, Gus. Pemuda yang berkenalan dengan kami tadi menitip salam untuk njenengan." Ucap Imam setelahnya.


"Menitip salam?" Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya.


"Iya, Gus." Khalil membenarkan ucapan Imam.


"Kok bisa, apa pemuda itu kenal saya?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Sepertinya tidak, Gus. Kami hanya cerita sedikit soal njenengan, terus dia tahu tahu menitip salam karena sepertinya tertarik dengan cerita kami." Sahut Imam setelahnya.


Ajimukti hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.


"Baiklah, Alaika wa 'Alaihis-Salam." Ucap Ajimukti setelah itu.


"Baik, Gus. Nanti kami sampaikan kalau kalau kami bertemu dengan Arya lagi. Soalnya kata dia, dia hampir setiap hari di pasar." Ucap Khalil kemudian.


Mendengar itu, Ajimukti sedikit tersentak, dengan cepat ia menoleh ke arah Khalil.


"Tunggu tunggu. Tadi Kang Khalil bilang namanya siapa?" Tanya Ajimukti kemudian.

__ADS_1


"Arya, Gus." Sahut Khalil.


"Arya ya? Hmmm..." Ajimukti mengangguk anggukkan kepalanya beberapa kali sembari memegang dagunya.


"Kalau boleh tahu, ciri cirinya seperti apa, Kang?" Tanyanya kemudian.


Khalil dan Imam sedikit menaikkan bola matanya mengingat ciri ciri Arya yang ditemuinya di pasar tadi.


"Anu, Gus. Orangnya agak kurus, sedikit jangkung, Rambutnya bergelombang, kulit sawo matang, dan mengenakan celana jeans juga jaket jeans." Jelas Khalil kemudian.


"Benar itu, Gus." Imbuh Imam membenarkan penjelasan Khalil.


Sekali lagi Ajimukti menganggukkan kepalanya.


"Ada apa, Jik? Apa kamu kenal dengan Arya Arya itu?" Tanya Manan melihat ekspresi di wajah Ajimukti yang sedikit berbeda.


"Mendengar nama itu juga ciri cirinya, saya teringat seseorang sewaktu di pesantren dulu, Nan. Namanya sama, ciri cirinya pun sama." Jelas Ajimukti kemudian.


"Apa jangan jangan Arya yang kami temui itu teman njenengan, Gus?" Sela Khalil kemudian.


"Iya, Gus. Soalnya dari bahasanya, dia memang seperti bukan pemuda biasa. Saya justru menangkap gaya dia berbicara sama persis dengan njenengan, Gus." Imbuh Imam kemudian.


"Entahlah, Kang. Tapi setahu saya, Arya teman saya itu orang Banyuwangi, lalu kenapa dia bisa ada disini kalau memang itu Arya teman saya?" Gumam Ajimukti kemudian.


"Apa besok coba kita temui di pasar, Jik. Ya, biar kamu tidak penasaran lagi. Sekedar memastikan saja." Usul Manan setelahnya.


"Benar, Gus. Tadi dia memang bilang hampir setiap hari dia di pasar." Imbuh Khalil.


"Baiklah, besok Kang Khalil atau Kang Imam temani saya ke pasar nggeh." Pinta Ajimukti kemudian.


"Nggeh, Gus." Sahut Khalil dan Imam kompak.


"Itu teman dekat kamu, Jik?" Tanya Manan lagi lagi penasaran.


"Iya, Nan. Dulu sewaktu di pesantren saya punya tiga teman, Saka, Arya dan Nyoman. Nah, Arya ini rival saya, Nan. Dalam hal apapun, meski kami berteman, tapi kami selalu bersaing." Sahut Ajimukti.


"Wah, berarti secara tidak langsung, dia itu wawasannya setara kamu dong, Jik." Ucap Manan kemudian.


"Jauh di atas saya, Nan. Mungkin. Karena dia itu seorang seniman, dia pandai dalam soal ngolah roso." Sahut Ajimukti lagi.


Manan hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Kalau bicara orang orang yang mumpuni begitu. Saya jadi penasaran, Jik." Ucapnya kemudian.


"Yang pasti dia itu tidak pernah menunjukkan kemampuannya. Dia selalu menutupi kemampuannya dengan penampilannya, Nan." Jelas Ajimukti lagi.


"Bisa jadi yang tadi kami temui itu Arya yang sama dengan teman njenengan, Gus." Sela Imam lagi.


"Semoga saja memang dia, Kang. Soalnya jujur saja saya rindu ngumpul konco lawas." Sahut Ajimukti sembari melengkungkan bibirnya.


"Arya itu awal masuk pesantren, wataknya sama persis dengan Hexa. Begajulan, modis, slengek'an, susah di atur, suka tiba tiba ngilang dan soal tindak tanduk, dia itu blas sama sekali tidak ada sopan sopannya, bahkan sama Kyai kami di pesantren dulu pun dia berani nglejing. Tapi seiring berjalannya waktu, karena terbiasa dengan lingkungan barunya, dia pun lama lama berubah menjadi seorang yang jauh berbeda dengan Arya sebelumnya. Jadi itu alasan saya yakin Hexa pun kelak bisa berubah." Jelas Ajimukti.


Manan, Khalil juga Imam dan Sobri serempak menganggukkan kepala mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2