
Ajimukti tersadar dari lamunannya di beberapa tahun silam saat dirinya masih di pesantren. Seketika, senyumnya mengembang mengingat dua sahabatnya, Arya juga Nyoman.
"Nyoman sudah memberi saya nomor Arya, tapi sayang nomor yang Nyoman berikan tidak aktif. Yah, semoga saja dimana pun Arya berada, ia selalu bisa terus mengamalkan ilmunya dengan caranya." Gumam Ajimukti sembari menghela nafas.
Namun tepat disaat itu, sebuah salam yang terdengar nyaring segera memfokuskan pandangan Ajimukti pada si pemilik suara.
"Gus Faruq?" Sapa Ajimukti kemudian mengalihkan pandangannya pada seseorang di belakang Gus Faruq.
"Ada yang rupanya ingin sekali bertemu njenengan, Gus." Ucap Faruq sembari melengkungkan bibirnya.
Ajimukti pun segera tersenyum saat itu juga. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ning Biba? Kiranya apa yang membuat sampeyan datang kesini. Dan lagi kenapa tidak mengabari saya terlebih dahulu." Ucap Ajimukti sembari mempersilahkan Faruq juga Habiba untuk duduk.
"Kadang rindu itu mengalahkan semua, Gus." Goda Faruq sembari sedikit tertawa membuat kedua muda mudi itu canggung dan saling menyembunyikan senyum mereka.
"Mas Faruq ini..." Ucap Habiba lirih sembari menginjak kaki Faruq. Faruq pun hanya tersenyum sambil mengaduh.
"Ngapunten, Gus. Saya kesini karena di utus umi. Kebetulan umi tadi pagi masak, lalu ini saya suruh nganter ini damel njenengan. Mugi mugi njenengan berkenan nampi, Gus." Ucap Habiba dengan suara anggunnya sembari meletakkan bingkisan ke atas meja.
"Masya Allah, sampaikan terima kasih saya sama Umi nggeh, Ning." Sahut Ajimukti.
"Iya, Gus." Sahut Habiba singkat sembari sedikit menundukkan wajahnya.
"Kalau begitu saya permisi nggeh, Gus." Ucap Faruq sembari berdiri dari duduknya.
"Ampun, Gus. Njenengan disini saja, temani kami mengobrol, karena sangat tidak baik jika dilihat kami hanya berdua saja." Ucap Ajimukti sembari ikut berdiri menahan Faruq.
Faruq yang paham akan maksud Ajimukti pun kemudian mengangguk dan kembali duduk.
Tak ada pembicaraan khusus antara Ajimukti dan Habiba juga Faruq pagi menjelang siang itu. Mereka hanya bercanda meski baik Ajimukti maupun Habiba ada rasa canggung dan sungkan.
"Bukan saya ingin terlihat lebih tua, Gus, Biba. Ngapunten niki sakderenge. Ya, tapi sebagai pengingat untuk saya juga tentunya. Menikah itu adalah sebuah proses menerima kekurangan pasangan yang tidak kita temui ketika ta'aruf. Maaf, tapi ketika masa pendekatan, biasanya seseorang akan menunjukkan hal hal baik pada sasarannya. Entah itu penampilan, perilaku ataupun ucapan. Yang ada di perlihatkan, yang tidak ada, kadang di ada adakan, itu sudah biasa. Pokok'e kudu sempurno, kalau istilahnya begitu. Tapi meski begitu, menikah adalah solusi terbaik seorang pemuda juga pemudi karena dengannya sempurnalah separuh agama dan perjalanan hidup. Karena seperti kita tahu, nggeh, Gus. Bahkan pegangan tangan saja ganjaran thok, nggeh tho, Gus? Apalagi yang lain lain. Bahkan dijelaskan, rok'ataani minal-mutazawwiji afdholu min sab'iina rom'atan minal-aghzab. Dua raka’at shalat yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah lebih utama daripada tujuh puluh raka’at shalatnya bujangan. Makanya, Gus, Ning, kalau ada yang bilang jomblo iku penak. Ngawur iku, Tondo Tondo wong gak Nate ngaji iku." Ucap Faruq sembari tertawa di akhir ucapannya.
"Leres itu, Gus Faruq." Sahut Ajimukti sembari ikut tertawa, sementara Habiba hanya tertunduk sembari menyembunyikan senyumnya.
"Dan ini weling kang mas mu ini untuk kamu, Biba. Seorang wanita dapat mengubah rumah tangga menjadi surga sebagaimana ia dapat pula mengubahnya menjadi neraka yang tak terbayangkan. Menuntut ini dan itu kepada suami tidak akan mencukupkan kebutuhanmu. Cukup bersyukurlah atas pemberian suami, maka kebutuhanmu akan tercukupi. Intinya, Biba. Percayalah kepada Allah jika engkau seorang wanita yang beriman, kemudian sambutlah suami dengan senyuman bila engkau seorang istri yang taat." Ucap Faruq dengan pandangan tertuju pada Habiba.
"Insya Allah, Mas." Ucap Habiba lirih dengan masih sedikit tertunduk.
"Ambillah teladan dari Khadijah nilai kesetiaannya, dari Aisyah nilai kejujurannya, dari Asiah nilai kesabarannya, dari Maryam nilai ketabahannya, dan dari Fathimah nilai keteguhannya." Lanjut Faruq lagi.
Habiba hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
Kini Faruq menegakkan tubuhnya, "Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Kalian tahu kenapa?" Tanya kemudian pada kedua muda mudi di hadapannya.
"Memang seperti itu kan, Gus?" Sahut Ajimukti.
__ADS_1
"Benar, Gus. Memang seperti itu. Tapi kenapa seperti itu, tentu bukan tanpa alasan. Kenapa harus tulang rusuk? Kenapa bukan tulang tulang lainnya?" Lanjut Faruq lagi.
Ajimukti hanya memandang Faruq yang kini ekspresi wajahnya nampak lebih serius dan bijaksana.
"Diciptakannya wanita dari tulang rusuk itu karena tulang rusuk itu dekat dengan lengan tangan yang artinya wanita itu harus dijaga. Dijaga samumbarange. Ya hidupnya, martabatnya, kehormatannya, harga dirinya. Tulang rusuk itu juga sangat dekat dengan hati, itu artinya apa? Wanita itu memang lebih banyak minta di kasih hati, yang maksudnya kadang ingin di manja, suka kelemah lembutan. Itulah kenapa wanita diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari tulang kepala yang ingin selalu di tinggikan, atau dari tulang kaki yang selalu direndahkan." Ucap Faruq lagi.
"Ya ya ya, saya paham, Gus. Insya Allah akan saya ingat wejangan njenengan ini." Sahut Ajimukti sembari mengangguk anggukan kepalanya.
"Ini bukan wejangan, Gus. Ini juga pengingat untuk saya juga, seperti kata saya di awal tadi." Sahut Faruq sedikit sungkan.
Lagi lagi Ajimukti hanya tersenyum sembari mengangguk anggukan kepalanya.
"Cinta itu kata kerja, tapi kita butuh usaha untuk menjaganya. Kelak, perdebatan itu hal yang wajar, tapi harus ada kompromi untuk menyelesaikannya. Jangan sampai menjadikan kita versus pasangan, tapi harus pasangan itu versus masalah. Jare Simbah Simbah mbiyen, cek coke wong bebrayan kuwi bumbu. Tapi ingat, terlalu banyak bumbu juga tidak enak, tanpa bumbu pun hambar. Kan gitu?" Lagi lagi Faruq menutup ucapannya dengan sedikit tawa.
"Leres leres, Gus. Gus Faruq ini ternyata bisa juga kasih ular ular." Sahut Ajimukti juga dengan sedikit tawa.
"Belajar dari pengalaman, Gus." Sahut Faruq sedikit malu malu menahan tawanya.
"Buat saya pasti ada ini, Gus. Buat referensi dari pengalaman njenengan." Kelakar Ajimukti setelahnya.
Faruq hanya kemudian tertawa mendengar itu.
"Tentu ada, Gus. Stok banyak ini." Sahut Faruq kemudian.
"Wah, Kedah di dalne niku, Gus." Sahut Ajimukti tidak mau kalah.
"Oh, iya, Gus. Kebetulan tadi sewaktu saya menjemput Habiba. Bu Lek Sarah menitip sesuatu untuk disampaikan ke njenengan." Ucap Faruq sesaat kemudian mengubah topik pembicaraan.
"Apa itu, Gus?" Tanya Ajimukti antusias.
"Soal kapan Bu Nyai Kartika badhe sowan Pak Lek, Gus." Sahut Faruq.
"Iya, Gus. Abah juga pernah menanyakan itu sama saya. Maaf, Gus. Bukan maksud Abah ngoyak oyak njenengan. Abah hanya ingin mempersiapkan sesuatunya saja." Imbuh Habiba kemudian.
Ajimukti hanya mengangguk anggukkan kepalanya sembari menghela nafasnya.
"Kemungkinan Minggu depan, Ning. Kebetulan saya juga sudah matur sama Sibu." Sahut Ajimukti.
"Terima kasih, Gus. Nanti biar saya sampaikan sama Pak Lek." Sahut Faruq setelah itu.
"Iya, Gus. Saya juga terima kasih." Sahut Ajimukti pula.
"Rencana itu Ruwah nanti, Gus?" Tanya Faruq lagi.
"Insya Allah, Gus." Sahut Ajimukti dengan sedikit senyum penuh keyakinan terpancar di wajahnya.
Faruq mengangguk anggukan kepalanya ringan, "Sekarang sudah Rabi'ul Awal, lalu Rabi'ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab lalu Sya'ban. Emmm, berarti kurang lebih lima bulan lagi ngoten, Gus?" Tanya Faruq lagi.
__ADS_1
Ajimukti kemudian mengangguk, "Benar, Gus." Sahutnya.
Faruq hanya kemudian tersenyum mendengar itu. Raut ekspresi kebahagiaan pun terpancar jelas di wajahnya.
"Yang terpenting, Gus..." Ucap Faruq melirihkan suaranya membuat Ajimukti sedikit mengerutkan kening.
"Ampun supe ngapalne kitabe." Lanjut Faruq.
"Kitab?" Tanya Ajimukti masih mengerutkan keningnya.
"Kitab apa, Gus?" Tanyanya kemudian.
"Halah, Gus Aji ini pura pura lho." Ujar Faruq setelahnya.
Ajimukti tertawa, ia tahu arah pembicaraan Faruq kali ini.
"Njenengan niku, Gus Gus." Ucap Ajimukti sedikit malu.
Faruq tertawa lagi kali ini.
"Lha, nggeh itu penting, Gus. Ilmu." Sahutnya.
Ajimukti pun kali ini tertawa.
Habiba yang melihat Ajimukti dan Faruq pun hanya bisa menggerakkan bola matanya ke arah keduanya bergantian dengan hanya tetap diam.
"Alhamdulillah, Gus. Mpun khatam." Sahut Ajimukti tidak mau kalah.
"Wah, luar biasa kalau begitu, Gus." Sahut Faruq juga kemudian masih sembari tertawa.
"Kitab apa sih, Mas?" Tanya Habiba setengah berbisik pada Faruq.
"Kamu pasti juga sudah tahu, Ba. Kitab yang paling ditunggu di pesantren setiap Ramadhan tiba." Sahut Faruq.
Habiba hanya mengerutkan keningnya sembari mengingat ingat kitab yang dimaksud.
"Emmm, maksudnya Fathul Izar sama Qurrotul Uyun, Mas?" Tanya Habiba polos.
Faruq pun tak bisa lagi menahan tawanya, Ajimukti hanya bisa menahan senyumnya.
Habiba kemudian mengingat isi kitab itu. Begitu ia ingat, seketika pipinya memerah, lalu lagi lagi menginjak kaki Faruq membuat Faruq sedikit mengaduh.
"Itu ilmu lho, Ba." Ucap Faruq kemudian.
Habiba nampak kesal meski tidak kesal sebenarnya. Ia hanya malu saja pada Ajimukti kali ini.
Bersambung...
__ADS_1