
Selepas sholat Dzuhur Ajimukti tidak seperti biasanya keluar masjid bersama dengan Dullah. Kali ini ia terlihat mendahului Dullah dan berjalan gontai ke arah sebuah bangku di bawah pohon mangga di halaman masjid pesantren.
Ajimukti terduduk sendiri setengah membungkuk dengan sikunya bertumpu pada kedua lututnya. Kedua telapak tangannya saling bertaut dan ditempelkannya di depan mulutnya yang terkatup.
Ajimukti kini mengubah posisi duduknya, sedikit tegak dan punggungnya bersandar pada sandaran bangku. Sepintas pandangan nya tertuju pada pergelangan tangan kirinya sebelum pandangan itu dibuangnya dan akhirnya kepalanya pun ikut disandarkan pada sandaran bangku. Kini pandangannya terlihat kosong menatap awan awan putih yang bergerombol. Sementara tangan kanannya masih terlihat sesekali membelai sesuatu di pergelangan tangan kirinya.
Dullah baru saja keluar dari masjid ketika didapatinya Ajimukti duduk sendiri di bangku di bawah pohon mangga di halaman masjid pesantren dengan ekspresi wajah sayu dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Bahkan Dullah merasakan keanehan pada Ajimukti sejak pertemuannya dengan Ajeng tadi.
Dullah berjalan mendekati tempat Ajimukti duduk sendiri.
"Sepertinya ada yang sedang sampeyan pikirkan, Mas?" Tanya Dullah sembari duduk disebelah Ajimukti dan menyalakan rokoknya.
Ajimukti hanya tersenyum lalu menghela nafas namun tak merubah posisi duduknya.
"Saya lihat sejak bertemu anaknya Prastowo tadi. Mas Aji terlihat gimana gitu. Apa ada sesuatu, Mas?" Tanya Dullah lagi.
"Nggak Ada, Lek." Ajimukti kini menegakkan kepalanya.
Jawabannya datar dan terdengar sangat berat. Dullah tidak begitu yakin kalau tidak ada apa-apa.
"Bahkan ketika sampeyan bisa menyembunyikan semua masalah dari Sibu pun, sampeyan tetap tidak bisa menyembunyikannya dari saya, Mas." Ucap Dullah sedikit menyindir Ajimukti.
Ajimukti terlihat tersenyum kecut. Lalu ikut meraih rokok di sakunya.
"Mungkin benar, Lek. Saya terlalu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sampeyan." Ucap Ajimukti sembari menyalakan rokoknya.
"Dan untuk kali saya bingung." Lanjut Ajimukti.
Dullah menoleh ke arah Ajimukti yang sedang menikmati asap rokoknya sementara jari jemarinya lincah memainkan sebatang rokok itu.
"Apa ini ada kaitannya dengan Ajeng anaknya Prastowo?" Tanya Dullah kemudian.
Ajimukti menghela nafas, "Bukan, Lek."
"Tapi sejak bertemu dengan Ajeng tadi, sikap sampeyan mulai terlihat berbeda." Dullah memprotes.
"Ini tidak ada kaitannya dengan Ajeng, Lek. Justru berkat Ajeng saya jadi tahu sesuatu. Dan saya pun sejujurnya tidak paham dengan semua ini. Bahkan dengan diri saya sendiri, Lek." Keluh Ajimukti.
Dullah menatap Ajimukti dalam dalam. Memang sepertinya ada yang membebani pikiran pemuda disampingnya itu.
"Cerita saja, Mas!" Pinta Dullah sembari menepuk pundak Ajimukti.
Sekali lagi Ajimukti terdengar menghela nafasnya, "Ini soal Habiba, Lek?" Suara Ajimukti terdengar lirih.
Dullah yang mendengar itu pun seketika tersenyum. "Sejak awal berarti benar kan, Mas? Dari sejak sampeyan memakai gelang itu?"
Ajimukti mengangkat tangan kirinya dan memandang gelang kaoka yang terikat di pergelangan tangan kirinya itu.
"Benar, Lek. Gelang ini Habiba yang memberikannya pada saya waktu." Ucap Ajimukti masih memandang gelang kaoka itu.
"Waktu di kompetisi?" Dullah memperjelas.
Ajimukti hanya mengangguk ringan.
"Apa Mas Aji benar benar mencintai Ning Biba?" Tanya Dullah penuh selidik.
Ajimukti menerawang, "Entahlah, Lek. Saya pun bingung. Apa harus mengiyakannya atau membantahnya."
__ADS_1
Dullah mengerti sekali posisi Ajimukti saat ini. Dia pun tidak tahu harus memberi masukan seperti apa.
"Kemarin Ajeng bercerita kalau Habiba sudah dilamar salah satu santri disini. Bapaknya santri itu secara langsung menemui Kyai Aminudin dan menjanjikan pembangunan pondok putri jika lamaran itu diterima pihak Habiba." Ajimukti dengan suara berat menceritakan semua yang ia ketahui dari Ajeng tadi pagi.
Dullah sedikit mengerutkan keningnya, "Siapa santri itu, Mas?" Tanya Dullah sedikit penasaran.
Ajimukti menggeleng, "Saya tidak tahu, Lek. Karena Habiba pun tidak memberi tahu siapa santri yang dimaksud itu."
Dullah sejenak berpikir, lalu kembali mengerutkan kening, "Apa mungkin si Budi, Mas? Semua santri disini kan tahu seberapa terobsesinya dia sama Ning Biba."
"Saya pun juga sempat berpikiran yang sama, Lek. Firasat saya pun mengarah ke Budi." Sahut Ajimukti kembali menundukkan badannya seperti posisinya semula.
"Lalu yang jadi pikiran Mas Aji saat ini. Soal lamaran santri itu atau kah soal rencana awal Mas Aji yang pada akhirnya dihadapkan dengan perasaan Mas Aji?" Tanya Dullah semakin menyelidik.
Ajimukti sekali lagi menghela nafasnya, "Saya ingin berfokus ke rencana awal, Lek. Saya tidak mau perasaan ini pada akhirnya justru menghalangi rencana awal saya, Lek. Karena saya menyadari bahwa saya memang ada perasaan berbeda terhadap Habiba setelah ada cerita dari Ajeng itu. Dan setelah saya menyadari ada yang mengganjal di hati saya, barulah pikiran saya terpecah untuk rencana awal saya itu. Dan sejujurnya..." Ajimukti menghentikan ucapannya sejenak.
Dullah menunggu cemas.
"Sejujurnya saya sejak menyadari perasaan itu pun saya takut, Lek." Ajimukti kembali menghela nafas.
Dullah mengusap pundak Ajimukti, berusaha menenangkannya meski ia tahu ini sulit untuknya saat ini.
"Saya yakin Allah akan memberi jalan untuk Mas Aji mengatasi ini." Ucap Dullah kemudian.
Ajimukti hanya kembali menegakkan posisi duduknya dan sedikit melempar senyum ke arah Dullah.
Disaat yang bersamaan tiba tiba Manan datang menghentikan perbincangan Dullah dan Ajimukti siang ini. Nafasnya memburu sepertinya dia habis berlari.
"Kenapa kamu, Nan? Seperti habis dikejar setan." Sapa Dullah melihat Manan sedikit mengatur nafasnya.
Dullah dan Ajimukti seketika memandang ke arah Manan secara bersamaan.
"Dimana, Nan?" Sahut Ajimukti cepat.
"Di sebelah warung makan. Dia memakai topi. Tadi saya sempat mengawasinya cukup lama. Memastikan benar bapaknya jambret itu atau bukan." Lanjut Manan.
"Kita kesana, Mas." Ajak Dullah pada Ajimukti.
"Ayo, Lek!" Ajimukti segera melangkah cepat mengekor di belakang Manan.
Tak berapa lama mereka tiba di warung yang dimaksud Manan.
"Mana, Nan?" Tanya Dullah penuh penasaran.
"Tadi disana, Lek!" Tunjuk Manan ke arah pohon besar pinggir jalan.
"Mana, Nan? Tidak ada siapa siapa?" Dullah dan Ajimukti terlihat celingukan mencari orang yang di maksud Manan.
"Tadi bener disana itu, Lek. Dia dibalik pohon itu." Ucap Manan meyakinkan.
"Mungkin dia sudah pindah, Lek. Sudahlah, mungkin lain waktu lagi." Sahut Ajimukti kemudian.
"Saya yakin dia belum jauh, Jik. Bagaimana kalau kita berpencar mencarinya?" Usul Manan kemudian.
"Tapi kan saya belum tahu orangnya, Nan?" Ucap Dullah polos.
Manan seketika menepuk keningnya, "Oh iya ya."
__ADS_1
"Begini saja, Lek. Lek Dul sama Manan kesana saya kesana!" Ucap Ajimukti sembari menunjuk ke dua arah berbeda.
"Tapi nggak papa, Mas. Sampeyan sendiri?" Tanya Dullah sedikit cemas.
"Nggak papa, Lek. Percaya deh." Ajimukti meyakinkan.
"Yasudah kalau begitu. Ayo, Nan." Dullah dan Manan segera melangkah cepat ke arah yang ditunjuk Ajimukti. Sementara Ajimukti ke arah yang berlawanan.
"Seharusnya dia belum jauh, Lek." Manan kembali meyakinkan.
"Mudah mudahan saja kita bisa menemukannya dan mengetahui ada maksud apa dia sebenarnya." Sahut Dullah diantara nafasnya yang memburu.
Sementara itu Ajimukti yang mencari di arah yang berbeda belum menemukan tanda tanda keberadaan si bapak itu.
Ketika Ajimukti mengarahkan pandangannya ke beberapa arah tanpa ia duga seorang lelaki tua tiba tiba muncul dari balik tembok.
"Sampeyan pasti mencari saya?" Tanya lelaki tua itu kemudian.
Ajimukti terbelalak dan sempat kaget ketika tiba tiba si bapak itu muncul secara tiba tiba.
"Bagaimana bapak bisa tahu?" Tanya Ajimukti kemudian.
Lelaki itu hanya tersenyum lalu berjalan ke arah Ajimukti. Ajimukti masih bersikap tenang tapi dia pun siaga kalau kalau sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi.
"Tenang saja anak muda. Saya sedikit pun tidak ada maksud jahat. Justru saya sengaja ingin menemui sampeyan ini semata karena saya ingin berterima kasih. Kalau tidak ada sampeyan, saya tidak tahu lagi bagaimana nasib istri saya saat ini." Si bapak itu sedikit menundukkan badannya. Ajimukti sedikit yakin kalau si bapak ini memang tidak ada niat jahat terhadapnya.
"Lalu kenapa bapak seolah mengawasi saya? Dan bahkan sampai memukul teman saya?" Tanya Ajimukti sudah mulai bisa menguasai keadaan.
Si bapak itu tersenyum, "Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepadamu. Tapi diantara semua persoalan itu, saya ingin sedikit meminta bantuan sampeyan sekali lagi!" Ucap si bapak itu kemudian.
Ajimukti mengerutkan kening, "Bantuan? Bantuan apa itu kira kira? Apa bapak kembali butuh uang?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.
Si bapak itu menggeleng, "Bukan anak muda. Uang yang sampeyan berikan tempo hari saja belum bisa saya ganti. Dan saya berjanji saya pasti akan mengembalikannya." Ucap si bapak itu terdengar tulus.
"Sudah lah, Pak. Saya ikhlas memberikannya dan tidak ingin bapak menggantinya." Sahut Ajimukti "Tapi kalau saya boleh tanya. Kalau bukan soal uang, bantuan apa yang sekiranya bisa saya lakukan untuk bapak?" Lanjut Ajimukti ingin segera melunasi rasa penasarannya saat ini.
Sementara itu ditempat Manan dan Dullah berada. Mereka masih terus mengamati ke berbagai penjuru arah untuk mencari lelaki tua itu, tapi sampai detik ini pun belum ada tanda tanda atas usaha mereka.
"Sepertinya memang tidak ke arah sini, Lek. Kita sudah cukup jauh ini. Kalau memang ke arah sini, kita pasti sekarang sudah menemukannya." Ucap Manan kemudian.
"Saya pun berpikir begitu, Nan. Apa mungkin Mas Aji justru sudah bertemu dengan lelaku itu ya, Nan?" Dullah kembali merasa cemas.
"Entahlah, Lek. Tapi sebaiknya kita segera mencari Ajik." Usul Manan
Dullah hanya mengangguk dan kemudian memutar arah dan bergegas mencari tempat Ajimukti berada saat ini.
Benar saja, ketika akhirnya mereka berdua melihat Ajimukti tengah berbicara dengan seseorang yang ciri cirinya seperti di ceritakan Manan tadi.
"Itu orangnya, Lek!" Seru Manan pada Dullah dengan mempercepat langkahnya
Dullah pun tak mau kalah.
"Mas Aji!!!" Seru Dullah begitu sudah berada tak jauh dari tempat Ajimukti berdiri.
Namun seketika Dullah menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak. Untuk sesaat jantungnya berdetak lebih kencang. Dia rasanya seperti sedang jatuh ke dalam sebuah mimpi. Rasa tidak percaya dengan apa yang dilihat didepan matanya membuat tubuhnya mengeras dan kaku seketika.
Bersambung...
__ADS_1