BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kalimat Dalam Selembar Surat


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain di waktu yang sama.


"Bapakmu kemana, Bri?" Tanya Nyai Kartika ketika itu.


Sobri yang saat itu sedang memberi makan ikan ikan di kolam segera bergegas menundukkan kepalanya begitu Nyai Kartika menghampirinya.


"Ngapunten, Nyai. Bapak sepertinya sedang di kebun belakang." Sahut Sobri dengan masih sedikit tertunduk.


"Tolong panggilkan bapakmu sebentar, Bri. Ada yang ingin saya bicarakan dengan bapakmu." Ucap Nyai Kartika kemudian.


"Sendiko, Nyai."


Setelah itu Nyai Kartika nampak kembali melangkah ke dalam. Tak menunggu lama, Sobri pun segera bergegas menemui Dullah yang memang sedang berada di kebun belakang pesantren.


Begitu Sobri mengatakan bahwa Nyai Kartika mencarinya, Dullah pun segera bergegas menuju ke ndalem untuk menemui Nyai Kartika.


"Mbak Yu mencari saya?" Tanya Sobri setelah mengucapkan salam.


"Duduklah, Kang Dullah. Ada hal yang beberapa hari ini sedikit mengganggu pikiran saya." Ucap Nyai Kartika kemudian.


Dullah sedikit mengerutkan keningnya, "Ada apa, Mbak Yu? Apa ini mengenai pernikahan Mas Aufa?" Tanyanya kemudian.


"Bukan, Kang." Sahut Nyai Kartika lirih, setelahnya Nyai Kartika nampak menghela nafas berat.


"Ini mengenai Dik Mulatsih." Ucap Nyai Kartika setelahnya.


"Mulatsih, Mbak Yu? Bukankah dia?" Sahut Sobri mengingat ingat nama itu.


"Kita melupakan welingan Kang Mas Salim, Kang Dullah." Ucap Nyai Kartika dengan suara berat.


"Saya mengerti, Mbak Yu. Tapi bagaimana pun selama ini kita sudah berusaha mencarinya. Hanya saja Kang Salim tidak meninggalkan satu petunjuk pun mengenai Mbak Yu Mulatsih. Ini yang menghambat kita untuk mencarinya. Andai saja kita punya sedikit saja petunjuk, mungkin kita sudah bisa menemukan keberadaannya sejak awal, Mbak Yu." Sahut Dullah kemudian.


"Sampeyan benar, Kang. Kang Mas Salim memang tidak meninggalkan satu pun petunjuk mengenai Dik Mulatsih. Bahkan kita pun tak tahu bagaimana wajahnya." Nyai Kartika menghela nafas dalam dalam.


"Apa yang membuat Mbak Yu tiba tiba ingat Mbak Yu Mulatsih?" Tanya Dullah kemudian.


"Entahlah, Kang. Saya pun tidak tahu, hanya tiba tiba bayangan nama itu tiba tiba saja mengganggu pikiran saya akhir akhir ini." Sahut Nyai Kartika lagi masih dengan suara berat.


"Apa perlu kita mencoba mencarinya lagi, Mbak Yu?" Tanya Dullah lagi.


"Mau mencari kemana, Kang?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Dullah pun hanya bisa menghela nafasnya karena sejujurnya, ia pun tidak tahu jika harus mencari Mulatsih itu kemana.


Untuk sesaat ruangan tempat Nyai Kartika dan Dullah berada saat ini nampak hening. Hanya ada suara kipas angin yang sedikit terdengar berisik mengisi kelenggangan ruangan itu.


Nyai Kartika nampak kembali menghela nafasnya.


"Saya sebenarnya ada satu petunjuk, Kang. Hanya saja saya ragu. Apa itu bisa menjadi petunjuk." Ucap Nyai Kartika kemudian.


Dullah segera menegakkan duduknya, "Petunjuk? Apa itu, Mbak Yu? Kenapa tidak kita coba saja. Mungkin itu memang bisa menjadi petunjuk." Sahutnya cepat penuh antusias.


"Kang Dullah pernah melihat kalung yang dipakai Aufa akhir akhir ini?" Tanya Nyai Kartika kemudian.


Dullah mengerutkan keningnya, seolah mengingat sesuatu.


"Kalung? Maksud Mbak Yu, Kalung berbandul kayu stigi itu?" Tanya Dullah menyelidik.


Nyai Kartika mengangguk, "Benar, Kang."


"Kalung itu dulunya adalah milik Kang Mas Salim. Kalung itu selalu di pakainya bahkan sejak belum kenal saya. Tapi seingat saya, kalung itu di berikan Kang Mas Salim pada salah satu teman Pak Zaini. Entah kenapa kalung itu sekarang bisa berada sama Aufa." Ucap Nyai Kartika kemudian.


"Benar memang, Mbak Yu. Karena Prastowo juga Kang Anggoro sangat hafal dengan kalung milik Kang Salim yang sekarang di pakai Mas Aufa. Dan soal kenapa kalung itu bisa sama Mas Aufa, itu karena sebuah kejadian, Mbak Yu." Sahut Dullah kemudian.


"Kejadian? Maksud Kang Dullah?" Nyai Kartika nampak penasaran dengan ucapan Dullah kali ini.

__ADS_1


"Jadi begini, Mbak Yu. Kalung itu Mas Aufa dapat dari Mbah Sukrono. Dan benar Mbah Sukrono adalah teman Almarhum Pak Zaini." Ucap Dullah kemudian.


"Mbah Sukrono? Bagaimana Aufa bisa kenal dengan Mbah Sukrono itu, Kang?" Tanya Nyai Kartika lagi.


"Jadi itu berawal ketika tidak sengaja teman masa muda saya dulu meminta bantuan saya, Mbak Yu. Singkat cerita, ternyata teman masa muda saya itu adalah menantu dari Mbah Sukrono itu. Dari situlah kemudian saya juga Mas Aufa mengenal Mbah Sukrono dan ternyata beliau juga mengenal Kang Salim, pernah ngaji sama Kang Salim juga sekaligus teman dari Almarhum Pak Zaini." Jelas Dullah kemudian.


Nyai Kartika mengangguk paham, "Jadi begitu, Kang."


"Benar, Mbak Yu."


"Lalu, Mbak Yu. Mengenai petunjuk yang Mbak Yu maksud itu, apa ada hubungannya dengan kalung yang sekarang di pakai Mas Aufa, Mbak Yu?" Tanya Dullah kemudian.


"Kalung itu pemberian bapaknya Kang Mas Salim, Romo Kyai Idris, Kang Dullah. Kata Kang Mas Salim, kalung itu sebenarnya satu. Kalung itu dulunya milik Simbah Kyai Muthoriq lalu beliau berikan pada Romo Kyai Idris. Lalu oleh Romo Kyai Idris kalung itu dijadikan dua bagian, satu untuk Kang Mas Salim sementara satunya untuk Dik Mulatsih." Jelas Nyai Kartika kemudian.


Dullah mengangguk paham, lalu tiba tiba dia memikirkan sesuatu.


"Tunggu, Mbak Yu." Ucapnya kemudian.


Nyai Kartika pun nampak terkejut, "Ada apa, Kang Dullah?"


"Jika kalung itu simbol keluarga yang di turunkan turun temurun dari Simbah Kyai Muthoriq, kenapa Kang Salim sempat memberikannya pada Mbah Sukrono?" Ucap Dullah kemudian.


Mendengar itu Nyai Kartika pun nampak mengerutkan keningnya, "Kang Dullah benar."


"Jika kita telusur, Mbak Yu. Bukankah Kyai Idris dan Pak Zaini berteman, bahkan seperti saudara. Dan faktanya sekarang, Mbah Sukrono pun berteman dengan Pak Zaini. Dari situ bisa kita simpulkan bahwa tidak menutup kemungkinan Mbah Sukrono pun mengenal Kyai Idris kan, Mbak Yu?" Ucap Dullah kemudian.


"Benar, Kang Dullah. Saya sependapat dengan sampeyan." Sahut Nyai Kartika kemudian.


"Apa sebaiknya saya tanyakan hal ini sama Mbah Sukrono, Mbak Yu?" Usul Dullah kemudian.


"Saya nyarah sampeyan, Kang. Sampeyan yang mengenal Mbah Sukrono itu. Dan sampeyan pun tahu masalah ini." Ucap Nyai Kartika.


"Baiklah kalau begitu, Mbak Yu. Nanti sewaktu mengantar Sobri, saya akan sekalian mampir ke tempat Mbah Sukrono untuk menanyakan hal ini pada beliau." Sahut Dullah kemudian.


"Tapi ngapunten, Mbak Yu. Ada yang ingin saya tanyakan terlebih dahulu. Dan maaf kalau saya lancang." Ucap Dullah kemudian.


"Mengenai apa itu, Kang Dullah?" Tanya Nyai Kartika kemudian.


"Emmm, apa Mas Aufa tahu mengenai Mbak Yu Mulatsih ini? Maksud saya begini, Mbak Yu. Apa Mbak Yu sudah menceritakan bahwa Kang Salim..." Dullah menghentikan ucapannya begitu melihat Nyai Kartika menganggukkan kepalanya.


"Sudah, Kang. Saya sudah sempat memberitahu hal ini sama Aufa. Dan Aufa pun sempat berisiatif untuk mencari keberadaan Dik Mulatsih. Tapi sekali lagi, ia pun terhalang masalah yang sama. Ketidaktahuan tentang bagaimana Dik Mulatsih itu, seperti apa wajahnya, juga tinggal dimana." Sahut Nyai Kartika kemudian.


"Emmm, baiklah, Mbak Yu. Jadi tidak masalah jika nanti saya mengajak Mas Aufa sekalian untuk menanyakan hal ini sama Mbah Sukrono." Jelas Dullah setelahnya.


"Sepertinya itu jauh lebih baik, Kang. Semoga saja dari Mbah Sukrono itu, kita bisa mendapatkan petunjuk mengenai Dik Mulatsih ya, Kang. Karena sejujurnya, hanya Dik Mulatsih lah keluarga saya juga Kang Mas Salim yang tersisa." Kembali suara Nyai Kartika terdengar berat.


"Kita berdoa saja, Mbak Yu."


Setelah itu percakapan antara Nyai Kartika dan Dullah pun berakhir. Dullah kembali ke kebun, sementara Nyai Kartika masih terlihat duduk di ruangan itu sendiri.


Sementara itu di tempat Ajimukti berada saat ini.


Ajimukti masih menatap tulisan Arab Pegon pada selembar kertas yang di pegangnya. Tak ada nama pengirimnya disana.


"Siapa yang mengirim surat ini?" Gumam Ajimukti masih sembari menatap surat itu.


"Dia sepertinya sangat mengenal saya, jika tidak bagaimana dia tahu kalau saya cucu Simbah Kyai Idris Muthoriq." Sekali lagi Ajimukti bergumam sendiri.


Manan yang tiba tiba datang nampak keheranan melihat ekspresi wajah Ajimukti saat ini.


"Ada apa, Jik?" Tanyanya kemudian.


"Ah, kamu, Nan. Emmm, tidak ada apa apa kok, Nan." Sahut Ajimukti masih menyempatkan melempar senyum.


"Yakin tidak ada apa apa? Soalnya saya perhatikan dari tadi kamu terlihat berbeda." Ucap Manan lagi.

__ADS_1


"Oh, soal ini, Nan." Ajimukti menunjukkan sepucuk surat yang sudah diletakkannya di atas meja.


"Ini?" Manan meraih surat itu.


"Dari siapa ini, Jik?" Tanyanya kemudian.


"Saya pun tidak tahu, Nan. Yang pasti orang yang mengirimkan surat ini sangat tahu tentang saya." Sahut Ajimukti.


"Sangat tahu tentang kamu?"


Ajimukti mengangguk, "Lihat isi suratnya!" Perintahnya kemudian.


Manan pun segera membuka lipatan kertas itu, disana hanya ada beberapa bait yang ditulis dengan tulisan Arab Pegon tanpa harokat.


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


Pripun kabaripun wayah mbajeng Simbah Idris?


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


"Siapa yang mengirim, Jik?" Tanya Manan setelah membaca tulisan itu.


Ajimukti menaikkan bahunya, "Saya pun tidak tahu, Nan."


Manan menganggukkan kepalanya, "Jika suruh mengira ira, kamu ada bayangan siapa yang mengirim ini?" Desak Manan lagi setelahnya.


Ajimukti menggeleng, "Saya tidak hafal dengan tulisan ini, Nan. Dan lagi, orang ini tahu kalau saya ini cucunya Simbah Kyai Idris. Itu yang membuat saya bingung karena selama ini, tidak ada yang tahu kalau saya ini cucunya Kyai Idris." Sahut Ajimukti kemudian.


Manan menggaruk garuk dagunya, "Sudah juga ya, Jik."


"Tapi sudahlah, Nan. Kalau orang yang mengirim ini berniat baik, pasti dia juga akan menunjukkan dirinya." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk, "Benar, Jik. Kita tunggu saja."


"Tapi benar tidak ada orang yang kamu curigai, Jik." Tanya Manan lagi masih berusaha mendesak Ajimukti.


Sekali lagi Ajimukti menggeleng, "Sama sekali tidak ada, Nan. Baik teman di Jogja, di pesantren dulu, bahkan disini, tidak ada satu pun yang bisa saya kaitkan dengan surat ini. Tulisan di surat ini tidak pernah saya lihat, juga isi surat ini jauh dari lingkup saya."


"Tapi, Jik. Ada yang ingin saya tanyakan." Ucap Manan kemudian.


"Apa itu, Nan?" Tanya balik Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya.


"Ini mengenai isi surat itu. Wayah mbajeng Simbah Idris. Itu maksudnya bagaimana, Jik?" Tanyaa Manan setelah itu.


Ajimukti mengerutkan keningnya, lalu kembali meraih surat itu dan sekali lagi mengamatinya.


"Kamu benar, Nan. Ada yang terlewat." Ucapnya kemudian.


"Terlewat? Maksudnya, Jik?" Tanya Manan keheranan.


"Saya hanya memperhatikan nama kakek saya saja, Nan. Tapi tidak memperhatikan kalimat lainnya." Sahut Ajimukti lagi.


"Maksudnya bagaimana sih, Jik?" Tanya Manan semakin dibuat bingung Ajimukti.


"Mengenai kalimat, Wayah mbajeng ini, Nan." Tunjuk Ajimukti pada tulisan di surat itu.


"Lha itu yang tadi saya tanyakan. Maksudnya bagaimana itu, Jik?" Tanya Manan lagi.


"Wayah mbajeng, putu mbarep, Nan. Maksudnya cucu sulung, pertama." Sahut Ajimukti.


Manan mengerutkan keningnya, "Maksudnya cucu pertama? Berarti kakek kamu punya cucu lain, Jik?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Dari kalimat ini, sepertinya begitu, Nan."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2