BROMOCORAH

BROMOCORAH
Menunggu Habiba


__ADS_3

Suasana sore hari selepas Azar di kota seribu goa, Pacitan.


Matahari sudah mulai merambat ke sisi langit sebelah barat ketika Ajimukti dan rombongan memasuki halaman salah satu pondok pesantren yang cukup besar di kota ini. Ajimukti melihat di sekeliling, aroma asri pedesaan dan suasana khas pesantren salaf begitu kental terasa di tempatnya berada saat ini.


"Kami mungkin cuma bisa mengantar kamu sampai disini, Dik. Tidak apa apa kan?" Ucap Ajimukti pada Ajeng kemudian.


Ajeng sedikit tersipu, dengan tertunduk dia pelan menganggukkan kepalanya ringan, "Iya, Kang. Nggak apa apa. Saya sudah berterima kasih sekali karena sudah diantar." Ucap Ajeng kemudian.


"Kamu hati hati, Jeng." Imbuh Manan kemudian.


Ajeng hanya tersenyum, rona bahagia masih begitu terlihat jelas di wajah ayunya.


"Yasudah, Kang Aji, Kang Sobri, Manan. Saya masuk dulu ya. Sekali lagi terima kasih." Ucap Ajeng kemudian.


Ajimukti juga yang lain hanya mengangguk. Setelah saling mengucap salam perpisahan. Ajeng pun segera melangkah meninggalkan tempat itu.


Sobri mengiring langkah Ajeng dengan pandangan matanya yang belum bisa lepas dari bayangan Ajeng saat ini. Sementara Ajimukti dan Manan meliarkan pandangan mereka mencari sosok Habiba, kalau kalau Habiba terlihat disekitar halaman itu.


Dan pada saat itu, Ajeng kembali menoleh ke arah belakang tempat Ajimukti dan yang lain masih berdiri. Pandangannya kini beradu dengan pandangan Sobri terhadapnya. Ajeng sedikit malu, sementara Sobri kini mencoba melempar senyum ke arah gadis cantik itu meski senyumnya tidak begitu jelas terlihat dari tempat Ajeng saat ini.


"Kenapa tadi tidak langsung minta tolong Ajeng saja, Jik? Kan bisa Ajeng manggilin Habiba. Siapa tahu Habiba sudah disini." Ucap Manan kemudian.


Ajimukti tersenyum, "Kalau dengan begitu, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelahnya, Nan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Prediksi? Maksudnya, Jik?" Manan belum bisa menangkap ucapan Ajimukti itu.


"Singkatnya begini Kang Manan. Dari yang saya tahu, Dik Ajeng dan Ning Habiba itu berteman cukup dekat. Kita tidak tahu, apa Ning Habiba senang kita menemuinya atau sebaliknya. Jika senang, itu tentu tidak akan berimbas pada Dik Ajeng. Tapi yang di khawatirkan disini, jika sebaliknya, Jika Ning Habiba justru tidak suka kita menemuinya. Tentu itu akan sangat berimbas pada hubungan dia dan Dik Ajeng ke depan." Sobri menyela dengan asumsinya.


"Betul, Nan. Kurang lebih seperti yang dijelaskan Kang Sobri ini." Timpal Ajimukti.


Manan mengangguk, "Benar juga. Kenapa saya tidak berpikir sejauh itu ya, Jik."


"Lalu sekarang kita mencarinya dimana, Jik?" Lanjutnya kemudian.


"Saya akan coba masuk dan menemui bagian informasi. Sementara kamu dan Kang Sobri tetap awasi sekitar gerbang masuk, siapa tahu Ning Biba datangnya agak nanti." Ucap Ajimukti kemudian.


"Oke kalau begitu, Jik." Sahut Manan mengerti maksud Ajimukti.


"Yasudah kalau begitu saya masuk dulu." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan dan Sobri kompak mengangguk.


Ajimukti segera melangkah masuk ke area pesantren. Setelah bertanya ke beberapa santri yang ada, akhirnya Ajimukti bisa menemui pengurus bagia informasi pesantren.


Setelah Ajimukti mengutarakan maksud kedatangannya, pihak pengurus pun mencoba mencari informasi mengenai santriwati yang di maksudkan Ajimukti itu.


"Habiba Awalul Janah binti Aminudin, benar itu, Kang?" Tanya pengurus itu kemudian.


"Benar, Kang." Sahut Ajimukti membenarkan meski dia tidak tahu nama panjang Habiba. Tapi dari nama ayahnya dia yakin, nama yang dimaksud pengurus itu nama Habiba.


"Belum ada laporan masuk itu, Kang." Ucap pengurus itu kemudian.


Ajimukti nampak kecewa, "Belum ya, Kang?" Tanya Ajimukti memastikan sekali lagi.


"Iya, Kang. Belum." Pengurus itu kembali menegaskan.


Ajimukti mengangguk paham, "Baiklah, Kang. Terima kasih untuk informasinya. Tapi apa saya bisa minta tolong sekali, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Silahkan, Kang." Pengurus itu mempersilahkan Ajimukti.


"Kalau mungkin ada informasi masuk dari Habiba. Saya apa bisa minta tolong sama sampeyan atau pengurus lain untuk mengabari saya, Kang?" Ucap Ajimukti kemudian.

__ADS_1


"Oh, iya, Kang. Silahkan tinggalkan nomor sampeyan. Nanti jika sudah ada data masuk, saya akan kabari sampeyan." Ucap pengurus itu ramah.


Ajimukti segera menuliskan nomornya di selembar kertas lalu menyerahkannya ke pengurus itu.


Tak lama setelah itu Ajimukti pun keluar dari ruang informasi dan kembali kepada Manan dan Sobri yang masih mengawasi sekitar gerbang pesantren.


"Bagaimana, Jik?" Tanya Manan begitu Ajimukti tiba di depannya.


"Belum ada informasi kedatangan Habiba ke pesantren, Jik." Sahut Ajimukti nampak lemas. Manan melihat ekspesi kekecewaan di wajah Ajimukti.


"Lalu bagaimana, Jik. Kita tunggu disini dulu atau bagaimana?" Tanya Manan kemudian.


"Mungkin sebaiknya kita tunggu sebentar lagi saja, Nan. Siapa tahu memang belum sampai disini." Sahut Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk. Ajimukti pun segera mengajak mereka ke salah satu warung yang mengarah ke pintu gerbang pesantren. Dari warung itu mereka bisa leluasa mengawasi setiap yang baru datang ke pesantren.


Hampir dua jam mereka menunggu di warung itu, tapi sosok yang mereka cari belum juga nampak terlihat. Ajimukti nampak mulai gelisah.


"Sepertinya memang belum ada tanda tanda Ning Biba kembali ke pesantren hari ini, Nan." Ucapnya kemudian.


"Saya pikir juga begitu, Jik. Lalu sekarang bagaimana, Jik?" Tanya Manan kemudian.


Ajimukti menghela nafasnya, "Sebaiknya kita kembali saja, Nan."


"Berarti gagal ini, Jik?" Tanya Manan yang juga nampak kecewa.


"Tidak juga, Nan. Tadi di dalam saya sudah meninggalkan nomor. Dan nanti jika ada kabar kedatangan Ning Biba. Pihak informasi pesantren akan mengabari saya." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk ringan, "Wah, untunglah, Jik. Jadi kita tinggal menunggu saja kabar dari pihak pesantren sini."


Ajimukti mengangguk.


Setelah itu Ajimukti, Manan juga Sobri bergegas menuju mobil yang diparkir di depan warung untuk kembali ke Pondok Hidayah.


Ajimukti hanya mengangguk, lalu sedikit melempar senyum. Sebenarnya Ajimukti tidak terlalu capek, hanya saja pikirannya saat ini memang sedang tidak stabil.


"Nanti bisa gantian, Kang." Ucap Manan pada Sobri.


"Iya, Kang." Sahut Sobri lalu segera masuk ke belakang kemudi. Ajimukti duduk di bangku sebelah kemudi. Sementara Manan duduk di bangku belakang.


Tak lama pun, mobil bercat silver itu berlalu dari tempat itu melaju dengan cepat menyusuri jalanan yang mulai merambat gelap.


"Nanti kita Maghrib nya cari masjid di pinggiran jalan saja, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


"Nggeh, Gus." Sahut Sobri sembari fokus mengemudi.


Belum lama Ajimukti dan yang lain pergi dari warung depan pesantren itu. Sebuah mobil kijang berwarna merah terlihat masuk ke gerbang pesantren. Dari dalam mobil itu terlihat keluar dua orang laki laki dan dua orang perempuan. Mereka adalah Kyai Aminudin, Nyai Sarah, Habiba juga seorang supir.


"Kamu baik baik ya, Nduk! Ingat pesan Abah. Kamu jangan cerita apapun yang terjadi dengan keluarga kita." Ucap Kyai Aminudin setelah itu.


Habiba hanya mengangguk dan kemudian merangsek kedalam pelukan Nyai Sarah.


"Kamu hati hati ya, Nduk. Untuk saat ini kamu dengarkan Abahmu." Ucap Nyai Sarah sembari mengusap belakang kepala anaknya.


"Yasudah, Mi. Biarkan Habiba masuk dan kita segera kembali saja. Nanti keburu Pak Kyai nya keluar. Ini kan sudah mendekati waktu Maghrib." Ucap Kyai Aminudin kemudian.


"Abah Umi hati hati ya." Ucap Habiba lirih sembari melepas pelukannya pada Nyai Sarah.


Sesaat kemudian mobil itu pun kembali keluar dari halaman parkir pesantren. Sementara Habiba begitu mobil yang membawa Abah dan Uminya pergi, ia pun segera melangkah masuk ke dalam pesantren.


Begitu sampai di dalam, Ajeng yang melihat kedatangan Habiba segera menghampirinya.

__ADS_1


"Habiba..." Ucap Ajeng seraya memeluk Habiba. Habiba pun segera membalas pelukan sahabatnya itu.


"Kamu baru sampai ya, Ba?" Tanya Ajeng yang melihat Habiba masih menenteng tas di tangannya.


Habiba mengangguk, "Iya, Jeng. Baru saja. Kamu sudah lama?" Tanya Habiba balik.


"Habis Azar saya sampai sini, Ba." Ucap Ajeng dengan wajah berseri seri.


Habiba sekelebat melihat ekspresi bahagia di wajah Ajeng itu sembari menaruh barang barangnya ke dalam loker pribadinya.


"Sepertinya kamu sedang bahagia sekali, Jeng?" Tanya Habiba masih sembari menata beberapa pakaiannya ke dalam loker.


Ajeng hanya senyum senyum sendiri membuat Habiba geleng geleng kepala.


"Emmm, saya tahu ini. Roman roman nya kamu lagi falling in love ya, Jeng?" Tebak Habiba kemudian.


"Ah, apaan sih, Ba. Kamu mah." Ajeng nampak tersipu. Tapi dari pipinya yang memerah, Habiba tahu tebakannya kali ini benar.


"Cie, pulang bentar saja sudah langsung nyanthol." Kali ini Habiba menggoda.


"Sudah sudah, Ba. Nggak ada apa apa, kamu mah baru sampai sudah godain orang saja lho." Ajeng nampak malu sendiri. Ekspresi itu semakin membuat Habiba yakin Ajeng sedang terserang si virus merah jambu itu.


Habiba sudah selesai beberes, kini ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tempat tidurnya. Untuk satu bulan terakhir ini, ranjang yang sudah selama belasan tahun menyaksikan mimpi mimpinya itu tak dipakainya. Rasanya Habiba ingin segera tidur di kasur ranjang itu.


Habiba kembali bangun dari rebahan nya dan kini ia terduduk, menyaksikan Ajeng yang sepertinya belum lepas dari kebahagiaannya hari ini.


"Bagi bagi dong, Jeng." Ucap Habiba kemudian.


"Apanya sih, Ba?" Ajeng masih saja menutupinya.


"Bener ini nggak mau cerita sama saya?" Habiba sedikit menaikkan alis matanya.


Ajeng pun makin tersipu.


"Sebenarnya bukan hal yang istimewa kok, Ba. Emmm, cuma saya memang seneng banget." Ucap Ajeng malu malu.


"Memang apa itu, Jeng? Mau berbagi cerita nggak nih?" Habiba mulai sedikit memaksa dengan sindiran halusnya.


"Tadi saya diantar seseorang, Ba. Nggak berdua sih. Dia sama dua teman kami juga. Soalnya kan nggak mungkin juga kalau dia sendiri yang mengantar saya. Takut jadi fitnah mungkin. Kan pikiran orang kita nggak tahu." Ucap Ajeng sedikit tertunduk antara ragu dan malu untuk bercerita.


Habiba seketika ikut senang mendengar cerita Ajeng itu.


"Wah, yang benar, Jeng. Duh, seneng banget pasti kamu ya?" Habiba nampak bersemangat mendengar cerita Ajeng itu.


Ajeng hanya terus tersipu mendengar kata kata yang Habiba lontarkan padanya itu.


"Berarti dia juga punya perasaan sama kayak kamu kalau sudah begitu, Jeng." Habiba berasumsi.


"Doanya saja ya, Ba." Ucap Ajeng lirih.


Habiba mendekatkan wajahnya ke Ajeng lalu tersenyum lebar, "Pasti dong, Jeng. Kan kita sahabat."


"Tapi ngomong ngomong, Jeng. Saya masak nggak boleh tahu sih siapa orangnya?" Tanya Habiba kemudian.


Lagi lagi kedua pipi Ajeng terlihat merah merona. Senyumnya yang malu malu pun nampak mengembang.


"Boleh nggak?" Tanya Habiba sedikit mendesak.


"Emmm, kalau itu..." Ajeng menghentikan ucapannya.


Habiba menunggu tidak sabar. Wajahnya masih menatap lekat ke arah Ajeng.

__ADS_1


Ajeng menghela nafas, "Dia itu..."


Bersambung...


__ADS_2