BROMOCORAH

BROMOCORAH
Nugroho Sastro Darmono?


__ADS_3

Pagi ini Manan selepas bandongan sudah stay di kamar Ajimukti. Mereka termasuk Dullah berencana untuk menyambangi rumah Prastowo. Seperti kata Manan pada Ajimukti tempo hari bahwa Anggoro akan datang hari ini. Tapi Dullah tidak tahu akan kedatangan Anggoro itu. Baik Ajimukti ataupun Manan sengaja ingin memberi kejutan untuk Dullah.


Mereka kini terlihat mulai berjalan meninggalkan kamar Ajimukti. Ajimukti dan Manan berjalan berjejer sementara Dullah mengekor di belakang mereka.


Tanpa mereka bertiga duga ketika sampai di halaman masjid pesantren mereka kembali berpapasan dengan Budi and the Genk. Ajimukti berusaha melempar senyum dengan di iringi mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Mas Budi, Mas Khalil, Mas Imam." Ajimukti pun sedikit menundukkan badannya.


Tapi siapa sangka, Budi begitu acuh dan tak menjawab salam Ajimukti itu. Justru pandangan yang penuh kemurkaan dan senyum sinis mengejek yang ia berikan pada Ajimukti.


"Wa Idza huyyiitum bitakiyyatin fahayyuwa biahsana minhaa aurudduuhaa, innallaaha katana 'alayaa kulli syai'in hasiiban. Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balas lah penghormatan itu dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. Ajimukti mengucapkan itu tanpa menoleh ke arah ketiga seniornya itu yang sudah berjalan melintas disampingnya.


Seketika Budi berhenti di ikuti Khalil dan Imam. Budi nampak menyeringai.


"Kamu menyindirku? Anak kemarin sore saja belagu kamu itu." Ucap Budi sinis.


"Maaf, Mas Budi. Saya tidak merasa menyindir siapa pun. Saya dan Manan juga Lek Dullah sedang membahas tentang surat An-nisa Ayat 86." Jawab Ajimukti tenang. "Apa Mas Budi merasa tersindir? Sungguh maafkanlah kelancangan saya ini Mas Budi, jika ucapan saya terkesan seperti menyindir Mas Budi dan Mas Mas senior sekalian. Dan sungguh saya tidak ada niat untuk itu." Ajimukti sekali lagi membungkukkan badannya.


Budi hanya tersenyum sinis, "Memang pandai bicara kamu anak baru."


Khalil dan Imam segera meraih lengan Budi dan mengajaknya segera pergi. Mereka berdua tahu jika ini dibiarkan bisa bisa menimbulkan masalah lagi.


Budi dengan geram dan begitu kesal akhirnya mengikuti saja ketika kedua temannya mengajaknya pergi. Tangannya terlihat mengepal dan pandangannya tajam mengarah ke arah Ajimukti.


Ajimukti hanya tetap tenang dengan segurat senyum yang sengaja ia lemparkan pada Budi. Setelah Budi and the Genk berlalu, seketika Dullah dan Manan tertawa terbahak.


"Kenapa kalian tertawa begitu?" Tanya Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya.


"Nggak papa, Mas. Lihat ekspresi Budi tadi itu jadi mendadak pengen ketawa aja." Dullah masih terlihat menahan tawanya. Sementara Ajimukti hanya geleng geleng kepala ringan.


"Apa saya tadi terdengar seperti menyindir Budi sih, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.


Dullah sedikit mendongak menerawang, memicingkan matanya, dan tangannya menggaruk garuk dagunya, "Sepertinya tidak sih, Mas? Tapi memukul telak iya." Seketika Dullah terbahak di ikuti Manan yang juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa mendengar celetukan Dullah itu.


Ajimukti pun mau tidak mau juga ikut tertawa bersama mereka.


"Tapi memang sekali kali perlu itu, Jik!" Sahut Manan menambahi.


"Ya, kalau saya sih nggak ada maksud menyindir sih, Nan. Sekedar mengingatkan saja. Toh, sebagai seorang muslim kan mengucap salam itu sebagai tahiyyat. Penghormatan. Dan hukum mengucap salam juga hanya Sunnah bagi yang mengucapkan. Justru yang dihukumi wajib itu menjawab ya menjawab salamnya itu."


"Tapi pas banget momennya tadi, Jik." Timpal Manan lagi.


"Yasudah sambil lanjut jalan lagi aja yuk?" Ajak Ajimukti kemudian mendahului melangkah menuju rumah Prastowo.


"Kadang orang orang seperti Budi itu memang perlu di beri sedikit pukulan biar dia sama sadar kok, Mas." Ucap Dullah sembari mengekor di belakang Ajimukti dan Manan.

__ADS_1


"Ya, tapi terlalu sulit, Lek. Saya kenal betul Budi. Sejak awal masuk sini, lagaknya sudah seperti itu. Itu ya kembali lagi karena pengaruh bapaknya." Sahut Manan sembari terus berjalan.


"Ya, begitulah, Nan. Kupu kupu dan Singa itu berbeda." Sahut Ajimukti yang berjalan disampingnya.


Manan melirik tajam ke arah Ajimukti.


"Apa hubungannya kupu kupu sama singa, Jik? Ada ada saja kamu ini." Sahut Manan sembari geleng geleng kepala.


Ajimukti tertawa, "Ya, kamu tahu sendiri kan, Nan. Anak kupu kupu baru akan dinamakan kupu kupu seperti induknya setelah melewati beberapa proses. Dari telur telur kecil kemudian menjadi ulat kemudian menjadi kepompong dan barulah menjadi kupu kupu seperti induk mereka. Bahkan mereka harus tirakat, berpuasa menjauh dari gemerlap dunia untuk bisa seperti induk mereka. Dan apa ada yang bilang ulat itu anak kupu kupu? Nggak ada, Nan. Ulat ya ulat. Sangat berbeda dengan singa. Sejak mereka lahir, mereka sudah menjadi singa. Dan orang orang akan menyebut anak itu anak singa. Bukan sebutan yang lain." Ajimukti seperti halnya seorang yang sedang berorasi.


Manan seketika tertawa, "Saya paham sekarang, Jik. Benar, Jik! Sangat benar. Dan Budi itu Singa itu. Dia selalu ingin di sebut anak singa." Manan masih tertawa lepas setelah mendengar argumen Ajimukti tadi.


Tak terasa, keasikan perbincangan di jalan membuat mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah mendekati rumah Prastowo saat ini. Dan tak berselang lama pun mereka tiba di halaman rumah Prastowo.


Setiba di halaman rumah Prastowo, sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih sudah terparkir disana. Dullah mengamati mobil yang terparkir itu. Sepertinya ia tak asing dengan mobil itu. Ajimukti dan Manan segera mengajak Dullah masuk sembari menahan tawa mereka karena mereka berdua tahu mobil itu mobil siapa. Apalagi Manan.


Baru setelah mereka mengucap salam dari dalam rumah Prastowo keluar dua orang laki laki dewasa. Satu berperawakan gempal dengan warna kulit agak gelap dan satunya lagi berbadan tambun dengan kumis hitam tebal melekat jelas diwajahnya. Seketika senyum Dullah mengembang.


"Wah wah wah! Ternyata ada tamu istimewa. Pantas saja Mas Aji sama Manan ngebet ngajak kesini." Seru Dullah segera merangkul Anggoro, bapaknya Manan itu.


"Loh, jadi Manan nggak kasih tahu kamu, Dul?" Tanya Anggoro dengan suara seraknya.


Manan hanya terlihat cekikikan di belakang Dullah.


"Yasudah ayo masuk dulu." Ajak Prastowo kemudian.


"Loh, Jeng. Kamu di rumah? Kapan balik?" Tanya Manan seketika begitu melihat Ajeng.


"Sudah ada seminggu, Nan." Sahut Ajeng sembari menaruh gelas kopi di meja.


"Kok nggak kabar kabar kalo balik?" Tanya Manan lagi.


"Kamu sih jarang main kesini." Sahut Ajeng kemudian.


"Iya, kemarin Ajeng juga nanyain kamu, Nan. Ya tak bilangin wae kalau kamu mungkin sibuk di pesantren." Timpal Prastowo.


Ajimukti hanya melihat kedekatan Ajeng dan Manan. Sepertinya mereka sangat akrab. Tapi Ajimukti tidak heran, karena melihat juga kedekatan Anggoro dan Prastowo sampai saat ini. Dan bersama mereka Ajimukti merasakan hangatnya sebuah keluarga.


Tak lama setelah meletakkan semua gelas kopi ke meja. Ajeng pun kembali lagi ke belakang. Untuk sesaat Manan mengamati gerak gerik Ajeng yang sepertinya tidak seperti biasanya.


"Bagaimana kelanjutannya Mas Aji?" Tanya Anggoro kemudian mengarah ke Ajimukti yang duduk di depannya.


Ajimukti menegakkan duduknya, "Semua lancar, Lek. Ya saya terus masuk perlahan saja. Masih ada banyak waktu juga. Saya mentargetkan semua selesai tiga bulan sejak saya datang kesini." Sahut Ajimukti tenang.


Anggoro mengangguk, "Tiga bulan ya? Masih ada hampir dua bulan. Saya rasanya sudah tidak sabar." Gumam Anggoro.

__ADS_1


"Apalagi saya, Ro." Celetuk Dullah.


"Sabar dulu, Dul. Pokoknya kamu harus ngangsu ilmu dari Kyai Aminudin mu itu sampai semua ilmunya di wariskan ke kamu." Timpal Prastowo dengan senyum mengejeknya.


"Ah, kamu, Pras. Seneng sepertinya kamu ini ya?"


Prastowo hanya kemudian tertawa melihat ekspresi tidak senang Dullah.


"Kamu sendiri kok sudah kesini lagi apa kamu sedang tidak sibuk, Ro?" Tanya Dullah beralih ke Anggoro.


"Di bilang sibuk tidak juga, Dul. Ya, kebetulan ini sudah wayahe bayaran pondok. Jadi sekalian bayar sekalian saja mampir." Sahut Anggoro kemudian.


"Loh, bukane ini akhir bulan saja belum kan, Ro. Kok sudah bayar saja kamu?" Tanya Dullah lagi.


"Sekalian tadi ke rumah rekan bisnis, Dul. Memastikan berita soal seseorang." Sahut Anggoro datar.


"Seseorang? Siapa, Ro?" Prastowo sedikit penasaran.


"Ah, kalian juga nggak kenal, wong ini pebisnis kok." Anggoro mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Beritanya sudah masuk koran, makanya saya memastikan ke teman saya, karena orang ini dulu pernah ada kerjasama sama saya juga rekan kerja saya itu." Imbuh Anggoro sembari mengeluarkan koran dari dalam tasnya dan menunjuk salah satu berita utama di koran itu.


Di halaman utama koran itu tertulis dengan sangat jelas 'Korupsi Anggaran Pembangunan Jalan Raya XXX Menyeret Nama Nugroho Sastro Darmono Ikut Terlibat Didalamnya'. Dullah dan Prastowo hanya saling pandang karena memang mereka tidak mengerti tentang hal hal semacam itu.


Tapi berbeda dengan Ajimukti. Ajimukti meraih koran itu dan mengamati gambar yang ada di berita utama itu.


"Nugroho Sastro Darmono?" Gumamnya sembari mengamati wajah seseorang di koran itu.


Anggoro melirik Ajimukti, begitu juga Manan, Dullah dan Prastowo.


"Apa Mas Aji mengenal orang ini?" Tanya Anggoro kemudian.


"Entahlah, Lek. Hanya saja orang dalam koran ini dan namanya tidak asing untuk saya. Apa Pak Lek kenal dengan orang ini?" Tanya Ajimukti balik.


"Emmm, tidak terlalu kenal dekat sih, Mas. Karena hanya sempat sekali bekerja sama. Itu juga teman saya yang bernegosiasi dengan orang itu. Bukan saya. Tapi kemudian ada sedikit masalah. Jadi kontrak kerjasama dengan orang itu kami batalkan. Dan setelah itu teman saya mencoba menyelidiki latar belakang Nugroho ini." Sahut Anggoro.


Ajimukti mengangguk paham, "Siapa dia ini, Lek?" Tanyanya kemudian.


"Nugroho ini setahu saya. Dia anak ketiga dari keluarga Sastro Darmono. Bapaknya, Pak Sastro Darmono, dulu sangat dikenal sebagai pebisnis yang sukses di eranya. Di dunia bisnis, tidak ada yang tidak kenal dengan Pak Sastro Darmono ini. Kakak pertama Nugroho, namanya Ningsih Sastro Darmono. Ningsih ini seharusnya yang menjadi pewaris utama bisnis Pak Sastro Darmono. Tapi sayangnya Ningsih sejak usia remaja mengalami gangguan kejiwaan dan sampai sekarang kabarnya masih tinggal di pusat rehabilitasi kejiwaan di Surabaya. Sementara kakak keduanya Nugroho, namanya Saputro. Dia yang akhirnya meneruskan usaha Pak Sastro Darmono. Tapi sayang, belum terlalu lama setelah memegang perusahaan Pak Sastro, dia dikabarkan justru bunuh diri dari lantai lima perusahaan. Dari kabar yang beredar, itu dilakukan Saputro lantaran dirinya depresi karena perusahaan mengalami kerugian dan ada hutang sekitar 4 triliun kepada perusahaan lain. Dan setelah kematian Saputro itu, barulah Nugroho yang meneruskan bisnis Pak Sastro. Tapi, setelah Nugroho yang memegang kendali perusahaan, berita tentang hutang itu pun juga hilang. Banyak yang berpendapat Nugroho ada dibalik rencana penekanan terhadap kakaknya itu yang menyebabkan si kakak depresi dan akhirnya memilih bunuh diri. Dan kabar terbaru, yang belum lama juga. Adiknya Nugroho, saya tidak begitu ingat namanya. Dia dikabarkan juga tersandung masalah karena ketahuan memakai narkotika. Ya, kurang lebih seperti itu. Itu juga setelah rekan saya menyelidiki dari orang orang terdekat Nugroho." Anggoro bercerita panjang lebar.


Ajimukti menyimak dengan seksama begitu pun Manan, Dullah dan Prastowo, meskipun mereka bertiga tidak tahu siapa yang Anggoro ceritakan itu.


Sekali lagi Ajimukti mengamati foto itu. Sepetinya memang dirinya pernah sekilas melihat orang itu. Tapi Ajimukti lupa dimana.


Ajimukti meletakkan kembali koran Anggoro itu ke meja. Dan kini Ajimukti mulai kembali bergabung dalam perbincangan ketiga Pak Lek nya itu.


Tapi Manan tiba tiba berdiri dan izin untuk kebelakang. Ajimukti hanya sekilas melihat ketika Manan berlalu dari ruang tamu di rumah Prastowo itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2