BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sa...bar...!


__ADS_3

Sore itu di pinggiran pasar tak jauh dari sebuah warung makan. Dua orang pemuda nampaknya sedang mengobrol serius di atas sebuah lincak yang sedikit mulai reyot. Satu diantara dua pemuda itu terlihat sedang asik memutar mutar sebatang rokok di tangan kanannya.


"Jadi kamu pada akhirnya menurut sama bapak kamu ya?" Ucap si pemuda yang memainkan rokok itu pada si pemuda satunya yang terlihat lebih muda dengan sedikit tawa mengejek.


"Seperti kata kamu. Benar sekali, pemuda yang di warung waktu itu memang dia orangnya." Sahut si pemuda yang lebih muda itu.


Temannya mengangguk, "Dia itu teman saya dan Nyoman sewaktu di Rembang. Dia satu diantara yang terbaik di angkatan saya kala itu."


"Arya Arya, sudah berapa kali kamu bilang. Hmmm, sebenarnya apa rencana kamu?" Tanya si pemuda yang lebih muda itu sembari sedikit menggelengkan kepalanya keheranan.


Pemuda yang sejak tadi masih asik memainkan rokoknya, yang bernama Arya itu hanya kemudian kembali tersenyum sinis.


"Sudahlah, yang penting kamu ikuti saja instruksi instruksi saya. Kamu tidak akan menyesal." Ucap pemuda bernama Arya itu sembari menepuk pundak si pemuda satunya.


"Hmmm, ya ya ya. Saya yakin, semua ucapan kamu sudah tentu penuh dengan pertimbangan." Sahut si pemuda itu kemudian.


"Tentu saja. Nek gur angger, hasile okeh Ra pener." Ucap Arya sembari melempar puntung rokoknya.


"Kamu memang selalu bisa, Ya." Sahut si pemuda itu sedikit memuji.


"Sebaiknya kamu segera kembali saja. Saya tidak mau ada orang orangnya dia yang tahu kamu disini sama saya." Ucap Arya kemudian.


"Hmmm, tenang saja, Ya. Jam jam segini tidak ada yang akan keluar." Sahut si pemuda itu nampak tenang.


"Halah, jangan nggampangke." Ucap Arya sembari mengibaskan tangannya, "Saya juga mau ke kota." Imbuhnya sembari melompat turun dari lincak.


"Ke kota? Ada urusan apa kamu ke kota?" Tanya pemuda itu sedikit mengerutkan kening keheranan.


"Ada janji sama Saka." Sahut Arya singkat lalu segera naik ke atas motornya. "Sudah ya, saya cabut dulu."


"Hmmm, eh, sebentar, Ya..."


"Apalagi?" Arya terpaksa mematikan lagi mesin motornya.


"Kalau kamu bertemu dia, sampaikan salam saya ya, Ya?" Ucap pemuda itu sembari sedikit melengkungkan bibirnya.


"Dia? Dia Armel maksud kamu?" Tanya Arya menyelidik.


Pemuda itu kemudian hanya mengangguk ringan. Arya tersenyum sinis.


"Masih memikirkan dia kamu?" Tanya Arya setelahnya pada si pemuda itu dengan nada mengejek.


"Masih? Pertanyaan kamu itu seolah saya ini pernah melupakan dia saja, Ya." Sahut si pemuda dengan sedikit dengusan.


Arya tertawa, "Mau sampai kapan? Bangun woy...! Dia itu sudah bahagia sama yang sekarang." Arya kemudian sedikit mengibaskan tangannya.


"Masih terus memikirkannya bukan berarti ingin kembali bersama, Ya. Setelah saya memastikan dia bahagia, saya lebih bahagia lagi. Saya hanya tidak ingin seperti, Ya. Kenal baik baik, e... begitu pisah malah beradu dendam." Ucap si pemuda itu sedikit terdengar serius kali ini.


"Ya ya ya, begitu lah kehidupan. Makanya, jangan terlalu berlebihan saat mencintai seseorang yang kamu cintai, karena bisa jadi suatu saat malah jadi musuh kamu. Sebaliknya, jangan terlalu membenci orang yang kamu benci, siapa tahu kedepan malah jadi sahabat kamu." Ucap Arya sembari kembali menyalakan mesin motornya.


"Dia sudah blokir semua akses komunikasi kalian, itu berarti dia sudah tidak berharap kamu hubungi lagi. Jadi kalau kamu menitip salam, apa justru hanya akan merendahkan mu saja? Maaf, bukan berarti saya tidak mau menyampaikan, pikirkan lagi kata kata saya ini." Imbuh Arya kemudian.


Pemuda itu mendesah diantara helaan nafasnya. "Yasudah, Ya. Cancel." Ucapnya kemudian.


Arya hanya tertawa, "Yasudah, saya cabut dulu. Segera balik kamu!" Ucapnya terakhir kali lalu segera menarik gas motornya dan berlalu dari tempat itu.


Sementara itu, di Pondok Hidayah. Ajimukti sedang berbincang dengan Nyai Kartika melalui telfon genggamnya.


"Begitulah, Bu. Saya sudah mengatakan niatan saya itu pada Habiba." Ucap Ajimukti sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.

__ADS_1


"Hmmm, baguslah, Le. Insya Allah Sibu akan segera ke sana dan kita silaturahmi ke rumah Kyai Aminudin." Sahut Nyai Kartika dari seberang telfon.


"Nggeh, Bu. Apa perlu saya jemput?" Tanya Ajimukti setelahnya.


"Sudah, tidak usah. Sibu sama Pak Lek Dullah saja. Bu Lek mu juga katanya ingin sekali melihat pesantren yang disana." Ucap Nyai Kartika.


"Sekalian nganter adikmu, Nafisa, mungkin." Imbuhnya kemudian.


"Oh, iya iya. Sekalian saja, Bu. Daripada dia naik bis." Timpal Ajimukti.


"Lha ya itu, Le. Sama biar kenalan sama calon mbakyune ipe. Biar nanti tidak kagok." Ucap Nyai Kartika sembari terdengar sedikit tertawa ringan.


Di tempatnya kini, Ajimukti pun hanya bisa tersenyum sendiri.


Namun disaat itu, samar samar Ajimukti mendengar suara salam dari arah depan. Ia pun segera memastikannya.


"Bu, maaf sepertinya ada yang mencari saya di depan. Saya tutup dulu nggeh, Bu." Ucap Ajimukti berpamitan.


"Iyo, Le. Yowis gek kono!" Sahut Nyai Kartika.


"Pangestune Sibu. Ridhane Sibu nggeh, Bu." Ucap Ajimukti di akhir telfon sebelum salam.


"Pasti, Le. Sak laku lakumu ridhane Sibu bakal ngiringake." Ucap Nyai Kartika setelahnya.


Tak lama setelah salam, Ajimukti pun segera menutup telfonnya dan bergegas berjalan cepat ke depan.


"Oh, sampeyan, Kang?" Ucap Ajimukti begitu melihat yang memanggilnya adalah Khalil.


"Ngapunten, Gus. Ganggu waktunya." Ucap Khalil setelah itu.


"Mboten, Kang. Ada apa memangnya?" Tanya Ajimukti sembari mengajak Khalil duduk di teras ndalem.


"Loh, kenapa memangnya, Kang? Apa dia buat ulah lagi?" Tanya Ajimukti penasaran.


"Kan tadi saya kasih tahu kalau sore ini dia ada jadwal mengaji. E, dia malah bilang apa harus? Tidak kan? Begitu, Gus. Apa tidak bikin kemropok itu." Ujar Khalil bersungguh sungguh.


Ajimukti justru tertawa, "Itulah asiknya, Kang. Biarkan saja. Yang penting kita terus ingatkan dia. Ibarat batu, kalau terus di tetesi air dia akan bisa berlubang kok, Kang." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Nggeh, Gus. Tapi bikin emosi anak itu." Imbuh Khalil masih belum bisa berdamai dengan hatinya.


"Sudah, Kang. Kita yang harus sabar." Sahut Ajimukti meyakinkan Khalil.


"Kalau sama anak itu kesabaran saya bisa bisa habis, Gus." Sahut Khalil kemudian.


"Jangan bilang begitu, Kang. Ingat, Innamaa yuwaffash-shaabiruuna ajrohum bighoyri hisaab, Sesungguhnya hanya orang orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Kalau sabarnya habis, itu sama saja dengan orang yang merasa bahwa pahalanya sudah turah turah tho, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


Khalil hanya mengangguk, "Iya, Gus."


"Selain itu, sabar itu perkara yang penting, Kang. Itu bentuk ketaatan dan Allah mencintai orang orang yang sabar dan akan di tempatkan di tempat yang tinggi di surgaNya nanti. Opo ra pingin, Kang?" Tanya Ajimukti di akhir ucapannya pada Khalil.


"Ya, pingin lah, Gus."


"Lha, makanya itu, jangan bilang sabar akan habis. Nek sabare entek, yasudah selamat, berarti mensudahi cinta Allah pada orang yang bilang itu." Imbuh Ajimukti lagi.


"Ngapunten, Gus. Saya salah."


"Kok minta maaf sama saya, Kang. Minta maaf itu sama Allah." Sahut Ajimukti.


"Astaghfirullah... Nggeh, Gus. Matur nuwun mpun kerso ngandani." Ucap Khalil nampak malu atas ucapan sebelumnya.

__ADS_1


"Yasudah, Gus. Begitu saja dulu. Saya tadi baru kerja bakti nyuci sama Imam." Ucap Khalil setelah itu berdiri dari duduknya.


"Iya, Kang. Terima kasih. Soal Hexa, biar nanti saya sendiri yang coba bicara sama dia." Sahut Ajimukti setelahnya.


Sesaat setelah itu pun Khalil undur diri dari teras ndalem itu. Sementara Ajimukti masih duduk di teras itu seorang diri.


"Hexa, anak itu jika dilihat sebenarnya anak yang menarik. Jadi mengingatkan saya pada seseorang. Sama persis seperti saat dia masuk ke pesantren. Emmm, apa kabarnya anak itu sekarang ya? Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu." Gumam Ajimukti seolah mengingat seseorang di masa lalunya.


"Ah, saya tahu harus menghubungi siapa. Sudah lama juga saya tidak dengar ocehan anak itu." Gumam Ajimukti sekali lagi, lalu segera meraih kembali ponselnya.


Tut! Tut! Tut!


Tak lama terdengar suara berisik dari seberang.


"Hallo...!" Ucap suara serak dari seberang.


"Assalamu'alaikum, Bli." Ucap Ajimukti disini.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah... Siapa ya?" Tanya orang dari seberang itu setelah menjawab salam Ajimukti.


"Engken kabare, Bli?" Ucap Ajimukti dengan bahasa Bali setelah itu.


"Bisa basa Bali? Hmmm, Sira wastan bapane?" Tanya orang dari seberang itu membalas ucapan Ajimukti.


"Titiyang Aufa, Bli. Kenken kabare sira, Bli?" Tanya Ajimukti lagi.


"Ah, Aufa. Alhamdulillah, becik becik gen. Dije jani ngoyong?" Tanya orang itu terdengar sangat bahagia.


"Tiang di Malang, Bli." Sahut Ajimukti singkat.


"Malang? Hmmm, melali na'e ke jumah! Saya juga masih di Malang ini." Sahut Orang itu kemudian.


"Insya Allah, Bli. Besok besok nah." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Sira suda makurenan, Fa?" Tanya orang itu lagi.


Ajimukti tertawa, "Belum, Bli. Do'a nah."


"Wah, Sira, Fa. Mau nunggu apa lagi?" Tanya orang itu terdengar meledek Ajimukti.


Ajimukti kemudian tertawa.


"Oh, iya, Bli. Bli, tahu tidak kabar anak anak?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Saya kurang begitu tahu, Fa. Yang saya tahu cuma rival kamu itu. Dia sekarang dung deng." Sahut orang itu terdengar begitu menggebu.


"Wah, tidak salah, Bli. Saya ini tadi hubungi Bli untuk tanya kabar anak itu. Entah kenapa saya mak theng ingat anak itu." Ucap Ajimukti kini terdengar bersemangat.


"Nanti lah saya bagi ke kamu nomor dia, Fa."


"Matur suksma, Bli."


"Saya dengar kamu lanjutkan pesantren bapak kamu? Betul itu, Fa?" Tanya orang itu kemudian.


"Betul, Bli. Siapa yang kasih tahu, Bli?" Tanya Ajimukti penasaran.


"Ya, saya tahu malah dari anak itu, Fa. Saya pikir malah kamu sama dia sudah pernah bertemu lagi." Sahut orang itu setelahnya.


"Belum, Bli. Sekali pun tidak pernah. Tapi kenapa dia bisa tahu ya, Bli?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2