BROMOCORAH

BROMOCORAH
Hujan!


__ADS_3

Entah kenapa cuaca siang ini tak begitu bersahabat. Matahari siang ini seperti lebih memilih bersembunyi dibalik gumpalan awan yang semakin menghitam. Tak lama bulir bulir bening dari langit pun satu demi satu berjatuhan dan mulai membasahi bumi dibawahnya.


Didalam kamar yang tidak terlalu luas. Ajimukti, Dullah dan Manan sedang menikmati kopi juga rokok yang terselip diantara jari jari mereka. Ruangan kecil itu untuk beberapa saat penuh dengan kepulan asap rokok mereka. Sesekali pula terdengar tawa mereka diantara gemericik air hujan yang jatuh dari genteng halaman kamar.


"Allahumma shoyyiban nafi’an." Ucap Ajimukti seraya mengusap wajahnya.


Manan dan Dullah pun hanya mengaminkan do'a yang diucap lirih oleh Ajimukti itu.


"Kalau sudah seperti ini paling enak tidur ya, Lek?" Ucap Manan kemudian sambil menyandarkan kepalanya ditempat tidur Ajimukti.


Dullah yang diajak bicara hanya tertawa.


"Ngomong ngomong, setelah ceramah kamu Maghrib kemarin. Budi and the Genk keliatan beda gitu nggak sih, Jik?" Tanya Manan kemudian masih dengan kepalanya yang disandarkan pada tempat tidur Ajimukti.


Ajimukti hanya mengangkat bahunya. "Entahlah, waktu kemarin juga kelihatannya biasa aja. Memang sih nggak kayak biasanya yang banyak omong."


"Ya berharap saja, Mas. Semoga mereka bisa berubah dan nggak lagi memandang orang dari luarnya saja." Imbuh Dullah.


"Susah, Lek. Apalagi Budi." Sahut Manan.


"Kenapa kamu pesimis gitu, Bud?" Tanya Ajimukti sejurus kemudian. "Seperti ada dendam pribadi gitu." Imbuh Ajimukti dengan sedikit tawa.


"Hah, apaan sih, Jik. Nggak lah." Sahut Manan terdengar enggan membahas itu.


"Saya sih setuju dengan, Lek Dul. Yakin juga. Entah kapan, Budi juga pasti berubah kok, Nan." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan hanya terdiam. Ajimukti melirik kearahnya, dan yakin Manan tidak terlalu yakin Budi bisa berubah.


"Oh iya, Jik." Manan tiba tiba mengangkat kepalanya membuat Ajimukti sedikit keheranan. "Beralih topik. Ini soal Pak Yai." Ucap Manan kemudian.


Ajimukti dan Dullah sama sama mengerutkan kening. "Maksudnya?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Apa kamu yakin dengan niatan kamu itu? Maaf lebih tepatnya apa ada kemungkinan, -bisa." Ucap Manan perlahan menekan.


 


Ajimukti tersenyum, "Alhaqqu mir-rabbik... falaa takuunanna minal-mumtariin..." Jawab Ajimukti dengan mengutip sebuah ayat.

__ADS_1


"Kebenaran itu dari Allah, Nan. Dan jangan sekali kali kamu ragu!" Imbuhnya.


Manan hanya mengangguk paham.


"Jika Allah meridhoi ini sebagai sebuah kebenaran, pasti Allah juga yang akan membimbing langkah kita. Tugas kita hanya menyerahkan padaNya. Pada ridho Allah." Ucap Ajimukti kemudian.


"Dan nanti, Jika sudah saatnya Allah berkata Kun, maka bagiNya Fayakun." Ajimukti menekan kata kata terakhirnya.


"Luar biasa, Jik. Seharusnya saya lebih sering sering ngaji sama kamu ini." Sahut Manan.


"Kenapa harus ngaji sama saya, Nan? Tidak ada istimewanya saya ini mah. Harusnya saya yang nguras ilmu kamu itu." Balas Ajimukti.


"Sudah, Jik. Jangan merendah gitu. Ingat merendahkan itu tugas orang lain." Sahut Manan lagi yang membuat Ajimukti dan Dullah seketika tertawa.


"Saat sama kamu seperti ini. Saya merasa seperti saat dulu sering minta wejangan wejangan Kyai Salim, Jik." Tiba tiba suasana yang tadinya ceria kini mendadak menjadi hening.


"Kyai Salim selalu mewanti wanti semua santrinya untuk tidak lelah ngangsu ilmu. Entah dengan siapapun itu." Suara Manan kini terdengar semakin berat.


"Saya pun juga begitu, Mas." Dullah mulai ikut berbicara, "Saya ingat betul bagaimana dulu Kang Salim memberi gambaran kepada saya untuk tidak pernah lelah ngangsu kawruh seperti apapun saya dulunya dan akan seperti apa kata orang pada akhirnya." Desah Dullah.


"Dulu Kang Salim selalu bilang, sopo wonge tekun nggolek teken bakale tekan (siapa yang rajin mencari tongkat (penyangga) bakalan sampai), tekun itu diartikan Istiqomah, ora ceklek'an ati (tidak mudah putus asa), pantang menyerah, ulet juga rajin. teken itu tongkat, penyangga, untuk menguatkan langkah, cagak, dan yang dimaksud Kang Salim disini adalah para alim ulama para Kyai. tekan itu sampai, maksudnya sampai pada penguasaan ilmu juga pengamalannya. Jadi jika kita Istiqomah dalam ngangsu ilmu dari para Kyai, maka kita akan sampai pada jati diri sebagai orang orang yang akan mengenal Allah, orang yang bertaqwa, orang yang beriman." Dullah seperti kembali kedalam masa lalunya, binar binar matanya menggambarkan sebuah rasa yang sulit untuk diutarakan.


"Sekarang seperti halnya harapan bapak juga Pakdhe Prastowo, Jik. Seperti itu juga saya menaruh harapan ke kamu." Untuk kali ini Manan terlihat serius.


Ajimukti melempar senyum lalu meraih gelas kopinya, "Melihat kamu yang sebenarnya, saya jadi ingat seratannya Syaikh Nawawi Al-Bantany, Nan." Ucap Ajimukti seraya menaruh gelas kopinya.


"Apa itu, Jik?" Manan sedikit menyipitkan matanya memandang kearah Ajimukti.


"Semakin tinggi ilmunya, semakin banyak melihat kebenaran orang lain. Dan semakin tinggi makrifatnya, semakin tidak melihat kesalahan orang lain." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan hanya tertawa.


"Jik Jik, kamu ini bisa saja memuji."


"Loh, ini bukan pujian, Nan."


Manan hanya geleng geleng kepala. Untuk sesaat suasana yang sedikit kalut kembali mulai cair.

__ADS_1


Diluar hujan masih saja enggan untuk berhenti. Kini justru semakin deras mengguyur tanah tanah yang sempat kering.


Tak jauh dari kamar Ajimukti. Diantara derasnya hujan sayup sayup terdengar percakapan yang begitu serius.


"Loh, Nduk. Sekarang bapak tanya. Apa kurangnya Budi itu? Sudah bibit bebet bobotnya jelas. Dan Abah lihat selama mondok disini perangainya juga baik. Sangat berprestasi malah." Kyai Aminudin sedikit menegang.


"Tapi, bah. Habiba belum mau memikirkan hal itu dulu. Baru juga Habiba mau akhirus-sanah. Kenapa harus buru buru, bah?" Ucap Habiba lirih seperti menahan sesuatu di dadanya.


"Abah tidak memintamu buru buru. Abah hanya ingin kamu menerima lamaran Budi dulu. Soal menikah itu nanti biar Abah dan Pak Nugroho bicarakan belakangan kalau toh kamu belum siap." Lanjut Kyai Aminudin semakin menekan Habiba.


"Sama saja, bah. Pokoknya Habiba belum ingin memikirkan itu. Lamaran atau apalah." Sahut Habiba mencoba berontak.


"Kamu tahu. Pak Nugroho sudah menyiapkan rencana untuk pembangunan pondok putri jika kamu mau menerima lamaran Budi. Apa itu masih kurang menunjukan keseriusan Pak Nugroho untuk menjodohkan kamu dengan Budi? Heh?" Kyai Aminudin mulai menaikkan suaranya. Otot otot dilehernya mulai menegang.


"Jadi karena itu bapak memaksa Habiba?" Tanya Habiba kemudian.


"Loh, Abah tidak memaksa kamu, Nduk. Tapi Abah cuma meyakinkan kamu kalau Budi itu yang terbaik buat kamu. Apa salah kalau Abah ingin yang terbaik buat putri semata wayangnya?" Kyai Aminudin semakin menekan Habiba.


"Kamu akan terjamin kalau dengan Budi. Dan tentunya pesantren kita ini juga akan mendapatkan cipratan dari hubungan kamu dan Budi nantinya. Apa kamu tidak ingin membesarkan pesantren kita ini?" Lanjut Kyai Aminudin lagi.


Tanpa disadari air mata Habiba mulai mengalir membasahi pipinya. Uminya yang sejak tadi diam mulai merangkulnya. Habiba semakin terisak, dadanya sesak dan tidak tahu lagi harus menolak keinginan Kyai Aminudin dengan bahasa apalagi.


"Sudahlah, bah. Biarkan putrimu menyelesaikan dulu ngajinya. Toh, belum juga lulusan kan? Kita bisa bicarakan ini lagi besok besok." Ucap istri Kyai Aminudin pelan.


Kyai Aminudin hanya mendengus lalu beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi. Dari raut wajahnya terlihat sekali sebuah kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikan. Sementara Habiba masih terdengar terisak isak dipelukan uminya.


"Habiba harus bagaimana, Mi?" Tanya Habiba kemudian.


"Begitulah abahmu, Nduk. Kamu harus bisa memakluminya." Ucap Uminya pelan sembari mengelus kepala Habiba.


"Tapi Habiba tidak menginginkan perjodohan ini, Mi." Habiba masih dengan isakannya yang semakin tidak bisa ditahan.


Uminya hanya bisa menghela nafas. Dia tahu posisi Habiba saat ini seperti apa. Dia juga tahu bagaimana suaminya kalau sudah punya keinginan.


"Apa Habiba tidak bisa memilih kebahagiaan Habiba sendiri, Mi. Dulu Habiba ingin mondok sama Mas Faruq, tapi Abah memaksa untuk Habiba ke Pacitan. Habiba nurut, Mi. Tapi untuk hal ini Habiba ingin menentukan sendiri siapa pendamping Habiba, Mi. Apa Habiba salah?" Habiba meluapkan semua perasaannya.


"Habiba rindu Abah yang dulu, Mi. Habiba seperti tidak mengenal abah yang sekarang. Habiba rindu, Mi. Habiba ingin Abah Habiba yang dulu, yang selalu tahu keinginan Habiba meski Habiba tidak pernah bilang. Bukan Abah yang memaksakan kemauannya pada Habiba seperti sekarang ini, Mi." Habiba terus meluapkan uneg uneg dalam hatinya yang sepertinya selama ini ia pendam.

__ADS_1


"Habiba ingin bahagia bersama pilihan Habiba, Mi." Habiba memeluk erat uminya. Uminya hanya bisa membelai kepala Habiba. Mencoba menenangkan anak gadisnya itu dengan pelukannya.


Bersambung...


__ADS_2