
Prastowo mengamati sekitar ruangan itu. Sekelebat matanya tertuju pada sebuah foto yang di atas meja. Prastowo mengambil foto yang terbingkai apik itu. Seketika senyumnya mengembang.
"Rupanya anak itu masih menyimpan foto ini." Prastowo bergumam lalu mengusap foto itu. Di dalam foto itu masih ada Salim juga dirinya.
"Maaf Kang Prastowo membuatmu menunggu." Orang itu kembali datang ke ruangannya dan segera duduk di kursi tepat menghadap Prastowo. Kini keduanya duduk berhadapan. Sebuah meja kecil tepat berada di tengah mereka memisahkan kedua kursi yang mereka duduki.
"Kiranya ada angin apa yang membuat Kang Prastowo tiba tiba menemui saya?" Orang itu nampak sungkan sekali dengan kedatangan Prastowo.
Prastowo meletakkan foto yang dipegangnya, ketempat semula, di atas meja.
"Baiklah, Baron. Saya tidak ingin berbasa basi. Saya langsung saja pada pokok pembicaraan kenapa saya sengaja menemui kamu kali ini." Ucap Prastowo sedikit melirik lawan bicaranya yang tak lain adalah Baron.
Baron sedikit mengerutkan keningnya. "Apa ada masalah, Kang?" Tanyanya membaca dari sikap Prastowo.
"Saya ingin mencari beberapa preman yang sudah menyerang keponakan saya." Ucap Prastowo kemudian.
Baron tertawa, "Rupanya begitu, Kang. Katakanlah Kang Prastowo apa yang bisa saya bantu untuk Kang Prastowo kali ini?"
"Saya tahu kamu kembali aktif di dunia seperti yang dulu. Oleh karena itu saya yakin kamu bisa membantuku." Prastowo sedikit menekan ucapannya.
Baron mengangguk ringan, "Seandainya saya bisa. Saya pasti akan sangat senang bisa membantu Kang Prastowo."
"Saya hanya punya ini sebagai petunjuk. Mungkin salah satu dari banyaknya anak buahmu ada yang tahu siapa pemiliknya." Prastowo mengeluarkan kaca mata hitam dari dalam jaketnya dan kemudian meletakkannya di atas meja.
Baron segera meraih kaca mata hitam, mengamatinya sejenak, namun kemudian matanya terbelalak.
"Kaca mata ini?" Baron bergumam. Prastowo menyadarinya.
"Ada apa, Baron? Apa kamu tahu sesuatu?" Tanyanya memburu.
"Kaca mata ini mirip sekali dengan kaca matanya Suko, Kang." Ucap Baron lirih.
"Suko? Suko adiknya Dasman? Suko si bocah ingusan itu?" Prastowo mengerutkan keningnya.
"Sudah lewat dua puluh lima tahun, Kang. Dia sekarang sudah tidak pantas di sebut bocah ingusan lagi." Sahut Baron sedikit tersenyum.
"Kau benar, Baron. Rasanya baru kemarin, tapi nyatanya tidak terasa sudah berlalu begitu lama. Emmm, Lalu bagaimana dengan kaca mata ini? Apa mungkin ini milik Suko?" Tanya Prastowo memastikan.
"Kaca mata seperti ini banyak, Kang. Saya yakin, ini hanya kebetulan satu model dan satu merk dengan milik Suko." Baron mencoba menjelaskan meski dirinya pun sedikit terkejut dengan kaca mata yang sama persis dengan yang biasa Suko pakai.
"Baiklah. Saya harap itu memang bukan milik Suko." Lanjut Prastowo kemudian.
"Sebenarnya ada masalah apa, Kang?" Tanya Baron sedikit penasaran.
Prastowo menghela nafas. "Beberapa hari yang lalu keponakan saya diserang empat orang preman bayaran, dan pagi tadi, kembali ada yang mencoba menyerangnya meski pagi tadi hanya seorang."
Mendengar itu, Baron seketika menelan ludah. Dirinya ingat betul, sebelumnya ia pernah mengirim empat orang preman untuk menyerang Ajimukti. Lalu setelahnya ia hanya menyuruh Suko seorang. Ini tidak mungkin sebuah kebetulan, apalagi kaca mata itu memang mirip dengan kaca mata Suko. Dan mungkin itu memang kaca mata Suko.
Tiba tiba ada rasa ketakutan mengalir di dalam darahnya. Seketika wajahnya pucat pasi, membayangkan jika memang sasarannya kali ini adalah keponakan Prastowo, maka habislah dia.
Baron menghela nafasnya untuk menenangkan kegelisahan hatinya saat ini.
"Maaf, Kang. Sebenarnya siapa keponakan Kang Prastowo itu?" Tanyanya kemudian.
Prastowo menegakkan posisi duduknya.
"Haruskah saya bercerita?" Tanyanya kemudian.
Baron hanya mengerutkan kening, sementara jantungnya berdetak kencang saat ini. Ada kegelisahan yang tak dapat ia sampaikan.
"Namanya Ajimukti Aufatur Muthoriq."
Mendengar nama Ajimukti itu, seketika dada Baron rasanya sesak. Berarti benar, preman yang dimaksud Prastowo adalah orang orang suruhannya. Dan ia saat ini benar benar tidak bisa membayangkan apa yang akan Prastowo lakukan padanya jika Prastowo tahu bahwa Bos para preman itu adalah dirinya. Membayangkan itu, seluruh tubuh Baron rasanya menggigil dan gemetaran.
__ADS_1
"Dan kamu tahu dia siapa?" Prastowo menghela nafas sejenak.
"Dia adalah putra semata wayang saudara kita. Dia adalah anak dari Kang Salim dan Kartika." Prastowo melanjutkan ucapannya.
Seketika rasanya Baron ingin membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam bara. Ia telah menyerang anak dari orang yang paling diseganinya selama hidupnya. Seketika itu juga Baron menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi tempatnya duduk. Tubuhnya berguncang hebat. Gemetaran, rasa cemas, gelisah, dan ketakutan bercampur menjadi satu menciptakan rasa yang tak dapat lagi ia jelaskan.
Prastowo menaikkan bola matanya melirik ke arah Baron, lalu tersenyum.
"Apa kamu tahu sesuatu, Baron?" Tanyanya kemudian.
Baron tertunduk, dadanya rasanya sesak untuk bicara. Beberapa kali ia menarik nafas dalam dalam hanya agar ia sedikit merasa tenang.
"Hari itu, seseorang menghubungi saya dan meminta untuk bertemu karena ada tugas dengan bayaran cukup besar. Malamnya, saya dan Suko segera mendatangi orang itu dan menerima tugas itu. Saya tidak pernah berpikiran kalau orang dalam foto ini adalah anak dari Kang Salim." Baron mengeluarkan foto Ajimukti dari dalam saku jas nya dan menaruhnya di atas meja. Prastowo tidak merespon, justru sebuah senyum yang ia lemparkan ke arah Baron yang membuat Baron semakin dirundung ketakutan.
"Siapa orang itu? Dan apa masalahnya dengan putra Kang Salim itu?" Tanyanya kemudian tanpa memandang Baron.
"Saya tidak tahu, Kang. Yang saya tahu hanya namanya Warsito. Hanya itu saja yang saya tahu, Kang." Ucap Baron masih dengan posisi menyembunyikan wajahnya dari Prastowo.
"Telfon dia! Dan bilang sama dia saya ingin bertemu." Perintah Prastowo kemudian.
Baron hanya menurut saja. Ia segera mengeluarkan ponsel dan dengan tangan yang gemetaran mencoba menghubungi nomor orang bernama Warsito itu.
"Tidak tersambung, Kang." Ucapnya lirih masih dengan nada ketakutan.
Prastowo menghela nafas, "Bawa aku ke tempatnya!"
"Baik, Kang." Baron segera memanggil anak buahnya untuk menyiapkan mobil.
Tak lama mereka pun sudah berjalan dan masuk kedalam mobil Baron. Selama perjalanan, Baron masih merasakan sebuah ketakutan yang luar biasa. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sasaran tugasnya kali ini akan berakhir seperti ini.
Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba disebuah perkampungan yang jauh di pelosok desa. Baron segera memerintahkan anak buahnya untuk menggedor pintu yang tertutup itu. Tapi setelah sekian lama tak ada jawaban.
"Orangnya sudah beberapa hari tidak kelihatan, Kang." Seru seseorang yang rumahnya tak jauh dari rumah Warsito itu.
"Saya tidak tahu pasti, Kang. Setahu saya, orang yang tinggal disini terakhir kali dan yang sampeyan maksud itu, juga belum lama pindah kesini. Dan setahu saya juga, beberapa hari yang lalu dia dijemput dengan sebuah mobil dengan membawa beberapa barang." Ucap orang itu.
Baron sedikit putus asa. Dia lalu mendobrak pintu rumah itu. Dan begitu pintu terbuka, keadaan rumah itu kosong tanpa ada apapun di dalamnya selain asbak yang penuh dengan puntung rokok juga beberapa botol minuman keras.
"Sial, orang itu kabur rupanya." Umpatnya dengan penuh emosi.
"Bagaimana sekarang, Kang? Warsito sudah tidak ada disini. Saya telah ditipunya." Ucap Baron pada Prastowo yang sejak tadi hanya berdiri di samping mobil.
"Kita kembali, dan pertemukan saya dengan Suko." Ucap Prastowo datar tanpa ekspresi.
Baron hanya mengiyakan, lalu segera kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah itu dengan perasaan yang kembali gelisah.
Setibanya di tempatnya, Baron segera memanggil Suko. Suko yang ketakutan karena kegagalannya sedikit gelisah, tapi ia pun tidak mungkin menolak perintah Baron, apalagi ketika telfon, Baron nampaknya sedang marah besar.
Tak lama, Suko pun masuk keruangan Baron. Ia seketika tersentak begitu melihat ada Prastowo yang begitu tidak asing baginya. Untuk sesaat Suko merasa lega. Ia berpikir mungkin panggilan Baron kepadanya kali ini karena kedatangan teman lama mereka dan untuk reuni, dan pasti tidak akan membahas soal tugas yang diberikan padanya itu.
"Kang Prastowo. Apa Kabarnya? Lama kita tidak bertemu." Suko segera menyapa ramah Prastowo dan hendak memeluk Prastowo. Namun seketika Prastowo melayangkan tinjunya sekuat tenaga dan membuat tubuh Suko terlempar ke lantai dan membentur tembok cukup keras.
"Ada apa Kang Prastowo. Kenapa...."
"Tutup mulutmu!" Prastowo seketika meluapkan emosinya. Baron yang melihat kemarahan Prastowo itu hanya bisa menelan ludah karena dirinya pun ketakutan bukan main.
"Kalau saya tidak mengingat kamu itu adiknya Dasman yang berarti juga saudara saya. Sudah saya habisi nyawa kamu detik ini juga." Prastowo mengancam, tatapan matanya tajam dan menciutkan nyali Suko seketika itu juga.
"Bangun!" Perintah Prastowo kemudian.
Dengan segera dan masih dengan ketakutan juga belum memahami apa yang terjadi, Suko pun mencoba berdiri dengan kaki gemetaran.
"Lihat baik baik orang dalam foto ini!" Prastowo menunjukkan foto yang tadi sempat ditunjukkan Baron padanya.
__ADS_1
Suko menelan ludah. Ia ingat betul wajah orang dalam foto itu. Dia adalah Ajimukti, anak yang tadi pagi sempat menendangnya ketika akan menghabisi Sobri.
"Dia..."
Plak!
Sebuah tamparan keras dari Prastowo kembali membuat Suko hampir tersungkur. Karena tamparan itu, ujung bibir Suko kini nampak berdarah.
"Itu balasan untuk orang yang sudah kamu hajar tadi pagi. Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang akan kamu terima jika kamu tahu siapa bapak dari anak yang sudah kamu hajar tadi pagi." Ucap Prastowo sembari menatap Suko yang kini tertunduk ketakutan.
"Siapa sebenarnya mereka, Kang?" Suko akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Anak yang kamu hajar tadi pagi bernama Sobri. Dan kamu tahu dia anaknya siapa? Dia adalah anak dari Dullah. Dan soal siapa orang dalam foto ini, biar Baron nanti yang menjelaskan padamu." Prastowo sedikit menenangkan dirinya.
Tapi mendengar nama Dullah itu, ketakutan Suko semakin menjadi. Ia tahu betul siapa Dullah. Ia pun ingat kemampuan Dullah juga sepak terjangnya selama ikut dengan Kang Salim.
"Maafkan kami, Kang Prastowo. Kami betul betul tidak tahu jika ternyata Ajimukti itu anaknya Kang Salim." Ucap Baron tertunduk.
Suko yang mendengar bahwa Ajimukti adalah anaknya Salim, seketika langsung ambruk, tubuhnya menggigil ketakutan.
"Lupakan! Tapi saya ada tugas untuk kalian sebagai gantinya." Ucap Prastowo kemudian, dengan tatapan tajamnya ke arah Baron.
"Katakan, Kang. Apapun tugas itu, pasti akan kami laksanakan meski nyawa kami taruhannya." Ucap Baron bersungguh sungguh dan sedikit merasa lega karena pada akhirnya ada cara untuk menebus kesalahannya.
"Iya, Kang. Apapun tugas itu, saya siap menerimanya demi untuk menebus kesalahan saya." Suko menambahi ucapan Baron.
Prastowo menghela nafasnya, "Cari tahu dimana keberadaan orang yang bernama Warsito, orang yang menyuruh kalian itu. Bawa dia kepadaku. Saya ingin kalian tidak melakukannya dengan kekerasan. Saya ingin kalian membawa orang itu utuh tanpa luka. Apa kalian sanggup?" Ucapnya kemudian.
"Sanggup, Kang." Baron juga Suko mengangguk secara bersamaan.
"Kerjakan dengan cepat! Saya ingin kalian tidak mengecewakan saya kali ini." Ucap Prastowo setelahnya.
Baron dan Suko kembali mengangguk mengiyakan.
"Maaf untuk pukulan saya tadi. Saya yakin uang bayaran yang kalian terima masih sisa banyak kalau hanya sekedar mengobati luka karena pukulan saya ini." Ucap Prastowo pada Suko yang bibirnya masih terlihat berdarah.
"Saya yang seharusnya minta maaf, Kang. Saya yang sudah lalai dan tidak menyelidiki dulu sebelum bergerak. Saya pantas mendapatkan semua pukulan ini." Ucap Suko penuh penyesalan.
"Baiklah kalau begitu, saya rasa urusan saya disini sudah selesai. Saya permisi dulu." Prastowo beranjak dari ruangan itu.
"Saya antar, Kang." Ucap Suko segera berdiri.
"Tidak perlu! Saya bawa motor sendiri. Segera obati saja lukamu itu agar segera bisa menjalankan tugas yang saya berikan tadi." Sahut Prastowo datar lalu segera melangkah di ikuti Baron.
"Sekali lagi, maafkan kami, Kang. Saya harap kejadian ini tidak sampai ke saudara saudara yang lain termasuk Kang Anggoro juga Kang Dullah." Ucap Baron masih sedikit cemas.
"Kamu tenang saja. Saya bisa amanah. Dan saya pastikan semua tetap akan baik baik saja." Prastowo menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu dan Suko ada waktu. Datanglah ke pesantren." Ucap Prastowo sembari menepuk pundak Baron.
Baron hanya mengangguk. Dia tahu apa maksud Prastowo menyuruhnya datang ke pesantren.
"Oh, iya, hampir lupa. Kamu punya banyak anak buah yang tersebar hampir di seluruh kota ini. Kamu mungkin juga bisa membantu Mas Aji, anaknya Kang Salim itu untuk mencari tahu alamat seseorang." Ucap Prastowo kemudian.
"Tentu saja, Kang." Sahut Baron tanpa ragu.
"Saya akan kirim foto orangnya. Kamu cukup cari tahu alamatnya dan laporkan pada saya saja. Selebihnya biar Mas Aji sendiri yang mendatangi orang itu nantinya." Prastowo menjelaskan.
"Baik, Kang. Saya, Suko dan anak buah saya akan segera melaksanakan semua tugas dari Kang Prastowo ini. Saya pastikan tidak akan mengecewakan sampeyan, Kang." Baron kembali meyakinkan Prastowo.
"Terima kasih sebelumnya." Prastowo kembali menepuk pundak Baron. Baron hanya kembali menundukkan kepalanya.
Tak lama Prastowo pun berlalu meninggalkan tempat Baron itu dengan mengendarai sepeda motor nya. Baron sendiri masih berdiri mematung memandang kepergian Prastowo hingga benar benar tidak terlihat lagi, baru kemudian dirinya kembali masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Bersambung...