
Pagi pagi sekali saat mentari bahkan belum terlihat utuh dan embun dibeberapa dedaunan belum seluruhnya kering. Ajimukti sudah terlihat keluar dari area pesantren mengendarai mobil BMW i8 Coupe seorang diri.
Jalanan pedesaan sekitar pesantren pagi ini tidak begitu padat, yang terlihat di kiri kanan jalan hanya beberapa petani yang sudah bersiap untuk pergi ke sawah mereka juga beberapa anak anak kecil yang beramai ramai untuk pergi ke sekolah dengan sepeda onthel mereka.
Bahkan ketika Ajimukti sudah mulai memasuki pusat kota pun, jalanan masih nampak lenggang, hanya beberapa mobil angkutan desa juga beberapa sepeda motor yang terlihat melintas.
Setelah kurang dari satu jam. Kini, mobil yang dikemudikan Ajimukti itu pun mulai memasuki sebuah perkampungan kecil. Suasana di kampung ini tak jauh beda dengan suasana sekitar pesantren.
Ajimukti sempat melirik sebuah rumah yang pintunya terbuka dengan pagar bambu mengelilingi halaman rumah itu, juga sepeda motor Vespa yang terparkir di halaman rumah itu. Sepintas Ajimukti tersenyum sebelum akhirnya menepikan mobilnya tak jauh dari pagar bambu rumah itu.
Ajimukti kemudian turun dari mobilnya dan segera berjalan menuju rumah yang berada tepat di sebelah rumah yang pintunya terbuka dengan sepeda motor Vespa terparkir di halamannya.
Pintu rumah yang dituju Ajimukti masih tertutup, kemudian ia mengetuk pintu rumah itu dan mengucap salam beberapa kali sebelum akhirnya seorang dari dalam rumah itu menjawab salam dan segera membuka pintu rumahnya.
"Kamu?" Si penghuni rumah nampak terkejut melihat Ajimukti yang pagi pagi sekali sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Kyai." Ajimukti mengulang salamnya sekali lagi kemudian meraih tangan lelaki paruh baya yang begitu tak asing itu, lalu mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam... Ada apa sepagi ini sudah sampai disini?" Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Kyai Aminudin, sembari melangkah masuk dan segera mengambil duduk, tanpa disuruh, Ajimukti pun segera ikut masuk dan ikut duduk tepat berada di depan Kyai Aminudin. Kini mereka berhadap hadapan.
"Apa saya mengganggu waktu, Kyai? Emmm, dengan kedatangan saya sepagi ini?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Ada apa memangnya?" Kyai Aminudin masih berada di pertanyaan yang sama.
"Hanya ingin berkunjung saja, Kyai. Silaturahmi." Sahut Ajimukti singkat sembari melengkungkan bibirnya.
Disaat itu Nyai Sarah pun nampak keluar dari balik tirai pembatas ruangan itu.
"Nyai..." Ajimukti segera berdiri dari duduknya kemudian meraih punggung tangan istri Kyai Aminudin itu dan menciumnya.
"Ada apa, Nak Aji? Kenapa sepagi ini sudah sampai disini?" Tanya Nyai Sarah kemudian.
"Sengaja ingin berkunjung, Nyai. Kebetulan memang ada yang ingin saya aturkan sama Kyai Aminudin." Jawab Ajimukti sembari sedikit menundukkan kepalanya.
"Apa lagi yang ingin kamu sampaikan?" Kyai Aminudin segera memotong jawaban Ajimukti.
Ajimukti kemudian menunjukkan satu buah stopmap dan menaruhnya ke atas meja tepat dihadapan Kyai Aminudin.
"saya hanya ingin menyampaikan soal ini, Kyai." Sahut Ajimukti setelahnya.
Kyai Aminudin mengerutkan keningnya, "Apa lagi ini?" Tanyanya nampak keheranan lalu meraih stopmap itu kemudian nampak memperhatikan isi stopmapnya.
"Ini...?" Ucapnya sedikit terkejut.
__ADS_1
"Itu sertifikat tanah ini juga bangunan ini, Kyai. Saya harap Kyai dan Nyai mau menerimanya." Sahut Ajimukti memotong dan menjelaskan.
Nyai Sarah pun terlihat terkejut lalu ikut memperhatikan beberapa lembar dokumen dalam stopmap yang di pegang suaminya itu.
Kyai Aminudin segera menutup stopmap itu dan kembali menaruhnya di atas meja.
"Apa maksudnya ini?" Tanyanya kemudian.
Ajimukti sedikit tersenyum, "Tidak ada maksud, Kyai. Semua sudah saya jelaskan."
Kyai Aminudin tersenyum sinis, "Heh, bahkan setelah saya menjauh pun kamu masih belum puas dan masih ingin mengusik keluarga saya rupanya."
"Sama sekali tidak, Kyai. Kyai menolak untuk kembali ke pesantren. Hanya ini yang bisa saya berikan untuk semua yang sudah Kyai dedikasikan untuk pesantren." Ajimukti kini nampak serius dalam menyampaikan itu.
Sekali lagi Kyai Aminudin tersenyum sinis, "Saya tidak ingin terjebak lagi." Ucapnya kemudian.
"Silahkan Kyai berpikir apapun tentang saya. Tapi demi Allah saya tidak ada maksud lain selain apa yang sudah saya utarakan tadi, Kyai." Ajimukti masih mencoba meyakinkan Kyai Aminudin dengan tujuannya itu.
Kyai Aminudin kini terlihat mengangguk, ekspresinya belum berubah, "Atau jangan jangan ini salah satu siasat kamu agar saya mau menerima lamaran kamu untuk Habiba tempo hari?" Ucapnya kemudian.
Ajimukti tersenyum, "Saya ingat kata kata Njenengan tempo hari, Kyai. Habiba terlalu berharga, apalagi untuk Kyai tukar dengan rumah sekecil ini. Bahkan jika saya bisa memberikan mahar beberapa gedung pun rasanya tidak akan cukup sebanding jika dibandingkan dengan Habiba." Ucap Ajimukti.
"Dan bukankah Kyai sudah menyerahkan soal itu pada Habiba sendiri. Jadi untuk apa lagi saya menemui Kyai soal itu. Bukankah untuk hal satu itu saya hanya akan datang pada Habiba nantinya, ya, seperti kata Kyai tempo hari. Saya harap Kyai belum lupa. Baru setelahnya saya akan datang menemui Kyai dua kali lagi?" Ajimukti mendekatkan dirinya pada Kyai Aminudin.
Ajimukti kembali ke posisi duduknya semula, "Ya dua kali. Pertama, untuk meminta restu, Kyai. Kedua, untuk mendengarkan ijab Kyai sebagai walinya Habiba." Ucapnya kemudian sembari tersenyum.
Kyai Aminudin mendengus, "Sontoloyo, seyakin itu kamu bahwa Habiba akan menerima kamu?"
"Bu Nyai, pripun?" Ajimukti beralih pada Nyai Sarah yang menurut Ajimukti, beliau cukup tahu banyak tentang Habiba.
Nyai Sarah hanya tersenyum.
"Yang terpenting bukan soal Habiba mau tidak sama saya, Kyai. Tapi Kyai yang harus mulai terbiasa punya menantu sekurangngajar saya." Ajimukti lagi lagi melengkungkan bibirnya.
Mendengar itu Kyai Aminudin hanya bisa menghela nafas, sementara Nyai Sarah hanya bisa menahan senyumnya.
"Jadi mohon Kyai dan Nyai mau menerima ini. Insya Allah saya tulus memberikannya." Ucap Ajimukti sekali lagi sembari menyodorkan stopmap itu pada Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin kemudian hanya melirik ke arah istrinya seolah meminta pendapat istrinya itu. Nyai Sarah pun kemudian hanya mengangguk ringan.
"Baiklah! Untuk saat ini saya terima. Tapi jika nanti saya bisa mengembalikan ini. Saya pasti akan mengembalikannya. Saya tidak mau berhutang budi pada keluarga Muthoriq lagi." Ucap Kyai Aminudin setelahnya.
Ajimukti tersenyum, "Monggo, Kyai. Tapi sekali lagi saya tulus memberikan ini. Tidak berharap untuk dikembalikan."
__ADS_1
Kyai Aminudin tak menyahut, untuk sesaat suasana ruang tamu itu hening. Merasa apa yang ingin disampaikannya sudah tidak ada lagi dan tujuannya berkunjung sudah tersampaikan, Ajimukti pun segera pamit undur diri dari rumah itu.
"Terima kasih, Nak Aji." Ucap Nyai Sarah sembari mengantar Ajimukti berjalan keluar.
"Sudah seharusnya, Nyai." Sahut Ajimukti datar sembari melempar senyum.
"Kurang dari tiga minggu Habiba kembali dari pesantren. Apa Nak Aji tidak ada rencana berkunjung kemari lagi?" Tanya Nyai Sarah kemudian.
Ajimukti menghela nafas, "Insya Allah, Nyai. Sebelum itu saya ingin kembali ke Jogja dulu menemui Sibu."
"Umi juga rasanya ingin sekali bertemu Nyai Kartika, meminta maaf atas semua yang sudah terjadi, tapi Umi rasanya sudah tidak punya muka bahkan hanya sekedar untuk menyapa beliau." Suara Nyai Sarah terdengar berat.
Ajimukti hanya tersenyum tak menyahut, untuk satu ini dia pun tidak bisa mewakili perasaan Nyai Kartika.
Sesaat setelah itu, Ajimukti pun berlalu dari rumah Kyai Aminudin dan kembali mengendarai mobilnya menyusuri jalanan pagi itu. Kali ini ada tempat lain yang ingin ditujunya.
Cukup jauh jarak antara kediaman Kyai Aminudin dan tempat yang kini dituju Ajimukti. Setidaknya, butuh waktu hampir satu jam untuk bisa sampai ke tempat ini. Kini, Ajimukti sudah berdiri di depan gerbang Kantor Lembaga Pemasyarakatan kelas satu.
Sejenak Ajimukti menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam gerbang besar itu. Seorang penjaga pintu berseragam biru muda dengan logo pengayoman nampak ramah menyapa meski wajahnya terlihat bengis.
Oleh penjaga pintu gerbang itu Ajimukti segera diarahkan untuk ke bagian petugas kunjungan. Ajimukti mengikuti arahan petugas itu. Kini, Ajimukti sudah berdiri mengantri untuk mengisi daftar kunjungan.
"Mau mengunjungi siapa, Mas? Bisa tunjukkan kartu identitasnya!" Tanya petugas perempuan yang juga berseragam biru itu.
"Nugroho Sastro Darmono." Jawab Ajimukti kemudian, lalu ia pun segera mengeluarkan KTP dari dalam dompetnya. Ia tidak berpengalaman soal seperti ini, ini kali pertama ia berkunjung ke Lapas.
Petugas itu mengangguk, "Silahkan langsung saja, Mas. Kebetulan Pak Nugroho sudah ada didalam. Beliau juga baru menerima kunjungan." Ucap petugas itu lagi.
Ajimukti mengangguk lalu segera berjalan ke arah pintu masuk ruang kunjungan di dampingi seorang tamping yang juga nampak ramah.
"Siapa kira kira yang mengunjungi Pak Nugroho? Apa mungkin itu Budi?" Batin Ajimukti dalam hati.
Ia pun segera masuk setelah tamping itu mempersilahkannya.
"Itu Pak Nugroho di sana, Mas!" Ucap tamping itu seraya menunjuk ke arah dua orang yang sedang duduk di ujung ruang kunjungi.
"Terima kasih, Mas." Ucap Ajimukti pada pemuda tamping itu kemudian segera berjalan ke arah yang ditunjuk.
Di sana terlihat duduk seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun lebih dengan rambut yang sudah banyak beruban. Tida begitu jelas karena terhalang oleh beberapa pengunjung lain. Di depannya, duduk juga yang nampaknya seorang pemuda, hanya saja dari pintu masuk tadi hanya terlihat punggungnya karena posisinya yang membelakangi pintu masuk.
Begitu Ajimukti lebih dekat, ia sedikit terkejut dengan sosok yang duduk berhadapan dengan Nugroho itu. Pemuda itu pun tak kalah terkejutnya. Begitu juga Nugroho yang meski belum sekalipun bertemu Ajimukti tapi nampaknya sudah begitu hafal. Nugroho pun segera berdiri dengan tatapan tajam yang ia tujukan langsung ke arah Ajimukti.
Bersambung...
__ADS_1