
Teras ndalem untuk sesaat hening. Angin yang berembus pun tidak ingin terang terangan menyapu daun daun kering untuk memecah keheningan sore ini.
Kyai Aminudin masih menatap tajam ke arah Ajimukti dan Dullah. Pandangannya tak pernah lepas dari keduanya yang sepertinya masih tetap tenang.
Ajimukti menghela nafas, "Kenapa Kyai tanya saya siapa saya sebenarnya? Saya ya hanya santri biasa yang baru dua bulan nyantri disini. Tidak ada yang saya tutup tutupi dari Kyai atau pun yang lainnya." Jawab Ajimukti tenang.
Kyai Aminudin kembali menegakkan badannya, "Benar kamu tidak ingin mengatakan siapa kalian ini sebenarnya?" Tanya Kyai Aminudin sedikit menekan suaranya.
"Maaf, Kyai. Keponakan saya, Mas Aji sudah menjelaskan sejujurnya. Ya, kami ini hanya orang yang benar benar ingin ngangsu ilmu disini." Dullah yang sejak awal diam, kini mulai ikut angkat bicara.
Kyai Aminudin kembali tersenyum mengejek. Lalu mendengus, "Sekali lagi saya tekankan! Kalian beri tahu saya siapa kalian sebenarnya atau kalian segera tinggalkan pesantren ini?"
"Sudah, Lek. Sepertinya saya memang harus jujur pada Pak Kyai." Ucap Ajimukti sembari menepuk tangan Dullah yang ingin kembali berbicara. Dullah hanya mengangguk.
Mendengar itu, Kyai Aminudin kembali menyunggingkan senyum sinis nya.
"Maaf, Kyai. Sebenarnya...sebenarnya saya takut untuk berterus terang. Tapi karena Kyai memaksa. Jadi sekali lagi maaf... Maaf sekali Kyai, bukan maksud kami selama ini menutupi jati diri kami." Ucap Ajimukti nampak bersungguh sungguh sembari menangkupkan kedua telapak tangannya.
Kyai Aminudin hanya mengangguk, tanpa ekspresi apapun. Pandangannya masih sama, tertuju pada Ajimukti dan Dullah.
"Sebenarnya saya ini dulunya adalah anak jalanan, Kyai. Anak Punk, kalau orang bilang. Saya mengamen dari bis ke bis. Lalu Pak Lek mengajak saya mondok kesini, biar jadi orang bener katanya. Makanya saya mau, Kyai. Sekali lagi saya minta maaf, Kyai." Ucap Ajimukti masih menangkupkan kedua telapak tangannya.
Dullah yang menyadari itu segera mengimbuhi, "Itu benar, Kyai. Apa yang keponakan saya ini ceritakan."
Kyai Aminudin bangun dari duduknya, lalu berdiri sedikit menyamping membelakangi mereka.
Wajahnya penuh ekspresi kemarahan. Rahangnya terlihat tegas. Pandangannya tajam.
"Bagus sekali." Ucapnya dengan nada mengejek. "Drama apalagi itu?"
Ajimukti dan Dullah saling melempar pandang. Dullah sedikit menaikkan pundaknya.
Kyai Aminudin terdengar mendengus. "Baiklah! Jika itu pilihan kalian. Dengan terpaksa, kalian saat ini juga harus tinggalkan pesantren ini." Ucapnya meninggi.
"Tapi, Kyai. Bukankah keponakan saya ini sudah mengatakan yang sebenarnya." Sahut Dullah menunjukkan sikap tidak terima nya.
"Heh! Apa kalian pikir saya ini bodoh. Percaya begitu saja dengan sandiwara picisan kalian itu!" Kyai Aminudin membalas dengan nada tinggi.
"Lalu kami harus mengatakan yang seperti apalagi, Kyai?" Tanya Ajimukti dengan nada merendah.
"Tidak perlu! Sudah cukup! Saya minta kalian hari ini juga kemasi barang kalian, dan cepat tinggalkan pesantren ini!" Kyai Aminudin nampaknya kekeh dengan ucapannya.
"Kalian tidak pantas nyantri di pesantren ini." Imbuhnya lagi.
"Lalu yang pantas yang seperti apa, Kyai?" Ajimukti berusaha membela dirinya.
"Sudah! Jangan banyak bicara! Saya sudah tidak mau lagi mendengar penjelasan apapun dari kalian!" Ucap Kyai Aminudin masih dengan nada tinggi.
Tepat disaat itu, sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih terlihat menuju halaman parkir pesantren. Tak lama setelah mobil itu berhenti, seorang berperawakan tambun keluar dari dalam mobil itu. Di ikuti seorang lagi yang badan lebih gempal dan berkulit hitam, juga seorang pemuda.
Kyai Aminudin yang begitu hafal dengan mobil itu, segera keluar dari teras untuk menyambut tamunya.
Ajimukti dan Dullah hanya kembali saling melempar pandang, lalu ikut berdiri.
"Kang Anggoro, apa kabar? Ada angin apa yang membuat Kang Anggoro tiba tiba berkunjung kemari?" Ucap Kyai Aminudin ramah setelah keduanya saling mengucap salam dan bersalaman.
"Tidak ada apa apa Ustadz Amin. Eh, maksud saya Kyai Aminudin. Hanya ingin berkunjung. Sudah rindu sama Manan juga." Sahut Anggoro dengan pandangan sekilas tertuju ke arah Ajimukti dan Manan.
"Mari Kang Anggoro. Silahkan masuk." Ucap Kyai Aminudin kemudian. Lalu beralih pada Ajimukti dan Dullah, "Kalian cepat pergi. Kemasi barang kalian dan cepat tinggalkan pesantren ini."
Anggoro nampak tersenyum menyeringai. "Tunggu Kyai. Ada apa ini?" Tanyanya kemudian.
Prastowo berdiri di belakang Anggoro, sementara Manan yang sejak tadi diam pun, kini saling memberi kode pada Ajimukti dengan gerakan matanya.
"Ah, tidak ada apa apa, Kang. Biasa, santri yang suka bikin onar dan nggak mau diatur." Ucap Kyai Aminudin.
__ADS_1
Anggoro mengerutkan kening, "Suka bikin onar dan nggak mau diatur?" Ucapnya mengulangi kata kata Kyai Aminudin.
"Iya, Kang. Biar tidak berimbas ke santri yang lain." Lanjut Kyai Aminudin dengan wajah penuh kemenangan.
Anggoro tersenyum sinis, tanpa disuruh duduk, kini dia duduk di sofa, lalu menyalakan rokok dan melempar bungkus rokoknya ke meja.
"Tidak ada yang boleh tinggalkan pesantren ini!" Ucapnya kemudian.
Kyai Aminudin tersentak, lalu mendekat ke Anggoro. "Apa maksud Kang Anggoro?" Tanyanya keheranan.
"Saya bilang. Tidak ada yang boleh tinggalkan pesantren ini! Apa belum jelas Ustadz Amin, emmm, maksud saya Kyai Aminudin." Anggoro terlihat tegas kali ini.
"Tapi mereka ini...?"
"Apalagi mereka!" Anggoro memotong ucapan Kyai Aminudin.
"Kenapa, Kang Anggoro? Apa alasannya?" Kyai Aminudin masih kebingungan.
"Alasannya jelas, Pak Kyai yang saya hormati. Kang Salim mendirikan pesantren ini untuk mendidik orang agar menjadi lebih baik. Jika kata Kyai, mereka suka bikin onar dan nggak bisa diatur. Didik lagi!" Ucap Anggoro kembali tegas.
"Tapi Kang Anggoro. Setelah Mas Kyai Salim wafat. Saya yang berhak atas pesantren ini seperti wasiat beliau. Jadi keputusan ada di tangan saya." Kyai Aminudin mulai ingin menunjukkan kekuasaannya.
Anggoro mengangguk, "Wasiat yang mana? Wasiat yang sampeyan buat sendiri lalu memaksa Kang Salim menandatanganinya tanpa Kang Salim sampeyan suruh baca?" Ucap Anggoro kemudian.
Kyai Aminudin gelagapan, "Maksud Kang Anggoro apa? Saya tidak mengerti. Wasiat itu jelas jelas ditinggalkan Mas Kyai Salim pada saya." Kyai Aminudin masih mencoba membela diri.
Anggoro berdiri, lalu memanggil Prastowo. "Biarkan Prastowo yang berbicara!"
Mendengar itu Kyai Aminudin nampak geram, memang dirinya tidak terlalu suka dengan Prastowo.
"Bicaralah, Prastowo!" Perintah Anggoro pada Prastowo.
Dengan tenang Prastowo mulai berbicara, "Ada seorang yang datang ke rumah saya, mengatakan kalau sampeyan, Kyai. Menulis sesuatu pada selembar kertas lalu meminta Kang Salim yang saat itu terbaring sakit untuk menandatanganinya. Seperti kata Anggoro, tanpa sampeyan menyuruh Kang Salim untuk membacanya. Karena menaruh kecurigaan, diam diam orang itu mencari tahu isi tulisan dalam kertas itu. Dan benar kecurigaannya, isi kertas itu adalah wasiat yang anda buat dan mengatasnamakan Kang Salim." Ucap Prastowo tak kalah tegasnya dengan Anggoro.
"Fitnah macam apa lagi itu, Kang Pras?" Ucapnya dengan rahang yang tegas.
Prastowo tersenyum sinis, "Itu bukan fitnah, Kyai. Oh, maaf, saya tidak terbiasa memanggil Kyai. Maksud saya Kang Amin." Prastowo nampak mengejek, membuat emosi Kyai Aminudin naik ke ubun ubun.
"Siapa? Siapa orang itu? Mana buktinya?" Kyai Aminudin membentak Prastowo, tapi Prastowo tidak gentar sedikit pun.
"Tenang saja, Kang Amin. Tunggu saja sebentar lagi dia akan kesini." Ucap Prastowo tenang.
Kyai Aminudin pun menyeringai, "Itu hanya orang orang yang memang bersekongkol dengan kamu kan? Untuk memfitnah saya."
"Tidak, Pakdhe! Pak Prastowo tidak memfitnah. Saya lah yang memberi tahu Pak Prastowo waktu itu." Tiba tiba suara seorang mengagetkan Kyai Aminudin dan membuat yang lain pun menoleh ke arah sumber suara.
"Faruq?" Gumam Kyai Aminudin meradang dengan tatapan tajam.
"Ya, saya Pakdhe." Ucap Faruq tenang dan datar sembari berdiri tak jauh dari Manan. Sementara di belakangnya ada Ali yang juga terlihat tenang.
Mendengar keributan di teras ndalem. Membuat Nyai Sarah dan Habiba segera menuju ke teras untuk tahu ada keributan apa.
Begitu tiba di teras, melihat ada beberapa orang mereka tersentak. Ditambah ketika pandangan mereka tertuju pada Kyai Aminudin yang sepertinya sedang marah.
"Ada apa ini, Bah?" Tanya Nyai Sarah seketika menghampiri suaminya.
"Sudah Umi diam saja dan bawa Habiba kembali masuk. Ini urusan Abah. Umi jangan ikut campur!" Ucap Kyai Aminudin setengah memarahi istrinya.
Nyai Sarah tidak berani melanjutkan kata katanya, lalu kembali mundur dan mendekat ke Habiba yang berdiri kebingungan dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Apa maksud kamu, Faruq? Kamu ingin menusuk Pakdhe mu sendiri dari belakang?" Tanya Kyai Aminudin mendekat ke Faruq.
"Tidak, Pakdhe. Justru saya ingin menyelamatkan Pakdhe dari kekhilafan Pakdhe ini." Ucap Faruq tulus.
"Hah!" Kyai Aminudin hampir melayangkan tamparan kerasnya ke arah Faruq, tapi secepat kilat Ali menahannya.
__ADS_1
"Hentikan, Kyai. Saya pun melihatnya sendiri tidak hanya Gus Faruq." Ucap Ali kemudian.
Kyai Aminudin semakin tersulut emosi mendengar ucapan Ali itu. Lalu kembali tersenyum menyeringai.
"Ternyata saya memelihara tikus di rumah saya selama ini." Ucapnya kemudian.
"Kalimat itu lebih pantas untuk sampeyan, Kyai Amin." Anggoro kini kembali berdiri dan mendekati Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin menoleh ke arah Anggoro.
"Ya, kalimat itu lebih pantas diucapkan pada sampeyan. Bagaimana tidak! Kang Salim sudah mengangkat kehidupan sampeyan jauh lebih baik dari sebelumnya. Diberikan tempat tinggal. Kedudukan. Tapi apa yang sampeyan lakukan. Sampeyan hanya orang yang di kek'i ati ning malah ngrogoh rempelo. Sampeyan yang awalnya hanya pedagang warung makan, diangkat status sampeyan menjadi lebih baik. Orang orang menghormati sampeyan. Tapi balasan apa yang sampeyan berikan sama Kang Salim?" Anggoro kini meninggikan suaranya, tatapan matanya mendiskriminasi.
Habiba yang mendengar itu pun tersentak, tanpa ia duga air matanya mulai membasahi kelopak matanya. Nyai Sarah yang menyadari itu segera memeluk anak perempuannya itu.
Kyai Aminudin terbelalak. Matanya melotot memandang bergantian ke arah Anggoro dan Prastowo.
"Tapi kalian lihat! Perubahan setelah saya yang memegang pesantren ini. Jauh lebih baik dari pada sewaktu Kang Salim yang memegang." Kyai Aminudin tidak mau kalah.
"Benar, Pakdhe. Tapi hanya baik secara fisik, bukan apa yang ada di dalamnya." Sahut Faruq lagi.
"Para wali santri Pakdhe tekan dengan syahriyah yang mencekik, tapi tidak sebanding dengan apa yang para santri dapatkan. Kyai hanya berfokus pada santri yang orang tuanya bisa memberi keuntungan." Imbuhnya lagi.
"Karena saya ingin Pondok Hidayah lebih besar lagi. Menjadi pesantren terbesar." Kyai Aminudin masih belum mau mengakui kesalahannya. Dia terus membela diri.
"Pesantren siapa yang ingin Kang Amin besarkan? Pesantren yang sengaja Kang Amin dapatkan dengan cara merampas dari pemiliknya?" Prastowo tidak mau kalah.
Melihat perseteruan itu, Manan diam diam menyelinap ke arah Ajimukti dan Dullah yang menunggu giliran mereka untuk berbicara.
"Jik, maaf ya agak telak tadi." Ucap Manan berbisik.
Ajimukti dan Dullah lebih mendekatkan diri ke Manan.
"Bagaimana kamu bisa sama Bapakmu dan Prastowo, Nan?" Tanya Dullah kemudian.
"Tadi saya kebetulan lagi sama Gus Faruq, tiba tiba Gus Ali datang mengabarkan katanya sampeyan sama Ajik di panggil, Lek. Yasudah, saya langsung ke Pakdhe Prastowo. Pakdhe Prastowo langsung mengabari bapak yang kebetulan lagi di pasar." Ucap Manan masih berbisik.
"Saya tidak menduga bahwa kejadiannya seperti itu, Jik." Imbuh Manan.
Ajimukti hanya tersenyum lalu kembali memperhatikan perseteruan yang terjadi di depannya.
"Selagi masih ada kesempatan Pakdhe. Sebaiknya Pakdhe kembalikan kepemilikan pesantren ini kepada yang memang berhak Pakdhe." Imbuh Faruq mencoba memberi pengertian Kyai Aminudin.
"Yang berhak katamu? Heh, asal kamu tahu, satu satunya keluarga Kang Salim yang berjuang untuk pesantren ini ya saya. Lalu mau di kembalikan ke siapa? Ke mayatnya Kang Salim? Kamu bocah tahu apa Faruq." Kyai Aminudin kembali tersulut emosi dengan ucapan Faruq.
"Pakdhe lupa, Kyai Salim punya istri dan seorang anak?" Tanya Faruq kemudian.
Kyai Aminudin tiba tiba tertawa, "Istri? Istri yang mana?"
Prastowo dan Anggoro tersenyum, "Berani berani nya mengaku keluarga Kang Salim, bahkan istrinya pun sampeyan tak tahu, Kang." Prastowo berteriak lantang.
"Kyai, tahu alasan Kyai Salim sering bolak balik ke Joga?" Tanya Ali yang sejak menahan tamparan Kyai Salim pada Faruq tak lagi ikut bicara.
Kyai Aminudin mendengus dan menoleh ke arah Ali. "Apa yang kamu tahu? Sudah jelas Kang Salim setoran kitab pada gurunya." Ucapnya sinis dengan nada geram.
Ali tersenyum, "Itu yang Kyai tahu. Tapi yang sebenarnya bahwa Kyai Salim mengunjungi anak istrinya disana, Kyai tidak pernah tahu kan?"
Kyai Aminudin meradang, "Omong kosong macam apa ini?" Teriaknya.
"Benar, Pakdhe. Dan seperti saran saya. Kembalikan hak atas pesantren ini kepada pemiliknya!" Faruq kembali mengulang kata katanya.
"Jika kamu memang tahu sesuatu. Saya ingin tahu, siapa yang kamu maksud pemilik yang berhak itu?" Kyai Aminudin menatap tajam Faruq. Kini mereka saling beradu pandang.
Setelahnya sebuah senyuman merekah dari bibir Faruq, "Pemilik sebenarnya yang berhak atas pesantren ini..." Faruq menghentikan ucapannya, lalu menghela nafas, "Gus Aufa...!"
Bersambung...
__ADS_1