
Habiba segera menoleh dan memutar badannya, begitu ia tahu siapa yang menyapanya dan sempat begitu mengagetkannya, ia menghela nafas lalu terdengar menggerutu.
"Manan! Kamu mengagetkan saja!" Ucapnya nampak kesal.
Manan memutar bola matanya, lalu lebih mendekat ke arah Habiba, "Kamu yang mengagetkan. Saya pikir tadi siapa. Tak tahunya kamu." Manan menyilangkan tangannya di dada, "Kamu belum menjawab pertanyaanku?" Sambungnya mengingatkan.
Habiba kini yang menghela nafas, "Sudahlah, saya balik saja." Ucapnya sembari mencoba melangkahkan kaki.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Dan lagi kenapa buru buru?" Balas Manan mengintimidasi.
"Tidak apa apa." Balas Habiba datar. "Sudah saya jawab kan? Berarti saya sudah bisa pergi kan?" Imbuhnya.
Manan tertawa ringan, "Itu bukan jawaban, Ning!"
"Jangan panggil saya 'Ning'! Saya bukan lagi putri Kyai!" Ucapnya sedikit kesal dengan tatapan yang tajam.
Manan melepas persilangan tangannya lalu tangan kanannya terlihat menggaruk keningnya sendiri. "Saya heran. Kyai bukan sebuah profesi. Jadi saya pikir tidak ada istilah pensiun untuk seorang Kyai kan, Ning Biba?"
Habiba melotot, "Kamu menyindirku?" Sahutnya cepat.
"Tidak tidak tidak. Saya berkata apa yang harus saya katakan saja." Ucap Manan tak bermaksud menyinggung Habiba.
Habiba mendengus, "Kamu juga ada disana sore itu. Dan kamu tahu sendiri kan, Nan?" Habiba mengingatkan sesuatu pada Manan.
Manan mengangguk, "Tentu saja saya ingat."
"Baguslah. Jadi jangan panggil saya dengan panggilan, 'Ning' lagi. OK!" Ucap Habiba tegas.
Manan mengangkat kedua tangannya ke atas, "Bagi saya Kyai tetaplah Kyai. Saya tidak akan menganggap Kyai Aminudin bukan lagi Kyai. Tidak ada konsep seperti itu dari yang pernah saya pelajari. Tapi saya tidak memungkiri dengan semua kekhilafan beliau. Tapi bukankah Kyai juga manusia yang bisa melakukan kesalahan? Jangankan Kyai, bahkan seorang Nabi pun tidak luput dari kesalahan, kan?" Manan kali ini bicara cukup tegas.
Habiba tercengang. Ia pun tidak menyangka Manan akan berbicara seperti itu.
Sesaat Habiba tersenyum, "Kyai bukan sekedar gelar, Nan. Seharusnya seorang Kyai bisa menjadi panutan umat. Tapi kenyataanya, Abahku, ah...?" Habiba kini mengeluh.
Manan tersenyum, "Kenyataannya Abahmu masih tetap langgeng sebagai menungso, menus menus panggone duso!"
"Kamu mencoba menghiburku?" Habiba memutar bola matanya.
"Entahlah, apa saya ini dianggap sedang menghibur atau apa. Yang pasti kamu tetaplah 'Ning'..."
"Habiba...! Jangan panggil 'Ning' lagi! Saya menghargai persepsi kamu, Nan. Tapi untuk satu itu, hargai saya juga." Habiba memotong ucapan Manan.
Manan sedikit menaikkan pundaknya, dan tidak lagi ingin mendebat.
"Yasudah, Nan. Saya pergi dulu!" Ucap Habiba kemudian.
"Kenapa tidak masuk saja?" Manan sekali lagi coba mengulang pertanyaan awalnya.
"Sebaiknya tidak, Nan." Sahut Habiba terdengar berat.
__ADS_1
"Kenapa?" Manan masih mengejar penjelasan Habiba.
"Tidak apa apa." Sahut Habiba datar.
"Tida apa apa bukan jawaban." Manan seolah memaksa Habiba untuk memberinya penjelasan.
"Bagi saya itu sudah cukup menjawab, Nan. Jadi saya tidak perlu lagi mencari jawaban yang lain." Habiba berusaha bertahan dengan jawabannya itu.
Manan tertawa ringan, "Berarti itu sama hal nya ketika kita ditanya kenapa kita harus sholat lima waktu? Kenapa kita harus berpuasa? Lalu kita hanya menjawab tidak apa apa."
Mau tidak mau Habiba pun ikut tertawa mendengar ucapan Manan itu.
"Jadi bisa kan memberi jawaban yang bukan sekedar kata 'tidak apa apa'?" Manan menghentikan tawanya dan kembali memaksa Habiba untuk memberi jawaban lain.
Habiba pun kembali dengan ekspresi wajahnya semula. Untuk sesaat dia menghela nafasnya.
"Kamu tidak tahu yang saya rasakan, Nan? Jika kamu tahu mungkin kamu tidak akan mendesak ku untuk memberi jawaban lain." Ucap Habiba lirih.
Manan memutar badannya, kini ia membelakangi Habiba, "Malu itu manusiawi. Dan beruntunglah mereka yang masih memiliki rasa malu. Tapi kita pun tidak bisa terus terusan bersembunyi di balik rasa malu. Ada kenyataan yang harus kita hadapi. Berpasrah sangat tidak dianjurkan dalam menghadapi segala sesuatu."
Habiba menelan ludah. Seolah kini Manan tahu apa yang sedang dirasakannya. Tanpa ia harus menjawab pertanyaan Manan tadi pun, Manan sebenarnya sudah tahu apa jawabannya.
"Tapi sulit, Nan. Tidak semudah yang kita pikirkan saat benar benar di tabrakan dengan kenyataan itu." Habiba tertunduk.
"Lalu? Kamu akan terus bersembunyi di balik rasa malu itu?" Tanya Manan meminta penjelasan.
Manan mengangguk ringan, "Tapi kamu harus bisa membedakan antara berserah dan berpasrah!"
Habiba mendongak, sekilas menatap punggung Manan yang masih membelakanginya.
Untuk sesaat mereka sama sama terdiam. Menyadari Habiba tidak lagi terdengar bersuara. Manan kembali memutar badannya dan kini dilihatnya Habiba hanya menyandarkan punggungnya pada tembok gerbang masjid pesantren. Pandangan mata Habiba nampak kosong, entah apa yang dipikirkannya sekarang.
"Pergilah kalau memang tidak mau masuk kedalam!" Ucap Manan kemudian. Kali ini ia tidak lagi memaksa Habiba untuk masuk.
Habiba menegakkan badannya. Semilir angin yang menerpanya, membuat setengah wajahnya tertutup jilbab warna merah muda yang ia kenakan.
"Saya titip salam untuk Kang Aji. Emmmm, maksud saya Gus Aufa." Ucap Habiba sebelum pergi dari tempat itu.
Manan tersenyum, "Saya tidak akan menyampaikan salam itu. Tapi jika kamu ingin bertemu dengan Ajik. Saya akan membawanya menemuimu." Ucap Manan kemudian.
Habiba tidak menyahut. Hanya sekilas bibirnya nampak tersenyum pias, lalu benar benar melangkahkan kakinya meninggalkan Manan sendiri di tempat itu.
Untuk sesaat Manan menatap Habiba yang kian menjauh darinya. Langkah gadis itu nampak lesu, Manan sangat mengerti seberapa berat yang Habiba harus tanggung saat ini.
Manan pun segera melangkah meninggalkan gerbang masjid pesantren untuk kembali masuk kedalam bersama yang lainnya.
Sementara itu di panggung acara. Ali, nampak sudah akan mengakhiri pertemuan Wali santri hari ini. Sekali lagi ia mengucapkan rasa terima kasihnya sebagai perwakilan pesantren kepada semua yang hadir hari ini.
Ajimukti sendiri sudah turun dari panggung sejak tadi. Ia kini sedang duduk bersebelahan dengan Nyai Kartika.
__ADS_1
Dari wajah teduh Nyai Kartika jelas terlihat kebanggaannya atas pencapaian dan jerih payah Ajimukti. Sebagai seorang ibu, tidak ada hal yang paling membahagiakan selain bisa melihat anaknya mencapai kesuksesannya.
Tak berselang lama seluruh yang hadir satu persatu sudah meninggalkan Pondok Hidayah setelah acara pertemuan Wali santri hari ini benar benar sudah ditutup oleh Ali sebagai perwakilan pihak pesantren.
Setelah semua wali santri yang hadir sudah benar benar meninggalkan pesantren, Ajimukti pun segera mengajak Nyai Kartika masuk ke ndalem pesantren untuk beristirahat.
Ya, setelah Faruq memastikan bahwa Kyai Aminudin tidak mau lagi tinggal disana. Beberapa khodam ndalem segera membersihkan ndalem itu untuk ditinggali Ajimukti. Bagaimanapun juga rumah itu dibangun oleh Kyai Idris Muthoriq, kakeknya, sebelum akhirnya di tempati Zaini dan kembali di serahkan pada Salim, bapaknya.
Setelah mengantar Nyai Kartika ke ndalem. Ajimukti kembali lagi ke depan. Di sana beberapa santri nampak sibuk membereskan sisa sisa acara. Ajimukti mendekat ke Sobri yang sedang asik berbincang dengan Manan.
"Wah, rupanya kalian sudah berkenalan." Sapa Ajimukti begitu mendekat ke mereka berdua.
"Iya, Gus. Tadi bapak dan Pak Dhe Anggoro memperkenalkan kami. Alhamdulillah, Gus. Tambah sedulur." Sahut Sobri nampak gembira.
"Dan setelah kenal, Jik. Ternyata Kang Sobri ini tidak jauh beda dengan kamu. Wawasannya pun luas. Salut saya, Jik." Manan memuji Sobri. Sobri nampak tersipu.
"Ah, Kang Manan bisa saja. Kang Manan pun juga berwawasan luas. Saya pun salut dengan wawasan Kang Manan." Sobri pun tak kalah memuji Manan.
Ajimukti hanya tersenyum melihat kehangatan ini. Lalu tiba tiba ia seperti teringat sesuatu.
"Oh, iya, Kang. Sudah kenalan juga sama anaknya Pak Lek Prastowo?" Tanya Ajimukti kemudian.
Mendengar itu, seketika Manan menelan ludah.
"Belum, Gus. Yang mana orangnya?" Tanya Sobri penasaran.
Ajimukti nampak melihat lihat sekitar. Tapi sosok Ajeng tak tertangkap sejauh pandangan matanya.
"Emmm, mungkin sudah pulang kalau nggak ya lagi ke ndalem, Kang. Soalnya Bu Lek Sum masih di ndalem nemenin Sibu. Mungkin nanti saya kenalkan. Atau kalau nggak nanti biar langsung Lek Dul saja yang ngenalin." Ucap Ajimukti kemudian.
Sobri hanya mengangguk ringan, sementara Manan, sekali lagi nampak menelan ludah diam diam.
"Oh, iya, Kang Sobri. Ngomong ngomong terima kasih ya." Ucap Ajimukti kemudian.
Sobri mengerutkan keningnya, "Untuk apa, Gus?" Tanya Sobri keheranan.
Ajimukti tersenyum kemudian menepuk pundak Sobri, "Sudah membawakan mobil saya. Jadi saya bisa sewaktu waktu bolak balik ke Jogja." Ucap Ajimukti kemudian.
Sobri tertawa, "Itu usulan Bu Nyai, Gus. Bu Nyai kepikiran bagaimana njenengan disini kalau mau keluar keluar. Dan lagi sejak njenengan ganti mobil itu, baru beberapa kali njenengan pakai."
Manan sepintas melihat sebuah mobil bercat silver yang terparkir di halaman masjid pesantren. BMW i8 Coupe, jelas itu bukan sekedar mobil dengan harga jutaan lagi, tapi milyaran.
Diam diam Manan menggelengkan kepalanya. Tak hanya Manan, bahkan setiap orang yang melihat Ajimukti pun pasti tidak akan percaya bahwa mobil mewah itu miliknya jika dilihat dari penampilan juga pembawaannya sehari hari.
Diam diam Manan mengagumi kerendahan hati Ajimukti dan kesederhanaannya itu. Disaat orang orang kaya berlomba menunjukkan kekayaan mereka. Disaat orang biasa bergaya sok kaya demi gengsi semata. Ajimukti justru sebaliknya.
Disaat itu, Manan teringat pertemuannya dengan Habiba tadi. Dia ragu apakah harus mengatakannya pada Ajimukti atau tidak. Untuk sejenak Manan menghela nafasnya dalam dalam diantara kebimbangan yang menguasai pikiran dan perasaannya.
Bersambung...
__ADS_1