
"Sendiri saja Kang Sobri?"
Diantara hujan yang baru saja reda, suara Khalil yang tiba-tiba itu sedikit mengagetkan Sobri yang sedang duduk di teras ndalem.
"Ah, iya Kang Khalil. Kang Khalil kok juga sendiri. Biasanya selalu sama Kang Imam." Sapa Sobri kemudian.
"Iya, Kang. Pas hujan deras tadi Imam langsung mapan. Sampai sekarang masih tidur." Sahut Khalil yang segera duduk di kursi tak jauh dari tempat Sobri duduk.
"Loh, ini kok ada dua gelas kopi. Ini punya Guse ya, Kang? Terus Guse dimana, Kang?" Tanya Khalil begitu melihat di atas meja ada dua cangkir kopi.
"Oh, tadi Guse menemui Kang Manan, Kang. Paling sekarang di kamarnya Kang Manan." Sahut Sobri.
Khalil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Enak itu Manan. Bakal iparan sama Guse." Gumam Khalil tiba-tiba.
Mendengar itu Sobri sontak tersenyum, "Kenapa, Kang?"
"Ya, tidak apa-apa, Kang. Tapi kadang saya jengkel sama Manan, Kang. Dia itu sering banget ketemu sama Ning Afis. Iya memang sih, pas ada Guse. Tapi kan tetap saja mereka itu bukan muhrim." Gerutu Khalil lagi.
"Muhrim? Mahram mungkin maksud Kang Khalil." Sela Sobri.
"Iya, Muhrim, Kang. Kan Manan sama Ning Afis bukan muhrim. Kan tidak baik to Kang sering-sering ketemu. Takutnya timbul fitnah." Lanjut Khalil lagi.
"Iya, benar. Soal itu juga sudah ditegur sama Gus Aufa kok Kang. Sudah jarang juga saya lihat Manan kesini." Sahut Sobri.
"Emmm, tapi soal bukan muhrim tadi itu lho, Kang. Yang tepat itu mahram, Kang. Bukan muhrim." Lanjut Sobri.
"Loh, mahram muhrim. Memang beda itu kang?" Tanya Khalil kemudian.
"Ya jelas beda to, Kang. Beda tulisan beda maksud." Jelas Sobri.
Mendengar itu Khalil justru menggaruk-garuk kepalanya dan nampak kebingungan.
"Memang bedanya apa, Kang. Kok baru dengar saya." Ucapnya kemudian.
"Yah, kalau muhrim itu orang yang melakukan ihram, kalau mahram itu wanita yang haram dinikahi. Beda kan?" Jelas Sobri singkat.
Mendengar itu, Khalil hanya garuk-garuk kepala saja.
"Bingung, Kang?" Sobri yang mendapati sikap Khalil yang seperti itu, sudah jelas bisa menebak kalau Khalil memang sedang kebingungan.
Di tanya seperti itu, Khalil pun hanya bisa tertawa, "Iya, Kang. Soalnya seringnya dengar ya muhrim saja."
__ADS_1
"Memang sih, Kang. Kita sering menemui di masyarakat istilah yang salah kaprah yang justru sering digunakan. Melu gayeng ning jane ora mudeng." Celetuk Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Wah, berarti boleh ini di kasih pencerahan. Yah, andum ilmu lah, Kang." Sahut Khalil kemudian.
"Jadi begini, Kang. Muhrim berasal dari kata muhrimun, yang artinya orang yang mengenakan Ihram. Ihram sendiri itu tahapan awal seseorang menunaikan haji atau umrah didalam ibadah haji atau umrah sebelum bertahallul. Nah, kalau mahram atau mahramun itu artinya lawan jenis yang tidak boleh dinikahi dan lawan jenis yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan. Dua orang yang punya hubungan mahram diperbolehkan menyentuh satu sama lain, baik bersalaman atau lainnya." Jelas Sobri kemudian.
"Lah, kalau begitu selama ini saya salah dong mengucapkan itu, Kang?" Sahut Khalil malu-malu.
"Bukan hanya sampeyan sih, Kang. Seperti kata saya di awal, Kang. Banyak yang salah arti. Ketidakcermatan yang kemudian membudidaya, Kang." Sahut Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Saya pun terbiasa karena ya saya pikir memang itu dan seperti itu." Sahut Khalil lagi.
"Tidak heran sih, Kang. Faktor ketidakcermatan kita ya salah satunya karena sebuah kata atau istilah itu sudah umum digunakan oleh masyarakat luas sehingga dianggap sebagai bentuk yang baku. Padahal, tidak selamanya kata yang sudah familiar digunakan merupakan bentuk yang sesuai dengan kaidah. Kesalahkaprahan pun terus berulang. Nah, kasus ini terjadi pula pada kata muhrim. Kata ini sering kita dengar dalam keseharian. Dalam percakapan sehari-hari, Maaf, jangan sentuh, bukan muhrim. Yah, biar kesannya agamis, padahal konteksnya sudah salah. Kalimat tersebut umumnya dimaksudkan untuk mengingatkan laki-laki dan perempuan Muslim yang tidak memiliki ikatan keluarga untuk tidak bersentuhan. Jadi, kata muhrim pun akhirnya dipakai dalam konteks yang berkaitan dengan keturunan nasab dan pernikahan. Namun, entah bagaimana mulanya, kata muhrim malah sering digunakan dalam konteks yang tidak tepat. Kata tersebut menggantikan mahram yang sepertinya malah kurang terdengar, padahal merupakan bentuk kata yang sesuai dengan konteksnya." Jelas Sobri kemudian.
"Iya iya iya, benar, Kang. Saya sendiri pun kalau boleh jujur juga sedikit asing dengan ucapan mahram itu sendiri, Kang." Sahut Khalil kemudian.
"Makanya, Kang. Boleh kita menggunakan istilah Arab, selama kita tahu maksud, arti dan maknanya. Sesuai tidaknya." Jelas Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Biar tidak malu sendiri." Sahut Khalil kemudian.
"Asal kata muhrim adalah ahrama-yuhrimu-ihraman artinya mengerjakan ibadah ihram. Sementara mahram atau al-mahram adalah dzul-hurmah yaitu wanita yang haram dinikahi." Imbuh Sobri lagi menambahi.
"Wah, kalau begitu mulai sekarang saya harus membiasakan menggunakan istilah mahram, Kang. Biar tidak malu sendiri juga." Timpal Khalil.
"Karena faktanya dalam Arab itu riskan, Kang. Seperti ini, ini misalkan. Saat kita menulis Rohim, e kita salah kasih titik di huruf kha-nya, kemudian jadi huruf ja, kan sudah melenceng jauh itu, Kang. Yang harusnya Rohim yang artinya penyanyang, jadi Rojim yang artinya sesat. Gimana itu coba?" Imbuh Sobri lagi.
Khalil pun tertawa, "Iya iya iya, betul, Kang."
"Satu lagi, Kang. Ini sering sekali kita temui banyak orang menggunakan istilah ana antum. Iya kan?" Tanya Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Lalu apa itu juga salah konsep, Kang?" Tanya Khalil mencari tahu.
"Tidak, Kang. Asal penempatannya tepat. Hanya saja banyak yang menggunakannya dengan tempat yang tidak sesuai." Sahut Sobri.
"Bagaimana itu, Kang?" Tanya Khalil lagi.
"Begini, Kang. Mengesampingkan tujuan instrinsik pembawaan pembicaraan itu sendiri. Yah, bisa jadi karena pergaulan, kebiasaan, pembiasaan, atau bahkan ideologi ya, Kang. Beberapa orang mungkin menganggap ana dan antum adalah hal yang biasa dan wajar digunakan untuk bercakap-cakap tetapi sebagian yang lain menganggap aneh, mungkin karena belum terbiasa dengan bahasa Arab. Secara lebih dalam penggunaan dua kata tersebut hanyalah untuk merubah bahasa Indonesia itu sendiri dari saya dan kamu menjadi bahasa Arab yakni ana dan antum. Banyak orang ketika sedang bercakap-cakap, ia mencampurkan antara penggunaan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia yakni penggunaan dua kata di atas berbahasa Arab kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan bahasa Indonesia dalam meneruskan percakapannya." Jelas Sobri mulai mengulas.
Khalil pun hanya menggut-manggut, mencoba memahami penjelasan Sobri.
"Lanjut, Kang." Ucapnya kemudian.
"Simplenya begini, Kang. Dalam teori ilmu Nahwu yang kita pelajari sudah terlalu jelas bahwa antum adalah kata ganti orang atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan isim dhomir yang bermakna kalian atau bisa kita maknai dengan kamu dalam jumlah orang lebih dari dua orang."
__ADS_1
"Jamak berarti kan ya, Kang?" Potong Khalil.
"Benar, Kang. Nah, dalam menggunakan tunggalnya yang bermakna kamu dalam jumlah satu orang menggunakan anta. Bahkan di negara Arab sendiri akan menjadi hal yang lucu lho, Kang. Ketika misalnya fulan berbicara dengan fulan menggunakan kata ganti orang antum dalam melakukan percakapan. Begitu juga dalam kita memanggil Allah SWT misalnya dalam berdoa, sudah sangat jelas Nabi memberikan do’a yang diucapkan oleh Khadijah ketika itu Allohumma anta as-Salam wa minka as-Salam….. dengan arti ya Allah engkau adalah Dzat yang Maha Penyelamat dan dariMu juga sebuah keselamatan… tidak ada disana memakai Allohumma antum as-Salam… serta dalam menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW memakai Assalamualaika ya Ayyuhan Nabi bukan Assalamualaikum ya Ayyuhan Nabi. Bahasa Arab itu bersifat egaliter dan menghargai kesederajatan dalam menggunakan kata ganti orang. Sehingga kata ganti anta untuk kamu laki-laki satu, anti untuk kamu perempuan satu akan berlaku untuk semua pelaku tunggal, sedangkan antum pengganti kalian atau laki-laki lebih dari satu adalah untuk pelaku jamak." Jelas Sobri kemudian.
"Benar, saya sering banget itu mendengar. Antum, antum, antum. Padahal lawan bicaranya hanya satu orang, Kang." Sahut Khalil.
"Nah, itu lah, Kang. Entah alasannya apa saya belum ketemu itu." Sahut Sobri pula setelahnya.
"Mungkin lebih ke penghormatan, Kang." Sahut Khalil mengira-ira.
"Yah, tidak pas, Kang. Tapi bisa jadi memang begitu, banyak yang menggunakan kata antum untuk diposisikan pada orang laki-laki satu dengan dalih sebagai penghormatan kepada mukhathab atau orang yang sedang diajak berbicara. Memang, dalam bahasa Jawa di Masyarakat Indonesia sangat kental sekali dengan unggah-ungguh, sopan santun bahkan dalam memakai bahasa yang digunakan dalam percakapan misalnya kowe adalah bahasa kasar yang kemudian diganti dengan njenengan untuk merubah menjadi bahasa yang lebih halus atau sebagai penghormatan kepada yang sedang diajak berbicara. Yah, mungkin saja di negara kita ini, berlaku juga untuk bahasa Arab, dan akhirnya banyak sekali yang memposisikan antum itu sebagai njenengan dan anta atau anti sebagai kowe. Jadi seakan-akan dalam klausul bahasa Arab pun ada stratifikasi penghormatan dalam memakai kata ganti orang dalam sebuah percakapan, padahal sebenarnya, secara tidak langsung, hal ini termasuk transformasi nahwu dalam penerapan teorinya di kehidupan sehari-hari." Jelas Sobri kemudian.
"Lalu itu bagaimana, Kang?" Tanya Khalil kemudian.
"Jika sedikit melihat pada aspek hermeneutika budaya sebagai jawaban terhadap hal itu berdasarkan nilai ideal moral yang ada dalam masyarakat maka ada empat hal yang perlu kita garis bawahi, Kang." Sahut Sobri kemudian.
"Empat hal, Kang? Apa saja itu, Kang?" Tanya Khalil kemudian.
"Yah, Pertama, boleh digunakan sebagai dasar kultur yang sudah ada di masyarakat Indonesia sebagai jawaban nilai ideal moral yang hanya ada pada kasus di Indonesia sendiri. Jika dalam penggunaannya di negara Arab, maka harus memakai kata ganti yang sesuai dan apa adanya tidak lantas menyamakan hal tersebut dengan budaya yang ada di Arab. Kedua, adanya kesadaran belajar lebih dalam memahami konteks tersebut dalam hal ini tentu adalah bahasa Arab, nahwu sharaf serta memahami adanya kesalahan yang ada pada konteks kata ganti orang yang digunakan, tetapi mengarahkannya kepada konsep ideal moral masyarakat Indonesia saja. Ketiga, adanya saling sepemahaman, sama perspektif dalam menggunakan kata ganti orang dengan tujuan sebagai penghormatan tersebut. Antara muta'allim orang yang berbicara dengan mukhathab orang yang sedang diajak berbicara atau lawan bicara sudah mengetahui kaidah ideal moral transformasi tujuan penggunaannya dalam melakukan percakapan. Keempat, tidak menggunakan dengan tujuan lain yang menjadikannya sebagai kaidah baku, tetapi hanya sebagai pembiasaan dalam persamaan pembawaan kultur yang ada di Indonesia saja." Jelas Sobri kemudian.
"Benar, Kang. Tapi tetap lebih baiknya menggunakan istilah yang tepat saja ya, Kang. Jadi misal ndelalah, ada tamu dari Arab, kita tidak dibuat malu dengan kebiasaan yang keliru." Sahut Khalil.
"Ya, benar, Kang."
"Sepertinya ada obrolan seru ini." Tiba-tiba saja ditengah obrolan Khalil dan Sobri itu, terdengar sapaan dengan suara yang tidak asing lagi ditelinga mereka.
"Oh, Gus, Kang Manan." Sobri yang melihat Ajimukti dan Manan sudah berdiri tidak jauh dari mereka pun sedikit salah tingkah.
"Monggo dilanjut, Kang. Saya mau masuk kedalam dulu." Sahut Ajimukti yang kemudian melangkah masuk ke ndalem. Namun Manan kini justru ikut duduk dan berbaur dengan obrolan mereka berdua.
"Lagi bahas apa sih?" Tanyanya kemudian pada Sobri dan Khalil.
"Tidak bahas apa-apa, Nan. Ya hanya ngobrol saja dari pada tidak ada kerjaan. Tanya-tanya ilmu lah sama Kang Sobri." Sahut Khalil yang merasa tidak enak karena tadi sempat ngrasani Manan.
"Imam kemana, Lil?" Tanya Manan kemudian.
"Hawa kayak begini ya sudah pasti tidur to, Nan." Sahut Khalil kemudian.
"Oh, iya Kang Manan. Sampeyan apa tidak melihat bapak? Soalnya tadi saya tinggal di rumah Pak Lek Pras. Harusnya ini sudah kembali. Tapi kok belum kelihatan, apa masih disana apa gimana ini." Tanya Sobri kemudian.
"Belum itu, Kang. Yah, mungkin masih disana, Kang. Kebeteng udan tadi, jadi belum kembali kesini." Sahut Manan kemudian.
"Yah, mungkin ya, Kang."
__ADS_1
Bersambung...